
Detik, menit, bahkan jam berganti. Hujan pun mulai reda. Rani bangkit berdiri menahan rasa dingin di tubuhnya. Melangkah maju mendekati motor dan mendorong.
Masihkah nasip baik berpihak kepadanya? walaupun hanya sedikit? sehingga ada penambal ban terdekat.
Dengan susah payah ia berjalan mendorong motor. Sesekali menyeka air mata yang tak kunjung reda. Namum sudah setengah jam berjalan, belum juga ia dapatkan.
Rani duduk di atas motor untuk mengurangi rasa lelah.
Biasanya angkutan umum berlalu lalang. Tetapi saat ini tidak ada satu pun yang melintas. Seolah-olah ikut berkomplot menghakimi dirinya. Saat ini dirinya sedang berada di titik paling rendah.
"Ting ting ting...tukang baso pikul lewat di depan Rani.
"Maaf Pak, saya mengganggu, kira-kira di mana ya? ada tambal ban terdekat?"
"Oh ada Mbak, tidak jauh dari sini kok, lurus saja di sebelah kiri jalan."
"Terimakasih ya Pak...semoga dagangan bapak laris"
"Aamiin..." Tukang baso kembali memikul grobak.
"Ayu-ayu kok mambu" (Cantik-cantik kok bau) gumam tukang baso sambil berjalan.
Rani kembali mendorong motor. 10 menit kemudian menemukan tambal ban.
"Bang, ini masih bisa di tambal nggak?" Rani menunjuk ban.
"Nggak bisa ini Mbak, kudu di ganti yang baru, sebab sudah robek." "Sepertinya ini ada yang sengaja menggores dengan benda tajam"
"Oh gitu ya...terus dimana, saya bisa membeli ban?"
"Lumayan jauh sih Mbak...kalau jalan kira-kira 15 menit lagi"
"Di dekat sini, tidak ada mobil yang bisa mengangkut motor ya bang? mau menghubungi teman saya minta di jemput, tetapi hp saya mati"
"Tidak ada Mbak." pungkas tukang tambal ban. Rani pun kembali melanjutkan perjalanan mendorong motor.
******
Di tempat yang lain. Sang Derektor sedang mondar mandir, memikirkan yang telah terjadi.
Kemudian duduk memijit pangkal hidung. Menunduk dengan mata terpejam.
Lalu mengangkat kepala, ambil benda pipih di meja kerja.
Menatap sedih handphone. Tidak peduli dengan pemberitaan yang merusak repotasi dirinya. Namun, yang membuat dirinya resah adalah? Bagaimana menjelaskan kepada kedua orang wanita sekaligus.
"Ini gara-gara wanita sialan itu! tunggu pembalasan gue! selama ini gue diam bukan karena takut. Tetapi gue menghormati orang tua loe! karena nyokap loe sahabat Ibu gue!" monolog Bambang. Giginya gemerutuk mengepalkan tangan.
Bambang pun memikirkan Daniel. Bagaimana nanti menjelaskan kepadanya.
__ADS_1
Bambang tau, Daniel terlalu posesif kepada istrinya. Karena terlalu mencintai dan takut kehilangan. Kadang Daniel susah di tebak. Sebenarnya Daniel pria baik. Namun, jika sudah emosi susah di kendalikan.
Walaupun Bambang tidak dekat secara pribadi. Namun, Bambang selalu mencari tahu siapa Daniel. Bambang harus cari cara tidak ingin Daniel dan Rani bertengkar kembali.
"Aaaggghh...." Begitulah Bambang. Jika dadanya sesak pasti akan berteriak. Itulah cara dia untuk melegakan. Untung ruangannya kedap udara.
"Sabar boss...mau bagaimana lagi? bukankah saya dulu sudah mengingatkan boss, agar jujur" Ujar Topan yang duduk di sofa kantor. Memandangi bossnya yang sedang kebingungan.
"Diam kamu Pan, jangan membuat saya semakin bersalah, kepala saya pusing! mendengar ocehan kamu!" Tukas Bambang.
Teserah boss maunya apa. menyesalkan sekarang? makanya mikir boss sebelum bertindak. Hening.
"Tink.
Ada notifikasi masuk. "Temui saya di taman!" Hanya itu saja tulisan dalam pesan.
Bambang membuka jas dan menggantinya dengan jaket ambil kunci motor.
