
Daniel, Bambang dan Rani menikmati cemilan yang di suguhkan Rani. Minum teh di selingi obrolan kecil.
"Saya bisa minta nomor rekening kamu?" Tanya Daniel berniat mengganti uang Bambang yang untuk membelikan pakaian Rani ketika di rumah sakit.
"Ta, tapi untuk apa to Mas e?" Bambang bingung untuk apa Daniel minta nomor rekening.
"Berikan saja dulu" Sahut Daniel tentu tidak akan bicara terùs terang khawatir Bambang tidak mau menerimanya.
"Baik Mas e, berapa nomer teleponnya" Setelah Daniel memberikan nomor handphone. Bambang mengirimkan nomor rekening ke ponsel Daniel.
Tidak menunggu lagi Daniel transfer sejumlah uang ke nomor rekening Bambang.
"Saya sudah kirimkan sejumlah uang untuk mengganti pakaian yang kamu belikan untuk Istri saya."
Bambang terkejut menatap Rani, dan Daniel. Karena Bambang sama sekali tidak mengharapkan uangnya di kembalikan. Bambang sebenarnya sudah lupa tentang pakaian itu.
"Tidak usah di kembalikan Mas e, saya sudah lupa akan hal itu."
Bambang sebenarnya tidak mau uang itu di kembalikan. Tetapi ya sudahlah. Sebagai laki laki tentu Daniel akan mempertahankan harga dirinya.
Jika ingin membandingkan kekayaan Daniel, jauh di bawah Bambang. Bambang yang notabene pengusaha sukses di bidang otomotif, satu buah mobil saja sudah menguntungkan ratusan juta.
Sedangkan Daniel yang hanya pengusaha distribusi bahan pokok, dengan keuntungan 10 persen. Dan harus menggaji karyawan yang sangat banyak tentu saja hanya sedikit keuntungannya. Tetapi karena Daniel mempunyai Mall, itu yang banyak menghasilkan uang.
Walaupun penghasilan Daniel masih di atas Rani.
Begitulah, di atas langit masih ada langit, jadi jangan sombong ketika sedang di atas.
"Kamu dulu kuliah di universitas mana?" Tanya Daniel menyelidiki.
"A, anu di semarang Mas e, sahut Bambang gelagapan.
"Ayo sambil di makan cemilanya" kata Rani akhirnya bersuara. Dari tadi Rani hanya diam tidak menimpali obrolan Daniel dan Bambang.
"Assalamualaikum" karyawan Rani mereka sudah sampai.
"Waalaikumsalam" Jawab Rani. Sontak Bambang menoleh ke sumber suara.
"Oh ada tamu" Ucap Nena menyalami Bambang, di susul Rini, Mira dan yang terakhir Weny.
Bambang menatap Weny dari dekat. Oh ini gadis pilihan Ibu, baiklah aku akan mengenal lebih dekat sepertinya baik. Bambang rupanya ingin segera muve on dari Rani.
Duh kenapa aku menjadi deg degan ya, sopir taksi ini rupanya tampan juga. Weny rasanya tidak mau melepas tangannya.
"Ehem...ehem" Nena dehem.
Weny segera menarik tanganya, aksi Weny mencuri pandang Bambang kepergok sahabatnya.
"Saya mandi dulu ya Ran" kata Nena sambil berlalu di susul Rini dan Mira mereka mandi bergantian.
Weny ke dapur menata makanan pesanan Rani, dan akan makan malam bersama. Untung membawa lauk nya di lebihi sebab ada Bambang.
__ADS_1
"Sini aku yang menata kamu mandi saja dulu Wen" Kata Rani yang tiba-tiba berdiri di samping Weny.
"Nanti dulu Ran, ngantri kamar mandinya." Sahut Weny.
"Dikamar mandi aku saja Wen" Rani memberi usul khawatir Weny mandinya kemalaman.
"Nggak Ran, nanti saja, sekarang kamu ada suami, aku nggak mau mengganggu kenyamanan suamimu" Weny cukup tahu diri tidak akan masuk lagi ke kamar Rani.
"Wen, kamu naksir sama Bambang, dia orangnya baik loh" Tutur Rani.
"Ah kamu Ran, bisa saja, tapi dari pertama kali ketemu dia, waktu jemput kita di Bandara, aku kok deg deg gan ya Ran?"
"Ahahaha...nggak salah lagi kamu tuh jatuh cinta pada pandangan pertama Wen."
"Nggak tau Ran, mana ada perempuan menyukai laki-laki duluan" Sahut Weny.
"Jaman sekarang tuh sudah biasa, perempuan menyukai laki-laki duluan, bahkan sampai nembak." Hehehe Rani terkekeh.
Weny diam saja tidak menimpali. Weny menjadi ingat sudah berulang kali, Ibu Widi memintanya untuk menjadi menantunya. Dalam hati kecilnya Weny tidak mau mengecewakan Ibu Widi yang baik.
Tetapi sampai saat ini Weny belum tahu seperti apa pria yang akan di jodohkan kepadanya.
"Heee...malah bengong" Rani menoel pipi Weny.
"Ran aku bingung, Ibu Widi mencecar aku terus, supaya mau menikah dengan anaknya, menurutmu aku harus bagaimana Ran, menolak atau mengiyakan?" Tanya Weny tanpa jeda.
