ISTRI SANG MAJIKAN 2

ISTRI SANG MAJIKAN 2
Part 72


__ADS_3

Sepanjang perjalanan kedua sosok yang saling merindukan ini bersi tegang. Hanya karena satu ucapan bisa membuka luka lama yang hampir mengering kembali menganga.


"Maaf yank, bukan maksud aku untuk menuntut kesempurnaan dari kamu" Daniel tidak enak hati seharusnya tidak menyinggung soal anak.


"Sudahlah Mas, kita pasrah saja kepada allah, kita hanya bisa berdoa dan berusaha." Ucap Rani berusaha untuk tegar.


"Iya, tapi jangan sedih gitu dong" hibur Daniel.


"Nggak sedih kok" Jawab Rani. Suaranya serak kas habis menangis.


"Aku nggak ada maksud menyinggung kamu yank" "Aku hanya kasihan sama kamu, selalu sibuk seolah aku laki-laki yang pengangguran."


"Uang memang bukan segalanya Mas"


"Tetapi, nyatanya uang memang kita butuhkan dalam kehidupan"


"Mengatur keuangan pribadi seolah menjadi kebahagiaan aku sendiri"


"Di samping itu, aku sudah sering bilang, aku seneng bisa membantu orang"


"Terus kalau kamu memikirkan orang terus, kapan kamu memikirkan dirimu sendiri." Kata Daniel kesel. Rani kadang tidak memikirkan dirinya. Sibuk membantu orang.


"Mas nggak akan ngerti, karena Mas Daniel dari kecil hidup di lingkungan orang-orang berada"


"Nggak pernah tahu rasanya orang kelaparan, pagi makan, entah siang nanti apa yang akan di makan" Tutur Rani sedih.


"Tahu nggak Mas, Mira, Rudi, Rini, Arif, di kampung tuh, keadaan keluarganya sangat memprihatinkan."


"Hanya untuk sekedar makan saja susah"


"Kadang orang tuanya mencari beras yang tumpah, di agen beras, kadang memunguti sisa sayuran di kebun yang tidak layak untuk di jual" Tutur Rani terisak ingat tetangganya.


"Sedangkan yang Mas tahu, orang disekitar hanya tinggal mewujutkan impian, melalui finansial yang baik, rencana investasi"


"Membeli rumah mewah, lantas dibiarkan lapuk, membeli mobil mewah hanya dibiarkan berkarat." Rani tersulut emosi. Keributan seperti ini biasanya Icha yang bisa meredakan.


"Ya sudah, aku mengerti" hanya itu yang Daniel ucapkan tidak berani menimpali. Yang di bicarakan Rani memang benar.


"Aku tuh, seneeeng...banget Mas, bisa membantu tetangga ku yang kesulitan, bisa memberi makan mereka, menyediakan tempat tinggal, yang harusnya gaji mereka kepotong untuk membayar kost, bisa mereka kirimkan untuk ibunya." Pungkas Rani. Ranipun akhirnya diam sejenak.


"Capek ngomong yank, kok diam" Ucap Daniel menghela nafas. Pasalnya Istrinya bicara seperti rem blong.


"Iya! tetapi puas!" sahut Rani kesal menjatuhkan badanya di sandaran jok.


"Eh, jangan ngambek dong, baru pulang masa sudah marah" Daniel menghentikan mobil.

__ADS_1


"Ngapain berhenti" Rani bergeser karena Daniel mendekat.


"Mau kasih obat bibir ini loh, dari tadi kan nerocos terùs pasti capek lah."


"Iihh...nyebelin!" Rani mencubit pipi Daniel.


Daniel tersenyum menyentuh bibir merah muda milik Istrinya.


"Kamu nggak kangen sama aku, kok malah marah-marah terus" Daniel mendekatkan bibir sampai nempel.


Tiin tiin tiiinnn...suara klakson di belakang bersautan, Daniel kesal. Akhirat kembali ke tempat duduk menjalankan mobilnya.


Daniel mengeleng, bicara kepada orang yang sedang lelah, sama saja menggoda anjing yang kelaparan. Mobil terus melaju karena masih jam empat perjanalan dari cengkareng belum begitu macet. Daniel menghentikan mobil di halaman rumah Rani.


Daniel melongok istrinya sedang tidur. Kemudian Daniel menggendong tubuh Rani menidurkan di kamar.


Dalam gendongan, Rani seperti bermimpi sedang terbang, tetap pulas tidak bergerak.


Daniel menidurkan tubuh tinggi Istrinya di ranjang.


