
Keesokan harinya tepatnya hari minggu. Seperti janji Daniel, Icha pun datang bersama Mama Nadyn, Papa Nano, Deni dan Siska turut serta.
"Umi...hu huu....Umi sakit apa, kenapa Icha nggak di kasih tahu...hu huuu...." Icha yang baru masuk. Kemudian, memeluk Rani dan menangis tersedu-sedu, di perut Uminya.
Rani mengelus rambut panjang anak sambungnya dengan penuh rasa kasih sayang.
"Eeehh...anak Umi yang cantik nggak boleh nangis dong...lihat, Umi baik-baik saja kan?" tanya Rani mendorong pundak Icha agar menatapnya.
"Iya, tapi Umi kurus..."ucap Icha memandang tubuh Rani dari atas sampai bawah.
"Gemuk kan hanya daging, nanti juga kembali lagi" hibur Rani.
"Sini, sini, duduk disamping Umi!" Rani menepuk ranjang di sampingnya.
Icha duduk lalu, Rani menghapus air matanya.
"Cuma kangen sama Umi aja nih, sama Papa nggak? padahal sudah sepuluh hari loh, nggak ketemu" protes Daniel pura-pura ngambek.
"Sama Papa juga..." Icha langsung memeluk Papanya, yang berdiri di samping Rani. Daniel memainkan rambut anaknya.
"Berarti sama kakak ipar, sudah sepuluh hari nggak di empuk-empuk ya Bang" bisik Deni yang berdiri di samping Daniel. Terkekeh.
"Kaya yang sudah pernah, aja loe!" Daniel kembali berbisik.
"Ngapain sih! pada bisik-bisik?" tanya Rani walau berbisik ia masih mendengar kekonyolan kakak beradik itu.
"Nggak tau tuh! dasar adik nggak jelas" terkekeh.
"Bagaimana, keadaan mu sayang?" tanya Mama Nadin yang berdiri di samping ranjang bersama Papa.
"Alhamdulillah...Ma, sebenarnya sudah pingin pulang tapi, Mas Dani tuh! nggak boleh" adu Rani.
"Kok aku, kan dokter yang nggak boleh" sahut Daniel menunjuk dadanya.
"Bu Rani, ini Mas Deni beli buah" sela Siska. Meletakkan buah di meja sofa.
"Nggak usah repot Mbak Siska, mau kesini saja sudah senang."
"Biar pulih dulu, lagian ngapain, pengen buru-buru pulang, biar di rumah juga belum boleh ngapa ngapain" titah Mama. Mama tahu, kalau sudah sampai di rumah, menantunya nggak mau diam.
"Betul kata Mama, kakak Ipar" sambung Deni.
Keluarga Papa Nano pun berbincang-bincang hingga waktu dzuhur.
"Mama pulang dulu ya sayang...jangan banyak pikiran, supaya cepat sembuh" Kata Mama.
"Baik Ma, terimakasih" sahut Rani seraya mencium punggung tangan Mama Nadyn.
__ADS_1
"Umi, Icha pulang ya...muach...muach" Icha menciumi pipi Rani berkali-kali"
"Okay...belajar yang Rajin, nggak boleh nakal sama Uti ya..." pesan Rani.
"Iya, nanti kalau sudah pulang, Umi bobok sama Icha ya..." kata Icha matanya melirik Papanya.
"Siip..." sahut Rani.
"Papa pulang dulu ya Ran, benar kata Mama, kamu tidak boleh banyak pikiran" sambung Papa.
"Iya Pa"
"Bu Rani, saya juga pamit" Siska menyalami tangan Rani.
"Mbak Siska, kok manggilnya Ba bu saja sih? kan sebentar lagi mau menjadi adik ipar"
Siska tersipu. Menoleh ke arah Deni.
Keluarga Papa keluar meninggalkan Daniel dan Rani.
"Mas istirahat dulu gih, sepertinya capek banget" ucap Rani. Menatap suaminya memang terlihat lelah. Semenjak berada di Jawa timur sampai sekarang belum benar-benar istirahat.
"Iya yank, kamu makan dulu, baru aku nanti istirahat" ucap Daniel sambil membuka makan siang dan hendak menyuapi istrinya.
"Aku makan sendiri saja Mas, sebaiknya Mas istirahat"
"Sudah jangan bandel, sini aku suapi" Daniel menyuapi Rani. Rani memandangi wajah suaminya terharu. Betapa tidak? perhatian Daniel tercurah untuknya.
"Terimakasih kasih ya Mas, Mas sudah perhatian sama aku, pecaya sama aku, dan mencintai aku" ucap Rani berkaca-kaca.
