ISTRI SANG MAJIKAN 2

ISTRI SANG MAJIKAN 2
Part 54


__ADS_3

Sekuat apapun Rani akan menyembuhkan luka di hatinya goresan luka yang di torehkan Daniel, tetap saja berbekas tidak mulus lagi seperti dulu. Wajar, karena belum sampai luka itu sembuh sudah tergores lagi luka yang lain.


"Aku mengerti, apa yang kamu rasakan sayang, ceritakan semua padaku, aku akan berusaha merubah perilaku aku." Daniel merengkuh tubuh Rani ke dalam dadanya.


Air mata Rani membanjiri kemeja Daniel.


"Aku berjanji, mulai sekarang, akan membuat mu terbebas dari air mata." Daniel mengusap punggung Rani yang sedang terisak.


"Maafkan aku yang selalu membuat kamu kecewa dan sedih, izinkan aku untuk mengobati luka hati kamu, sungguh, aku sangat mencintai kamu."


Daniel merenggangkan pelukanya menatap mata Rani sendu. Jarinya menelusuri wajah Rani yang memerah. "Please cerita sama aku.


Rani beringsut mundur dan duduk di lantai bersandar tempat tidur, menyembunyikan wajahnya memeluk dua lututnya, dan terus terisak.


Daniel mendekat duduk bersila di depan Rani dan membelai kepala istrinya yang masih mengenakan jilbab.


"Please cerita, sayang."


Rani mengangkat kepalanya kali ini menatap wajah suaminya dengan linangan air mata.


"Selama aku tidak ada, apa yang terjadi antara Mas Daniel dengan Sherly?"


"Sherly?! Daniel wajahnya mendadak merah seolah menahan marah. Hanya sekedar mendengar namanya saja rasanya sudah ingin mencabik cabik seperti elang memangsa anak ayam.


"Kenapa kamu sebut wanita ular itu?"


"Hiks hiks, kemarin dia datang kesini, hiks hiks."


"Dia kesini! lalu apa yang wanita itu lakukan padamu?" Tanya Daniel memburu.


"Hiks hiks...Dia ngamuk, dia juga bilang kamu sudah menikah siri dengannya"


"Aku kesel, kalau sampai Mas lakukan itu, aku nggak mau lagi memaafkan Mas...hu huuuu..


Daniel tersenyum menatap Istrinya.


"Mas Daniel jahat! malah senyum-senyum berarti bener kan, Mas nikah sama dia" hu huuu..." Rani memukul-mukul dada Daniel pelan sambil sesegukan.


"Jadi cemburu nih ceritanya?" hehehe Daniel terkekeh.


"Huh! kamu, cemburu sama dia, cemburu tuh sama selebriti kek, mendengar namanya saja, najis! tralala."


"Aku tuh serius! kenapa sih, malah bercanda terus?! Rani berdiri menjatuhkan badanya di tempat tidur.


Daniel berdiri menyusul Istrinya dan ikut berbaring di sebelahnya.


"Malah ikut kesini, sebel aku! tidur sama Sherly sana!" hu huuu. Rani memiringkan badan membelakangi Daniel.


"Ogah! najis, mending tidur sama istriku, sudah cantik, baik, pemaaf, walaupun kalau ngambek suka kabur." hehehe..." Tangan Daniel melingkar di perut Istrinya.


"MAS! AKU TUH SERIUS, NGERTI NGGAK SIH?! Bentak Rani. Membuat Daniel seketika melepas rangkulanya karena terkejut dengan bentakan Rani.


"Ya allah yank, aku serius, kalau aku mau berkhianat sama kamu, kenapa harus sama wanita ular itu, banyak kok wanita di luar sana yang tergila-gila sama Mas"


"Nih, biar suami kamu ini sudah tidak seperti remaja seusia Reno, tapi banyak yang suka sama Mas."

__ADS_1


"Tetapi, hati Mas sudah terpatri untuk kamu,"


"Bagaimana, masih nggak percaya sama Mas?" Daniel kembali melingkar kan tangannya.


"Tapi, Sherly memberikan surat nikah sirih, yang sudah Mas tanda tangani" Tutur Rani masih terisak.


"Terus, kamu percaya begitu saja, surat seperti itu gampang kok dibuat"


"Nih, sekarang Mas mau cerita sama kamu" "Kamu belum pernah tahu kan, kalau Mas masuk penjara gara-gara wanita ular itu?"


"Masuk penjara?" Rani seketika berbalik badan berhadapan dengan suaminya.


"Iya, Mas waktu itu di penjara gara-gara menampar Sherly"


"Terus?" Tanya Rani tidak sabar.


"Sebenarnya Mas tidak mau mengingat ini lagi, tetapi Mas Rasa harus cerita sama kamu yank"


"Setelah kepergian kamu, Mas jadi kacau, rasanya pengen marah dengan diri sendiri" "Karena Mas sudah bersalah, tidak percaya sama kamu, asal kamu tahu yank, Mas tuh rasanya ingin bunuh diri jika tidak ingat dosa"


"Mas sudah nuduh kamu sebagai pencuri, karena saat itu aku sedang bingung"


"Aku membeli tanah untuk membuat cabang Mall, ternyata aku ditipu, tanah yang aku beli tanah sengketa, padahal aku sudah mengurangi modal dagang hingga pincang"


Daniel menghela nafas untuk mengurangi sesak di dadanya, ketika mengingat cerita hidup keluarganya saat itu.


"Terus, terus" Rani mendekat lagi, hanya berjarak sedikit.


"Ya gitu, waktu itu aku mengurus kesana kemari sendiri, tidak bisa di wakilkan, harus bolak balik kantor polisi, hingga tidak ada waktu untuk kamu dan Icha.


