
Waktu menunjukkan jam 12 siang Ibu Widi dan Bambang singgah di masjid seberang jalan rumah Rani. Di depan mimbar seorang pria berusia 28 tahun mengumandangkan adzan dzuhur. Selesai adzan menoleh ke belakang melihat sosok yang pernah di kenal nya.
"Mas bukan orang sini ya, sepertinya saya pernah bertemu, tetapi dimana ya?" Dialah Dino tampak mengingat-ingat siapa gerangan pria di depanya.
"Hehehe...Mas Dino lupa ya, saya Bambang yang pernah bertemu di rumah Mbak Rani."
"Oh masyaallah...saya lupa" Dino tepuk jidat.
"Lalu, Mas Bambang hendak kemana, bisa berada di sini? bukankah Mas Bambang tinggal di Jakarta?" Tanya Dino.
"Saya datang kemari bersama Ibu, ingin silaturahmi ke kediaman orang tua Weny" Tutur Bambang.
"Oh jadi Mas Bambang orangnya, yang akan melamar Weny, alhamdulillah...ternyata kita sudah saling mengenal." Ucap Dino.
"Kok Mas sudah tahu?" Tanya Bambang bingung.
"Ya, kami di undang Pak Cipto, kata beliau akan ada lamaran"
"Biasa Mas, adat disini jika kedatangan tamu jauh khususnya laki-laki, akan mengumpulkan warga terdekat, terutama rt rw" Terang Dino.
Bambang shalat berjamaah bersama warga. Dino yang menjadi imam. Selesai shalat salam-salaman kemudian Dino mengajak Bambang dan Ibu Widi singgah.
"Bapak tidak ada di rumah Mas?" Tanya Bambang yang sudah duduk di pendopo bersama Ibu. Sementara Syntia membuatkan minuman.
"Bapak sedang menghadiri pernikahan kerabat, mungkin sebentar lagi pulang" Jawab Dino.
"Bu...Mas...teh nya di minum" Kata Syntia menyuguhkan minum dan cemilan. "Terimakasih nduk, tidak usah repot." Titah Ibu.
"Hanya air hangat saja kok Bu" sahut Syntia.
Setelah berbincang-bincang. Bambang bersama Ibu, berangkat menuju rumah Weny di antar Mas Dino.
5 menit kemudian, Bambang sampai rumah yang di tuju. Jika di rumah Rani tadi Bambang melihat rumah joglo. Berbeda dengan rumah Weny. Rumah Weny rumah limasan dimana rumah nenek moyang terdahulu masih kokoh berdiri.
"Assallaamualaikum..." Ibu Widi mengucap salam.
"Waalaikumsalam..." Seorang Bapak kira-kira berusia 50 tahun dan seorang Ibu, yang berumur 43 tahun tampak menyambut tamunya. Bambang memandangi Pak Cipto wajahnya berkumis tebal tampak garang. Bambang dag dig dug, jantungan memompa dengan cepat.
"Silahkan masuk jeung" Ucap Sri lestari Ibu dari Weny, bersama Cipto Raharjo yang tidak lain Ayah Weny. Menyambut dengan hormat calon besan.
"Terimakasih Jeung...perkenalkan, nama saya Widi, dan Ini anak saya Bambang Wibisono" Bambang mengangguk sopan kedua telapak tangannya berada di bawah perut. Bambang agak rileks
"Oh iya, Weny sudah menceritakan semuanya" Sahut Pak Cipto.
"Nama saya Sri, dan ini suami saya Cipto" Setelah masing-masing memperkenalkan diri. Tuan rumah mempersilahkan duduk. Ibu Widi menyerahkan buah tangan kepada Ibu Sri. Bu Sri masuk kedalam membuatkan minuman.
Tidak lama kemudian, Pak rt rw setempat dan juga tetangga terdekat pun datang bersama. Termasuk Pak Siswo.
