
Di resto, Rani sudah bersiap-siap ingin pulang ke kampung halaman.
Sebelum berangkat Rani sebagai pemilik restoran mengecek laporan yang di tulis manual, maupun yang di buat dengan bantuan software. Kusus manajemen atau software akuntansi restoran. Karena ini selalu Rani lakukan dengan Rutin. Supaya jika ada kesalahan maupun kekurangan agar segera di atasi.
"Nena, aku titip restoran ya" Ucap Rani kepada Nena sahabat sekaligus karyawannya.
"Siap boss!" Sahut Nena seraya memberikan tanda hormat.
"Ke bandara kamu naik apa?" Tanya Nena.
"Naik taksi online, lagian nggak mungkin kan aku bawa mobil sendiri, nanti mobilnya nggak ada yang membawa pulang." Jawab Rani seraya mengenakan sepatu hak pendek, agar nyaman di perjalanan.
"Sopir taksinya yang namanya Bambang itu kan?" Tanya Nena.
"Iya, sudah lama juga sih aku nggak pakai jasa dia"
Rani memang sekarang jarang menggunakan jasa Bambang untuk mengantarkan makanan. Kecuali ada acara yang sifatnya pribadi seperti sekarang ini.
"Hati-hati Ran! Bambang sepertinya suka dech sama kamu."
"Ngaco kamu Nen! Bambang tuh, orang baik, nggak mungkin suka sama Istri orang." Sanggah Rani.
"Yah ini menurut pemikiran aku, tapi mudah-mudahan pemikiran aku salah." Pungkas Nena.
"Salam ya, buat Syntia, sekarang dia sudah menjadi kakak kamu" Kata Nena. Nena, Rani dan Sintya, dulu sahabat karib. Saat ini Syntia menikah dengan Dino kakak Rani.
"Iya! nggak nyangka kalau Syntia bakal jadi Mbak aku" hehehe...Rani terkekeh.
"Semenjak Syntia hamil belum pernah aku bertemu, mungkin sudah melahiran kali sekarang."
"Kenapa kamu nggak telepon dia?" Tanya Nena heran. Semenjat kabur dari suaminya Rani seolah-olah, menjauh dari orang-orang terdekatnya.
"Aku saat itu bingung Nen, rasanya aku ingin mati saja, malah waktu itu tekat aku sudah bulat ingin bercerai dengan Mas Daniel"
"Tetapi aku merenung, introspeksi diri, aku tidak mau egois, aku punya Icha pasti ia sangat membutuhkan aku."
"Dan hari ini, Icha sedang berulang tahun, aku sebenarnya ingin hadir dan memeluknya"
"Tetapi untuk saat ini, aku belum siap bertemu dengan Papanya Nen." Tutur Rani panjang lebar. Air matanya sudah memenuhi pelupuk.
*****
"Bambang PoV.
Hari ini rasanya aku malas beraktivitas. Kenapa sih, sudah 3 bulan lebih Rani tidak lagi menggunakan jasaku.
Setiap aku datang ke restoran, yang melayani pasti anak buahnya. Lalu aku bertanya kepada pegawainya. Tetapi jawabnya.
Yang senam lah, kuliah lah, rapat lah.
Segitu sibuknya dia saat ini?
Aku duduk di kursi sofa, menahan rindu yang hampir 3 bulan aku tahan.
"Kamu nggak ke showroom Bi?" Tanya Ibu membuyarkan lamunanku.
"Nanti Bu siangan" Jawabku.
"Ibu sendiri nggak ke butik?" Tanyaku.
"Ibu rasanya cape banget hari ini, apalagi besok mau ada arisan, para istri teman-teman Ayah Almarhum"
__ADS_1
Aku menatap wajah Ibu memang kelihatan lelah sekali.
"Bu, sebaiknya Ibu sudah tidak usah sibuk cari uang, biar Wibi saja yang bekerja"
Aku kasihan melihat Ibu.
"Ibu sibuk di butik, bukan semata-mata mencari uang Bi. Tetapi Ibu mencari kesibukan"
"Di rumah hanya sendiri, kadang Ibu kesepian" Tuturnya.
Aku menatap wajah Ibu kasihan, di antara teman-teman ibu, memang hanya Ibu yang tidak mempunyai pasangan.
"Ibu kan masih muda bu, baru 48 tahun, kenapa ibu tidak mau menikah lagi?" Tanyaku.
Padahal Ibuku masih cantik banyak pria yang menyukainya. Tetapi entah mengapa Ibu tidak mau membuka hati untuk pria lain.
"Ibu sudah tidak memikirkan pasangan lagi Bi, Ibu hanya ingin kalian cepat menikah"
"Mungkin dengan kehadiran seorang cucu Ibu tidak kesepian." Tuturnya.
"Iya, tapi Wibi saat ini belum menemukan pasangan yang pas bu."
Jawabku. Andai Ibu tahu kalau yang aku taksir saat ini istri orang, tentu ibu tidak akan tinggal diam.
"Yah memang sih, menikah sekali seumur hidup, ibu tidak ingin kamu memilih orang yang salah." Sahut Ibu.
