
Dengan langkah terseok-seok menarik gaun pengantin yang sangat panjang. Lidia berjalan pelan menuju villa.
Sesekali menghapus air matanya dengan jilbab phasmina yang ia kenakan. Sebab, Lidia tidak membawa tissue.
Langkahnya terhenti tatkala ia sampai di depan vila kemudian masuk kedalam. Lidia kemudian duduk di lantai tanpa alas meluruskan kakinya yang hampir seharian terus berdiri.
Lidia menyandarkan kepalanya di tembok memejamkan mata. Bayangan pria yang baru hari ini menjadi suaminya membopong tubuh mantan tunangannya air bening pun kembali luruh.
"Kamu jahat Mas... kamu jahat" hiks hiks. Tangisnya tidak ada yang mendengar kecuali dirinya sendiri. Hingga satu jam ia menangis. Tangisnya berhenti tatkala terdengar suara adzan di handphone miliknya.
Lidia pun bangkit berdiri membuka gaun pengantin dengan susah payah. Gaun terlepas dari tubuhnya kemudian melangkah ke kamar mandi. Lidia mengguyur tubuhnya menyabuni wajah dengan sabun kusus yang sudah ia siapkan dari kemarin.
Muke up yang sudah terasa kaku di wajahnya membuatnya segera ingin menghapus agar ringan. Walaupun sudah luntur sebagian karena air matanya yang membanjiri wajahnya.
30 menit membersihkan badan. Lidia keluar dari kamar mandi rasanya semakin rileks. Setelah mengenakan baju piama. Lidia kemudian menjatuhkan tubuhnya di kasur.
Untuk menghibur diri sendiri ia membuka handphone. Lidia kemudian membuka group chat teman-temannya. 40 orang temannya sekelas dulu semuanya komentar. Padahal selama ini sudah jarang ada yang komen di group. Ya jelas membicarakan dirinya siapa lagi? Lidia tidak berniat membalas komentar hanya mendiamkan saja.
Lidia kemudian membuka chat berikutnya, yang menyita perhatiannya. "Maulana? darimana dia dapat nomor aku?" monolog Lidia. Dilihat dari foto profile jelas foto Maulana.
...Maulana: "Kamu tega ya Lid! aku nggak nyangka, pengorbanan aku selama ini kamu sia-siakan."...
..."Terus apa? arti kebersamaan kita selama ini! aku pikir kamu serius. Ternyata bohong!!"...
Lidia pun langsung menghapus chat Maulana, kemudian memblokir nomor tersebut.
"Apa sih, ini anak? nggak jelas banget! lagian siapa juga yang suka sama dia. Dia saja yang gr!" gumamnya. Kemudian melemparkan hp ke sembarang arah. Sudah kesal malah nambah kesal saja.
Waktu sudah jam 7 malam. Namun, Bambang belum menampakkan batang hidungnya. Lidia bangun, kemudian menarik gorden. Melihat di luar tampak dari kejauhan ada api unggun yang membumbung tinggi. Lidia pun flashback ke masa sekolah dulu.
Flashback on.
Ketika itu osis sedang mengadakan kegiatan kemping di salah satu hutan di Jakarta. Lidia pun sedang asyik bernyanyi dengan rombongan osis dari beberapa kelas tampak akrab. Itulah pramuka, selalu menjaga kebersamaan tidak seperti ketika di seolah, hanya bekumpul dengan teman itu, itu saja. Disaat sedang bernyanyi ada yang menarik tangannya dari belakang. Karena gelap, Lidia tidak mengetahui siapa orang itu. Ketika ingin berteriak mulutnya di tutup dengan jari oleh seorang pria.
"Seettt... jangan berisik. Nanti ketahuan sama ketua osis" ucap orang itu. Lidia kemudian tersenyum dari suaranya sudah tahu siapa pria itu.
__ADS_1
"Mas Wibi..." ucap Lidia senang, Lidia tahu, kalau Wibi tidak ikut dalam kegiatan kemping. Tetapi dia ada disini datang untuk dirinya.
"Ini, aku bawain baso, dimakan ya" ucap Bambang, menyerahkan kantong plastik putih sambil tersenyum.
"Terimakasih ya Mas. Mas tahu saja kalau hawanya dingin, cocok makan baso" ucap Lidia sambil mengintip sedikit baso dalam kantong.
"Aku pergi ya" ucap Bambang kemudian berlalu sambil melambaikan tangan kepada Lidia.
Lidia tersenyum sumringah kemudian turut melambaikan tangan.