*********


Seminggu berlalu tibalah saatnya Bambang akan melamar Weny ke kampung halaman. Tetapi sebelum berangkat Bambang menemui Weny di restoran dahulu. Sebelum sampai restoran Bambang memastikan dulu bahwa Rani tidak ada di tempat.


"Ini alamat nya Mas, nanti tanya saja rumah Pak Cipto." Weny mengirimkan alamat ke handphone Bambang.


"Betul Mas, rumah aku dekat kok, sama Rumah Rani"


"Mas, tapi aku belum kenal sama Ibunya Mas Bambang, terus kapan aku mau di kenalkan?" Weny agak parno khawatir mertuanya galak"


"Yang penting saya kerumah kamu dulu, jangan khawatir, Ibu orang baik, besok kalau Ayahmu sudah restu, kamu saya ajak kerumah"


"Baik Mas"


"Ya sudah, saya berangkat dulu"


"Hati-hati Mas"


Bambang mengangguk, kemudian berangkat meninggalkan Weny, yang masih memandangi dari belakang. Rasanya tidak percaya bahwa dia sudah akan di lamar.


Bambang menuju parkiran, menjalankan mobilnya menjemput Ibu Widi kerumah dulu.


Sepanjang perjalanan Bambang komat kamit berdoa agar di lancarkan semuanya.


Sampai di rumah, Ibu Widi sudah siap menunggu Bambang, yang sedang berbincang-bincang dengan Topan yang akan mengantarkan ke bandara.

__ADS_1


"Sudah siap Bu?" Ucap Bambang seraya mengenakan jaketnya.


"Ayo le, Ibu sudah siap" "Bi... saya berangkat, jaga rumah ya"


"Baik nyonya....hati-hati"


"Mari Bu kita berangkat" Ucap Bambang. Mengikuti langkah Ibunya, yang berjalan paling depan. Topan membuka pintu mobil, setelah Ibu Widi dan Bambang masuk. Topan menyalakan mobil kemudian melesat pergi.


Sampai Bandara Bambang chek in, menunggu kira-kira 30 menit pesawat Garuda lepas landas. 45 menit kemudian sampai di Bandara Yogyakarta. Bambang memesan taksi mengantarkan ke alamat yang di tuju.


Dalam taksi Bambang pandangan menatap sawah di pinggir jalan. Keadaan sekeliling perjalanan, masih seperti 3 tahun yang lalu, ketika jalan-jalan ke DIY bersama teman-temanya. Gunung merapi yang menjulang tinggi hanya terlihat samar karena tertutup awan. Di kelilingi bukit-bukit memanjakan mata.


"Lihat sawah, ibu jadi kangen kerabat semarang le"


"Besok mau mampir apa bu, Wibi juga sudah lama tidak bertemu Om sama Tante"


"Boleh le, nanti kita naik pesawat dari semarang saja"


"Mau kemana ini Pak, Bu?" Tanya sopir taksi ketika sampai rengrut selatan.


"Oh ini alamatnya Pak" Bambang menyerahkan alamat.


"Loh ini kan alamat Mbak Rani, yang terkenal itu" Kata sopir taksi.


"Bapak kenal Rani?" Tanya Bambang saling pandang dengan Ibunya.


"Kenal secara pribadi tidak Pak, hanya melihat di televisi, dia kan pemilik restoran sukses"


"Yang sering saya dengar, dia salah satu donatur panti asuhan disini"


Bambang hanya manggut-manggut mendengar penuturan sopir. "Kamu memang orang baik Rani" ucap Bambang dalam hati.


"Masih jauh Pak?" Tanya Ibu Widi.


"Tidak kok Bu" Sopir taksi meluncur 15 menit kemudian, sampai di depan rumah joglo yang unik. Tampilan kayu jati, halaman rumah yang luas.


"Ini rumah kediaman orang tua Mbak Rani Bu, salah satu rumah yang tidak roboh ketika gempa di Jogja" "Menurut cerita orang, orang tua Mbak Rani mempunya lahan pertanian yang luas, yang di jadikan tumpuan warga sekitar untuk mengais rezeki." Tutur sopir taksi.


Bambang lagi-lagi terkesima mendengar penuturan sopir taksi. Ternyata bukan hanya Rani yang baik orang tuanya pun sama.


"Lantas alamat yang ini di sebelah mana rumahya Pak?" Tanya Ibu Widi.


"Kita turun saja ya bu, kita tanyakan kepada keluarga Mbak Rani." Mereka turun dari mobil dan menuju rumah joglo milik Pak Siswoyo.


******

__ADS_1


Hallo reader...pada kemana ya pendukung Rani? kayaknya yang aktif komentar dan rajin like pendukung Rani lama, yang baru kemana nih???


Pembaca semangat.💪💪 penulis giat. 💕


__ADS_2