
Waktu berlalu 3 hari sudah, Rani berada di kampung halaman. Dan hari ini saatnya untuk pùlang kembali ke Tangerang sesuai janjinya dengan Nena.
"Pak, Rani sudah transfer ke rekening Bapak, besok di cek ya."
"Tidak usah nduk, Bapakmu ini punya kebun, punya pensiunan, kalau hanya untuk kepentingan sendiri sudah lebih dari cukup"
"Bapak tidak mau membebani anak-anak Bapak." Tutur Bapak.
"Bapak tidak boleh menolak, cobalah sedikit hasil dari keringat Rani, tenang Pak, ini hasil dari Rani sendiri bukan uang dari Daniel, jadi Bapak harus terima" Tutur Rani.
"Karepmu nduk" Pungkas Bapak pasrah.
"Hati-hati dijalan ya dek, pesan Mas Dino nih, handphone selalu di aktifkan kasihan Bapak loh, kemarin kebingungan."
"Iya Mas, jangan khawatir" sahut Rani seraya menutup retsleting koper.
"Hai...sayaaang...Tente akan selalu kangen sama kamu..muach...muach" Rani menciumi pipi Wahyu berkali-kali.
"Hati-hati ya Ran, jangan lupa selalu hubungi kami, kami akan selalu merindukan kamu" Syntia memeluk Rani penuh kehangatan.
"Pak, Rani pamit ya" hu huuu..." Rani memeluk erat Bapaknya. Bapak tidak kalah erat memeluk anak perempuan satu-satunya. Lalu membimbing anaknya untuk duduk di kursi.
"Sudah, jangan menangis, pesan Bapak, walaupun kamu sudah sukses, jangan melupakan kodratmu sebagai istri.
"Surgamu saat ini di telapak kaki suamimu, jangan kamu lantas sombong! karena sudah menjadi istri sukses, karena kesuksesan istri yang sesungguhnya adalah bisa menjaga martabat suaminya."
"Ketaatan Istri sebagai poin penting dan sudah menjadi fitrah Istri untuk selalu menjaga kelembutan."
Bapak mengelus punggung anaknya.
"Saat ini Bapak tidak bisa berjalan di sampingmu, menggenggam erat tanganmu, menghapus kesedihan kamu, dan bisa kamu jadikan tempat pelampiasan kemarahan kamu, tetapi percayalah, Bapak selalu menyangi kamu dan selalu mendoakan kamu."
"Sudah, berangkat ya, hati-hati di jalan."
Rani tersenyum, hatinya kini menjadi lega, nasehat Bapaknya memang selalu menyejukkan. Rani berangkat ke Bandara di antar Mas Dino. Dan semua teman Rani masing-masing di antar keluargannya berjanjian bertemu di Bandara.
Rani membonceng Dino. Mengendarai motornya melesat meninggalkan Rumah. Rani menatap pepohonan yang rimbun sejuk dan asri akan membuat siapa pun betah tinggal di lingķungan ini.
Keadaan Daerahnya yang ia tinggalkan 4 tahun yang lalu, tidak jauh berbeda. Hanya jalanan beraspal hitam ini yang membuat keadaan menjadi berubah.
"Lain kali kalau kesini Icha di ajak ya dek" Kata Dino kencang setengah berteriak.
"Okay..Mas kangen ya?" Tanya Rani juga sedikit berteriak, kebisingan kendaraan di tambah helm jika tidak berteriak tidak akan terdengar.
"Ya, iyalah! dia kan sudah aku anggap seperti keponakan yang lahir dari kamu."
"Siip...Mas aku, memang baik." Puji Rani, Mas Dino memang sangat menyayangi Icha, tidak menganggap bahwa Icha anak sambung adiknya.
Tidak terasa perjalanan sudah sampai di bandara.
__ADS_1
"Mas pamit ya dek, hati-hati di jalan"
"Terimakasih Mas" Rani mencium punggung tangan Dino. Dino kemudian pergi meninggalkan Rani. Rani menatap kepergian Dino hingga tidak nampak lagi.
"Topan dan Weny bersama keempat muda mudi sudah menunggu. Mereka yang akan menjadi karyawan Rani. Tetapi bukan lima orang seperti yang sudah Rani Rencanakan, melainkan hanya empat orang.
"Siapa Nama kalian?" Tanya Rani seraya menatap seksama calon karyawannya satu persatu. Mereka akan langsung masuk tidak melalui tes.
"Saya Mira bu"
"Saya Rudi"
"Saya Rini
"Saya Arif bu"
Mereka masing-masing menyalami Rani.
Mira, Rudi, Rini dan Arif sudah siap merantau meninggalkan kampung halamannya.
(Mira Rudi Rini Arif) Siapa dulu waktu SD baca buku bahasa Indonesia ini, berarti sepantaran sama budhe🤣.
Rani kemudian membawa pasukan ini kedalam Bandara internasional Yogyakarta.
