ISTRI SANG MAJIKAN 2

ISTRI SANG MAJIKAN 2
Part 69


__ADS_3

Malam merangkak begitu cepat menurut Weny. Sepanjang pembicaraan Weny tidak pernah menatap wajah Bambang. Mendengar suaranya saja sudah membuat hatinya bergetar.


Jika bisa memperlambat Waktu. Weny rasanya ingin berlama-lama dekat dengan Bambang.


Setelah membayar makanannya ke kasir. Bambang kemudian mengajak Weny nonton.


"Aku antri tiket dulu ya, kamu mau nonton film apa?" Bambang berhenti berjalan menoleh kebelakang. Pasalnya Bambang berjalan lebih dulu.


Weny tetap menunduk.


"Mas sukanya nonton film apa?" Weny balik bertanya. Mau tidak mau menatap wajah Bambang. Deg deg deg. Dada Weny berdebar menatap mata teduh di hadapannya.


"Saya sukanya nonton film kungfu" sahut Bambang terkekeh.


"Terserah Mas saja" Weny sebenarnya senang nonton film bertema asmara. Tetapi malu untuk berucap.


Setelah mengantri tiket dan mendapatkan, mereka masuk kedalam. Bambang membawa tengtengan cemilan.


Bambang duduk di kursi paling depan kebetulan ada dua kursi kosong. Suasana Bioskop tampak ramai karena malam minggu. Weny tetap berdiri memandangi kursi yang masih kosong di sebelah Bambang rasanya seperti mimpi.


"Duduk" Bambang menepuk kursi di sebelahnya.


Weny duduk disamping Bambang.


Debum... debum...layar flem telah menyala kemudian lampu bioskop di padankan. Bambang gelisah sebab belum pernah sedekat ini dengan wanita.


Bambang menonton film kungfu karena tidak ingin ada adegan yang memicu terjadinya hal-hal yang tidak di inginkan.


Flem di putar walaupun flem kungfu adegannya ternyata mengarah ke 18 +.


Bambang menunduk tidak mau menonton film tersebut, bukan munafik, ketika SMA sering menonton adegan ini, tetapi lain dulu lain sekarang.


Bambang membuka handphone lebih baik memeriksa imel dari pada menonton film.


Beda dengan Weny, tampak serius menikmati alur dalam cerita. Selama di bioskop tidak ada kontak mata, tidak ada pembicaraan, hingga film berakhir.

__ADS_1


Bambang dan Weny keluar menuju mobil, saat ini masih jam 9 malam. Bambang membuka pintu mobil avanza dan mempersilahkan Weny masuk. Bambang selalu memakai mobil ini sebenarnya hanya untuk menyempurnakan penyamaran.


"Saya mau ajak kamu ke suatu tempat, ada yang ingin saya bicarakan" Bambang mulai bicara.


Weny menoleh menatap pria yang sudah menjerat hatinya. Tampak gagah dan berwibawa saat memegang setir. Weny berpaling cepat untuk meredakan gejolak dalam dadanya.


"Maksud Mas, ingin bicara tentang apa, ini sudah malam saya khawatir Rani menunggu."


"Ya, bicara tentang kita" sahut Bambang menoleh wanita yang tampak gugup lalu kembali fokus menyetir. "Kabari saja temanmu, agar mereka tidak menunggu" sambung Bambang.


Weny membuka handphone dan menulis pesan kepada Rani memberi kabar bahwa akan pulang malam.


Apa yang ingin di bicarakan kepadaku, apakah dia akan mengutarakan perasaannya? yah..Semoga perasaanku ini tidak bertepuk sebelah tangan.


10 meni kemudian, mereka sampai di salah satu taman. Taman anggrek berwarna warni sungguh akan betah untuk muda mudi, yang sedang memadu kasih.


"Tempatnya indah ya Mas" Kata Weny setelah turun dari mobil. "Kamu suka?" Tanya Bambang kemudian mengajak duduk di salah satu kayu gelondongan.


"Suka Mas, setiap wanita pasti akan menyukai bunga" tutur Weny pandangannya lurus menatap anggrek.


"Wen"


"Ya Mas"


"Saya mau tanya, jawab dengan jujur, apakah kamu ada perasaan dengan saya?"


Weny terdiam, bibirnya seolah terkunci, ia pikir Bambang yang akan mengutarakan perasaannya. Tetapi mengapa justeru Bambang yang bertanya. Bukan ini yang di harapkan Weny.


