
Rani menyelimuti suaminya yang sedang tidur, menatap wajah Daniel terlihat kurus, ada garis hitam di bawah netranya, air matanya menetes. Kepergiannya membuat suami, dan anaknya menjadi tidak terurus.
Daniel tersenyum, sebenarnya ia hanya pura-pura tidur, lalu menarik tubuh Rani hingga jatuh menimpa dadanya.
Rani terkejut, ingin bangkit, tetapi tangan kekar Daniel lebih kuat mendekap erat tubuhnya. Daniel tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Melahap bibir indah istrinya dengan lembut. Rani memejamkan matanya. Bohong, jika tidak menginginkan sentuhan itu. Tetapi Rani tersadar belum bisa percaya sepenuhnya dengan suaminya. Rani menjatuhkan tubuhnya kesamping hingga tersungkur.
"Brak! au.." Bokong dan kepala Rani terbentur meja.
Daniel sigap terbangun dari tidurnya dan mengangkat tubuh istrinya, lalu membaringkan di kursi sofa.
"Duuh...mana-mana! yang sakit?" Daniel kebingungan.
Rani memegang kepalanya. "Tuh benjol kan! Mas jahat! baru ketemu sudah KDRT!" Rani merengut kesal.
"Lhah kok aku yang di salahkan, bukanya kamu sendiri yang menjatuhkan badanmu"
"Oh iya.. memang benjol, habis kamu mau di kasih enak malah nyakitin diri sendiri." hehehe, kekeh Daniel.
"Iiiiihhhh...clutak!" " Ambil kesempatan aja!" Rani mencubit lengan suaminya. "Duh sakit yank! lihat, merah kan?! Daniel menunjukkan lengannya. "Sukurin! Cluthak sih!"
"Apa sih clutak?" Daniel mengerutkan dahinya, tidak tahu arti cluthak. "Clutak ya seperti Mas itu, suka mencuri, rakus, bibir orang di sikat juga!" Rani menatap suaminya kesal.
"Hehehe...tapi kamu suka kan?" Goda Daniel.
"Sini, aku obati kepalanya, ada minyak kayu putih nggak?"
"Minyak kayu putih? memang perut saya yang sakit."
"Yang sakit kepala kok, di obati pakai minyak kayu putih" Gerutu Rani.
"Kalau benjol tuh harus di kasih yang hangat-hangat, biar cepat kempes, kok nggak percaya."
"Ngak tau lah!" Rani bangkit lalu meninggalkan suaminya, masuk kamar lalu mencoba untuk tidur. Tetapi sebelum tidur Rani mencoba, menuruti kata suaminya. Mengoleskan minyak kayu putih.
Daniel tersenyum mengembang, perkembangan istrinya cukup baik. Saat ini sudah memanggilnya Mas bukan anda seperti kemarin sore. Daniel merebahkan tubuhnya di sofa. Ia menatap langit-langit, bibirnya komat kamit melantunkan doa.
"Ya Allah...jangan pisahkan keluarga kecilku" Daniel pun akhirnya terlelap.
Keesokan harinya, Icha bangun terlebih dahulu.
"Papa..bangun" Icha menggoyang betis Papanya.
"Heeemmm...jam berapa sekarang?" Sahut Daniel dengan suara serak kas bangun tidur.
"Sudah selesai adzan, cepat bangun kata Umi kita mau jalan-jalan keliling komplek Pa"
"Umi?" Daniel mendadak bangun duduk menyandarkan kepalanya di sofa. Ia mengerlingkan mata bingung. Tidak ingat bahwa dirinya saat ini berada di rumah Istrinya.
"Jadi Papa nggak mimpi tadi ya"
__ADS_1
"Mimpi apa memang?" Icha menatap Papanya seksama.
"Tadi Papa kirain mimpi ketemu Umi" hehe..terkekeh.
"Ah, Papa ini ada-ada saja, kita kan tadi malam ngobrol terus, masa mimpi sih!" Protes Icha. "Cepetan Papa kekamar mandi, Umi sudah nunggu, mau shalat barengan"
"Okay sayangku" Daniel bergegas kekamar mandi. Selama tidak ada Rani di sisinya, Daniel memang selalu memimpikan Rani, terus menerus. Ia pikir pagi inipun hanya mimpi.
Semua akhirnya shalat subuh berjamaah, Daniel yang menjadi Imam. Selesai shalat Rani mengajak Daniel dan Icha jalan kaki keliling komplek.
"Ini Mas, pakai training" Rani menyodorkan celana training dan kaos.
"Kok ada training, memang suka ada laki-laki menginap di disini?" .
Rani menatap suaminya tajam. "Mulai! nuduh orang seenaknya, memang dasar kebiasaan main tuduh! ya susah, di hilangkan!
sudah tahu! baju baru, masih tanya ada laki-laki atau nggak!" Rani bersungut-sungut kesal.
"Udah dong! jangan marah-marah cantiknya hilang loh"
Daniel mengusap kepala Rani yang sudah memakai jilbab.
Kemudian Daniel mengenakan pakaian yang Rani berikan ternyata pas di badanya.
"Pas kok yank, bajunya" Daniel memutar tubuhnya mengamati celananya yang ia kenakan.
"Pinter banget, kamu milih bajunya" Kata Daniel tersenyum.
"Ih, Papa sama Umi tuh, kalau ketemu nggak ribut kenapa sih?" Protes Icha.
