
Sore hari hujan rintik-rintik, kedua suami istri telah menyatukan asmara yang bergelora. Tanpa sehelai kain yang melekat di tubuh. Menarik selimut untuk menutupi tubuhya.
Membuat suasana sore semakin syahdu. Suami istri itupun tidur saling berpelukan.
Tok tok tok..." Papa...Umi..." Suara Icha memanggilnya. Rani mengerjapkan mata, melirik jam di tembok teryata sudah jam 5. "Yaah...kesiangan" batin Rani. Ia pikir jam 5 pagi. Setelah penyatuan tadi Ia tidur hingga satu jam.
"Mas bangun..." Mendengar ketukan pintu Rani membangunkan Daniel.
"Heem...sahut Daniel masih terpejam. Mengeratkan pelukan ke tubuh Istrinya.
"Mas ayo bangun, Icha manggil tuh, subuhnya kesiangan lagi Mas, mana belum mandi lagi" Mendengar gerutuan Istrinya.
Daniel membuka mata. Memegang dahi Rani. "Hehehe..." Bukan cepat Bangun Daniel malah terkekeh.
"Kok malah tertawa sih Mas?" Rani cemberut.
"Sekarang bukan jam 5 pagi kali? tetapi jam 5 sore." Terang Daniel.
"Tok tok tok. Umi...buka...Icha mau masuk, PR nya susah" suara Icha melengking di luar pintu.
"Iya bentar, Icha kekamar sendiri dulu ya, nanti Umi susul" sahut Rani kemudian bangun dari tidurnya.
Rani menyibak selimut, melepas tangan suaminya yang masih memeluk perut. Kemudian melangkah kekamar mandi. Sambil berjalan ia heran sama dirinya sendiri. Jam 5 sore ia pikir jam 5 pagi. Rani geleng-geleng kepala.
Dengan cepat Danel pun bangkit, berlari kecil mengejar Istrinya.
"Mas ngapain lari-lari, mandinya gantian" Rani sudah tau kalau begitu suaminya ingin mandi bareng padahal Icha menuggu.
"Mau mandi bareng" hehehe.."
"Huh nggak jelas!" Rani membuka pintu kemudian masuk kedalam. Ketika ingin menutup kembali, Daniel kalah cepat turut masuk. Tak urung Rani pun mengalah.
"Gantian saja Mas, nanti kelamaan mandinya, Icha sudah menunggu" Ucap Rani membayangkan Icha menunggu.
"Sini, Mas mandikan" Daniel menyiprati air ke tubuh Rani sedikit demi sedikit kemudian menyiramnya.
"Mas, aku mau mandi sendiri saja" Rani merebut gayung dari tangan Daniel. Daniel mengalah menyerahkan gayung. Kemudian ambil shampoo dalam botol, menuangkan ke telapak tangannya. Kemudian menggosok kepala Rani yang membelakangi dirinya.
Rani kaget, sudah lama sekali tidak mandi bareng suaminya, semenjak kepergian dirinya waktu itu. Sekarang menjadi risi sendiri.
Rani pun terkekeh geli ketika Daniel menyabun anggota tubuh yang sensitif. Setelah Daniel memandikan Rani. Bergantian, Rani yang memandikan suaminya. Memang tubuh suaminya saat ini agak gemuk.
Rani pun bersemangat, ternyata mandi bersama bisa membuat dirinya bahagia. Rani ingat dulu pernah membaca buku. Mandi bersama, mendapatkan pahala ibarat mendapat hadiah 1000 kambing. Suami Istri ini lupa jika ada anak yang menunggunya sejak tadi.
*****
Tak tak tak. Icha menuruni tangga dengan wajah kesal.
"Kenapa sih ponakan Om kok cemberut?" Tanya Deni yang sedang santai di depan televisi.
"Umi sama Papa tuh ngeselin, orang minta tolong di ajarin, mengerjakan PR juga! malah tidur terus!" Adu Icha duduk dengan kasar di samping Deni.
"Memeng Umi sama Papa kemana?" Tanya Deni tidak tahu jika suami istri itu berada di kamarnya. Pasalnya Deni baru pulang mengantarkan Papa dan Mama Nadyn.
"Bobok! tadi dari habis ashar" Jawab Icha yang sedang mencoret-coret buku buat pelampiasan. Deni tersenyum melihat gadis kecil ini sedang cemburu sama Papanya sendiri. Padahal mengerjakan PR biasanya di kerjakan malam senin.
"Sini, Om yang ajarin, mana buku PR nya." Deni menepuk pundak Icha.
"Nggak mau, maunya sama Umi saja." Sahut Icha.
Deni semakin paham, bahwa Icha sedang cemburu.
__ADS_1
"Biasanya kalau Umi disini, suka bikin kue dech" Deni mengalihkan.
"Ada. Om mau?" Jawab Icha bersemangat.
Deni mengangguk.
Icha langsung senang ambil kue ingin pamer, hasil karyanya bersama Umi.
"Ini kuenya Om, tau nggak, ini Icha sama Umi yang bikin loh, cobain."
Deni ambil kue di piring kemudian mencobanya.
"Waahh...enak banget ini sih" Deni mengacungkan jempol.
Icha menjadi senang lupa kalau, sedang kesal dengan Papanya.
"Waduh...cucu Uti... sehari tidak bertemu kangen...." muach" Uti sudah selesai mandi terlihat segar duduk di samping cucunya dan mencium pipinya.
"Uti memang dari mana?" Tanya Icha.
"Jalan-jalan dong" sahut Uti.
"Icha pasti seru tadi, ada Umi disini" Tanya Uti memilin rambut cucunya.