"Pak Siswo, apa kabar?" Bambang mencium punggung tangan Bapak Rani.
"Kabar baik le, tidak menyangka, kita akan menjadi kerabat" sahut Pak Siswo.
"Pak Sis, sudah mengenal Bambang?" Tanya Pak Cipto melihat keakraban Bambang dan Bapak Rani.
__ADS_1
"Sudah Cip, waktu itu bertemu di rumah Rani" Terang Pak Siswo.
"Mari jeung, silahkan di minum" Ibu Sri menyuguhkan minuman dan kue-kue. Kepada calon besan dan juga warga. Setelah berbasi basi Bambang mengutarakan niatnya. Bambang menetralkan detak jantungnya, menghela nafas panjang sebelum berbicara.
"Bapak, Ibu...kedatangan saya kemari untuk bersilaturahmi, di samping itu, saya rasa, Bapak dan Ibu sudah mengetahui dari putri Bapak yang bernama Weny"
"Keberanian saya ini, di dasari rasa kagum saya kepada putri Bapak"
"Mohon doa restu Bapak dan Ibu, untuk melanjutkan hubungan kami yang lebih serius"
"Insyaallah saya akan mempersunting putri Bapak, dengan hati yang tulus dan penuh tanggung jawab" "Untuk mengarungi hidup bersama."
Dengan gamblang Bambang mengutarakan niatnya.
"Baiklah saya serahkan anak gadis saya kepadamu, tetapi saya tidak ingin lama-lama bertunangan, saya ingin kamu segera menikahi anak saya. Dari dulu sampai sekarang saya paling tidak suka anak saya berpacaran." Jawab Pak Cipto tegas. Wajah garang semakin menonjol.
"Saya siap Pak, bulan depan, minggu depan bahkan esok atau lusa pun saya siap." Jawab Bambang yakin.
"Kalau boleh saya memberi usul, tidak bisa secepat itu juga nak, paling tidak beri jangka waktu tiga bulan. Agar kami bisa mempersiapkan dengan baik" Usul Ibu Sri masuk akal. "Menurut jeung Widi Bagaimana?" Tanya Ibu Sri.
"Saya setuju jeung Sri" sahut Ibu Widi.
"Calon pengantin prianya sudah ngebet rupanya" seloroh Pak rt di sambut dengan gelak tawa semua yang berada di situ.
"Maaf Bu Widi, masih ada pertanyaan yang pengganjal di hati saya, kalau boleh saya tahu, mengapa Ayah Bambang tidak ikut serta?" Tanya Pak Cipto lebih lunak.
"Maaf Pak Cipto, Ayah Bambang sudah lama tiada." Jawab Ibu Widi.
"Oh, maafkan pertanyaan saya jika membuat Ibu bersedih"
Ayah Cipto dan Istri menerima lamaran Bambang dengan hati yang tulus. Pak rt rw memberikan sepatah dua patah kata. Bersama warga terdekat menyambut dengan suka cita. Setelah acara selesai di lanjutkan makan siang bersama.
Pak Cipto berprofesi sebagai tengkulak sayuran, dan buah buahan memasok ke pasar-pasar. Para petani yang menanam sayur dan buah dari perkebunan menggarap lahan milik Pak Siswoyo. Kemudian di jual kepada Pak Cipto. Walau tidak sekaya Pak Siswoyo, Pak Cipto termasuk menonjol di kampungnya.
Tidak heran, jika Pak Cipto mampu menyekolahkan kedua anaknya Weny sampai S1 sedangkan Bowo masih semester dua.
Keakraban kedua calon besan tampak saling memuji satu sama lain. Hingga waktu sore Bambang dan Ibu Widi pamit pulang menuju semarang.
******
"Umi lagi bikin kue apa?" Tanya Icha. Hari sabtu ini Rani berkumpul di rumah Mama Nadyn.
"Kue dorayaki, kesukaan Icha" Sahut Rani seraya mengelesi hidung Icha dengan terigu.
