
Dengan perasaan campur aduk antara bingung, dan sedih atas sikap orang-orang. Rani mencari sahabatnya, berputar-putar namun, tidak juga ia temukan.
"Rani..." Rani menoleh ke arah suara tampak dari kejauhan rupanya orang yang di cari-cari datang dengan sendirinya. Dengan ngos ngosan Robby berlari kecil mendekati Rani.
"Ran loe, sudah buka medsos?" Tanya Robby.
"Belum, memangnya ada apa Rob?" Tanya Rani memburu.
"Sini Ran, ikut gue!" Robby menarik tangan Rani. Kemudian membawanya duduk di kursi taman yang jauh dari orang-orang.
"Buka ponsel loe"
Tanpa pikir panjang Rani membuka fb. Was-was.
Dengan tangan gemetar sangking takut dan penasaran Rani membuka profile pribadinya.
Ada yang posting menandai dirinya.
Foto-foto Rani ketika sedang berduan dengan Bambang tersebar di mana-mana.
Ketika Rani pergi ke Tasik menjemput Bi Kokom dan di antar Bambang.
Saat Rani dan Bambang sedang duduk di taman.
Ketika Rani dan Bambang sedang makan di lesehan pecel lele.
Yang lebih mencengangkan.
Ketika Bambang membopong Rani saat keguguran dan mengangkat ke tandu. Saat itu Rani sedang pingsan. Ada foto Rani dan Bambang yang di edit sedemikian rupa. Foto wajah Rani berjilbab namun bawahya tanpa sehelai kain. Sontak Rani menutup mulutnya.
Air mata Rani pun bercucuran. Rani menggit bibir bawahnya agar tangis tidak bersuara.
Rani menyeka air mata, sebenarnya sudah tidak kuat lagi melihatnya. Namun Rani ingin tahu sejauhmana berita miring tentang dirinya.
"Ran loe yang sabar ya" Hibur Robby saat melihat sahabatnya syok.
Rani hanya menggeleng tidak menyahut kata-kata Robby.
Rani kemudian membaca komentar netizen yang menyudutkan dirinya.
"O oo...punya resto hanya buat menutupi keburukannya" komentar A
"Sering di bawa ke hotel juga kali?! komentar B
__ADS_1
"Ahahaha" Si C tertawa
"Boleh juga tuh, dia kan cantik kira-kira berapa tarip satu malam?" Komentar D.
Begitulah kira-kira komentar nitizen, dan masih banyak kata yang lebih menyakitkan. Tidak di dunia nyata saja, Rani di fitnah dengan kejam. Namun di dunia maya pun mencemooh dirinya.
*Maharani Larasati pengusaha restoran DUKRENGTENG. Yang tidak lain Istri wirausahawan sukses Daniel Nur Indara. Telah berselingkuh dengan pengusaha muda. Pemilik showroom Bambang Wibisono*
Begitulah judul dalam posting.
Jedeeer...bagai di sambar petir, Rani hangus terbakar. Rani menjatuhkan ponselnya. Merosot dari kursi dan duduk di tanah. Rani menangis tersedu memeluk lututnya.
Sungguh, ia tidak menyangka bukan hanya syok karena berita hoax.
Tetapi lebih syok karena telah di bohongi Bambang selama ini. Rani meraup tanah liat kemudian meremasnya.
"Ran sabar" hanya kata itu yang keluar dari mulut Robby. Merasa kasihan melihat sahabatnya.
"Robby! buat apa loe deketin cewek ****** seperti dia!" Tiba-tiba Ninda berteriak melengking. Rani seketika mendongak tidak percaya dengan kata-kata sahabatnya. Lebih baik di tusuk dengan pisau mungkin hanya raganya yang sakit.
Tetapi hatinya kini yang terluka, luka tak berdarah. Rani menunduk setelah melihat tatapan sahabatnya yang mengintimidasi.
"Ninda! loe nggak boleh bicara begitu, biar bagaimana Rani sahabat kita."
"Buat apa loe belain dia! pantesan cepet kaya, ternyata bukan hanya jual makanan tapi jual diri juga!" Sarkas Ninda.
"Ninda!" bentak Robby.
"Pergi Rob! pergi dari sini, Rob...hu hu huuu...Ucap Rani tidak bertenaga.
