
Ibu Widi masih cekikikan di telepon melontarkan kata-kata selayaknya anak muda yang sedang di mabuk cinta. Ternyata, setelah kedatangan Pak Siswo ketika mengantarkan Pak Cipto untuk minta maaf kepada keluarga Ibu Widi setahun yang lalu. Duda dan janda itu pun saling mengagumi. Tukar nomor, berbalas chat tanpa anak-anak mereka tahu.
"Kangen juga Bu... bagaimana kalau kita menikah saja..." usul Pak Siswo.
"Ma- mau, mau..." sahut Ibu Widi antusias.
"Baiklah... kita datang saja ke KUA, tidak perlu pakai ribet seperti anak muda" usul Pak Siswo. "Kalau Ibu sudah setuju, aku akan mengurusnya." sambung Pak Siswoyo.
"Tapi... aku takut, anak-anak tidak setuju" sahut Ibu mengendorkan semangatnya.
"Kami setujuuu..."Bambang dan Ayu Wandira tiba-tiba berdiri di belakang Ibu.
Ibu terkejut menoleh cepat handphone yang ia pegang terlepas dari tangan. Malu, gugup, takut yang beliau rasa saat ini.
"Kalian..." ucap Ibu lirih kemudian menunduk.
"Ternyata... ANAK KEPINCUT... BOPO KATUT" ahahaha..." ucap Bambang dan Dira bersamaan. Mereka tertawa terbahak-bahak.
"Iiss! kalian ini loh!" jawab Ibu Widi wajahnya semakin merah.
Bambang dan Dira pun melangkah maju, mendekati sang Ibu, yang masih ayu di usia yang menginjak 49 tahun. Mereka duduk disisi kanan dan kiri Ibu. Masing-masing memegangi tangannya. Memutar tubuh mereka duduk bersila kemudian menghadap Ibu Widi.
"Kami setuju Bu... dari dulu Wibi sama Dira... sering menyarankan Ibu untuk mencari teman hidupkan?" kata Bambang lembut.
"Apa lagi... Ibu ingin menikah dengan Pak Siswo, jujur, kami mengagumi sosok seperti beliu" tutur Bambang sedangkan Dira hanya mendengarkan.
"Tapi Ibu malu nak... Ibu sudah tua, tapi kesanya, nggak mau kalah sama kalian" sahut Ibu Widi lirih.
"Ibu jangan berpikiran begitu, Wibi sebentar lagi akan menikah, Dira pun mungkin akan menyusul. Wibi tuh, seneeeeng... Ibu ada teman di usia Ibu sekarang ini" kata Bambang senang jika Ibunya mempunyai teman hidup tentu tidak akan kesepian. Apalagi, akan mempunyai sosok Ayah seperti Pak Siswo.
"Menurut kamu bagaimana Nduk?" tanya Ibu kepada Dira yang dari tadi hanya nyimak saja.
"Dira sependapat dengan kakak Bu... jika Ibu bahagia, kami pun turut bahagia" sahut Dira. Mereka pun saling berpelukan saling menumpahkan kebahagiaan.
Ibu merenggangkan pelukanya. "Tapi... bagaimana dengan Rani nak... apa kira-kira dia setuju ya" Ibu mengendor lagi membayangkan Rani tidak menyetujuinya.
"Ibu tenang saja, Wibi yakin kok Rani setuju" sahut Bambang meyakinkan.
"Semoga ya nak..."
"Besok kita adakan pertemuan dengannya Bu, kita bicarakan kabar gembira ini" sahut Bambang semangat 45.
"Tapi... ngomong-ngomong, kamu sudah tidak ada perasaan dengan Rani kan nak?" tanya Ibu menatap Bambang.
"Ya jelas enggak lah Bu... Rani itu sudah Wibi anggap seperti adik sendiri. Dulu, Wibi iklas melepas Rani, ternyata Allah telah menggantinya dengan berlian" tutur Bambang senang membayangkan Eneng.
"Syukurlah Nak... Ibu senang sekali, sekarang kita makan dulu" kata Ibu mengajak anaknya ke meja makan.
__ADS_1
Sampai meja makan, hidangan sudah siap.
"Neng..." panggil Ibu kepada calon menantunya ketika itu sedang ngorol dengan Bi Ipah dan Bi Encum.
"Iya, Bu..." sahut Eneng mendekat.
"Kamu duduk di sini kita makan bareng" titah Ibu, menunjuk kursi di sampingnya.
"Tapi Bu..." Eneng merasa tidak enak dengan Bibi jika makan bersama majikanya.
"Sudah... kamu itu sebentar lagi akan menjadi bagian keluarga ini, jadi tidak usah sungkan." pungkas Ibu.
Bambang dan Dira masih berdiri kemudian menarik kursi masing-masing.
"Auw..." pekit Bambang semua menoleh.
"Kenapa kamu le...? tanya Ibu melihat Bambang meringis.
"Bokong Wibi gosong Bu" ucapnya, sambil mengusap-usap bokongnya.
"Gosong?" tanya Ibu, mengerutkan kening. "memang kamu kenapa" sambungnya.