Rani manggut-manggut mendengar cerita suaminya, andai saja dulu mau bercerita kepadanya, walau tidak bisa membantu materi setidaknya bisa menghiburnya.


"Saat itu aku kangen sama kamu, sebab waktu itu aku tidur di kantor untuk menyingkat waktu, karena jarak dari kantor ke kantor polisi tidak terlalu jauh" "Di jalan aku ingat, masih ada tabungan perhiasan untuk menutup kerugian"


"Tetapi sampai di rumah perhiasan itu lenyap."


"Maaf ya, saat itu aku panik, sudah menuduh kamu" Daniel menatap Rani dengan penyesalan yang dalam.


"Kenapa waktu itu Mas nggak cerita sama aku?" Kata Rani.


"Tidak tau yank, waktu itu aku benar-benar ngebleng" "Ternyata yang ambil perhiasan itu wanita ular itu"


"Aku sudah tahu kok" Jawab Rani cepat.


"Kamu tau darimana?" Tanya Daniel.


"Ya Allah Mas, aku juga nggak begok-begok banget kali? waktu itu yang datang kerumah kan hanya Sherly, terus siapa lagi?"


"Terus, terus, bagaimana bisa, sampai Mas di penjara?"


Tanya Rani menggebu-gebu.


"Waku itu Sherly datang kekantor, memamerkan anggota tubuhnya"


"Teruuusss...Mas apaaiiinnn Sherly... di remes-remes kan sama Mas" Rani spontan bangun dan duduk, Ia marah ingin mencakar pria di depannya.

__ADS_1


"Heee..jangan marah dulu, mau terus nggak ceritanya" Daniel melihat istrinya cemburu ingin tersenyum tetapi di tahan.


Rani merebahkan tubuhnya telungkup.


"Heee..mau terus nggak, kalau di ajak bicara tuh harus perhatikan wajah lawan bicaranya" Daniel beralasan padahal dirinya kalau di tanya saja suka asyik dengan handphone.


"Ya, terus saja! aku begini juga dengar kok!" Ketus Rani.


"Nah saat itu Sherly menggoda Mas, duduk di pangkuan Mas" Mendengarkan kata pangkuan Rani memiringkan badan menatap Daniel tajam.


"Mas baru sadar kalau Sherly memakai salah satu kalung dan gelang."


"Saat itu Mas ingat kamu yank, Mas semakin bersalah, terus reflek aku lempar tubuh Sherly hingga terjerembab ke lantai."


"Belum puas sampai segitu, Mas tampari wajahnya hingga memerah"


"Nah gitu ceritanya yank, Papa Gunawan melaporkan Mas ke polisi, karena ada bukti memar" "Akhirnya Mas di penjara sampai tiga bulan potong masa persidangan."


Rani melihat wajah suaminya, terasa cape menjadi kasihan.


"Maafkan aku Mas." Ucap Rani lemas.


"Aku yang harusnya minta maaf yank, gara-gara aku, anak kita keguguran, dan saat kamu berjuang mempertaruhkan nyawa, aku tidak ada di sampingmu" Tutur Daniel wajahnya tampak menanggung penyesalan.


"Mas tau dari mana?" Tanya Rani kaget. Padahal Rani tidak bercerita kepada keluarga mertua perihal kehamilannya.


"Dokter Rizal sama dokter Zulmy yang sudah menceritakan semuanya, karena dokter Rizal itu sahabat SMA aku yank."


Rani tertegun mendengar cerita suaminya, ternyata selama tidak ada dirinya di samping suaminya, Ia banyak merasakan kepahitan.


"Tapi waktu aku di rumah sakit, Mas pernah datang menjenguk aku nggak?" Tanya Rani ingin tahu siapa gerangan yang membelikan baju ganti untuknya saat itu.


"Nggak, kalau aku tau kejadian itu pasti aku akan menjaga kamu yank" masa aku nengok terus pulang."


"Terus yang membelikan aku pakaian lengkap siapa ya Mas?"


"Kata Rizal sopir taksi." Jawab Daniel lirih.


"Astagfirlullah...abang sopir taksi itu?


"Yaaahh..aku malu Maas..." Rani menyembunyikan wajahnya menyusup ke dalam bantal.


"Yah, mau bagaimana lagi yank, biar bagaimanapun aku yang salah, nanti malam kamu hubungin dia ya, undang dia kesini, Mas ingin berterimakasih kepadanya."


"Iya Mas, tapi aku malu, masa dia belikan daleman juga buat aku, kalau nanti ketemu, mau di taro di mana ni muka?"


"Hehehe.. kamu tuh yank ngemesin" Daniel mencubit pipi Istrinya tampak berisi tidak seperti dulu."


"Iihh...jail banget sih!" Rani cemberut.


"Mana daleman yang di belikan abang sopir taksi" Tanya Daniel.


"Hehehe aku pakai sih, aku pikir Mas yang belikan"


"Warnanya apa? Daniel menyibak kerudung di pundak.

__ADS_1


"Nggak keliatan yank, Mas buka aja kerudungnya ya" Daniel membuka kerudung Rani yang hampir setahun ini tidak ia lihat jantungan dag dig dug. Terpampang leher yang putih mulus Daniel menelan saliva.


"Belum kelihatan yank" Daniel menyibak baju di pundak Rani, Rani tidak sadar, karena sedang WA Bambang. Daniel membuka kancing baju Rani yang paling atas. "Kirim pesan siapa yang?" Tanya Daniel mengalihkan. Membuka kancing Rani satu persatu tampak bra berwarna pink. Rani selesai kirim pesan tersadar bahwa dadanya sudah terbuka lebar."Aaahhh...Mas Daniel mau apaaaa..."


__ADS_2