
Fajar menjelang, suami istri sedang merasakan pelepasan yang sangat memuaskan mereka.
"Terimakasih sayang...kamu luar biasa" puji Daniel, akhir-akhir ini istrinya bersemangat hingga membuat Daniel mencapai puncak kenimatan surga dunia.
"Mandi yuk, katanya mau ke restoran" Daniel berucap, seraya menyelipkan rambut istrinya kebelakang telinga.
"Ayo" ucap Rani. Terpaksa bangun, padahal masih terasa malas. Apa lagi harus keramas pagi-pagi. Kalau bukan karena kewajiban rasanya masih ingin bergulung selimut.
Pasutri itupun mandi bersama.
"Mas, aku mau nasi goreng buatan Mas boleh?" tanya Rani selesai mandi.
"Tapi, tadi Nena sudah memasak nasi goreng, nanti mubajir yank"
"Oh ya sudah" ucapnya lirih. Sebenarnya bukan jawaban itu yang ingin ia dengar, sungguh rasanya sangat kecewa. "Tapi, ya sudahlah" pikirnya.
"Sampai di meja makan Daniel makan roti, yang ia buat sendiri pakai selai. Sebab, Daniel jarang sekali sarapan nasi.
"Kok nggak di makan?" tanya Daniel melihat nasi goreng di piring istrinya hanya di aduk-aduk.
"Nggak lapar" ujarnya sambil berdiri meninggalkan meja makan.
Daniel melihat istrinya di buat bingung. "Bukanya tadi minta nasi goreng? Kok malah nggak di makan" pikirnya.
Nena, Mira, Rini pun saling pandang. Didalam pikiran mereka saling tanya. Kenapa? Mereka segera menghabiskan makanannya. Kemudian siap-siap berangkat.
"Nen, aku duluan ya..."Pamit Rani sudah membawa tas slempang melewati suaminya.
"Iya, hati-hati" sahut Nena dari kamarnya.
Daniel merasa istrinya sedang ngambek. Buru-buru mengelap mulutnya dengan tissue kemudian menyusulnya masuk kedalam mobil.
Mobil berjalan. Rani di dalam mobil mendiamkan suaminya, bersender di jok bersedekap dan pura-pura tidur.
Kenapa sih? tadi pagi perasaan baik-baik saja. Kok tiba-tiba ngambek, oh, apa gara-gara minta di buatkan nasi goreng tadi ya? terus nggak aku turuti tapi kenapa? tumben?
"Yank"
"apa"
"Kamu marah ya. Kenapa?"
"Nggak!"
"Terus, kenapa cemberut gitu, apa gara-gara nasi goreng tadi? maaf dech...besok Mas buatkan ya"
"Nggak usah, sudah nggak kepingin lagi!" ketus Rani tidak monoleh lawan bicaranya.
"Ya sudah...sekarang sebagai gantinya mau apa, nanti Mas belikan" bujuk Daniel tangan kirinya mengusap kepala istrinya. Dan tangan kanannya memegang setir.
"Ngak usah!" Tukas Rani, kemudian turun karena sudah sampai di depan restoran. Tidak mencium tangan suaminya seperti biasa.
"Huh...sabar..." gumam Daniel lalu melanjutkan perjalanan.
Rani masuk restoran menemui Bi Kokom.
"Bi Kokom..." sapa Rani.
"Eh Mbak Rani, tumben, pagi-pagi sudah menemui Bibi, biasanya kan siang."
"Saya pesan mie ayam 2 mangkok, pakai baso ya Bi...nanti Yola suruh antar keruangan saya."
"Baik Mbak."
Rani kemudian masuk keruangan membuka lap top. Menghitung laba bersih setelah di kurangi laba kotor.
Termasuk gaji karyawan, biaya administrasi, pajak, dll.
__ADS_1
Laba bersih saat ini sudah mencapai target. Rani akan membuka cabang untuk mengembangkan usahanya.
Rani tersenyum lebar, merenggangkan otot kemudian bersandar di kursi.
Tok tok tok
"Masuk"
Ceklek! "Bu Rani, ini mie ayam nya"
"Ya, bawa kesini saja" titahnya.
Yola meletakkan mie ayam di depan boss nya.
"Terimakasih Yol"
"Sama-sama Bu, permisi" Setela Yola keluar Rani menyantap mie ayam.
Ceklek. Nena masuk, tanpa mengenuk pintu sudah biasa jika tidak ada Daniel.
"Makan mie ayam Nen, kalau mau pesan saja" titah Rani fokus dengan hidangan tanpa melihat Nena.
"Ada Pak Daniel memang?" tanya Nena. Sebab ada dua mangkok mie ayam + baso pula.
