ISTRI SANG MAJIKAN 2

ISTRI SANG MAJIKAN 2
Part 127


__ADS_3

"Aye kagak bisa berbuat ape-ape Naf, secara pribadi


gue udeh maafin loe. Tapi... walau bagaimanapun, hukum harus ditegakkan." ucap Lidia. Sebenarnya Lidia kasihan sama Zaianaf.


Zainaf segera bangkit, meninggalkan Lidia. Sebab, Lidia sudah tidak bisa di harapkan. Sebenarnya, ia sudah pasrah biar bagaimanapun, Lidia mengaku salah.


Tetapi, ia masih muda masih ingin kuliah dan melanjutkan cita-cita nya. Namun, karena perbuatanya sendiri harapannya menjadi hancur.


"Kak, tolong saya kak" Zainaf tiba-tiba mendekati Rani dan menggenggam tanganya dengan raut wajah kecewa.


"Saya tidak mau di penjara kak, saya taubat, saya masih ingin melanjutkan cita-cita saya kak" ucap Zainaf dengan linangan air mata yang mengharukan.


Rani menatap mata Zainaf tidak ada kebohongan di matanya. Rasanya ingin membantu gadis itu. Tetapi, Rani tidak bisa berbuat apa apa.


"Saya minta maaf dek, saya tidak punya hak mengambil keputusan disini, karena saya hanya mengantar Abang saya" terang Rani.


"Saya serahkan permasalahan ini kepada yang bersangkutan yaitu Bang Wibi atau Lidia" sambungnya.


Zainaf tertunduk lesu tidak ada pilihan lain selain hanya pasrah.


Setelah permasalahan jelas. Rani dan yang lainya pamit pulang. Daniel berpesan penuh penekanan kepada orang tua Zainaf. Jangan coba-coba Zainaf pergi melarikan diri.


*****


Di dalam mobil terasa sunyi, larut dalam pikiran masing-masing. Rani yang paling gelisah di sini, betapa tidak?


Okay... kesalahan Zainaf memang kelewatan hampir melenyapkan nyawa manusia. Tapi, bukankah dia sudah meminta maaf dengan tulus?


Jika Zainaf masuk penjara masa depanya yang menjadi tarohanya.


"Kenapa sih yank? gelisah banget?" tanya Daniel, memperhatikan istrinya gelisah dari tadi.


"Kenapa Bang?" tanya Bambang yang sibuk dengan setirnya.


"Nggak tahu nih, bini gue... rupanya manyun aje" ahahaha. sahut Daniel dengan logat betawi untuk menghibur istrinya.


"Kenapa Ran?" Bambang menatap Rani dari kaca spion.


"Bang, keputusan untuk memenjarakan Zainaf, apa tidak bisa di pertimbangkan?"


"Secara pribadi, aku tuh, nggak tega. Masa depanya masih panjang, kasihan dia harapan orang tuanya loh" "Dia sepertinya tulus meminta maaf" tutur Rani.


"Biasa yank, kamu pasti akan berpikiran begitu. Nggak semua orang selalu harus kita beri maaf, kalau dia buat ulah lagi bagaimana?"


"Berarti orang di sebelahmu, sudah benar-benar taubat ya Ran, aku kok khawatir dia buat ulah lagi" hahaha. Seloroh Bambang menyindir Daniel.


Daniel tidak berkutik mendengar candaan Bambang.


"Jangan bercanda dech! serius nih, kita kembali ke persoalan Zainaf.


"Yaah... apa salahnya sih? kita berikan kesempatan" sahut Rani yakin.

__ADS_1


"Aku juga sepemikiran sama kamu kok Ran" sahut Bambang serius.


"Yess..." pekik Rani kegirangan.


"Menurut kamu bagamana Lid?" tanya Bambang menoleh Lidia sekilas lalu kembali fokus ke setir.


"Aku juga mikir begitu Mas, Zainaf itu sebenarnya orang baik. Yah... mungkin, karena usianya masih terlalu muda, jadi nggak bisa ngontrol emosinya." pungkas Lidia.


"Jadi deal nih, kita tutup kasus Zainaf" ucap Rani bersemangat.


"Deal" sahut Bambang dan Lidia. Sementara Daniel hanya diam.


"Menurut Mas bagaimana?" tanya Rani menarik pundak Daniel agar menoleh.


"Yah... terserah kalian, tapi aku ingantkan, menutup kasus Zainaf berarti menutup kasur Sherli, itu yang kalian mau?"


"Tapi, awas! kalau sampai kalian kasih maaf sama wanita Ular itu" sungut Daniel menyebut nama mantan adik iparnya saja rasanya alergi.


