ISTRI SANG MAJIKAN 2

ISTRI SANG MAJIKAN 2
Part 41


__ADS_3

Bambang mengantarkan Rani, tetapi kali ini bukan ke restoran seperti biasa. Melainkan kerumah Rani dan baru kali ini Bambang tahu. Jika Rani tinggal di komplek kawasan elit. Karya arsitektur yang sudah profesional. Rumah mewah ke kinian dan elegan.


"Mbak Rani tinggal di sini ya?" Tanya Bambang senang, karena sudah tau tempat tinggal Rani.


"Iya Bang, terimakasih ya." Tutur Rani segera membayar jasa Bambang saat ini. Bambang sebenarnya ada rasa tidak nyaman setiap menerima bayaran dari Rani. Tetapi apa boleh buat, demi menyempurnakan penyamaran nya.


"Saya pamit mbak, sampai bertemu kembali" Ujar Bambang sambil berlalu. Bambang harus segera pulang. Karena hari ini hari minggu di rumahnya sedang ada acara. Arisan Ibu-ibu para istri almarhum Ayahnya Wibi Sono sekaligus haul.


"Baik Bang" Ucap Rani. Rani bergegas masuk ke dalam mengajak temanya, dan Istirahat untuk hari ini. Besok pagi baru mulai bekerja.


Sementara Bambang di dalam mobilnya menghela nafas berat. Mau sampai kapan cintanya dengan Rani akan bersemayam di dalam dadanya. Bambang meraup wajahnya gusar. Yang ia rasakan saat ini sungguh tidak benar, karena mencintai Istri orang. Tetapi sekali lagi di dalam hati kecilnya toh tidak melanggar norma. Dua jin baik dan jin buruk di dalam hati Bambang seolah sedang adu argumen dan entah siapa yang akan menjadi pemenangnya.


15 menit kemudian Bambang sampai di rumah.


"Darimana saja Bi?" Tanya Ibu Widi yang sedang menata makanan dari beberapa hidangan tampak meriah.


"Ada urusan sedikit Bu." Sahut Bambang seraya membantu Ibu menyusun minuman beraneka rasa dan di masukkan ke dalam galon-galon kecil. Juce jeruk, lemon tea, jus alpukat, semua ini di pesan dari restoran milik Rani.


Sudah menjadi langganan bagi Ibu Widi mempercayakan masakan minuman dan kue-kue dari restoran milik Rani. Bahkan Showroom untuk makan karyawan setiap hari sudah menjalin kerjasama dengan Rani.


"Berapa Banyak yang akan hadir di acara ini Bu?" Tanya Bambang.


"Tidak terlalu banyak, paling seratus keluarga, tetapi biasanya anak cucunya pada ikut." Sahut Ibu.


"Nanti biasanya banyak anak gadis teman Ibu, yang akan hadir Bi, kamu tinggal pilih mau yang mana" Titah Ibu Widi.


"Ibu mulai dech! main jodoh-jodohkan!" Jawab Bambang merengut kesal.


"Hehehe...ya kalau kamu mau Bi, kalau nggak mau juga nggak apa-apa kok" Jawab Ibu. "Tetapi, ada tapinya nih! tahun depan Jika kamu belum mendapatkan jodoh juga, Ibu tidak akan tinggal diam." Kata Ibu Widi mengancam.


"Mas Wibi! kemana lagi tadi? datang terus ngilang seperti jalangkung." Kata Dira ketus.


"Namanya juga anak muda Dir ya keluarlah! cari gebetan." Sahut Bambang.


"Beh! kayak yang punya pacar saja! dari dulu juga bilang begitu buktinya mana?" Cerocos Dira mencebikan bibirnya.


"Kalian ini ya, ribut melulu, heran Ibu!" Protes Ibu Widi kepada kedua anaknya.


"Bi, gelar karpet panjang gih, siapa tahu ada yang bawa anak kecil, bisa buat main nanti." Titah Ibu.


"Baik bu"


Bambang dan Dira membantu Ibunya. Sambil melempar sindiran-sindiran seakan mereka tidak kehabisan kata-kata.

__ADS_1


siang pun datang tamu sudah mulai hadir.


"Assalamualaikum.." Wanita cantik dan lembut setengah baya datang bersama cucunya.


"Waalaikumsalam..." "Waah Jeng Nadyn....apa kabar?" muach-muach.


Ya, ternyata Mama Nadyn yang datang bersama Icha. Mama Nadyn dan Ibu Widi segera cipika cipiki.


"Jeng Nadyn datang dengan siapa?" Tanya Ibu Widi melongok keluar mencari keberadaan Papa Nano. Sahabat Pak Wibi Sono ketika masih hidup dulu.


"Saya di antar sopir jeng, sama cucu saya." Sahut Mama Nadyn serasa mengelus rambut panjang Icha.


"Ayo sayang salim tangan sama Uti Widi." Titah Mama Nadyn kepada Icha.


"Uluh...uluh...cucunya Sudah besar ya Jeng." Kata Bu Widi menoel pipi Icha.


