
Daniel fokus di depan komputer mengecek stok barang dagangan yang di lakukan stok opname oleh bawahannya. Di nilai dari awal bulan sampai akhir bulan. Dan juga untuk mengetahui saldo persediaan barang melalui neraca.
Waktu berlalu siang pun datang, Daniel merasa perutnya keroncongngan. Keluar ruangan dan akan mencari makan. Tetapi baru saja membuka handle mendengar keributan.
"Anda di larang masuk keruangan Tuan Daniel Nona! atau anda akan terkena masalah!!" Tukas security kepada Sherly tampak security menarik tangan Sherly tetapi di kibaskan.
"Lepaskan! anda tidak berhak melarang saya!" Seru Sherly kepada security. Sherly menghempaskan tangan security, kemudian berlari masuk keruangan Daniel.
"Daniel yang mendengar keributan kemudian masuk ke ruangan Deni. Saat ini hatinya sedang senang karena hubungannya dengan Rani sudah membaik. Tidak mau merusak suasana hatinya. Tidak mau walau hanya sekedar melihat wajah Sherly. Rasanya sangat memuakkan.
"Den, ikut gue! ajak sekalian Siska" Pungkas Daniel. Mereka pergi meninggalkan kantor tanpa Sherly ketahui. Saat ini Sherly sedang di ruangan Daniel entah apa yang ia lakukan.
Deni menjalankan mobil Daniel. Siska duduk disampingnya. Semenatara Daniel duduk di belakang.
"Kita mau kemana Bang?" Tanya Deni menatap kakak angkatnya dari kaca spion.
"Kita ke jalan xxx Cafe Dukrengteng, kita akan makan disana." Tutur Daniel lebih baik memberi kejutan Deni, daripada menemui Sherly di kantor yang ujung-ujungnya akan membuatnya marah.
Deni memandangi Daniel dari kaca spion dengan dahi berkerut.
"Apa itu Dukrengteng Bang kok aku baru dengar."
"Ya, itu nama Cafe Dukrengteng, pemiliknya bini muda gue!"
"Wattt! jangan macam-macam mau berbuat ulah lagi sama kakak Ipar!" Tukas Deni.
"Udah jangan bawel! kita lihat saja nanti." sahut Daniel.
"Ngomong-ngomong, Sherly tadi datang ke kantor mau ada perlu apa ya Pak?" Tanya Siska. Yang dari tadi hanya diam nyimak obrolan boss dan kekasihnya.
"Tidak tau!" Daniel mengedikkan bahunya. "Biar saja tidak usah hiraukan dia, paling mencak-mencak di kantor." Sahut Daniel. Membayangkan Sherly tidak di hiraukan pasti akan mengamuk.
"Tau nggak loe Den, tempo hari dia datang ke rumah Rani, mengaku-ngaku nikah siri sama gue, cari mati nggak tuh cewek, hampir saja Rani ngambek lagi!" Tutur Daniel mengepalkan tangannya.
"Iya, kenapa sih ada orang seperti Sherly, kenapa sifatnya jauh berbeda dengan Mbak Almira." Sambung Deni.
"Namanya juga manusia Mas, manusia memang di ciptakan ada jahat, ada baik, makanya di akhirat juga ada Surga ada neraka." Siska menimpali.
"Waah pinter..." Sambung Deni, tangan kirinya mengelus kepala Siska, sedangakan tangan kananya fokus dengan setir.
"Heh, jangan mesra-mesraan bukan mukrim! ada gue saja loe gitu, apa lagi nggak ada, awas saja macam-macam gue gibang loe!" kilah Daniel.
__ADS_1
"Ya elah Bang kaya nggak pernah muda saja."
"Goe sih pernah muda, tapi pacarannya sehat" Sanggah Daniel.
Deni nyetir sambil berbincang-bincang.
Karena tengah hari jalanan tidak macet Deni sampai tujuan. Deni bingung mau parkir di mana, sebab tidak ada tempat kosong. Tukang parkir memberi arahan jarak beberapa meter ada lahan kosong. Menurut tukang parkir tanah 1000 meter persegi yang tidak jauh dari lokasi restoran milik Restoran Dukrengteng.
Daniel terkejut banyak yang ia tidak tahu, setelah kepergian Istrinya.
Mereka berjalan kaki sedikit dari tempat parkir sampai ke restoran.
Daniel, Deni dan Siska masuk kedalam restoran. Resto sangat ramai pengunjung dari berbagai kalangan. Tetapi orang project yang lebih dominan. Daniel bingung hampir tidak ada tempat kosong.
"Maaf Tuan, Nona, restoran tidak ada kursi kosong, mari ke Cafe lantai dua saja." Wetress memberikan penjelasan dan mengajaknya keatas mempersilahkan Daniel dan rombongan duduk.
Selamat siang Pak Daniel" sapa Weny.
"Siang" Jawab Daniel singkat. "Rani nya ada?" Tanya Daniel menggeser kursi kemudian duduk.
"Yah, sayang sekali, Rani sedang ada kuliah pagi, tetapi sebentar lagi sampai kok pak."
