ISTRI SANG MAJIKAN 2

ISTRI SANG MAJIKAN 2
Part 37


__ADS_3

Bambang mengantarkan Rani ke Bandara, tidak terasa sudah sampai tempat yang di tuju. Jika boleh berharap Bambang ingin selalu bersama dan memilikinya. Tetapi itu artinya secara tidak langsung mendukung perpisahan Rani dengan suaminya.


Oh tidak! aku bukan pria yang jahat. Bambang meraup wajahnya gusar.


"Terimakasih ya bang." Ucap Rani seraya turun dari mobil dan mendorong koper nya.


"Sama-sama Mbak" Ucap Bambang menatap kepergian Rani hingga tidak terlihat lagi.


Bambang kembali menjalankan mobilnya meninggalkan Bandara. Sepanjang jalan ia berpikir, sebenarnya dirinya hanya menunggu pepesan kosong.


*****


Dua jam berlalu, Rani sudah sampai di kediamannya. Rani menatap rumah joglo dari kejauhan, masih sama seperti dulu.


Rani melangkah tergesa-gesa ingin segera sampai di rumah dan bertemu Bapaknya.


Sampai di depan Joglo, tampak di gazebo pria berusia 55 tahun sedang berkutat dengan buku tebal. Dengan kaca mata minus bertengger di hidungnya. Rambutnya sudah memutih sebagian. Pria inilah yang selalu Rani rindukan. Rindu kasih sayangnya, rindu pelukanya, rindu petuahnya.


Spontan Rani menjatuhkan koper nya.


"Bapaaaak...hu huuuu..." Rani berlari kencang.


Rani memeluk bapak dengan tubuh bergetar, begitu juga dengan Bapak, pria tua itu menitikan air mata bahagia, tangan yang hampir keriput mengelus punggung anaknya dengan lembut.


"Kamu lama sekali tidak mengunjugi bapak nduk." Ucap Bapak. Tangan Pak Siswoyo mengelus pangkal kepala anaknya.


"Maafkan Rani Pak..hu huuu..


"Sudah-sudah yang penting kamu sehat nduk."


Bapak merenggangkan pelukanya, mengerlingkan netranya ke kanan dan ke kiri.


"Kamu pulang sendiri nduk mana suami kamu?" Tanya Bapak menatap anaknya lekat. Bapak sudah bisa menduga, kalau anaknya pulang hanya sendiri pasti sedang tidak baik-baik saja.


Rani melepas pelukanya tidak menjawab pertanyaan Bapak.


"Kok sepi Pak, Mas Dino sama Syntia kemana?" Tanya Rani mengalihkan pembicaraan.


"Kakakmu sedang mengajar, lalu Syntia sedang menyusui anaknya." Tutur Bapak. Bapak tidak melanjutkan pertanyaanya, biar Rani istirahat dulu. Pikirnya.


"Sana bersih-bersih dulu! terus cari makan, tadi Syntia sudah masak" Titah Pak Siswoyo.


"Nanti dulu, Rani masih kangen sama Bapak" Katanya. Lalu menggeser buku Pak Siswo kemudian tidur di pangkuan nya.


"Kamu ini sudah punya suami kok masih ngelek sama Bapak hemm.. hehehe. Pak Siswoyo terkekeh.


"Nggak boleh nih?! Tanya Rani cemberut.


"Boleh!, tapi lucu saja." Bapak mengelus kepala anaknya yang masih tertutup kerudung. Lalu mengamati wajah anaknya.


"Kamu sekarang gemukan kok nduk, nggak seperti waktu kesini dulu." Kata Pak Siswoyo.

__ADS_1


"Itu Artinya Rani bahagia kan Pak?" Sahut Rani menyembunyikan perasaan luka lara yang di rasakan.


Begitulah Rani seburuk apapun keadaan rumah tangganya tidak pernah mengumbar aibnya sendiri. Walaupun dengan Bapaknya tidak pernah bercerita.


"Yah, semoga saja begitu nduk, bapak hanya bisa berharap, semoga kamu selalu di berikan kebahagiaan." Doa bapak.


Walaupun Pak Siswoyo tau, perasaan Rani, tapi Pak Siswoyo tidak pernah ikut campur urusan rumah tangga anaknya biar saja menyelesaikan sendiri. Tetapi nasehat Pak Siswoyo, selalu di nanti kedua anaknya.


"Sudah hampir dzuhur nih, mendingan kamu masuk! bersih-bersih terus kita makan siang." Titah bapak.


Rani bangun dari pangkuan Bapak lalu beranjak.


"Jangan langsung temui anaknya Syintia ya, sebelum bersih-bersih" titah Bapak.


"Njih Pak" Jawab Rani lalu segera kekamar menyimpan koper, kemudian kekamar mandi.


Selesai dari kamar mandi Rani membuka lemari pakaian. Ia menarik baju sebuah album terjatuh. Album dia dan Daniel ketika mereka sedang melihat-lihat perkebunan milik bapaknya setahun yang lalu.


Saat itu Rani sedang bertengkar dengan Daniel gara-gara Daniel cemburu buta dengan Reno mantan pacar Rani. Saran Mama Nadyn Rani di minta untuk pùlang dulu memberi pelajaran kepada anaknya.


