
Akhirnya semua lega ketika Sherly di jatuhi hukuman tujuh tahun penjara. Mereka berharap tidak akan ada lagi yang mengganggu ketentraman keluarga Rani, maupun Bambang.
****
Keluarga Ibu Widi yang dari semarang pun pamit pulang. Sebab satu bulan kemudian, akan kembali kesini guna menghadiri pernikahan Bambang.
Begitu juga dengan Mas Dino dan Syintia. Mereka akan kembali ke Yogyakarta.
"Aku titip Bapak ya Ran" ucap Sintya yang sudah siap berangkat sambil menggendong Wahyu. Sedangkan Dino menenteng tas pakaian.
"Kan sudah ada Ibu sekarang, kalian nggak percaya sama Ibu" bukan Rani yang menyahut kecuali Ibu Widi.
"Terùs... kalian nggak mau mengakui aku sebagai Ibumu?" sambung Ibu Widi, tadi malam menginap di rumah Rani, bersama suaminya.
Semua anaknya pun mentertawakan raut wajah Ibu Widi yang tampak lucu.
"Percaya dong Bu... Dino pamit ya..." sahut Dino kemudian mencium punggung tangan Bapak dan ibu Widi. Di susul Syntia.
"Hati-hati ya Le... Nduk..." ujar Pak Siswo sambil mengusap kepala cucunya.
"Sayang... salim Uti, sama kakek..." ucap Syintia mengangsungkan tangan anaknya kepada Ibu.
"Huaaaa...ndak au..." sahut Wahyu menangis membenamkan wajahnya di dada Syintia.
"Cup cup cup..." sudah, kalian berangkat" ucap Ibu Widi mengelus kepala Wahyu.
"Baik Bu" sahut Syntia dan Dino. Mereka berangkat di antar Daniel dan Rani.
"Syn, salam buat Weny, kalau dia mau... suruh bekerja sama aku lagi" ucap Rani.
Daniel hanya diam mendengar obrolan Syintia dan Rani. Daniel tersenyum samar istrinya memang berhati baik, semua orang yang sudah menyakiti dirinya dia maafkan termasuk dirinya.
"Iya Ran, pasti dia akan senang" sahut Syntia.
Tidak terasa mereka sampai di Bandara. Setelah Dino masuk kedalam hendak check in, Daniel dan Rani kembali pulang.
******
Hari berganti minggu, pernikahan Bambang dan Lidia tinggal seminggu lagi.
"Jeung Fatimah... resepsi pernikahan akan diadakan di mana?" tanya Ibu Widi ketika mendatangi rumah Nyak Fatimah.
"Kami serahkan semua kepada keluar Ibu, kami mengikuti saja" jawab Nyak Fatimah. Nyak Fatimah hanya single parent tidak mau ambil pusing menurutnya cukup membantu saja.
"Baiklah jeung, kalau begitu... kita serahkan ke anak-anak saja ya" kata Ibu Widi antusias.
__ADS_1
"Baiklah jeung" sahut Nyak Fatimah.
*****
Persiapan pun sudah hampir paripurna. Bambang ingin resepsi pernikahan nya diadakan, bukan di hotel maupun di gedung. Tetapi di tempat yang bernuansa alam.
Bambang memilh tempat di hutan luas sekitar 85 hektar ia booking. Lokasi outdoor di kelilingi puluhan ribu macam tumbuhan. Tentunya semakin menambah suasana asri sejuk dan nyaman.
Catering sudah di percayakan kepada Rani, butik di tempat Ibu Widi sendiri. Saat ini Bambang dan Lidia akan fitting baju.
Undangan sudah di sebar. Bambang mengundang rekan kerja, karyawan showroom, dan sahabat sahabatnya.
Lidia tidak banyak yang di undang, kecuali teman alumni SMA, tetangga terdekat dan teman kerjanya ketika di mini market.
"Kamu sudah nggak ragu lagi kan Lid menikah sama aku?" tanya Bambang di dalam mobil saat ini mereka akan ke butik Ibu Widi.
Lidia menoleh cepat. "Ck, kenapa itu melulu sih? yang di pertanyakan!" Lidia berdecak pasalnya Bambang menanyakan ini sudah yang ke sekian kalinya.
"Terus terang, aku nggak ingin gagal untuk yang kedua kalinya Lid"
"Sebab, pernikahan aku dulu hanya tinggal menghitung hari tapi ternyata gagal" tutur Bambang.
"Berarti Mas masih mengharapkan dia?! tanya Lidia menoleh Bambang kesal.
"Ngawur kamu! ya jelas nggak lah" sahut Bambang pandangannya lurus ke depan.