"Nggak"
"Terus itu mie ayam satu lagi buat siapa?"
"Buat aku sendiri" jawabnya tanpa dosa sambil terus mengunyah.
"Busyet Ran, yang benar aja tuh makan!" Nena geleng kepala.
"Sudah, jangan banyak ngomong Nen, ganggu selera aku saja" ucap Rani menghabiskan mie ayam 2 mangkok.
"Ya sudah, lanjut dech, aku lanjut kerja" Nena kemudian keluar.
*****
Hampir jam 12 siang, Daniel malas mau cari makan. Masih memikirkan istrinya yang sedang ngambek tadi.
"Telepon nggak ya, tapi kalau di telepon terus nggak diangkat gemana? gumam Daniel masih memandangi aplikasi w a.
Deeer derrrr deerrr.
Daniel mengamati handphone (pucuk di cinta ulam tiba) ternyata istrinya yang telepon.
"Hallo yank"
"Mas....sudah makan siang belum?" suara merdu di telinga Daniel.
"Belum yank, malas keluar"
"Nggak usah keluar Mas, aku bawa nasi kesitu"
"Beneran yank" Daniel berbinar.
"Ya benar lah, di tunggu ya"
Daniel rasanya ingin guling-guling saking senangnya. Masih terbayang tadi pagi istinya ngambek. Namun, saat ini ia telepon sudah seperti biasa lagi.
******
Di showroom, Bambang dari pagi tidak bisa konsentrasi bekerja. Pikiranya melayang memikirkan gadis di masa lalunya.
"Boss kenapa? dari tadi saya perhatikan gelisah terus?" tanya Topan.
"Nggak apa-apa, aku pulang dulu ya..." Bambang bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Memang ada apa boss? tumben, pulang siang hari?" tanya Topan biasanya Bambang pulang sore bersamanya.
"Nggak ada apa-apa, nanti kamu antar Dira pulang ya.."
"Siap boss."
Bambang melangkah keluar dari ruangan menuju mobilnya. Menyalakan, kemudian berangkat.
15 menit kemudian Bambang sampai di rumah. Turun dari mobil membuka gerbang. Kemudian, naik mobilnya kemali membawanya masuk kedalam garasi.
Begitulah Bambang, jika masih bisa di lakukan sendiri, tidak pernah minta tolong ART.
Bambang segera masuk kedalam rumah, clingukan mencari seseorang.
"Sudah pulang Tuan muda?" tanya Bi IPah.
"Sudah Bi"
"Tuan mau makan, Bibi hangatkan ya, adem soalnya, saya pikir Tuan pulang malam seperti biasa" tanya Bibi tanpa menahan nafas.
"Nggak usah Bi"
"Bibi sendirian?" tanya Bambang.
"Ada Eneng Tuan, lagi nggosok"
"Oh" itulah jawaban yang Bambang inginkan. Puas dengan jawaban Bibi. Bambang kekamar, shalat dzuhur.
Selesai shalat, mengganti pakaian kaos santai, menyisir rambut, mematut diri di depan cermin.
Ces ces ces...menyemprot kan minyak wangi. Merasa penampilanya sudah ok! tidak buang waktu kemudian Bambang menuju di mana Lidia berada.
Bambang masuk keruangan setrika. Memerperhatikan dari belakang. Eneng bergijabu dengan gosokan sambil bersenandung.
Bukanya perpisahan kutangisi
Hanya pertemuan kusesali
Bagaikan langit tiada berbintang
Mendung tebal menjadi penghalang
oh oh🎶
"Suaramu merdu?"
Suara bariton membuat Eneng terlonjak.
Prak! gosokan yang ia pegang pun jatuh kelantai. Karena ia menggosok dengan posisi berdiri.
Eneng bersenandung lirih sepertinya ingin mewakili perasaanya.
Namun, orang yang dia benci tiba-tiba berdiri di dibelakangnya.
Bambang segera mencabut gosokan dan membereskan. Namun, Eneng menancapkan kabelnya kembali dan melanjutkan menggosok.
Suasana mendadak hening.
"Bagaimana kabarmu Lid?" tanya Bambang masih memanggilnya seperti dulu.
Ening pura-pura tuli, tetap menggosok.
"Lid...heee...di tanya kok diam saja, sariawan ya?" seloroh Bambang terkekeh. Mencoba memecah ketegangan.
"Memang siapa yang Tuan panggil?!
"Kamu" sahut Bambang santai.
__ADS_1
"Jika Tuan memanggil Lidia, dia sudah mati tujuh tahun yang lalu!" sahut Eneng sinis.