Dan saat ini Rani kembali pergi dari rumah. Rani memeluk album air matanya berlinang, ia merasa bersalah perbuatannya kabur dari rumah ketika ada masalah sungguh tidak bisa di benarkan. Tetapi inilah jalan hidupnya yang harus ia lalui.


Rani menghapus air mantanya, kemudian ganti baju santai, shalat dzuhur. Lalu menjatuhkan tumbuhnya di ranjang. Rani mengamati seluruh ruangan kamar.


Kamar Rani masih sangat bersih dan terawat. Di rumah Pak Siswo ada Simbok yang membantu membersihkan rumah dan mencuci gosok pakaian.


Tok tok tok


"Raniiii...kamu tuh ya! sombong sekali mentang-mentang sudah menjadi istri orang kaya"


"Lupa sama sahabat, bahkan sudah menjadi adik ipar juga!" Cerocos Syintia tidak pakai titik koma seraya bersedekap.


"Aaaa Syintia..." Rani segera bangun dan memeluk sahabatnya. Mereka berpelukan berputar-putar.


"Bagaimana kabar mu?" Tanya Syntia.


"Alhamdulillah Mbak Syntia, aku baik -baik saja." Sahut Rani menatap Syntia tersenyum.


"Gaya dech! sosok-an panggil Mbak" Gerutu Syntia tidak mau di panggil Mbak.


"Lah nggak ada yang salah kali? kamu kan sekarang kakak aku" Kata Rani membela diri.


"Ah bodo! pokoknya aku nggak mau di panggil Mbak." Kata Syntia merengut kesal.


"Iya dech!" Jawab Rani kemudian menarik Syntia mengajaknya duduk di ranjangnya.


"Ponakanku mana?" Tanya Rani ingin segera menggendong keponakannya.


"Baru bobok, kamu jahat! bukanya nemui aku sama ponakanmu dulu tadi, malah langsung bobok?" Omel Syintia.


"Tadi pengenya begitu, tapi kata Bapak nggak boleh! ya sudah, aku jadi rebahan dulu dech." Sahut Rani.

__ADS_1


"Eh kamu kok pulang hanya sendiri, suamimu mana?" lagi-lagi pertanyaan Syntia sama dengan pertanyaan Bapak.


"Suamiku kerja! saat ini belum bisa ikut kesini" Jawab Rani masuk akal. Syntia hanya mengangguk mengerti. Tentu berbeda dengan pemikiran Bapak.


Syintia lalu memandangi sahabatnya sekaligus adik iparnya dengan seksama.


"Kok kamu ngeliatin aku sampai begitu sih?" Tanya Rani heran. Sebab tatapan Syntia seperti pria yang sedang jatuh cinta.


"Kamu sekarang beda Ran, semakin cantik, berisi dan anggun, bang Daniel pinter banget manjain kamu." Puji Syntia.


Rani tersenyum di buat-buat, menyembunyikan kenyataan pahit yang di deritanya.


"Ah kamu Syn, kalau muji orang tuh paling pintar" pungkas Rani.


"Eh sekarang kita makan dulu yuk! bapak sudah nunggu kita loh". Ajak Syntia. Padahal tadi Syntia di suruh bapak memanggil Rani. Tetapi keasikan ngobrol hingga lupa.


Rani menggandeng Syntia, mereka berjalan ke meja makan.


"Mas Dino kok belum pulang sih?" Tanya Rani seraya menarik kursi di meja makan.


"Sekalian bimbel soalnya mungkin pulangnya sore." Jawab Syintia.


"Kangen banget aku sama Mas Dino sudah setahun lebih nggak ketemu" Tutur Rani.


"Paling ngumpul satu jam saja kalian sudah saling menjahili," sindir bapak. Bapak tersenyum senang, setiap berkumpul kedua anaknya ada saja yang mereka jadikan bahan untuk saling menjahili. Tapi mereka saling menyayangi.


"Hehehe, bukan Rani yang jahil Pak, Mas Dino tuh yang suka mulai." Adu Rani.


"Sudah! sekarang makan dulu, nanti baru lanjut ngobrol" Titah bapak.


Makan siang terasa nikmat bagi Pak Siswoyo karena di temani anak dan menantunya.


"Ini masakan kamu Syn" Tanya Rani.


"Syntia hanya mengangguk, karena mulutnya penuh dengan makanan.


"Enak juga! padahal dulu kamu nggak bisa masak hehehe." Rani terkekeh.


Dulu kalau lagi kumpul memang Rani yang selalu mengajari teman-temanya memasak.


"Kan kamu dulu yang suka ajari aku memasak" sahut Syntia.


"Terimakasih ya Syin" Ucap Rani serius.


"Terimakasih untuk apa?" Tanya Syntia tidak kalah serius.


"Karena kamu sudah rela mengurus Bapak" Ucap Rani merasa bersalah karena sebagai anak perempuan tidak bisa mengurus Bapaknya.


"Ngacok kamu Ran, aku kan nikah sama kakak kamu, itu berarti aku siap untuk ikut di mana Mas kamu tinggal."


.

__ADS_1


__ADS_2