"Silahkan duduk Pak Daniel, saya tinggal dulu ya" Weny berlalu tapa menunggu jawaban meninggalkan Daniel sebab ingin melanjutkan pekerjaannya.
"Ya, hebat nggak Den, restoran ini belum ada setahun tapi sudah maju pesat. Padahal loe tau kan goe merintis usaha awal-awal jatuh bangun dulu"
"Mau pesan apa Pak?" Wetress menyodorkan buku menu yang tidak lain adalah Mira.
Daniel dan adiknya memesan makanan dan minuman.
"Karyawan sini sudah kenal semua dengan Abang, Abang sering ya, makan disini?" Tanya Deni penasaran. Sejak pertama masuk Daniel sudah di sapa beberapa karyawan.
"Yang tiga orang tadi tinggalnya satu rumah dengan Rani, tau nggak loe, rumahnya seperti kost, terus masih ada satu lagi yang kerja di sini, tapi nggak pernah lihat mungkin bagian lapangan"
"Hebat banget kakak Ipar, usahanya maju cepat, bener bener super women, sudah baik, sopan, cantik pula, kenapa dulu nggak mau sama aku, bodoh saja kalau sampai ada laki-laki yang menyakitinya" Deni senyum-senyum membayangkan Rani.
Deni tidak sadar kalau ada dua pasang mata yang menatapnya tajam.
"Eh sorry, sorry" Deni menatap Siska dan Daniel bergantian sambil tersenyum.
Tidak lama makan siang datang mereka makan, di selingi obrolan Ringan.
__ADS_1
"Mas Daniel aku cari ke kantor kok malah kabur, padahal aku bawa makan siang loh." Sherly tiba-tiba menarik kursi di samping Daniel.
Ternyata Sherly mengikuti mereka dari belakang setelah melihat Daniel keluar dari ruangan Deni tanpa mereka sadari.
"Ngapain loe kesini merusak ***** makan gue" Ucap Daniel dingin.
Deni menatap Sherly datar. Semenatara Siska berpikir pasti akan ada keributan karena kedatangan Sherly.
"Ngapain loe lihatin gue, sampai kaya gitu?" Seru Sherly menatap Siska tajam.
"Nggak apa-apa kok Mbak Sherly, Mbak Sherly mau pesan apa?" Tanya Siska lembut.
"Nggak perlu! gue kesini bukan ingin cari perhatian loe!" Tukas Sherli.
"Apa maksud loe kemarin datang kerumah Rani, ngaku-ngaku nikah siri lagi! lebih baik loe pergi! kalau loe kesini mau kasih makan siang gue, lebih baik bawa balik, gue nggak ingin Istri gue salah paham!" Pungkas Daniel kemudian berdiri.
"Cabut Den" Ucap Daniel.
"Tunggu! plok plok plok..."Sherly bertepuk tangan bibirnya tersenyum meremehkan. "Hebat sekali, orang seperti Mas Daniel bisa ketipu dengan perempuan kampung seperti Rani" Ahahaha..." Sherly tiba-tiba berdiri menantang tangannya mengepal tertawa di buat-buat. Seketika Daniel berhenti.
"Apa maksud loe!!" Tukas Daniel menatap Sherly dengan penuh kebencian.
"Mas Daniel selama ini nggak tahu kan! dari mana Istri Mas yang di bangga-banggakan Tante Nadyn itu mendapatkan modal usaha?! Hahaha...Sherly kembali tertawa Devils.
"Apa maksud loe?" Daniel mengulang pertanyaanya tatapannya menyala.
"Mas nggak tau kan! Istri Mas yang di anggap polos itu di modali pengusaha kaya, di bawa ke hotel, di bawa ke luar kota" ahahaha. Sherly bersedekap tersenyum meledek.
"Sudah Bang nggak usah meladeni perempuan macam dia, lebih baik kita pergi" Kata Deni. Deni tidak ingin kakaknya naik pitam dan berujung berbuat kasar seperti dulu.
"Diam loe nggak usah ikut campur! loe hanya benalu yang menempel di ketiak Tante Nadyn." sergah Shelly.
"Tutup mulut loe, kalau nggak mau gue sumpal dengan sepatu" Jawab Deni tidak kalah sengit.
Percekcokan terjadi kata demi kata sengit terucap oleh bibir kedua pria dan kedua wanita. Salah satu karyawan Rani memanggil security. Karyawan berlari menuju tangga. Di tengah perjalanan berpapasan dengan Rani.
"Ada apa ini?" Tanya Rani terkejut melihat karyawan sibuk berlarian padahal jam makan siang sudah lewat. Pengunjung restoran tidak sebanyak tadi tetapi anak buahnya kelihatan tegang semua.
"Wanita yang kemarin membuat keributan lagi Bu, saya mau panggil security."
"Diman dia sekarang?"
__ADS_1
"Di atas Bu"
Tidak berpikir lagi Rani segera keatas. Rani terkejut selain ada Sherly ada suaminya dan adik Ipar.