"Tetapi loe, butuh teman Ran" Robby menatap Rani tidak tega.
"Pergi aku bilang! Rob! pergiii...hu huhu. Rani sudah tidak kuat lagi mendengar kata-kata Ninda.
Robby pun pergi meninggalkan Rani mengejar Ninda yang sudah pergi terlebih dahulu.
Rani mengambil handphone yang telah ia jatuhkan. Mengusap tanah yang menempel dan mencoba menghubungi Daniel.
"Nomor yang anda tuju tidak bisa di hubungi" Rani menghubungi berkali-kali namun tetap hanya operator yang menjawab.
Rani pun menyimpan handphone di dalam tas. Rani mendesah kasar, ini baru ujaran kebencian dari teman kampus, dan orang yang tidak di kenal. Belum menghadapi bagaima sikap suaminya nanti terhadapnya. Menghadapi Weny tentu dia hatinya terluka dengan berita ini. Belum lagi menghadapi sikap keluarganya.
Rani meremas jilbab, kepala rasanya ingin meledak. Dengan mengumpulkan sisa tenaganya. Rani bangkit berdiri meninggalkan taman.
__ADS_1
Sampai di lobby, Rani mendapatkan tatapan orang-orang yang sangat membencinya. Nanum Rani tidak peduli, masa bodoh saat ini hidupnya sudah hancur berkeping-keping.
Rani berjalan ke halaman kampus menuju tempat parkir. Mendung gelap jam 10 pagi seperti menjelang Maghrib. Seolah turut larut dalam kesedihan.
Setelah menemukan motornya Rani mencari kunci dalam tas. ketika hendak menyalakan motor.
"Ceprot! bungkusan sampah di lemparkan kepadanya. Bau busuk menyeruak.
"Dasar wanita ******! jangan menginjakkan kaki di kampus ini lagi loe! hanya membuat kotor saja!" Seru salah satu orang.
Rani menatap puluhan orang me
mandang jijik. Rani tidak peduli menarik motor dan menyalakan.
"Ceprot, ceprot, ceprot, telur busuk melayang ke tubuhnya. Entah darimana mereka mendapatkan telur busuk tersebut.
"Ahahaha...rasakan tuh! bau busuk telur itu belum seberapa. Masih lebih bau busuk tubuh loe!"
Rani menoleh karena suara itu sangat ia kenal.
"Ninda" ucapnya lirih.
Rani menyalakan motor melesat meninggalkan kampus. Tidak peduli helm nya jatuh. Jika ada polisi memberi tilang sudah tidak peduli.
Jedeeer...jedeeer...jlegurrr.
Suara petir menyambar hujan turun dengan derasnya. Derasnya air mata Rani seirama dengan derasnya air hujan.
Rani sekali-sekali meraup wajah membersihkan air yang menutup pandangannya.
Didalam hatinya gemuruh seperti gemuruhnya petir. Mengapa hidupnya begini dan selalu begini.
Baru sesaat ia rasakan bahagia. Dan kebahagiaan itu raib dengan cepat. "Seberapa banyak dosa yang hambamu ini tanggung ya Allah...semoga ini ujianmu...bukan karena murkamu atas dosa yang telah aku pikul."
Rani terus menerus menangis dalam perjalanan. Hujan tak kunjung reda.
"Peeeessss...motor yang Rani kendarai semakin berat nanum Rani paksakan. Braak" Motor tiba-tiba mogok. Mau tidak mau Rani pun berhenti. Rani mengecek apa yang terjadi dengan motornya. Ternyata ban motor tidak hanya kempes melainkan robek.
Rani menepi di salah satu gubuk kosong. Keadaan jalanan sangat sepi. Dengan basah kuyup Rani membuka tas berniat menghubungi taksi. Tidak mungkinkan? pùlang hanya dengan jalan kaki? Padahal perjalan masih jauh. Malang tak dapat ditolak mujur tak dapat di raih. Handphone Rani pun basah dan sudah pasti lobet. Dokumen di dalam tas pun semua rusak seolah menyempurnakan penderitaan.
Rani duduk lesu memandangi air hujan yang tak kunjung mereda. Seperti air matanya yang tidak mau berhenti.
Bau busuk dari tubuhnya pun masih menyeruak. Air hujan ternyata belum mampu membersihkan tubuh nya. 😢😢😢
__ADS_1