"Ibu dulu pernah bertengkar dengan Ayah?" Tanyaku. Aku menjadi ingat Rani kembali, sebenarnya ada masalah apa dengan suaminya hingga dia kabur dari rumah.
"Pernah!" Jawab Ibu.
"Terus.." Tanyaku penasaran.
Aku perhatikan. Ibu menghela nafas panjang. Ada raut kesedihan di wajahnya.
"Ayahmu ada Wil di luar, dan wanita itu mantan pacar Ayahmu ketika SMA.
"Awalnya Ayahmu menyangkal keras, akhirnya ibu mengikutinya dari belakang"
"Ternyata dugaan Ibu benar, Ayah sedang berduaan dengan wanita itu.
"Keributan tidak bisa di hindari, Ibu akhirnya pulang ke semarang kerumah nenekmu"
"Awalnya Ibu kekeh ingin minta cerai dengan Ayahmu, sampai kamu berumur 5 tahun, Ibu masih belum bisa memaafkan Ayahmu, padahal Ayahmu sampai berlutut minta maaf dan tidak mau bercerai dengan Ibu"
"Tetapi Ibu tidak mau egois, Ibu memikirkan kalian, kalau sampai Ayah dan Ibu berpisah pasti kalian yang menjadi korban."
Ibuku bercerita panjang lebar sambil menahan tangis. Aku tidak tega Lalu aku minta Ibu menyudahi ceritanya.
"Makanya Bi, Ibu benci sekali yang namanya Pil dan Wil, amit-amit jangan sampai terjadi dengan anak cucu Ibu.
Deg
Darahku seperti berhenti mengalir dan kenyataan anakmu sendiri yang mengalami bu" Batinku.
Deerrr deerrr derrr
Ada telepon masuk ternyata Rani yang telepon setelah aku angkat Ia minta di antar ke Bandara.
Mau kemana dia sampai ke bandara? Tanyaku dalam hati.
"Bu, Wibi pergi sebentar ya, Ibu istirahat saja" Kataku.
__ADS_1
Aku mencium punggung tangan Ibu lalu pergi. "Hati-hati ya Bi." Pesan Ibu. Aku hanya mengangguk karena sudah menjauh.
10 menit kemudian aku sampai di depan restoran, ternyata Rani sudah menunggu. Aku perhatikan dia semakin cantik.
Andai saja dia bukan istri orang.
"Sudah siap Mbak e?" Tanyaku.
"Sudah bang, ayo" Aku perhatikan dia sedang menarik koper. "Sini Mbak saya bantu" Aku membuka bagasi dan menyimpan koper miliknya.
Lalu membukakan pintu belakang untuknya.
"Mbak e, kok ke Bandara, memangnya mau kemana?"
"Mau nengok Bapak bang, sudah setahun lebih saya tidak pulang" Katanya. Seraya memainkan handphone. Aku perhatikan dia lewat kaca tampak segar, dan sedikit berisi.
"Mbak mentang-mentang sudah kaya lupa dengan saya ya?" Tanyaku.
"Maksudnya?" Ia mengerutkan dahi.
"Sekarang kan Mbak Rani nggak pakai jasa saya lagi" Sahutku.
"Bukan begitu bang! kaya apa sih! kaya monyet?" hehehe..."
Dia terkekeh.
"Selama aku mengenalnya baru kali ini melihatnya tertawa. Duduuh cantiknya.
"Sekarang saya sibuk banget bang, mengurus restoran, sering mengikuti seminar tentang UMKM."
"Saya juga ambil kuliah lagi" Tuturnya.
"Setiap mengirimkan pesanan sekala besar, biasanya Nena yang pesan pakai aplikasi. Jika kirim sekala kecil cukup dengan motor." Katanya.
"Tapi saya tadi lihat sudah ada mobil avanza di parkir mbak?"
"Mobil di parkir mah, banyak bang, silih berganti namanya juga restoran" Katanya seraya memutar tissue.
"Maksud saya, tadi kan Mbak Rani nyerahin kunci mobil ke siapa tuh?" Aku garuk-garuk kepala.
"Nena, bang"
"Hehehe...iya Mbak Nena" jawabku.
"Alhamdulillah bang, saya sudah kerja sama dengan PT Daftex yang terkenal itu loh"
"Setiap hari saya harus menyediakan makan siang untuk 1000 karyawan" "Kalau saya tidak nekat mencicil mobil akan repot bang, dengan adanya mobil bisa menunjang usaha saya."
Aku hanya diam menyimak ceritanya, ternyata dia wanita yang gigih.
Sungguh aku salut dengan semangatnya.
"Abang serius belum punya pacar?" Dia mengganti topik.
Mendadak aku menghentikan laju mobilku terkejut, apakah dia mempunyai perasaan yang sama denganku? Batinku.
"Kenapa berhenti bang, takut ketinggalan pesawat loh."
"Oh iya Mbak" Aku melanjutkan perjalanan.
"Tadi kan Mbak Rani tanya! kalau saya belum punya pacar kenapa?"
__ADS_1
"Oh saya kan mau pulang nih! saya carikan calon istri ya, cakep-cakep loh orang kampung saya.
Aku tepuk jidat.