"Kalau kalian memaafkan Zainaf itu artinya kalian memaafkan iblis wanita itu juga" umpat Daniel.


"Oh iya, kenapa aku jadi o on ya, padahal buktinya kan ada di Vidio itu" ucap Rani heran sama pikiranya sendiri.


"Sudah... sekarang kita langsung kerumahnya saja" sambung Rani.


"Kita langsung lapor polisi nggak?" tanya Daniel.


Tapi kalau kita lapor polisi berarti nama Zainaf tarohanya" kilah Lidia


"Terus bagaimana? kita melepaskan setan keparat itu, tersangka kuatnya kan dia, tapi... kita tidak punya bukti selain CCTV itu.


"Mas! jangan terlalu benci sama orang ih! ingat di perut ada dedek!" ucap Rani kesal. Suaminya itu kalau sudah marah suka meluap luap.


"Oh iya, amit-amit..."ralat Daniel sambil mengelus perut Istrinya.


"Kalau menurut aku, kita tidak usah datang kerumah Sherly, sekarang kita langsung lapor polisi dan menyerahkan vidio ini"


"Masalah Zainaf, hukum tetap harus di tegakkan, biar pihak berwajib yang menyelesaikan." pungkas Daniel.


Semua pun akhirnya setuju mereka mendatangi kantor polisi. Setelah urusan selesai. Rasanya sudah lelah mereka pun akhirnya pulang kerumah.


*****


Tiga hari kemudian di rumah kontrakan.


Tok tok tok


"Sher ada tamu" seru seorang Ibu yang sedang mencuci di kamar mandi.


Itulah, Mama Laura yang dulu paling anti dengan pekerjaan rumah, kini mau tidak mau harus ia kerjakan sendiri.


Ketamakan dan kesombongan menjadi senjata yang menghujam keluarganya sendiri.

__ADS_1


Tok tok tok


"Sherly!" serunya, karena sudah beberapa kali ada yang mengetuk pintu tidak juga di bukakan.


"Iya! iya..." sahut Sherly kesal, sedang asyik main handphone malah di panggil. Pikirnya.


"Ada tamu, tuh!" kata Mama Laura setelah Sherly keluar dari kamar dan menemui Ibunya.


"Kenapa nggak Mama saja sih! yang bukain!" sungutnya, sambil jalan kedepan.


"Kamu nggak lihat apa? Mama tuh lagi apa!" sahut Mama kesal, sambil berteriak.


"Siapa sih! pagi-pagi sudah namu? nggak sopan banget!" gerutunya. Tanganya kemudian menarik handle pintu.


Ceklek


Mengetahui siapa yang datang Sherly terkesiap kemudian mundur berapa langakah.


"Apakah anda yang bernama Sherly?" tanya polisi tegas.


"I-- iya ada apa ini?" tanya Sherly pura-pura tidak tahu.


"Anda kami tangkap Nona! karena anda telah merencanakan pembunuhan!" tukas polisi sambil menyerahkan surat penangkapan.


"Tidak! anda salah orang! saya tidak bersalah!" tukas Sherly.


Sherly berlari lewat pintu belakang.


Dor dor.


Polisi menembak keatas. Ternyata kontrakannya sudah terkepung. Sherly yang sudah mempunyai catatan buruk memang selalu di awasi.


Walaupun Sherly berdalih, sudah tidak ada gunanya. Polisi memborgol dan menggiring Sherly.


Mama Laura berteriak-teriak minta anaknya di lepaskan. Tetapi sudah tidak di gubris.


Sesama penghuni kontrakan pun berhamburan keluar.


"Di tangkap lagi dia? rasain!" celetuk tetangga sebelah kanan Mama Laura.


"Iya, biarain, sombong sih! pantas kalau dia di penjara." sahut salah satu Ibu.


"Kasus apa lagi tuh?" tanya anak gadis seusia Sherly yang baru datang.


"Tadi sih, aku dengar, kasus pembunuhan gitu?" sahut tetangga yang sebelah kiri kotrakan Sherli.


"Hiiii...sereeeemm... suara orang-orang bergerombol terdengar nyaring.


Mama Laura yang mendengarnya marah. "Heh! ada apa ini ikut campur saja! bubar! bubar!" omelnya sambil mengacung-acungkan sikat peranti mencuti tadi.


Dengan hanya memakai kaos rombeng dan berbalut handuk lengkap rol menggulung rambutnya. Tidak ada lagi Mama Laura yang dulu di juluki wanita berkelas dan sosialita.

__ADS_1


__ADS_2