ISTRI SANG MAJIKAN 2

ISTRI SANG MAJIKAN 2
Part 108


__ADS_3

Tidak terasa seharian ini Bambang berada di rumah Eneng.


Banyak pelajaran yang ia petik, tidak semua orang bisa mendapatkan apa yang ia inginkan.


Ternyata masih banyak orang di sekelilingnya, hanya sekedar untuk mencari makan saja sulit.


"Bu, saya pulang dulu ya..." Bambang menyalami tangan Enyak.


"Hati-hati ye...Enyak titip anak, yang bandelnye... kagak ketulungan" ucap Enyak seraya mengusap kepala Eneng.


"Iihh...Enyak..." sahut Eneng cemberut.


"Eneng berangkat dulu Nyak, do'ain ye, moga hutangnye bisa cepat kebayar" Eneng pun mencium punggung tangan Enyak kemudian berangkat.


Bambang menyalakan mobilnya dan menghangatkan terlebih dahulu.


Eneng hendak masuk kedalam mobil. Tetapi suara cempreng memanggilnya.


"Pok Lidie....tunggu!" Bambang dan Eneng serentak menoleh asal suara.


Ternyata Zainaf orangnya.


"Ade ape Naf?" tanya Eneng seraya memegang pintu mobil.


Zainaf datang sambil ngosngosan. Melepaskan nafas panjang. Setelah tenang mengangguk tersenyum kepada Bambang.


"Kenape lo Naf? kok malah cengar-cengir, buruan...


Aye kesorean nih" ucap Eneng.


Zainaf merarik tangan Eneng agak menjauh dari mobil.


"Aye titip ini ya pok" Zainaf menyerahkan amplop berwarna biru langit kepada Eneng. Eneng menerima dengan dahi berkerut.


"Buat siape?" Eneng paham kalau ini surat cinta, dari cover amplop dan tercium aroma wangi.


"Buat Abang entu" Zainaf berbisik.


"Ah, lo Naf! ade-ade aje, hari gini mana ade yang pake surat-suratan beginian, macam anak lahiran th 70 han, yang ade tuh, nomor handphone" tutur Eneng.


"Buktinye ade kan Pok, Aye contohnye" Zainaf tersenyum simpul.


"Mendeng lo kasihin sendiri aje, deh...itu kan orangnye masih disini" saran Eneng.


"Aahh empok... malu tahu"


Bambang hanya sabar menunggu tidak ingin tahu, apa yang di bicarakan dua gadis tersebut.


"Udeh...pokoknye kasih bae... dada empok.." Zainaf pun pergi meninggalkan Eneng seraya mengedipkan mata yang di tujukan kepada Bambang. Namun, Bambang tidak merespon.


Eneng geleng-geleng kepala, melihat tingkah Zainaf yang baru lulus SMA tahun kemarin.

__ADS_1


Eneng pun segera naik, duduk di sebelah Bambang. Bambang segera melajukan mobilnya. Sepanjang jalan Eneng tidak bersuara, malah asyik melihat hilir mudik pejalan kaki di trotoar. Bambang sesekali melirik kesamping tetapi tidak ada sama sekali Eneng merubah posisi.


"Ibumu asyik banget ternyata ya Lid" ucap Bambang memulai pembicaraan.


"Iya" hanya itu saja sahutan Eneng.


"Ibumu itu bawaanya hangat, tetapi mengapa justru anaknya beda jauh ya?" sindir Bambang.


"Apa maksudnya?! Eneng menoleh cepat. "Nggak usah nyindir!" sahut Eneng ketus.


"Makanya jawab dong, kamu mau kan? menikah dengan aku?" tanya Bambang sudah yang ketiga kali tetapi, belum ada jawaban dari eneng.


"Tuan mau mengajak menikah... atau mau mengajak bertaruh? kok maksa sih!" sindir Eneng.


"Setiap orang pasti ingin menikah kok, tidak bedanya dengan saya" ucap Eneng jujur.


"Terùs terang, kalau saya memelih-milih calon pasanganku, bukanya aku wanita yang mempunyai kelebihan yang patut di banggakan." Eneng merendah.


"Aku sadar kok, siapa aku"


"Tetapi... memilih calon suami bagi aku tidak semudah memilih terong yang Enyak masak tadi"


"Dua kali balik, terlihat mulus dari luar, kemudian di ambil lalu dibeli" Eneng berpendapat.


"Jadi, kamu belum bisa percaya dengan aku Lid?" Bambang memastikan.