Rani melakukan Check in minta KTP calon karyawannya. Selesai Check in Rani membawa mereka duduk di ruang tunggu. Di antara keenam muda mudi ini hanya Topan yang pernah naik pesawat.
Rani bersandar di kursi tunggu menatap koper-koper milik mereka. Memorinya kembali berputar, dulu ketika akan berangkat ke Tangerang sedang bertengkar dengan Daniel.
"Kenapa sih Koper nya di simpan di bagasi! nunggu nya lama tau nggak?" Daniel tampak emosi.
Rani hanya diam tidak menjawab. Tentu Rani tidak akan ribut di tempat umum. Rani bergegas duduk di ruang tunggu yang jauh dari orang. Daniel mengikuti dengan wajah berapi-api kemudian menjatuhkan bokongnya dengan kasar di samping Rani. Rani dan Daniel sudah bertengkar sejak kemarin. Tetapi bukan membaik malah nyambung ketika di Bandara.
"Heh! kalau ada orang ngomong itu di dengar!!" Sarkas Daniel.
"Kenapa sih Mas! hanya karena koper saja diributkan! kalau memang koper nya tidak boleh di simpan di bagasi, bawa sendiri dong itu koper, bukannya perempuan yang di suruh narik dua koper pontang panting!!"
"Memang kelewatan kamu ya Mas? ternyata Dayang akan selalu menjadi Dayang, tidak akan naik tahta menjadi Permaisuri" "Walaupun sudah di peristri orang kaya tidak akan merubah babu seperti saya akan menjadi boss."
Daniel menoleh cepat menatap Rani entah apa arti tatapan itu.
Flashbach off.
Penumpang Garuda Indonesian GA sekian sekian, jurusan Jakarta akan segera di diberangkatkan.
Rani menghapus air matanya kemudian membawa teman-temannya masuk kedalam pesawat.
Sebelum mematikan handphone Rani kirim pesan Bambang agar menjemput satu jam kemudian.
Pesawat segera berangkat satu jam kemudian sampai di Bandara Cengkareng. Rani bergegas keluar dari Bandara sudah ada Bambang menunggu.
__ADS_1
"Sudah lama nunggu nya bang?" Tanya Rani.
"Belum Mbak e, Baru sampai kok" jawab Bambang membukakan pintu untuk pasukan Rani.
"Bang, kenalkan ini teman-teman saya yang akan mengadu nasib" Kata Rani menunjuk ke arah calon karyawannya. Bambang menyalami mereka satu persatu.
*Alamaaak aku pikir hanya sendiri ternyata membawa banyak orang.
Bambang garuk -garuk kepalanya sambil nyengir.
"Kenapa Bang kok bengong? " Tanya Rani heran Bambang dari tadi seperti kebingungan
"O ndak Mbak, mari kita berangkat"
Bambang membukakan pintu depan dengan harapan Rani yang duduk di depan.
"Pan, kamu duduk di depan, aku, Weny, Mira di tengah dan kamu Rudi, Rini dan Arif di belakang." Semua menuruti intruksi Rani.
"Duh Kirain dia yang mau duduk di depan, nasib oh nasib! gerutu Bambang dalam hati.
"Bagaimana kabarnya Bapak di kampung Mbak?" Tanya Bambang melihat wajah Rani dari spion.
"Baik bang, Alhamdulillah" Jawab Rani tanpa melihat ekspresi Bambang.
Bambang Padahal sudah kecewa selama di tunggu tiga hari Bambang pikir Rani datang hanya sendirian ternyata ramai -ramai. Sebab intensitas pertemuannya dengan Rani sangat sulit untuk saat ini.
Bambang tampak datar dengan pria asing di sebalahnya.
Didalam mobil tampak sunyi tidak ada yang bersuara, semua sibuk dengan handphone masing-masing.
"Ran, sampai sana nanti kami akan langsung ke restoran ya? Tanya Weny.
"Nggak lah, kalian nanti langsung kerumah aku"
"Mira, Rini, kamu tidur satu kamar"
"Yang laki-laki sementara tidur satu kamar, tapi kalau sudah mulai kerja kalian yang laki-laki tidur di Cafe ya."
"Baik bu" Ucap mereka.
Sebenarnya kamar Rani ada tiga tetapi tidak mungkin Rani mengizinkan pria dan wanita tinggal dalam satu Rumah.
"Nggak enak dong Ran sama suami kamu, masa kita seperti orang mau demo" Kata Weny resah.
"Hehehe..." Rani terkekeh. "Tenang saja Wen tidak akan apa-apa kok."
"Terus kamu Pan, sebelum mendapatkan kost tinggal di rumah saja dulu." Kata Rani.
"Nggak apa-apa memang Ran?" Tanya Topan merasa tidak enak.
__ADS_1
"Nggak apa-apa Pan yang penting setelah dapat kost kamu langsung pindah nggak mungkin kita tinggal satu rumah, kamu laki-laki soalnya.."
Bambang dari tadi tidak membuka suara menyimak obrolan mereka. Bahkan tidak menganggap bahwa disampingnya ada orang. Bambang berkali menghela nafas*.