"Tadi pas mandi di rumah Lidia jatuh" jawab Bambang, kemudian menatap Eneng malu.
Eneng membulatkan mata. "Kenapa Tuan tadi, nggak bilang? tadi kan saya tanya? katanya nggak apa-apa" ujar Eneng tidak enak dengan Ibu Widi. Nanti dikira nggak perhatian.
Dira cengar cengir membayangkan kakanya tadi jatuh. "Kenapa kamu Dir, malah cengar cengir, orang lagi sakit juga!" Tukas Bambang.
"Sudah... jangan pada ribut, setelah makan nanti Ibu kasih salep." pungkas Ibu. Mereka pun makan bersama.
******
Hari berlalu, 3 hari lagi acara tunangan Bambang akan dilaksanakan.
"Lid, temani MAS pergi ke Mall ya" pinta Bambang, turun dari tangga baru bangun tidur, tetapi justeru lebih tampan. Mulai hari ini sampai hari h Bambang meliburkan diri.
"Kapan?" tanya Eneng singkat seraya mengelap meja makan. Padahal sudah di larang beres-beres oleh Bu Widi. Namun, Eneng merasa tidak enak tinggal di rumah ini hanya onkang-onkang kaki.
"Sekarang" sahut Bambang sambil memencet dispenser, menuang air dingin, kemudian meneguknya.
"Ya, saya salin baju dulu" ucap Eneng kemudian mencunci tangan lalu masuk kedalam kamar. Ganti pakaian santai memakai kaos longgar dan celana jins tampak seperti anak umur 20 tahun, padahal sudah menginjak usia 25.
Eneng keluar kamar, menuju mobil ternyata Bambang sudah menunggu. Eneng kemudian masuk setelah di bukakan pintu oleh Bambang.
"Mau ke Mall mana Tuan?" tanya Eneng.
Ali-ali menjawab. Bambang malah berdecak kesal. "Mau sampai kapan sih Lid? kamu panggil aku Tuan?" ucap Bambang sudah sering diperingatkan, tetapi, Eneng tidak bisa merubah panggilannya.
__ADS_1
"Iya, Mas, saya suka lupa" jawab Eneng. Mereka pun sampai Mall.
Bambang mengajak Eneng masuk Toko perhiasan.
"Kamu mau pilih cincin yang mana?" tanya Bambang sambil melihat-lihat.
"Saya, Mas...?" tanya Eneng.
"Iya, memang buat siapa? tunangan kita kan, tinggal 3 hari lagi Lid"
Bambang menghela nafas panjang. Harus mempunyai stok kesabaran untuk membuat hati Eneng luluh.
"Yang ini saja bagus Mas" ucap Eneng. Ia memilih cincin bermata bulat tanpa ujung, sebagai simbol kebersamaan cinta yang abadi. Bermakna melengkapi dan memiliki. Kadang hubungan tidak terlalu mulus, ada pahit getir. Namun, cincin di anggap mampu menguatkan kedua pasangan walau kadang sedih menangis dan tertawa.
"Mbak, bungkus yang ini ya" titah Bambang kepada pelayan Toko.
"Baik Tuan"
Setelah mendapatkan cincin Bambang mengajak Eneng membeli bermacam-macam pakaian untuk Eneng.
"Berapa hari yang lalu, kan sudah beli Mas" tolak Eneng.
"Iya, tapi Ibu kan... yang beli buat kamu, sekarang giliran aku yang beli" ucap Bambang tidak mau di bantah.
Eneng pun mengalah.
*********
Di pinggiran kali seorang gadis sedang marah. Sebab, kenyataanya pria yang ia taksir sebentar lagi akan tunangan. Ia melempar-lempar kerikil sambil mengumpat.
"Brengsek loe! Lidie... kenapa gue musti kalah ame perawan tua kaya elo...!" "Brengseeek...!" jeritnya.
Tiba-tiba pundaknya di tepuk oleh seseorang dari belakang. Seketika gadis 20 tahun itu menoleh.
Wanita berkulit putih pucat, dan berpenampilan glamor mengejutkan. Gadis 20 tahun itu mengucek matanya.
"Siape lo? lo hantu ya?" tanyanya. Sebab dipinggir kali ini sangat sepi bahkan jarang ada orang yang datang. Namun, ada wanita se xi tiba-tiba datang.
"Ya. Gw memang hantu, yang akan membantu mewujutkan impian loe" sahut wanita berkulit putih itu menyeringai.
"Maksud loe ape?" tanyanya kemudian.
"Sini gw bilangin" wanita se xi itu membisikkan sesuatu.
"Gue kagak mau!" tolak gadis 20 tahun itu kemudian beringsut mundur.
"Oo... jadi lo menolak tawaran gue, okay... gue nggak maksa kok, tapi... kalau loe berubah pikiran, hubungi goe" kata wanita se xi itu, menyerahkan nomor handphone kemudian melangkah pergi.
__ADS_1
Gadis yang berumur 20 tahun itu, menatap kepergian wanita misterius, kemudian menatap no handphone pemberian wanita yang sudah pergi.