"Yah...percaya nggak percaya, paling tidak beri aku waktu untuk berpikir"


"Tetapi, aku sudah sering shalat istikharah Lid, dan kamulah yang hadir di setiap mimpiku"


"Bahkan, sebelum aku bertemu dengan kamu" terang Bambang.


"Atau kamu memang sudah ada pria lain Neng?" tanya Bambang hati-hati.


"Nggak ada" jawab Eneng kembali menoleh kesamping melihat jalanan.


Bambang akhirnya diam tidak lagi menimpali fokus dengan setir.


"Oh iya, saya tadi ada titipan surat" Eneng ambil amplop dari tas slempang dan meletakkan di dasboard mobil.


"Surat apa tuh?" Bambang hanya menatap tidak berniat mengambil.


"Dari Zainaf"


"Zainaf?" tanya Bambang keheranan kenal juga nggak kok kirim surat pikirnya.


"Buka saja, nanti kalau sudah sampai di rumah" usul Eneng.


"Kenapa harus sampai di rumah, buka saja sekarang, sama kamu, terus di bacain."


"Ya nggak bisa begitu, saya bukan orang yang suka keppo dengan urusan orang lain, apa lagi itu privasi Tuan" kekeh Eneng.

__ADS_1


Bambang lagi-lagi mengalah mereka pun saling diam. Berdebat dengan wanita walaupun sifatnya pendiam tetap saja kalah. Menurut Bambang.


Dulu dengan Rani, dengan Weny, dan sekarang Lidia. Bambang tetap saja kalah.


Dengan susah payah Bambang berusaha mengubur kisahnya dengan Rani dan ternyata berhasil. Saat ini cintanya berlabuh kepada wanita di masalalunya. Namun, Bambang terasa memecahkan bongkahan batu yang keras.


Tidak terasa Bambang sampai di rumah.


Eneng turun dari mobil lebih dulu, lalu mendorong pintu gerbang.


Setelah Bambang memasukan mobil ke dalam garasi. Eneng masuk kedalam meletakkan tas di kamarnya, kemudian menemui Bibi ke dapur.


Belum sampai dapur Eneng bertemu Ibu Widi. Deg deg deg. Khawatir Nyonya marah atas kelakuannya yang tidak sopan sudah meninggalkan rumah tanpa izin. "Nyonya..." Eneng mencium punggung tangan Ibu Widi.


"Bagaimana kabar Ibumu Neng?" tanya Ibu Widi.


"Alhamdulillah baik Nyonya" jawab Eneng menunduk.


"Maaf Nyoya..saya sudah tidak sopan pulang tanpa izin"


"Saya maafkan! tetapi... bukan berarti, saya mengurungkan niat untuk menikahkan kalian" Ibu Widi berucap tegas.


"Duduklah...Ibu mau bicara" Ibu Widi berjalan menuju sofa dan mendudukan bokongnya.


Eneng mengikuti langkahnya kemudian duduk di lantai.


"Duduk di atas jangan duduk di bawah" titah Ibu Widi.


"Tapi nyonya?"


"Duduk di atas" kata Ibu Widi tidak mau di bantah.


"Baik nyonya"


"Mulai sekarang, jangan panggil saya nyonya, tetapi panggil ibu saja"


"Baik Nyo- Ibu" Eneng lidahnya kelu ingin memanggil Ibu.


"Eneng, Ibu selalu mengajarkan anak -anak, mau berbuat, juga harus berani bertangjung jawab" kata Ibu lembut.


"Jadi Ibu ingin, anak Ibu mempertanggungjawabkan perbuatanya"


"Tetapi, berani bersumpah, saya tidak pernah melakukan itu Nyo- Bu" Eneng mengerti bahwa Ibu Widi tidak mau di bantah. Tetapi Eneng harus meluruskan permasalahan itu.


"Ibu bukan anak kecil Neng, terlepas kamu melakukan atau tidak? kalian saling pandang"


"Dan pandangan kalian saling menggelora" tutur Ibu.


Eneng terdiam, seperti berpikir sesuatu. "Ibu beri waktu satu bulan, untuk kamu berpikir, setelah itu, Ibu akan melamar kamu" kata Ibu tegas.


Eneng pun mengiyakan, andai Ibu Widi tahu, keadaan keluarganya yang miskin, pasti akan mengurungkan niatnya. Pikiranya.

__ADS_1


Sementara Bambang, keluar dari mobil tadi segera mandi, meninggalkan surat yang di berikan Zainaf. Kemudaian berdiri di balkon kedua tangannya menekan pagar. Menatap Rembulan yang membulat di kelilingi bintang. Seolah tak ingin beranjak dari tempat, tidak tahu bahwa Eneng sedang tegang berhadapan dengan Ibu Widi.


__ADS_2