"Kalau menurut aku, kamu harus shalat istikharah Wen, minta petunjuk"
"Tau nggak Wen, dulu aku sama seperti kamu, harus menikah dengan pria yang tidak aku cintai" " Tetapi saat itu, aku tidak memikirkan diriku sendiri, banyak yang aku pertimbangkan, Icha anak asuhku yang sangat membutuhkan aku" "Mama Nadyn yang sangat ingin aku menjadi menantunya."
"Dan yang membuat aku sedih saat itu, aku harus meninggalkan Reno pria yang mengisi hati aku pertama kali."
"Di saat aku kebingungan akhirnya aku shalat istikharah minta petunjuk kepada Allah"
" Di situlah Wen aku menemukan jawaban keraguan aku"
Rani menceritakan pernikahannya dengan Daniel dua tahun yang lalu menitikan air matanya.
"Dan harus kamu tahu Weny, ternyata pernikahanku dengan Daniel, banyak lika likunya, bekali-kali aku disakiti, kadang aku ingin menyerah, seperti beberapa bulan terakhir, aku sudah menyerah dan berada dalam titik terendah"
"Sudah tiga kali aku mendatangi pengadilan agama ingin mendaftarkan gugatan cerai, tapi lagi-lagi yang menjadi pertimbangan aku hanya Icha"
"Aku hanya bisa berdoa kepada allah swt"
"Karena hanya Allah yang mampu membolak balikkan hati manusia, dan harapan aku Mas Daniel tidak akan lagi mengingkari janjinya."
Lagi-lagi Rani hatinya menjadi terluka. Niat ingin menasehati sahabatnya tetapi malah mengingat semua kesedihannya.
"Sudah Ran, hee...kok malah kamu yang mewek, sudah ahh! kamu itu wanita yang kuat Rani, aku justeru ingin belajar dari kamu."
"Semua yang terjadi ada hikmahnya, buktinya kamu meluapkan emosi bukan dengan hal yang buruk" "Tetapi kamu meluapkan emosimu menuju ke arah yang positif, kamu bisa membuka lapangan pekerjaan" "Disaat orang-orang berlomba, ingin mendapatkan pekerjaan" "Tetapi kamu bisa membantu orang-orang ketika mereka sedang dalam kesulitan."
__ADS_1
Weny dan Rani akhirnya berpelukan.
"Berpelukaaan...Hehehe...ternyata ada teletubbies...aku ikutan dong" Nena yang baru selesai mandi ikut menghambur.
"Udah Wen, kamu mandi gih, dandan yang cantik, sepertinya tadi ada yang kesengsem." Hehehe...Nena menggoda Weny.
"Ya sudah, aku mandi dulu Nen, tinggal menyiapkan piring nya" Kata Weny sambil berlalu.
Akhirnya mereka makan malam bersama, duduk berkumpul di karpet. Sebenarnya Daniel tidak biasa makan di bawah. Tetapi karena menghormati tamunya, Daniel pun ikut bergabung.
Daniel tidak segan-segan mengumbar kemesraan tentu saja, untuk memanasi Bambang.
Bambang cukup tau diri, siapa dirinya, mencoba untuk berpikir secara dewasa. Biar bagaimana memang Daniel yang berhak atas diri Rani.
Bambang beringsut mundur agak menjauh.
Weny yang dari tadi memperhatikan Bambang gelisah akhirnya mendekat.
"Bang Bambang tadi jemput Rani ya" Tanya Weny basa basi.
"Oh nggak Mbak Weny, tadi ada perlu dengan Mas Daniel."
"Bang Bambang, kenal juga dengan suami Rani, saya pikir hanya kenal Rani saja."
"Kenal sih Mbak, tapi nggak terlalu akrab" "Mbak Weny satu kampung ya, dengan Mbak Rani?"
"Betul Bang, kok abang tahu, kalau nama saya Weny?"
"A, anu, kan tadi mendengar teman Mbak Weny" Bambang terbata karena Ibu Widi yang sering menyebut nama Weny.
"Bang Bambang asli jawa mana sih kok medok banget, hehehe...maaf."
"Oh Ayah sama Ibu saya asli semarang, saya dulu lahir di semarang, ketika SD pindah ke Jakarta" Tutur Bambang.
"Oh gitu ya" sahut Weny singkat.
"Oh ya Mbak, saya boleh minta nomor telepon?"
"Oh boleh bang, kita tukar nomor ya." Weny dan Bambang tukar nomor handphone.
"Manggilnya Mas saja ya Mbak, kok jadi Bang Bambang, kedengarannya aneh ya"
"Oh iya ya...Bang, Bambang, Ahahaha..Bambang dan Weny tertawa bersama.
"Nena dan Rani saling pandang. Begitu juga Daniel melihat keakraban Bambang dan Weny ikut senang. Daniel tidak ingin jika Bambang menyimpan cintanya kepada Rani terlalu lama, tentu Daniel tidak akan tinggal diam.
"Sudah malam saya pamit dulu ya Mbak, Mas Daniel, Mbak Rani, saya pamit."
"Oh ya, sekali lagi terimakasih atas bantuannya" Daniel mengantar Bambang sampai teras. Setelah Bambang berlalu Daniel masuk ke dalam.
"
__ADS_1