"Saya pergi dulu Pan! ada urusan!" "Baik boss...saya tidak ikut, ya?"
"Tidak usah, kerjakan tugasmu saja"
Ucap Bambang datar seraya keluar.
Sebelum menemui seseorang Bambang menuju ruangan Dira terlebih dahulu.
Ceklek! pintu terbuka Bambang masuk dengan wajah lesu.
"Kakak pergi dengan siapa? jangan pergi sendiri kak" Ucap Dira khawatir. Saat ini kakaknya sedang tidak baik-baik saja.
"Sebenarnya ada apa ini? lalu siapa wanita yang di digosipkan dengan kamu Bi?" Tanya Om Wisnu menimpali, belum tahu apa yang terjadi.
Bambang menghela nafas, lalu menceritakan semua apa yang terjadi. Awal pertemuannya dengan Rani. Dari A sampai Z.
Om Wisnu hanya mengangguk-anggukan kepala.
"Semua salah Wibi Om, tidak menyangka akan terjadi seperti ini."
"Sudah le, sudah terjadi, hadapi semua, hadapi masalah mu," titah Om Wisnu memberi dukungan.
Bambang pun beranjak. "Kak please...jangan nyetir sendiri, biar di temani Topan" Dira khawatir.
"Do not worry" Bambang menangkup dua sisi pipi Dira kemudian berangkat.
Bambang menuju parkiran kali ini mengendarai motor.
Melesat dengan kecepatan sedang menuju taman.
******
__ADS_1
Di taman, seorang gadis sedang merenung. Sesekali mengusap air mata. Hatinya hancur berkeping-keping. Merasa di permainkan.
Karena hari kerja taman anggrek tampak sepi. Ia duduk di mana dulu kekasihnya melamar.
Setelah tahu berita dari televisi ia langsung emosi. Walapun Nena berusaha menenangkan tidak di gubris. Memesan ojek online kemudian di antar ke taman. "Sesakit inikah...di bohongi...hiks, kenapa... dulu aku percaya begitu saja. kenapa...? gumam nya.
"Maaf, lama menunggu" Ucap Bambang kemudian duduk di samping kekasihnya.
Weny menggeser duduknya. Dengan menahan rasa emosi.
"Kenapa kamu tidak minta di jemput saja?" Tanya Bambang menatap sendu Weny.
"Tidak usah basa basi! jelaskan semuanya, kenapa anda membohongi saya" Sarkas Weny berdiri membelakangi Bambang.
Bambang berdiri di samping Weny. Weny menjauh.
"Semua tidak seperti yang kamu kira, Wen, berita itu hanya hoax"
"Ada orang lain,
yang ingin hubungan kita hancur"
"Ahahaha....Weny tertawa di buat-buat. "Saya menyesal telah bertemu dengan laki-laki pengkhianat seperti anda!"
"Weny!" Bambang memutar tubuh Weny agar menatapnya.
Weny berjalan mundur.
"Jangan mendekat! jangan sentuh saya! sudah berapa wanita yang menjadi target anda, hah?" "Anda hanya akan meniduri! dan meninggalkan sasaran anda kan?" "Saya sudah paham laki-laki penjahat kelamin seperti anda!"
"WENY!" Bentak Bambang merasa sakit hati calon istrinya mengeluarkan kata-kata itu.
"Kenapa? anda marah! kenapa anda harus membohongi saya hah?!
"Cukup Weny! jangan hanya bisa menyalahkan, selama dua bulan ini saya selalu kirim pesan ada yang ingin saya bicarakan, saya ingin jujur sama kamu, ingin membuka jati diri saya"
"Karena dalam hal ini tidak pantas di bicarakan lewat telepon."
"Tapi apa? Wen, kamu selalu beralasan sibuk, sesibuk apa kamu Weny?" Bambang tidak kalah emosi.
"Bahkan! saya ingin mengajak kamu kerumah bertemu dengan Ibu"
"Tapi apa Wen? kamu menolak kan?!
Sesaat mereka saling diam mengontrol emosi masing-masing.
"Saya minta, batalkan pernikahan ini, dulu anda melamar saya disini. Di tempat ini, dan saya akan mengakhiri di tempat ini juga."
Weny meraih tangan Bambang, mengembalikan cincin tunangan. Kemudian Weny melangkah pergi.
__ADS_1
Bambang memandang cincin di tangan, bergantian memandangi kepergian Weny. Bambang diam tidak mengejarnya.