"Iih..Umi.. Icha sudah mandi tahu" Ucap Icha, tetapi hatinya senang moment seperti ini selalu di tunggu-tunggu.
"Icha boleh bantuin mi?" "Boleh dong" Jawab Rani.
"Horee...Icha pengen belajar bikin kue biar seperti Umi"
"Harus Cha, perempuan tuh harus bisa memasak, kalau nanti Icha sudah dewasa, Umi sudah tidak bersama Icha lagi, Icha sudah mandiri dan pinter." Nasehat Rani.
"Memang Umi mau kemana?" Tanya Icha kaget khawatir di tinggal Rani seperti dulu.
__ADS_1
"Tidak kemana-mana, nanti kalau Icha umurnya sudah seperti Umi kan tidak sama Umi terus"
"Nggak mau! Icha mau sama Umi terus sampai Umi seperti Uti" sahut Icha merangkul Rani dari samping. Manja.
"Hehehe...kamu lucu banget sih" Rani mencubit pipi Icha pelan.
"Terus ini di apain Mi" Tanya Icha membantu Rani mengayak coklat bubuk.
"Nih, coklatnya campurkan sama terigu, terus di kasih gula, pengembang sedikit, tuangin air sedikit-sedikit"
"Nah kalau sudah begini aduk-aduk terus sampai kental.
"Oh...sini Icha yang aduk Mi" Icha mengaduk-aduk adonan. Rani kemudian ambil teplon di olesi dengan margarin.
"Kalau sudah begini di apain Mi?" Icha rupanya serius ingin belajar.
"Sudah tinggal di cetak satu persatu di teplon kalau sudah menggelembung angkat." Titah Rani.
"Pada masak apa kalian, orang lagi tidur ditinggal?! Tanya Daniel kesal tiba-tiba sudah di dapur. Lalu ambil kue yang masih di baskom, duduk di kursi lalu menyantapnya.
"Sudah cuci muka belum tuh, baru bangun juga" Protes Rani.
"Sudahlah, sudah selesai shalat kok" sahut Daniel sambil mengunyah. Rani kemudian ambil air putih untuk suaminya.
"Papa sekarang gemukan ya Mi" kata Icha sambil menyusun kue di piring.
"Ini gara-gara Umi Cha, Papa naik sampai 3 kg."
"Kok gara Umi sih!" sahut Rani mengerutkan dahi, kemudian duduk di samping Daniel.
"Ya kan buat kue terus, sore-sore lagi" Jawab Daniel sambil makan kue tanpa menoleh obyek di sampingnya.
"Iihh...aku lagi, yang salahkan!" Rani mencubit perut Daniel hingga menggeliat.
"Kalau makanya satu atau dua, tidak bakalan menjadi daging, lah ini, makan sampai 4 bagaimana tidak gemuk coba cha" Rani menoleh Icha.
"Emmm..."mulut Rani di sumpel pakai kue.
"Iihh...bisa kesedak tahu!" Rani kesal tidak urung mengunyah kue di mulutnya.
"Habisnya mulut mu kalau sudah ngomong nerocos terùs seperti beo.
"Iiihh..." Rani kembali mencubit perut Daniel kali ini agak kencang, kesal di katain seperti Beo.
Icha memperhatikan kedua orangtuanya hanya menggeleng, tetapi senang melihat kekonyolan Papa dan Uminya. Icha kemudian berdiri menuju kamar mandi.
"Sudah! mandi sana, selesai mandi bobok lagi, biar tambah gendut tuh perut" goda Rani.
"Memang kamu sudah mandi?" Daniel menoleh.
"Hehehe...belum"
Daniel melihat kekehan istrinya membuatnya gemas. Secepat kilat mengakat tubuh ramping Rani.
__ADS_1
"Maas...turunin..." Rani memukul-mukul dada Daniel pelan. Daniel membopong Rani menapaki anak tangga.