Flashback off.
Lidia tersenyum mengingat kala itu. Tetapi, Lidia kembali sedih saat melihat jam saat ini sudah jam 9 malam. Namun, Bambang belum juga datang. Untuk melepas kejenuhan ia membuka tas peralatan muke up, kemudian ambil masker wajah dan memakainya.
Biasnya masker akan di basuh setelah 30 menit. Namun, Lidia ketiduran karena merasa lelah dan kesal hari ini.
Bambang PoV.
Mendengar ucapan pria yang bernama Maulana tadi, kusembunyikan kekesalan dan rasa cemburuku terhadap Istriku.
"Ji, bawa gadis ini ke rumah sakit, pingsan ini sepertinya" kataku kepada Panji, sambil merebahkan Weny di atas meja.
"Walah! semprol! sampean ki...! dasar menthek jelek. Orang lagi kawinan malah gendong-gendong gadis lain!" Omel panji.
"Sudah, jangan banyak omong! bawa dia kerumah sakit" sahutku kesal. Bukannya karena aku mengkhawatirkan Weny. Tapi aku takut terjadi apa-apa. Sebab, kejadianya di pestaku.
"Ada apa ini?" tanya Ibu dan Bapak mendekat. "Ini bude Mbak Weny pingsan, eh kelakuan Mas Wibi malah menggendongnya."
"Kalau sampai Mbak Lidia marah bagaimana coba"
adu Panji. Ibu menatapku tajam, kemudian mlengos menemui Weny.
Semua orang yang masih di situ mengerubungi Weny dan membaluri dengan minyak angin. Kecuali kami bertiga Bang Daniel dan Reno. Rani dan Nena kemudian mendekati kami. Rani kelihatan kesal.
"Bang, kebangetan ya! ngapain sih pakai angkat-angkat Weny"
__ADS_1
"Kasihan Lidia tahu! memang nggak ada orang lain!" Rani pun mendekat ikut ngomel menatapku kesal.
"Tadi spontan saja Ran, habisnya siapa yang mau ngangkat"
"Bang Daniel? atau, Reno?" aku membalikkan kata-kata.
"Ihh! ya jelas nggak lah! jika suamiku berani pegang wanita lain? aku jewer kupingnya." kata Rani sambil menjewer telinga suaminya.
"Eh yank. Sakit" ucap Daniel meringis.
"Apa lagi Mas Reno! mau macam-macam lo, gue, putus!" tukas Nena sambil memperagakan ketika sedang motong jarinya sendiri. Reno meringis seraya menggelengkan kepala.
Panji kemudian membawa Weny kerumah sakit di antar beberapa panitia.
Dengan cepat aku balik badan kembali ke pelaminan ternyata Lidia sudah tidak ada.
"Yah marah pasti" gumamku. Ketika hendak menyusul ke vila langkah ku berhenti karena ada yang memanggil.
"Wibi! mau kemana loe? buset dech! masih sore kali? jangan kekamar dulu!" ujar Tomy jika berbicara memang dia selalu sekenanya.
"Brengsek loe! kirain nggak datang!" jawabku, kepada Tomy dan Fery teman waktu kuliah dulu.
"Ya elah loe! macam nggak tau gue saja, molor lah seharian, malam kan begadang" cerocos Tomy. Kami pun berbincang-bincang hingga aku mengurungkan niat ke vila. Masa iya, ada tamu aku tinggalkan.
"Bi, Ibu sama Bapak pulang dulu ya," Bapak sama Ibu berjalan ke arahku.
"Ya Bu" sahutku.
"Om, Tante" ucap Tomy dan Fery menyalami Bapak sama Ibu. "Maaf ya nak, saya tinggal dulu" pamit Ibu kemudian pergi.
Satu persatu para panitia membubarkan diri. Termasuk Rani, Nena, Daniel dan Reno. Hanya tinggal aku dan bagian catering yang masih di sini. Namun, tamu yang agak jauh baru datang. Terpaksa aku menyambut tamu-tamu ku. Salah kami juga tidak mencantumkan sampai jam berapa kami menerima tamu ketika mencetak undangan.
Setelah kepergian Tomy. Masih banyak teman-teman kuliahku berdatangan. Padahal waktu sudah jam delapan malam, aku gelisah memikirkan istriku pasti sudah menunggu.
****
__ADS_1
"Hai... pembaca yang budiman, jika berkenan Mampir juga say CERITA MAWAR SUAMIKU MENIKAH LAGI. semoga semua sehat ya" ❤