ISTRI SANG MAJIKAN 2

ISTRI SANG MAJIKAN 2
Part 83


__ADS_3

5 hari sudah, setelah foto-foto Rani dengan Bambang beredar di dunia maya. Rani badanyanya tergolek lemah, meringkuk di tempat tidur, tidak mau makan, selalu mengurung diri di dalam kamar. Wartawan hampir setiap hari datang ke restoran. Maupun kerumah. Tetapi Rani tidak mau menemui.


Rani menderita sakit, atas berita yang menyudutkan dirinya. Badanya menggigil kedinginan, sangking suhu tubuh nya panas tinggi. Nena lah yang selalu menemani dan setia merawatnya. Tentu Nena yang harus pandai membagi waktu, antara mengurus Rani dan mengurus Cafe. Pasalnya. Nena ambil tugas Rani dan Weny sekaligus agar restoran tetap berjalan. Walaupun restoran omsetnya menurun. Imbas dari berita yang beredar.


Namun, demi kelangsungan hidup teman-teman di restoran yang harus tetap di gaji. Nena tetap optimis.


"Ya Allah...Rani...badanmu panas sekali, tidak ada penolakan! sekarang harus kerumah sakit" Ucap Nena tegas. Namun Rani sudah tidak bisa hanya sekedar menjawab. Dari kemarin Nena ingin mengajak Rani berobat, tetapi ia selalu menolak.


Nena pun langsung keluar, ingin memanaskan mobil.


"Rini...Mira...hari ini kita tidak jadi berangkat kerestoran dulu" Ucap Nena sambil berlari.


"Ada apa Mbak?" Tanya Rini dan Mira bersamaan. Seraya mengikuti langkah Nena berlari menuju mobil.


"Rini...kamu siapkan baju Bu Rani, khawatir nanti di rawat." Mendengar perintah Nena, mereka pun paham. Rini segera berlari menuju kamar boss sambil menentang tas pakaian.


"Kamu jaga rumah ya Mir, jika ada wartawan jangan di kasih masuk" Ucap Nena seraya menyalakan mobil.


"Baik Mbak Nena"


Setelah menyalakan mobil, Nena bergegas menuju kamar Rani di ikuti Mira.


"Ayo Ran, kita kerumah sakit" Ucap Nena mengangkat tubuh Rani bersama Mira. Nena bagian atas dan Mira bagian bawah. Segera membawanya ke mobil di ikuti Rini yang menenteng tas. Rani sudah tidak berkutik sangking lemasnya.


Nena menidurkan Rani di jok tengah berbantalkan paha Rini namun tetap di ganjal dengan bantal.


"Mir, Mbak berangkat, jangan lupa langsung mengunci pintu." Titah Nena.


"Baik Mbak" Jawab Mira. Setelah mobil tidak terlihat lagi Mira masuk kedalam dan mengunci pintu.


Sementara Nena mengemudi ngebut, Rani di bawa kerumah sakit xxx.


Sampai di rumah sakit, Nena bergegas minta pertolongan kepada petugas. Ranipun di bawa dengan tandu ke UGD.


"Mbak silakan tunggu di luar, biar kami tangani" titah dokter laki-laki entah siapa Namanya.


"Baik dok" Nena kemudian keluar di ikuti Rini menunggu di luar.


Rani di bawa keruangan tidak memakai antri, sebab keadaan sudah darurat. Di dalam, seorang dokter wanita baru selesai memeriksa pasien. Dan menuggu giliran pasean yang lain.


"Dok ini pasien yang baru masuk keadaannya mengkhawatirkan" ucap asisten dokter. Dokter mendekat.


"Ya Allah...ini Istri Daniel...lagi-lagi berobat sendirian"

__ADS_1


Ternyata dokter wanita tersebut dokter Zulmy.


"Dokter mengenalnya?" Tanya suster yang sedang mengukur tekanan darah.


"Kenal, ini istri sahabat saya" "Sus sampaikan ke petugas, agar menyiapkan kamar, pasien harus segera di infus.


"Baik dok" Suster bergegas menjalankan perintah dokter.


Setelah memeriksa Rani, dokter Zulmy menghubungi Daniel.


Namun, nomor Daniel tidak aktif.


"Kenapa lagi sih...


Daniel...kalau sampai terjadi apa-apa dengan Rani. Awas" monolog dokter Zulmy. Setelah kejadian Daniel bertengkar dengan dokter Zulmy waktu itu, hubungan mereka menjadi renggang. Dokter Zulmy segera menemui Nena keluar.


"Keluarga pasien yang bernama Rani..."