"Ya wajar lah Lid... kalau aku trauma. Bukan karena aku menyesal karena nggak jadi menikah sama dia. Dulu aku kok, yang membatalkan pernikahan kami"
"Yang aku takutkan justru sekarang. Takut kehilangan kamu" jujur Bambang.
"Mas mencintai dia?" tanya Lidia menghadap Bambang ingin penjelasan lebih detil.
"Nggak!" jawab Bambang cepat.
"Aku sama dia itu di jodohkan sama Ibu" Bambang menceritakan semuanya dari awal pertemuan sampai berpisah. Agar tidak ada yang mengganjal dan mengganggu hubungan antara Lidia dan dirinya.
"Cantik nggak? tanya Lidia kemudian.
"Lihat saja di handphone aku, ada kok foto dia" Bambang masih menyimpan foto Weny tapi bukan hanya sendiri. Melainkan bersama keluarga Bambang dan keluarga Weny saat pertunangan berlangsung.
"Boleh memang? lihat handphone Mas?" tanya Lidia heran biasanya para pasangan tidak boleh melihat hp masing-masing.
"Boleh. Memang kenapa?" tanya Bambang.
Lidia pun membuka handphone calon suaminya memang benar tidak di kunci.
__ADS_1
Lidia membuka galeri tidak banyak foto yang di simpan oleh Bambang. Melainkan foto pinangan mereka kemarin. Foto Pak Siswo dan Ibu Widi ketika ijab kabul. Foto Bambang Ibu Widi dan Dira.
Foto keluarga Rani dan keluarga besar Bambang. Dan yang terakhir Foto keluarga besar Weny, Bambang dan Ibu Widi.
"Yang pakai baju merah marun ini ya Mas?" tanya Lidia.
"Iya, hapus aja kalau kamu nggak suka" ucap Bambang.
Lidia mengamati Foto Weny wajahnya biasa saja. Di dalam foto tersebut juga tidak ada foto romantis antara Bambang dan Weny. Seperti saat dirinya tunangan kemarin.
Lidia kemudian meletakkan kembali hanpon Bambang di laci mobil.
"Sudah di hapus?" tanya Bambang tanpa menoleh.
"Biarin saja, nggak usah di hapus" sahut Lidia, ia percaya sama Bambang. Tidak akan mempermasalahkan foto. Toh, foto itu rame-rame di tambah lagi, foto itu momen saat Bambang tunangan dulu.
"Kamu belum jawab loh pertanyaan aku" kata Bambang kemudian.
"Yang mana?" tanya Lidia lupa.
"Kamu sudah nggak ragu kan?" Bambang mengulangi pertanyaannya.
"Ya jelas nggak dong Mas... aku yakin, bahwa kita memang di takdirkan untuk berjodoh"
"Coba saja ingat berapa kali awal pertemuan kita yang tidak terduga" "Mas tiba-tiba bertemu Nyak kemudian menjadi Dewa penolong"
"Terus, tiba-tiba aku dituntun bisa bekerja di rumah Mas"
"Jujur, awal bertemu Mas pertama kali, rasa cinta, rindu, benci, kecewa bergejolak di dada" Lidia mengeluarkan unek-uneknya.
"Okay... aku percaya" ucap Bambang pendek kemudian tangan kirinya membelai kepala Lidia.
Merekapun akhirnya sampai di butik Ibu Widi. Bambang memarkirkan kendaraan kemudian jalan bersebelahan dengan Lidia masuk kedalam butik.
"Oh baru sampai kalian?" tanya Ibu sambil duduk di depan kasir membantu karyawan sedang sibuk melayani pelanggan.
"Iya Bu" sahut mereka.
"Lidia berkeliling melihat koleksi baju muslim yang indah memanjakan mata. Bambang dan Lidia tidak akan menggunakan pakaian adat Jawa maupun betawi. Mereka memilih gaun pengantin muslim yang sudah membudaya.
"Mau yang mana sayang?" tanya Ibu Widi mendekati Lidia.
"Yang ini bagus nggak Bu?" tanya Lidia. Mencoba baju muslim pengantin wanita warna putih. untuk akat nikah.
"Bagus sekali" ucap Ibu Widi tertegun melihat penampilan calon menantunya.
__ADS_1
Kemudian, Lidia memilih gaun untuk resepsi. "Coba yang ini sayang" titah Ibu menyerahkan busana muslim kepala Lidia. Lidia pun mencoba kembali.
Lidia keluar dari kamar pas. Bambang yang baru dari toilet terkagum kagum melihat calon istrinya. Memakai busana keren bak putri raja, warna pastel penampilan nya seperti Cinderella.