"Jujur Weny, jika ia cukup mengangguk dan jika tidak cukup menggeleng."


Seketika Weny mengangguk. "Lalu? bagaimana dengan Mas sendiri, apakah kita akan menjadi pacar seperti remaja pada umumnya?" hup! Weny menutup mulut malu dengan pertanyaannya sendiri.


Bambang menggeleng.


Weny tahu jawaban Bambang rasanya sangat kecewa. Cairan bening jatuh dari kelopak matanya. Ini sungguh menyakiti hatinya, untuk apa mengajak menonton, mengajaknya ketempat ini jika hanya itu jawabannya. Sepertinya sia-sia malam ini ia keluar, lebih baik tidur dan mimpi indah.

__ADS_1


Weny lalu berdiri.


"Terimakasih Mas! antarkan saya pulang" pinta Weny datar.


"Tunggu! saya belum selesai bicara" Bambang menarik tangan Weny pelan. "Duduklah" titah Bambang. "Maaf, saya sudah membuat kamu menangis."


Weny duduk kemudian menyeka air matanya yang semakin deras.


"Saya memang tidak mau punya pacar, tetapi saya ingin punya istri." "Dan kamu lah orang yang tepat dan pantas menjadi pendamping saya." Bambang merogoh kotak merah dari saku jaket. Berjongkok di depan Weny.


Weny melebarkan mata, saking terkejutnya jantungnya seolah akan loncat dari raga.


Bambang memasangkan cincin di jari manis Weny. "Saya memintamu untuk menikah denganku, bukan karena aku tahu, bahwa kita di ciptakan untuk satu sama lain, tetapi yang lebih penting, karena aku tahu, kita bisa menjalani hidup ini berdua, maukah kamu menjadi istriku?"


"Deg"


Weny diam, secepat ini kah, Bambang melamar? jujur ia senang, tetapi memilih pasangan hidup bukan perkara mudah. Sebab menikah janji sehidup semati. Sebenarnya Weny ingin mengenal terlebih dahulu. Pasangan yang sudah lama berpacaran saja kadang masih merasa bimbang. Apa lagi ini tiba-tiba dilamar, masih banyak hal yang harus di pertimbangkan dengan matang. Agar kehidupan setelah menikah akan berjalan lancar mengarungi bahtera kehidupan. Weny menghela nafas.


"Jangan ragu please...." Ucap Bambang seolah tahu apa yang di pikirkan Weny.


"Saya ingin kita pacaran setelah menikah, dengan begitu kita akan bebas melakukan apapun. Karena kita pasangan halal"


"Tidak akan ada cibiran dari orang tentang hubungan kita, dan yang lebih penting allah swt akan memberikan kita kemudahan." "Karena ini sudah menjadi prinsip saya"


"Menurut pemikiran orang bijak, mengenal setelah menikah akan terasa indah dan tumbuh menjadi cinta yang kuat dan tulus, dapat menerima kekurangan dan kelebihan kita masing-masing" Insyaallah" tutur Bambang yakin.


Weny seolah terhipnotis oleh penuturan pria yang selama 5 bulan ia cintai dalam diam. Lagi-lagi Weny mengangguk.


"Terimakasih" Bambang melepas tangan Weny. "Minggu depan, saya bersama Ibu akan segera melamar kamu kepada orang tuamu, dan berikan kabar kepada beliau, kamu cukup di sini tidak perlu ikut"


Sekali lagi Weny mengangguk dan keduanya tersenyum.


Malam yang cerah, bulan tampak membulat di singgah sananya, di kelilingi kerlap kerlip bintang. Menjadi saksi kedua anak manusia dewasa yang akan menuju ke jenjang yang lebih serius. Angin malam membelai lembut hawa dingin menusuk pori-pori. Weny bersedekap untuk menghangatkan tubuhnya.


Melihat Weny kedingan Bambang membuka jaket dan memberikan kepada Weny. Weny diam seolah ragu akan mengambilnya. Memandangi jaket yang di sodorkan Bambang weny mencubit lengan sendiri. "Mimpikah? Gumamnya. Kejadian demi kejadian malam ini membuat Weny seperti terbang bersama kuda putih di negri dongeng.

__ADS_1


"Ayo pakai...saya tidak punya penyakit kulit kok" terkekeh.


__ADS_2