"Saya dok, bagaimana keadaan sahabat saya?" Nena dan Rini segera berdiri bersamaan.


"Dia mengalami depresi berat, dan dehidrasi"


"Rani harus di rawat inap, memang suaminya kemana Mbak?"


"Seharusnya hari ini jadwalnya pulang dok" Terang Nena.


Dokter Zulmy mengangguk, kemudian menghubungi Mama Nadyn.


"Hallo...Tante...apa kabar?"


"Kabar baik Nak, ada apa ini tumben hubungi Tante"


"Tan Rani masuk Rumah sakit"


"Astagfirlullah....baik saya segera kesana.


*****


Di rumah Tante Nadyn pun panik. Dari kemarin-kemarin, sebenarya ingin mengunjungi menantunya. Namun, wartawan mengejarnya. Mama Nadyn tidak akan buka suara sebelum bertemu Daniel. Mama Nadyn juga sangat kebingungan. Pasalnya nomer Rani dan Daniel tidak bisa di hubungi.


Sebenarnya yang di buru wartawan justeru Daniel. Setelah berita mengenai istrinya, nama Daniel semakin santer di beritakan. Usahanya pun semakin naik omset.


Berbeda dengan Rani dan Bambang, usaha mereka mengalami penurunan.

__ADS_1


"Pa ayo cepat" Mama Nadyn sudah siap berangkat menuju rumah sakit.


"Bibi, saya berangkat...nanti siang Pak Toto di suruh jemput Icha, jangan bilang Icha, kalau Uminya sakit ya Bi"


"Baik nyonya"


Mama Nadyn dan Papa Nano berangkat tidak lupa menggunakan masker.


"Kasihan menantu kita pa, pasti sangat terpukul dengan berita ini" "Lagian kenapa sih, anakmu itu susah di hubungi" ucap Mama Nadyn kesal.


"Mungkin handphone nya rusak Ma"


"Terus...kalau rusak tidak bisa beli gitu? Rani sedang terpuruk begini seharusnya ada orang yang menguatkan dirinya, pasti kondisi psikologis nya menurun"


Mama menyesal seharusnya dari kemarin datang menemui Rani.


"Bagaimana hasil penyelidikan pa, apa sudah di temukan pelakunya?" Tanya Mama


"Menurut penyelidikan mengarah ke salah satu orang, tetapi kita tidak boleh gegabah, harus punya siasat, dia itu licin seperti belut" sahut Papa.


"Papa sih, dari dulu selalu, melarang Daniel untuk bertindak, padahal sudah banyak sekali keburukan yang ia perbuat" Mama Nadyn kesal.


"Sudah Ma, yang penting kita urus Rani dulu, dia lebih membutuhkan kita, setelah Rani sembuh, baru kita ambil tindakan."


Mama dan Papa sudah sampai di rumah sakit. Setelah parkir, bergegas masuk kedalam, kemudian naik lift, menuju ruangan yang sudah di beri tahu dokter Zulmy.


Mama Nadyn masuk keruangan VIP dimana Rani tergolek lemah. Disana ada Nena yang menunggu. Sementara Rini tadi di suruh Nena ke restoran.


"Ya Allah....mantuku...hiks..hiks" Mama Nadyn memeluk tubuh Rani dan menangis bergetar. Papa Nano hanya menatapnya prihatin dengan kondisi menantunya.


"Kata dokter bagaimana kondisi Rani nduk?" Tanya Mama kepada Nena.


"Menurut dokter Rani depresi berat Bu, selain faktor hormonal, tekanan dari lingkungan dan kecemasan membuat dia menjadi seperti ini" "Karena dia memendam emosi sendiri, menurut dokter, hanya Pak Daniel yang ia butuhkan, sebab dia terlalu takut Pak Daniel tidak percaya lagi kepadanya." "Iya nduk saya mengerti."


*****


Jam 10 pagi Daniel sampai di Bandar udara internasional Juanda surabaya. Hendak pulang ke Jakarta.


"Tink tink tink....suara pesan sejak seminggu yang lalu muncul semua hingga menimbulkan suara berisik.


Daniel segera mebuka pesan yang pertama. Yakni pesan dari istrinya. Pesan setelah hari kedua ia berada di Jawa timur. Hanya pesan menanyakan kabar. Kemudian puluhan telepon yang tidak terjawab.


Daniel membuka satu persatu pesan yang membuatnya terbelalak. Kemudian membuka IG dan fb. Jantungnya hampir loncat dari raga setelah membaca berita.

__ADS_1


.


__ADS_2