ISTRI SANG MAJIKAN 2

ISTRI SANG MAJIKAN 2
Part 64


__ADS_3

Dengan setengah berlari Topan menuju mobil milik boss. Bambang ketika hendak keluar dari rumah Rani mengirimkan pesan kepada Topan agar segera menyusul dirinya.


"Sorry boss, agak lama menunggu" Ucap Topan segera masuk kedalam mobil di samping Bambang. Mobil sudah di nyalakan oleh Bambang maka Topan hanya tinggal menjalankan saja.


"Tidak apa-apa" Ucap Bambang terlihat menahan kegundahan hatinya.


"Boss, kenapa dari tadi terlihat gelisah sekali, apa karena masih memikirkan Rani?" Tanya Topan hati-hati, khawatir menyinggung boss.


"Ah sok tahu kamu!" Sangkal Bambang.


"Maaf boss, kalau boleh saya memberi saran, sudahi harapan boss untuk mengharap cinta dari Rani."


"Saya mengenal Rani dari TK, sahabat saya yang satu itu sulit untuk berkhianat." Tutur Topan pelan.


Bambang menatap jalanan tanpa menimpali. Tetapi hatinya mengiyakan ucapan Topan.


"Boss, sebuah hubungan yang sehat, cinta hanya dapat di jalani oleh dua pihak, bukan tiga atau lebih"


"Maaf, kalau saya lancang, saya melihat ada kebimbangan di hati boss, dalam memilih isi hati, pilih yang serius boss bukan yang sekedar singgah." Tutur Topan.


Bambang menoleh ke arah Topan. "Tau apa kamu tentang cinta?" Tanya Bambang meremehkan asistennya. Tetapi lagi-lagi hatinya setuju.


"Maaf bos, saya memang bukan ahli dalam mengartikan percintaan"


"Memilih kadang membuat sulit, terlalu lama menggantung perasaan maka akan kehilangan"


"Dan cepat atau lambat boss akan kehilangan Weny" "Jika boss tidak cepat-cepat memperbaiki" "Untuk saya pribadi, lebih baik di cintai daripada mencintai." Tutur Topan bijak.


Bambang mendesah menjambak rambutnya sendiri, mengapa dirinya terlalu berharap, padahal Rani tidak menginginkannya. "Aaaggghh....!" ciiiiitttt..."


Bambang tiba-tiba teriak membuat Topan menginjak rem mendadak.


"Astagfirlullah...boss!" Topan mengelus dadanya menjatuhkan kepala di gagang setir. Nafasnya tersengal-sengal. Untungnya tidak ada mobil di belakangnya.


Kedua pemuda satu generasi yang hanya berbeda empat tahun itu saling diam. Larut dalam pikiran masing-masing.


"Sabar boss, langit tidak selamanya mendung, setelah hujan akan hadir pelangi. Secercah harapan akan muncul" Topan mulai memberikan petuah seperti adiknya. "Kadang orang jika sedang jatuh cinta akan menjadi bodoh dan buta, tidak menyadari bahwa cinta yang ia puja adalah terlarang." Kata Topan tanpa mengangkat kepalanya karena masih syok.


"Kamu nyindir saya?! Bambang menatap Topan kesal.


"Tolong, saya mohon boss!" Topan kali ini tidak takut lagi seperti tadi bicara dengan boss. Topan mulai kesal merasa kedua sahabatnya di permainkan. Topan menatap boss sedih, ingat kedua sahabatnya dari kecil.


"Jangan jadikan kedua sahabat saya menjadi korban keegoisan boss" Kata Topan pelan tetapi menghujam.


"Apa maksudmu?" Bambang menatap Topan tajam.


"Maaf boss, sampai kapan boss akan terjerat cinta segitiga! secara tidak langsung boss sudah mempermainkan perasaan kedua sahabat saya!"


"Tuan memberikan harapan untuk Weny, tetapi hati boss hanya ada Rani, dan bos tahu bahwa Rani sudah bersuami!" "Yang ada dalam pikiran boss hanya Rani! Rani! dan Rani."