"Kamu ini bicara apa sih yank, aku ini kan suami kamu, ya wajarlah, kalau aku melakukan semua ini"
Mereka pun introspeksi diri masing-masing. Pahit getirnya hidup telah mereka lalui. Dan kini tinggalah rasa syukur telah memetik buah yang manis atas kesabarannya.
******
Di tempat yang berbeda. Bambang sedang duduk di gubuk. Memandangi sayur mayur yang memanjakan mata. Seolah betah berada di tempatnya.
Pertanian milik orang tua Rani memang sangat luas. Sehingga menjadi tumpuan hidup bagi warga sekitar. Pak Siswoyo selain menjadi sosok yang buat panutan. Juga sangat baik terhadap sesama, suka menolong dan tanpa pamrih. Bambang bersyukur sekali bisa mengenal Pak Siswoyo.
Di balik rasa sakit hatinya. Namun, Bambang menemukan obat penyembuh luka hatinya. Atas petuah-petuah yang bijak dari Pak Siswo.
Tadi malam Bambang menginap di rumah Dino. Sebenernya Bambang ingin menginap di hotel. Tetapi Pak Siswo melarang.
"Kamu sudah shalat dzuhur le?" tanya Pak Siswo duduk di samping Bambang.
"Sampun Pak" Bambang mengangguk Sopan.
__ADS_1
"Kamu ternyata di jakarta sukses ya le?"
"Bapak bisa saja, semua itu punya orang tua saya Pak, saya hanya meneruskan saja" sahut Bambang merendah.
"Semua aset milik orang tua, ya milik anaknya le, kadang orang tua bersusah payah mengumpulkan harta, hanya ingin anaknya tidak susah di kemudian hari" titah Bapak"
"Leres Pak."
"Tetapi, kenapa ya Pak? Rani sudah memeliki semua ini, malah bersusah payah pergi merantau, padahal pertanian ini sudah menjadi sumber rizki?"
"Yah... Bapak juga bingung sama anak itu, padahal rencana bapak dulu sudah matang" "Ingin dia kuliah, sambil mengelola perkebunan bersama kakaknya."
"Tetapi, malah merantau dan rela menjadi pengasuh" tutur bapak mengingat anak perempuan satu-satunya. Menggeleng.
"Pengasuh Pak? maksudnya?" tanya Bambang bingung.
"Ceritanya panjang le..saya kasihan sama anak itu, di tinggal ibunya sejak kelas dua SD. tutur Bapak berkaca-kaca.
"Kehilangan sosok ibu, membuatnya terpuruk dalam kesedihan, bersusah payah Bapak membuat anak itu kembali ceria."
"Setelah SMK, hubungan percintaanya, lagi-lagi membuatnya terluka"
"Tidak bedanya cerita kamu le, dengan membawa luka hatinya, ia nekat merantau dan menjadi pengasuh anak boss nya. Yaitu Daniel yang sekarang ini menjadi suaminya."
Bambang terkejut. Seketika menatap Pak Siswo. Bambang baru tahu, ternyata begitu kisahnya sampai Rani menjadi Istri Daniel.
"Itulah akhirnya Rani menjadi Istri sang majikan." tutur Bapak panjang lebar.
Bambang manggut-manggut mendengar penuturan Pak Siswo. Ia menjadi tahu perjalanan hidup Rani. Ternyata sudah dari dulu sangat menderita. Bambang pun berdoa dalam hati. Semoga tidak ada lagi penderitaan Rani kedepannya.
"Kalau kebun yang sebelah sana, di tanami apa Pak?" tanya Bambang mengalihkan. Sebab Bambang melihat raut wajah Pak Siswo menanggung beban kesedihan.
Begitulah, setegar apapun orang tua melihat anaknya menghadapi kemelut yang di alami, tentu akan bersedih.
"Oh di sebelah sana ada tambak, bermacam-macam ikan dan udang, itu miliknya Dino, kamu mau lihat kesana le?"
"Boleh Pak"
Bambang mengikuti langkah Pak Siswo. Ditambak ikan sudah di sediakan pancing. Biasanya Dino mancing di sela-sela kesibukannya. Hanya untuk sekedar menghibur diri.
"Saya boleh mancing Pak?" tanya Bambang.
"Boleh, silahkan."
Bambang pun mancing. Seumur hidup baru kali ini merasakan yang namanya mancing. Menyenangkan. Apa lagi, mendapatkan ikan, Bambang bersorak kegirangan. Pak Siswoyo terkekeh melihat tingkah Bambang.
Bambang bersenang-senang di kebun menjelang ashar balik kerumah Pak Siswo.
__ADS_1
*****
"Haii...reader akan ada babak baru dalam kisah rumah tangga Rani dan Daniel dan juga kisah cinta Bambang. Tetap disini yah.