"Siapa Namanya sayang?" Tanya Bu Widi.


"Keysia,Uti..." Sahut Icha tersenyum menunjukkan lesung pipinya membuat gemas siapapun yang melihatnya.


"Daniel katanya sudah menikah lagi, kemana Istrinya, kok tidak di ajak?" Tanya Bu Widi.


Mama Nadyn dan Icha saling pandang bingung! entah mau jawab apa. Kenyataannya menantunya kini pergi entah ke mana.


"Hai... Selamat siang Jeng Laura" Jawab Bu Widi menyalami kedua tamunya.


Mama Nadyn agak kurang nyaman dengan kehadiran Laura mantan besan dan Sherly dengan pakaian yang kurang bahan. Tetapi setidaknya, bisa mengalihkan pertanyaan Bu Widi tentang rumah tangga Daniel.


"Hai cantik, namanya siapa?" Tanya Dira dan Bambang berdiri di samping Ibunya. Sebenarnya Bambang malas gabung dengan acara Ibu-ibu. Tetapi Ibu Widi memaksa agar Bambang dan Dira bergabung.


"Nama saya Icha Tante" sahut Icha.


"Oh kelas berapa sayang?" Tanya Dira menoel hidung mancung Icha.


"Kelas empat." Sahut Icha tersenyum.


"Sini ngobrol sama Tante" Dira hendak mengajak Icha duduk di karpet.


"Oh Ini Dira ya" Makin cantik saja" Ucap Mama Nadyn.


"Hehehe...Tante bisa saja" Sahut Dira.


"Kalau ini Wibi ya" Tanya Mama Laura.

__ADS_1


"Iya Tante, saya Wibi" Sahut Bambang seraya menyalami Mama Laura dan Mama Nadyn.


"Kenalkan nak Wibi, Ini anak kedua Tante." Mama Laura memperkenalkan Sherly.


"Maaf Tante Nadyn, Icha saya ajak duduk di sebelah sana ya" Kata Dira menuntun Icha duduk di karpet.


"Oh silahkan Nak Dira" Sahut Mama Nadyn.


Tamu Ibu Widi satu persatu datang, suasana tampak Ramai, Bambang melipir menuju gazebo di taman belakang rumah, tanpa sepengetahuan Bu Widi.


"Ayo jeng semuanya di cicipi" Kata Bu Widi. Semua tamu mencicipi hidangan.


"Enak banget ya masakanya" kata salah satu Ibu. "Benar! ini Mah semuanya enak" sahut Ibu yang lain. keadaan menjadi riuh memuji semua hidangan. Tidak terkecuali Mama Nadyn.


"Jeng Widi, masakannya enak banget, ini masak sendiri ya?" Tanya Mama Nadyn.


"Oh bukan jeng Nadyn, ini semua saya pesan dari catering langganan saya, orangnya masih gadis, cantik lagi jeng" Tutur Bu Widi. "Ini jeng, saya kasih kartu namanya," Bu Widi menyodorkan karto nama.


"Cafe Dukrengteng? Mama Nadyn mengerutkan dahinya. "Kok namanya aneh ya jeng Widi, Dukrengteng" Kata Mama Nadyn.


"Tapi kok saya rasanya pernah makan masakan ini, tapi dimana ya" Mama Nadyn tampak berpikir.


Ibu Widi membagikan nomer telepon ke seluruh ibu-Ibu yang menyukai masakan Rani kecuali, Mama Laura. Karna Mama Laura menolak.


Sherly clingak clinguk, mencari keberadaan Bambang. Kemudian Sherly tanya ke salah satu ART. Kata ART Wibi sedang duduk di gazebo. Dengan tidak tau malunya, Sherly menyusul Bambang.


Sherly sudah tahu Bambang ketika sedang membuntuti Rani. Tetapi Shelly pikir Bambang hanya sopir taksi biasa. Sherly lalu mendekati Bambang yang sedang asyik dengan handphone.


"Boleh juga laki-laki ini, walaupun tidak setampan Daniel tapi menurut Mama, dia kan orang kaya? Monolog Sherly.


Puk, Sherly menepuk pundak Bambang. Bambang terlonjak kaget, hingga handphone yang di pegang terpental. "Anda ini sungguh tidak sopan ya nona!" Tukas Bambang.


" Kenalkan Bang, nama saya Sherly" Sherly menatap Bambang menggoda.


"Wibi!" Bambang menatap Sherly tanpa ekspresi.


Sherly duduk di samping Bambang tanpa ada rasa risi, padahal baru kenal dengan Bambang.


"Mas Wibi kok nggak ikut gabung, padahal aku lapar loh, makan yuk" Sherly menarik tangan Bambang.


Bambang menepis tangan Sherly.


"Maaf! bukan muhrim, jangan sentuh saya!" Ucap Bambang tanpa melihat Sherly. Bambang sibuk memasang kembali handphone yang berantakan.

__ADS_1


"Ih anda ini ini munafik, benar tidak tergoda dengan saya?" Sherly mencondongkan dadanya di depan Bambang.


__ADS_2