"Boss di sini memimpikan Rani, disana memikirkan Weny. Jika boss masih tidak bisa melupakan Rani, lebih baik tinggalkan Weny"


"Maaf! apa boss tidak sadar jika mereka tahu perasaan boss yang sebenarnya pasti mereka akan berseteru, apa itu yang boss harapkan?"


"Dan belum lagi, jika suami Rani tau istrinya di cintai orang lain, sebagai laki-laki tentu tidak akan tinggal diam"


"Sekarang boss, bayangkan saja jika boss menjadi Daniel pasti bos akan mesakan hal yang sama, saya tidak ingin sahabat saya Rani ada masalah dengan suaminya."

__ADS_1


"Saya hanya bisa mengingatkan boss, semoga boss bisa merenungkan kembali." Pungkas Topan.


Bambang mati kutu, jangankan menjawab dengan kata-kata. Kentutnya pun enggan keluar.


"Jalankan mobilnya, antarkan saya pulang" Titah Bambang.


Topan menjalankan mobilnya di dalam mobil hanya mendengar deru mesin. Tidak ada pembicaraan kembali. Tidak terasa mobil sampai di kediaman Ibu Widi. Setelah memasukan mobil kedalam garasi Topan pamit pulang dengan rasa kecewa. Lebih baik kehilangan pekerjaan daripada persahabatan itulah yang ada dalam pikiran Topan.


Topan merasa bersalah karena ikut membohongi kedua sahabatnya.


"Baru pulang Bi, masuk kok nggak pakai salam sih?" Tanya Ibu Widi.


"Assalamualaikum..." Hehehe..." Bambang terkekeh menyembunyikan kegelisahannya kepada Ibunya.


"Darimana kamu?" Tanya Bu Widi yang sedang menonton televisi seorang diri.


"Habis kencan dong Bu" Jawab Bambang menyakinkan.


"Sama Weny?" Tanya Ibu Widi dengan harapan Bambang akan menjawab Iya.


"Yup"


"Kapan kamu mau melamar dia le, Kemarin Ibu bicara kepadanya tentang perjodohan ini, tetapi dia menolak Bi, katanya dia mencintai orang lain." Tutur Ibu sedih.


"Tenang Bu, yang di maksud Weny, menyukai seseorang, orang tersebut ya Wibi Bu." "Tetapi yang Weny tau bukan Wibi pengusa Showroom, melainkan, Bambang sang sopir taksi." Hehehe...Bambang meyakinkan Ibu. Walaupun hatinya kini hancur berkeping-keping. Bambang tidak bercerita kepada Ibu.


"Sabar Bu, Wibi ingin mendapatkan Weny bukan karena harta Wibi, tetapi karena diri wibi" Bambang menatap Ibu dengan senyum. Kata Topan memang benar adanya. Weny nyata-nyata sudah mencintai dirinya. Tetapi mengapa dirinya menjadi orang yang egois. Dulu tujuannya menyamar menjadi sopir taksi karena ingin mendapatkan calon Istri yang tanpa melihat hartanya, melainkan dirinya. Tetapi setelah Allah mengabulkan doa-doanya justru dia menyia-nyiakan. Bambang merutuki dirinya sendiri.


"Kamu tidur le, kelihatan lelah sekali"


"Baik Bu."


*************


Di rumah Rani semua sudah tidur, Nena yang membuat aturan. Biar bagaimana Nena ingin keluarga boss sekaligus sahabatnya mendapatkan kenyamanan di rumah ini.


Nena mengumpulkan teman-temanya, tidur menjadi satu kamar. Yang dua orang di ranjang dan yang dua orang tidur di bawah dengan kasur lipat. Kamar ukuran 4 meter lumayan besar untuk tidur 4 orang bahkan masih lega.


Sementara Bapak tidur di kamar Rini dan Mira. Mas Dino dan Syintia tidur di kamar tamu.


Di kamar utama Rani masih gelisah belum bisa memejamkan mata.


