
Rani menangis tersedu-sedu, sebelum memutuskan untuk menikah, tentu hanya satu harapannya yaitu bahagia. Faktanya konflik rumah tangga, singgah dan menggangu keharmonisan dirinya dan Daniel. Bahkan tidak jarang harus di hadapkan dalam kondisi sulit, di hadapkan dalam suatu pilihan yaitu mempertahankan rumah tangganya yang tinggal puing-puing. Atau justru sebaliknya.
"Ra, dengarkan aku, yang kamu katakan memang benar, sudah terlalu banyak aku menggores kan luka di hatimu." "Tetapi semua itu di luar kendaliku"
"Aku mohon Ra, pertimbangkan sekali lagi, kita rajut lagi cinta kita yang sudah terkoyak karena ulahku."
Rani diam, tidak menjawab, cepat-cepat menghapus air matanya. Khawatir jika Icha cepat keluar dari kamar mandi tentu tidak boleh melihatnya.
Daniel lalu beranjak, bersimpuh di depan Rani, kedua tangannya di letakkan di atas lutut Rani. Kemudian Ia telungkup seperti sedang sungkeman kepada Ibunya.
"Maaf-maaf, maaaf. Memang hanya kata itu yang bisa aku ucapkan saat ini, dan tidak akan ku tarik kata itu, walau kamu terasa muak mendengar."
Rani mengangkat tangan ingin mengelus rambut suaminya. Tetapi menurunkan kembali.
"Anda cepat bangun! jika tidak, saya akan berdiri dan pasti anda akan terjengkang."
"Kruik...kruik" Perut Daniel terdengar nyaring.
Rani tersenyum di tahan.
Daniel mengangkat kepala menatap Rani nyengir kuda.
"Anda lapar, saya akan pesan Nena, agar membawa makanan pulang."
"Oh tidak usah, di mobil tadi ada nasi kotak, aku ambil dulu ya." Daniel beranjak, sebelumnya mengecup tangan Rani terlebih dahulu. Ia keluar dengan rasa sedikit tenang. Istrinya sudah memperhatikan dirinya walau hanya sedikit.
"Umi, Icha lama ya, tadi Icha B A B dulu, soalnya kekenyangan, makan kue sampai empat" hehehe. Icha terkekeh, seraya menunjukkan keempat jarinya.
"Makan kue dimana?" Tanya Rani menggeser duduknya dan merapat ke samping Icha. Lalu tangannya merangkul pundak anaknya.
"Di tempat pesta teman Papa, terus kuenya enak kaya buatan Umi, jadi makan habis banyak."
Rani baru sadar berarti suaminya tadi dapat alamat dari kotak kue.
"Cha makan ya, ini nasi nya tadi belum di makan" Daniel masuk kemudian duduk, kali ini di samping istrinya.
"Kenyang pa" Icha menggeleng.
"Makan, ini masakan Umi loh!" Icha kemudian menerima kotak makan malam.
"Memang iya, Umi" Icha menatap Uminya yang dari tadi hanya diam.
"Bu, bukan! Umi yang masak Cha" Rani menjawab gugup, ada rasa canggung duduk disamping Daniel.
"Anak buah Umi maksudnya Cha, tapi resepnya dari Umi" Pungkas Daniel akhirnya makan bersama Icha.
"Makan ya Ra, aku suapi nih, aaaa..."
Daniel menyodorkan sendok ke mulut Rani setelah ke mulut dirinya sendiri.
"Kenyang!" Rani mendorong tangan Daniel. Sebenarnya Rani belum makan juga, sebab biasanya makan bareng anak buahnya ketika pulang dari Cafe membawa makanan.
__ADS_1
Icha melirik ke samping tersenyum, melihat Papa dan Uminya sudah baikan. " Yes!" Gumamnya namum terdengar oleh Rani dan Daniel sontak mereka menoleh.
"Kenapa sayang?" Tanya Daniel dan Rani bersamaan.
"Hehehe makanannya enak" Jawab Icha asal, senyumnya terus menghiasi bibirnya.
"Selesai makan sikat gigi terus bobok ya" Ucap Rani seraya memainkan rambut Icha.
"Boboknya dimana Mi? Tanya Icha tidak jelas sebab sambil mengunyah.
"Di kamar Umi saja, kita kan lama nggak tidur bareng" Sahut Rani.
"Terus Papa bobok dimana, kan Papa juga sudah lama tidak bobok sama Umi?" Sela Daniel. Sebenarnya Daniel belum berharap terlalu jauh, yang penting Istrinya memberi maaf saja sudah senang. Langsung mendapatkan plototan dari Rani. "Hehehe" Daniel terkekeh berhasil menggoda Istrinya.
"Nggak ahh, Icha bobok sama Tante-tante saja, kalau sudah pulang nanti" Icha sudah besar, tentu tahu. Tidak mungkin mengganggu kedua orang tuanya.
"Tante-tante! maksudnya?" Tanya Daniel bingung yang dimaksud Tante -oleh Icha.
"Tante Nena Pa, sama temannya boboknya kan di sini." Pungkas Icha.
"Ghuk... ghuk..." Rani menatap suami cegukan. Daniel wajahnya merah malu, dengan istrinya. Tadi perutnya berbunyi lantas sekarang cegukan. "Hehehe, sorry" Rani tidak menimpali suaminya. Kemudian berdiri ambil air minum, memang dari tadi suaminya belum di suguhi air.
"Memang di kotak nasi nggak ada air Pa, ini Icha ada airnya" Icha menunjukkan air mineral kepada Papanya.