"Iya Uti, tadi Icha buat kue, ini cobain" Icha mengangkat piring memberikan kepada Uti. Kemudian Uti ambil satu kue.
"Waahh...mmm...enak" Puji Uti sambil menikmati.
"Mama sudah pulang?" tanya Rani yang baru turun dari lantai dua bersama Daniel kemudian mendekati Mama.
"Sudah dari tadi sih, baru selesai mandi." sahut Mama.
"Rani nggak masak Ma, ketiduran tadi" ucap Rani merasa bersalah.
"Nggak apa-apa kok Ran, kamu tuh nggak perlu repot-repot kan ada Bibi."
"Iya, tapi kan"
"Sudah, tidak usah di pikirkan." Pungkas Mama.
Daniel duduk di samping Icha, tetapi Icha diam, pura-pura tidak tahu. Daniel menoleh Deni minta penjelasan. Tetapi Deni hanya menaikan kedua bahunya.
"Heeemm.." Daniel berdehem.
Tetap Icha tidak bergerak. "Kenapa anak Papa kok manyun?" Daniel mengelus pucuk kepala anaknya.
Icha menggeser duduknya.
"Hehehe...anak Papa lagi kesel banget sepertinya, kenapa ya?" Daniel memegangi dagunya seolah berpikir.
"Papa sih nyebelin! tiap hari Umi sudah sama Papa kan di Tangerang? disini juga nempel terus", Ucapnya ketus.
"Padahal di sini hanya dua hari" Protesnya lagi.
"Oh...itu...masalahnya...ya, dech, Papa minta maaf"
"Sebagai gantinya kita jalan-jalan ke mall yuk"
"Nggak mau...Icha mau di rumah saja"
"Terus, Icha ngak mau maafin Papa gitu?" Tanya Daniel menujukkan ekspresi sedih.
__ADS_1
"Mau, tetapi malam ini Umi tidur sama Icha." Pungkas Icha.
Mati aku kalau begini harus mencari cara.
***********
Malam semakin larut, seorang pemuda gelisah tidak bisa tidur. Ia keluar dari kamar sepupunya. Yang sudah lebih dulu terlelap. Berjalan pelan, khawatir membangunkan Panji. Menuruni anak tangga. Keadan rumah Tantenya sudah sangat sepi, mungkin penghuni rumah ini, sudah berkelana ke alam mimpi. Ia berjalan ke taman belakang duduk di gazebo. Memeluk kedua lututnya. Suara jangkrik mengalun memecah kesunyian.
Puk! pundaknya di tepuk. Bambang seketika menoleh.
"Ngopo? kok malah bangun" Ucap Bambang.
"Nyari sampean tadi, kok ndak ada, yo wes! keluar ae" Jawab Panji dengan logat kental.
"Eh Mas Wibi, calon sampean ayu yo" Ucap Panji. Terkekeh.
Bambang mengerutkan dahi. "Tahu dari mana kamu, tentang wajah calon Istriku?" Bambang heran perasaan waktu ngobrol sama Tante tadi sore tidak bicara tentang sketsa wajah.
"Dari galeri handphone Mas Wibi" hahaha..."
Cletak! Bambang menjitak kepala sepupunya.
"Waduh! loro lho Mas" Ucap Panji mengelus kepalanya sendiri.
"Lancang sekali kamu! berani buka handphone aku, malah cengesan lagi, bukanya mikir!" Tukas Bambang.
"Hehehe...sepurone.., makanya kalau punya handphone tuh di kunci Mas" Itu hanya aku yang lihat, kalau orang piye?"
"Mas Wibi, ngomong-ngomong kok di galeri ada dua gadis, yang satu tinggi semampai, cantik, berhijab lagi"
"Terus yang satu, agak pendek berhijab sih, tapi wajahnya biasa saja." Cerocos Panji.
"Cari Istri tidak usah yang terlalu cantik Ji, yang penting baik hatinya, kalau terlalu cantik, malah di lirik-lirik
pria lain" Jawab Bambang. Menyindir dirinya sendiri.
"Terus, menurutmu yang mana calon istri aku?" Tanya Bambang.
Bambang baru ingat foto Rani yang ia jepret tanpa sepengetahuan Rani lupa belum di hapus.
"Menurutku yo, yang cantik lah, lha wong sampean nyimpen fotonya sampai puluhan kok, terus yang satu lagi hanya ada satu foto" Penuturan Panji masuk akal.
"Salah kamu! yang fotonya banyak itu Istrinya temanku"
"We ladalah...sing ayu kui malah wes punya garwo to, la kok sampean ki nyimpen fotonya garwane orang, ndak boleh Mas e, harus cepet di hapus" Nasehat Panji.
"Tetapi memang ayu yo Mas, kalau belum punya suami aku juga mau sama dia" "Terus kok wajahnya familiar yo, aku seperti pernah melihat dia,tetapi di mana ya?" Tanya Panji menunjuk pelipisnya mengingat-ingat.
"Tapi masalahnya, nggak bakalan mau dia sama laki-laki bawel seperti kamu itu." Jawab Bambang ketus.
"Wee...salah! sampean iki, biar begini, di kampus aku ada 3 wanita loh, yang suka sama aku, tetapi belum ada yang nyanthol di hati"
"Tetapi ngomong-ngomong sampean sudah cinta sama calon Istri Mas?" Tanya Panji mberebet seperti petasan.
Bambang menghela napas, melepas dengan kasar. Ia melirik pria di sampingnya.
"Plek. Panji menggeprak tangan Bambang.
"Kok malah bengong sampean, mikir opo meneh?"
"Nggak tahu lah, ayo tidur, kamu laki-laki kok ceriwis!" Tukas Bambang meninggalkan Panji.
__ADS_1