"Yank, kenapa sih dari tadi gelisah terus?" Daniel mengeratkan pelukanya wajahnya menempel di ceruk leher Rani. Daniel awalnya sudah tidur. Tetapi terasa gesekan Istrinya yang miring kanan, miring kiri akhirnya terbangun.


Rani yang awalnya terlentang memiringkan badan menghadap suaminya.


"Mas"


"Apa" Jawab Daniel sambil terpenjam karena memang sudah mengantuk.


"Maaf ya"


"Maaf kenapa?" Daniel seketika membuka mata menatap Rani, nafasnya semilir menerpa wajahnya.


"Maaf, kalau Mas terganggu dengan keberadaan sahabat-sahabat aku" Rani rupanya mendengar nasehat Bapak tadi siang terngiang-ngiang di telinganya.


"Memang kenapa? kok kamu tiba-tiba membahas ini sih yank, memang selama ini aku pernah mempermasalahkan, tidak kan?!.

__ADS_1


"Jangankan di rumah kamu sendiri, di rumah kita yang di pamulang kalau kamu mau bawa teman-teman kamu boleh kok." Kata Daniel jujur.


Rani tersenyum menatap suaminya. Ternyata suaminya saat ini sudah berubah tidak seperti dulu.


"Kok malah senyum-senyum aku ganteng ya?" Hehehe.


"Sedikit" Rani memencet hidung suaminya.


"Hanya" Daniel berhenti berucap.


"Tukan! kenapa, nggak ikhlas kan?"


"Hanya aku tuh nggak mau kamu terlalu dekat dengan Bambang."


"Memang kenapa?"


"Kamu tuh yank! sudah berapa kali aku bilang, Bambang itu suka sama kamu"


"Mas cemburu ya?" Rani masih menanggapi dengan santai.


"Ya jelas lah aku cemburu, aku itu tidak seperti Bambang, Topan, Reno"


"Aku hanya pria yang sudah berumur, tidak sebanding dengan mereka"


"Sedangkan kamu, cantik, masih muda, pengusaha lagi" Celoteh Daniel ternyata merasa Inscure.


"Ya Allah Mas...aku tahu kok batasannya, walaupun aku dekat dengan mereka, hanya ingin silaturahmi aku terjalin, Reno dan Topan, mereka satu kampung dengan aku" "Tetapi Mas tetap yang nomer satu di hati aku"


Daniel merasa di awang-awang mendengar penuturan Istrinya. (Tetap nomer satu di hatiku.)


"Sedangkan Bambang, dia tuh orang baik, andai Mas tau di saat hatiku sakiiittt...dia bagai obat, selalu menghibur, membantu, pokoknya tidak bisa aku ungkap dengan kata-kata"


"Masa iya, aku menjadi orang yang tidak tahu terimakasih"


"Tetapi, sejak Mas bilang, dia menyukai aku, aku tidak pernah lagi memakai jasa dia, lebih baik aku menggunakan motor berpanas panasan dari pada melukai perasaan orang yang paling ada di hati aku."


Mendengar penjelasan Rani, Daniel rasanya ingin berguling-guling sangking senangnya.


"Terimakasih ya, maaf, aku selalu menyakiti hati kamu"


"Sudah Mas, tidak usah mengingat yang sudah berlalu, yang penting Mas sudah berubah, dan memperbaiki semuanya, aku bukan orang pendendam, dan susah memberikan maaf"


"Tetapi jangan terus mengulangi kesalahan yang sama, kesabaran seseorang pasti akan ada batasnya." Pungkas Rani.


"Sekali lagi terimakasih yank, kamu memang orang terbaik yang aku kenal" Daniel mengeratkan pelukanya.


"Eh sudah jam satu yank, bobok yuk, besok kan kamu harus mempersiapkan acara hari sabtu"


"Ya Allah...iya, ya" Rani menarik selimut.


"Eh tunggu yank" Daniel menarik selimut Rani yang sudah menutup setengah badan.


"Kenapa lagi? katanya suruh tidur"


"Kita bikin dedeknya Icha dulu" Daniel mulai beraksi.


"Maaaaassssss...."

__ADS_1


"Seeeetttt...."


__ADS_2