"Ada, tapi diminum di mobil tadi" Ucap Daniel
Tidak lama Rani datang membawa segelas perasan jeruk lemon. Daniel tersenyum, perasaannya sedang di awang-awang. Istrinya masih ingat kebiasaannya. Ketika makan terlalu malam, selalu minum perasan jeruk lemon agar menetralisir lemak.
"Seneng aja, memang kalau lagi seneng kan tersenyum, kalau lagi sedih menangis, kalau sedang bahagia tertawa" ahahaha.."
"Ihh!" nggak lucu sih ketawa. Gumam Rani.
"Kenapa Papa ketawa sampai kaya gitu?" Tanya Icha seraya mengumpulkan sampah kardus selesai makan.
"Nggak tau tuh Papamu, kurang sajen kali cha??"
"Sajen tuh apa Mi?" Icha mengerutkan dahi.
"Sajen tuh kemenyan yang di bakar, dan di kelilingi bunga tujuh rupa, di beri wewangian." Tutur Rani gamblang.
"Memang aku Sayton di di suguhi kemenyan" Daniel kesal.
"Ya kali? biasanya yang suka marah-marah kan..." Rani tidak melanjutkan ucapannya. Icha tidak mau mendengarkan perdebatan yang tidak bermutu antara Papa dan Uminya. Icha lalu membuang sampah kebelakang. Tetapi Icha senang, Papa dan Uminya bisa bertemu kembali.
"Kamu semakin cantik" Daniel tersenyum menatap Istrinya tidak berkedip. Rani melotot sinis lalu membuang muka.
"Cup" Daniel tiba-tiba mencuri bibir Istrinya. "Ihh, nggak jelas banget sih!" Rani menepis tangan Daniel. "Hehehe...Terimakasih ya" bibirmu semakin manis." Daniel menggombal.
"Ihh, dosa tahu! mencium bibir orang" Rani merengut kesal.
"Nggak apa-apa sih, orang istriku sendiri kok"
__ADS_1
"Jangan ge er! Istrimu sudah mati!" Ucap Rani ketus.
"Seeettt..tidak boleh bicara begitu" kedua telunjuk Daniel menutup bibir Rani.
"Assalamualaikum.." Nena DKK, sudah pulang.
"Waalaikumusallam"
"Kok sampai malam Nen?" Tanya Rani sebab Nena biasa jam tujuh sudah di rumah.
"Hehehe..tadi pada ngobrol aja sih Ran, tau-tau sudah malam" Jawab Nena padahal Nena senganja menahan teman-temanya, agar tidak pulang cepat. Nena memberi kesempatan sahabat sekaligus bossnya untuk meyelesaikan masalahnya.
"Malam Pak Daniel" Sapa Weny menundukkan kepala, seraya menangkupkan kedua tangannya. Di susul Mira dan Rini. Weny bertemu Daniel sekali waktu Rani menikah dulu. Sedangkan Mira dan Rini sama sekali belum pernah bertemu.
Selamat malam" Jawab Daniel dingin.
"Ran ini aku bawakan makan malam kamu belum makan kan?" Nena menyodorkan makan malam.
"Belum sih, kalian sudah makan"
"Sudah Ran, Icha kemana?" Tanya Nena.
"Di kamar mandi" Jawab Rani. lalu membuka makan malam yang di bawakan Nena.
Nena DKK, lalu mengajak Icha tidur bersama. Nena kali yang membuat aturan. Weny Nena dan Icha tidur di kamar yang biasa mereka pakai.
Sedangkan Rini dan Mira untuk sementara di minta tidur di kamar pembantu. Yang belum pernah di tempati. Sedangkan kamar tamu yang biasa Rini dan Mira pakai minta di kosong kan. Siapa tahu Daniel akan tidur di situ. Nena bergegas mengganti spray kamar tamu. Mereka merasa tidak enak rumah Rani menjadi seperti rumah kost.
"Tadi kamu bilang sudah makan, kok lahap banget, makanya?" Daniel menatap Rani makan seperti kelaparan.
"Biarin! kenapa memang, mulut-mulut saya kok"
"Kok kamu galak banget sih, aku kan cuma nanya yank " Rani tidak menjawab malah menatap tajam suaminya. "Yank-yank! lebay!" sanggah Rani.
Selesai makan Rani bersih-bersih ingin cepat tidur badanya semakin lelah. "Saya tidur dulu, capek" Ucap Rani lalu pergi. Daniel beranjak mengikuti Rani.
"Mau apa anda mengikuti saya?"
"Mau ikutan tidur juga" Daniel tersenyum.
"Anda tidur di kamar tamu!" Ucap Rani ketus.
Daniel mengalah lalu kembali ke kursi sofa. Menata bantal kecil kemudian merebahkan badan.
"Makan-makan sendiri, minum-minum sendiri, pakai baju sendiri, tidur pun sendiri..." Daniel bersenandung.
Rani tersenyum, sebenarnya tidak tega melihat suaminya. Rani menutup pintu dan menguncinya.
Hingga dini hari, Rani tidak bisa memejamkan mata. Rani kemudian keluar, melihat suaminya tidur dengan berbantalkan satu tangan. Bantal sofa mental entah kemana. Kakinya kepanjangan lalu di naikan keatas ujung sofa. Daniel masih mengenakan kemeja, dan celana bahan yang tadi sore.
Rani balik badan, ambil bantal dan selimut. Tidak lama kemudian balik lagi dan menyelelimuti suaminya. Rani mengamati wajah suaminya terlihat kurus. Rani meneskan air matanya.
__ADS_1
Rani tidak menyadari, Daniel hanya pura-pura tidur, lalu menarik tubuh Rani hingga jatuh menimpa dadanya.