"Papa juga! kemarin kalau nggak ada Umi suka melamun, giliran ada malah ngajak ribut." Icha memiringkan badan, tanganya bersedekap di depan dada.
"Sudah Cha, biarin saja Papa, sekarang kamu pakai baju ini" Icha mengambil training kemudian mengenakan. Rani bergegas kekamar memakai pakaian yang sama. Meraka memakai baju couple kemudian berangkat. "Eh kita foto dulu yuk" Ajak Daniel.
"Nen fotoin kita dulu ya" Daniel memberikan handphone kepada Nena.
"Baik Pak" Nena mengarahkan camera, kemudian menjepret berkali-kali dan mengembalikan handphone kepada Daniel. Daniel tersenyum lalu mengirimkan foto couple ke Mama Nadyn.
"Terimakasih Nen aku berangkat ya" Pamit Rani.
"Ya, hati-hati Rani" Sahut Nena.
Nena menatap kepergian sahabatnya tersenyum. Saat ini sahabatnya bisa berkumpul kembali dengan keluarganya.
Nena bergegas kedapur membuat sarapan, walaupun hari minggu mereka tidak libur. Liburnya seminggu sekali tetapi, di rolling.
Nena tinggal di Rumah Rani bagi-bagi tugas. Nena memasak dan membereskan tempat tidur. Weny menyapu dan mengepel. Rini dan Mira bagian mencuci dan menggosok pakaian. Itulah setiap pagi yang mereka kerjakan sebelum berangkat kerja. Keadaan rumah sudah dalam keadaan rapi. Sebenarnya Rani ingin mencari ART. Tetapi Nena DKK melarang.
"Eh! Rin, tadi suaminya Bu Rani kan tidurnya di kursi" Tutur Mira. "Ya biarin aja, kenapa memang kalau tidur kursi, kita tuh disini, sudah di anggap keluarga oleh Bu Rani, jadi kita tidak usah ikut campur urusan rumah tangga Bu Rani." Tukas Rini.
__ADS_1
"Eehh...lagi kerja kok malah pada gibah sih" Pungkas Weny, yang sedang mengepel lantai.
"Astagfirlullah...Iya Mbak, kenapa ya mulutku pagi-pagi kok malah gibah" Ucap Mira menyesal.
Selesai bebenah mereka mandi dan sarapan pagi. "Hari ini banyak pesanan catering Wen?" Tanya Nena. "Hari minggu mah, jangan di tanya Nen, alhamdulillah. "Yang pokok tiap hari ada tiga, ke showroom, PT Daftex, terus ke konveksi.
"Belum yang pesan buat arisan, buat pengajian, terus buat khitanan" Tutur Weny.
"Terus nanti ngirim nya bagaimana Mbak Weny, sepertinya nggak keburu kalau waktunya bersamaan?" Tanya Rini sebab dia yang bagian antar tentu akan kewalahan.
"Tenang Rin, nanti Mbak yang kirim ke PT sekalian ke showroom." Pungkas Weny.
Selesai sarapan mereka berangkat menggunakan angkutan umum.
*******
Selesai memutari Komplek, Daniel sekeluarga duduk di samping taman sedang sarapan bubur ayam.
"Umi, Icha pengen main ketaman sebelah sana" Icha menunjuk taman banyak anak-anak bermain.
"Siap tuan putri, tapi habiskan dulu buburnya" Sahut Rani tersenyum. Daniel menggandeng Istri dan anaknya mendekati komidi putar.
"Pa, Icha mau naik permainan ya" Icha mendongak menatap Papa.
"Okay...hati-hati ya"
Icha naik komidi putar. Rani dan Daniel duduk di kursi panjang.
"Kamu beli baju olahraga dimana yank?"
"Di Jogja, kenapa memang?" Rani menoleh menatap suaminya.
"Kamu ke Jogja! kapan?" Daniel panik, khawatir Rani menceritakan keadaan rumah tangganya kapada mertuanya.
"Kenapa? Mas takut, saya cerita sama Bapak, kalau suamiku ternyata suka menyakiti hati anaknya" "Jangan khawatir Mas, aku bukan tipe orang yang suka mengumbar aib suamiku sendiri."
"Maaf yank" Daniel melingkar kan tangannya ke pundak Rani.
"Terus bapak tanya aku nggak?" "Tanyalah, anak perempuan satu-satunya pùlang hanya sendiri, masa iya, nggak tanya."
Daniel menghela nafas panjang, menatap anaknya yang sedang main komidi putar. Ini hanya sepenggal pertanyaan, derita yang istrinya rasakan. Lalu bagaimana jawaban Rani ketika, ia menanyakan tentang kehilangan anak mereka. Belum lagi menanyakan selama terlunta-lunta di jalanan. Daniel gelisah.
"Kenapa Mas, sepertinya panik banget?" Rani diam-diam mengamati kegelisahan suaminya.
"A, anu tidak apa-apa kok" Daniel gugup. "Maaf yank, aku janji, akan memperbaiki semuanya" Ucap Daniel.
"Lebih baik tidak usah berjanji Mas, hutang janji Mas sama aku sudah terlalu banyak, dan sama sekali belum Mas cicil"
"Tetapi aku akan menganggap lunas hutang Mas, dan aku hanya bisa berdoa semoga, Mas Daniel kedepannya akan lebih baik" Sahut Rani bijak.
__ADS_1
Daniel mengeratkan kepala Rani kepundaknya.
"Mbak Rani...." Panggil seseorang, Rani mengedarkan pandangannya memutar, mecari sosok yang memanggilnya.