ISTRI SANG MAJIKAN 2

ISTRI SANG MAJIKAN 2
Part 123


__ADS_3

"Kiaaa...aaaa...sakiiiit"


Suara pria dari gudang mengejutkan para Bapak-bapak pemburu ular.


Papa Nano, Pak Siswo dan Topan yang lokasinya dekat, kemudian berlari kearah suara.


"Anda baik saja Pak?" tanya Pak Siswo melihat satpam Komplek terkapar meringis kesakitan.


Pak Siswo bertiga mendekati satpam. Berniat Memberi pertolongan.


"A- awas- Pak" kata satpam suaranya patah-patah, karena menahan rasa sakit. Tangannya menunjuk Ular yang mendongak tidak jauh dari beliau.


"Awas san" kata Papa Nano ketika Ular merangkak kearahnya, menarik tangan Pak Siswo keluar dari gudang.


Kemudian tinggalah Topan tetap berdiri di tempat, bingung entah harus berbuat apa. Meninggalkan satpam seorangdiri tentu tidaklah mungkin.


Secepatnya Topan mengangkat tubuh satpam membawa keluar gudang. Badan satpam yang atletis tidak mengurangi semangat Topan.


Tak lama kemudian, Panji datang tergopoh-tergopoh.


"Mas Panji, Ularnya di gudang, masih berkeliaran" ucap Topan. Sambil menggotong satpam di bantu Om Zuki dan Om Wisnu.


"Ya" sahut Panji kemudian bergegas kegudang.


Topan, kemudian menyandarkan tubuh satpam di sofa.


"Jangan diangkat kakinya ya Pak, biar tetap menggantung" saran Topan, satpam mengangguk patuh.


"Dir, aku minta kain yang bersih ya" pinta Topan.

__ADS_1


"Iya Mas" Dira segera ketempat setrika mencari sapu tangan. Setelah menemukan yang ia cari, kemudian kembali.


"Ini Mas" Dira menyerahkan sapu tangan kemudian telepon dokter.


Topan segera membebat tungkai satpam yang di gigit ular, agar racunya tidak menjalar.


"Tenang ya pak, jangan bergerak dulu khawatir racunya menjalar." saran Topan. Tidak lama kemudian, dokter datang.


Dokter segera memberi pengobatan kepada satpam, lalu memberi antivenon cara yang ampuh untuk mengatasi gigititan Ular. Dokter memberi arahan kepada satpam, kemudian, memasukkan peralatan kedalam koper kecil.


"Jika sudah selesai tolong periksa kakak saya pak" ujar Dira kepada dokter.


"Oh, Mas Wibi sedang sakit ya Mbak?" tanya dokter sudah tahu keluarga Ibu Widi karena sering di panggil.


"Bukan, tapi calon istrinya" sahut Dira.


Sementara di kamar Lidia, ia masih belum juga sadar. Ibu Widi, Mama Nadyn dan juga Ibu ibu yang lain masih berkumpul.


"Bagaimana ini ini? kok belum sadar juga?" panik Bambang.


"Kalau gitu, Ibu telepon dokter dulu" Ibu Widi merogoh ponsel kemudian telepon dokter keluarganya.


"Tenang saja Bang, Lidia masih merespon kok, jadi jangan panik" ucap Rani.


"Hallo dok? bisa datang kesini segera" titah Ibu Widi.


"Saya sudah di sini Bu" sahut dokter nyengir. Teryata sudah berdiri di depan pintu.


"Dokter sudah di sini?" siapa yang memberi tahu?" tanya Ibu Widi.

__ADS_1


"Aku Bu" sahut Dira berjalan di belakang dokter.


"Pak satpam di gigit Ular tadi, jadi aku segera telepon dokter" tutur Dira.


"Ya Allah..." ucap para Ibu melongok.


"Terus bagaima keadaan nya Dir?" tanya Daniel.


"Sudah di beri obat Mas, jika ada apa -apa segera hubungi saya" titah dokter. Sambil memeriksa Lidia.


"Baik Pak" sahut Daniel.


Tak lama kemudian Lidia pun membuka mata, setelah melakui serangkaian pemeriksaan.


"Kamu sudah sadar Lid?" Bambang refleks memeluk Lidia.


"Hais... tahan!" Ibu Widi menarik pundak Bambang. Semua yang di situ pun tertawa.


"Bagaimana keadaanya dok?" tanya Bambang masih menyimpan kekhawatiran sebab Lidia lemas.


"Tidak apa-apa Mas, segera diberi minum teh hangat, dan beri dia makan, sepertinya kelaparan" titah dokter


Bambang memandangi wajah Lidia ia baru ingat memang dari tadi belum makan apa apa.


*****


Maaf, hari ini sedikit nulis nya, budhe lagi nggak mood.


Yang baca juga lagi nggak mood soalnya. 😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2