
Bambang PoV
Dulu hari minggu tidak ada istilah
harinya anak muda seperti aku. Bagiku tidak ada yang istimewa selain bekerja dan terus bekerja. Mengumpulkan pundi-pundi rupiah hingga aku menjadi seperti sekarang ini. Tidak ada istilah pacaran yang sudah menjadi tekatku. Jika sudah mendapatkan jodoh yang shaleh. Pacaran setelah menikah akan terasa indah. Karena pacaran bukan menjadi prioritas utama.
Tetapi, saat ini aku justeru terjerumus dalam cinta yang di larang oleh kaidah agama yang aku anut. Tidak ada orang yang mau menjalin hubungan tanpa kepastian. Dan saat ini baru aku menyadari, bahwa laki-laki butuh seorang pendamping. Tetapi cintaku jatuh di tempat yang salah. Dan rasanya sangat sulit untuk terbangun.
Mesti dia menjadi yang spesial di hatiku. Tetapi aku tidak akan bisa memilikinya. Dan ironisnya saat ini aku di buat gila. Jika terus begini kondisi mentalku akan memburuk. Aku terjebak dalam masalah. Tetapi tidak tahu harus berbuat apa untuk mengatasi gejolak di dalam hatiku. Aku mengagumi milik orang lain tentu tidak akan berakhir bahagia. Jika di pikir aku hanya membuang-buang waktu saja saat mencintai yang bukan miliku, pada akhirnya akan sia-sia.
Aku keluar dari kamar berniat mendatangi Cafe Rani mungkin rindu ini akan bisa terobati.
"Mau kemana Bi?" Tanya Ibu. yang sudah siap berangkat entah mau kemana.
"Mau jalan saja Bu, sekali-sekali, biar saja, di showroom sudah ada Topan."
"Oh, ya nggak apa-apa Bi, tapi tolong antar Ibu ke Showroom sebentar ya, nanti pulangnya biar di antar Topan."
"Baik Bu."
Sebelum ke Cafe Rani. Aku mengantar Ibu dulu, ke Showroom.
Sampai di Showroom aku di kejutkan karyawan Rani sudah mengantar makanan. Sebelum turun aku mengenakan masker agar mereka tidak mengenaliku. Biasanya mereka mengantarkan makanan siang hari. Tetapi entah mengapa mengantarnya pagi-pagi.
"Selamat pagi bu Widi, sarapan sudah siap"
"Oh terimakasih Mbak, saya kok lama sekali tidak melihat Mbak Rani?"
Ternyata Ibu memesan sarapan pagi. Memang kami lakukan sebulan sekali.
"Iya, bu, Mbak Rani akhir-akhir ini sibuk sekali, malah hari ini, suaminya sudah datang, jadi tambah sibuk."
Jedeeer...
Jantungku hampir copot, setelah menyimak perbincangan Ibu dan Karyawan Rani. Aku menjadi tidak Ikhlas Rani bertemu suaminya.
"Oh jadi Mbak Rani sudah punya Suami to?" Tanya Ibu dengan raut wajah kecewa. Ternyata Ibuku juga merasakan hal yang sama.
"Iya bu, saya pikir Ibu sudah tahu."
"Kamu karyawan baru, Ibu kok tidak pernah melihat kamu, namanya siapa?"
"Saya Weny Bu, sudah hampir sebulan kerja sama Rani."
"Tetapi saya tugasnya di dalam cafe, jadi tidak pernah mengantar."
"Saya pamit Bu, nanti makan siang saya lagi yang mengantarkan kesini."
"Oh iya Nak, hati-hati di jalan, salam buat Rani ya."
" Baik Bu."
Setelah mengantar Ibu, aku meluncur pergi ke taman, mungkin bisa menjernihkan suasana hati aku.
__ADS_1
Kenapa aku tidak rela jika Rani berkumpul lagi dengan suaminya. Padahal aku yang selalu menasehati agar Rani bisa bersatu dengan suaminya.
"Kenapa aku menjadi orang jahat ya Allah...jeritku dalam hati. Ingin rasanya aku berteriak meluapkan kekecewaanku. "Ampuni aku ya Allah...kenapa aku mencintai orang yang salah...hapus cinta ini ya Allah...aku tidak mau mencintai dunia lebih dari Cinta aku kepadamu.
Aku turun dari mobil, karena hari minggu taman ini cukup Ramai. Selain taman ini untuk penghijauan, di sebelah, banyak menjual makanan pagi. Aku berjalan menuju komidi putar. Tidak berniat ingin naik, hanya ingin duduk melihat anak-anak kecil.
Setelah duduk pandanganku tertuju kepada orang yang tidak asing bagitu. Sedang mesra-mesra dengan seorang pria. Aku berdiri dan mendekati.
"Mbak Rani!"
Rani dan suaminya menoleh ke arahku.
Daniel segera melepas pelukanya.
"Abang kok di sini, olah raga juga ya?
"Iya Mbak, hampir setiap minggu saya kesini jika sedang ada waktu senggang."
Aku perhatikan suami Rani sibuk dengan handphone, hanya menatap aku sekilas saat melihat aku pertama tadi.
Wajahnya tidak garang seperti waktu dulu ketika aku baru melihat pertama kali.
"Mbak Rani sudah lama juga ya, tidak memakai jasa saya lagi?"
"Saya sudah mempunyai kendaraan buat antar pesanan bang, lagi pula saya sekarang jarang terjun langsung ke restoran"
"Tugas kuliah lagi banyak, dan saya lebih nyaman menggunakan motor." Tuturnya.
"Oh gitu, ya sudah Mbak Rani, Mas e, saya permisi dulu"
"Aaaaaggggghhhhhh..."
******
Daniel menatap kepergian Bambang dengan rasa malu. Bagaimana tidak? dia yang sudah membantu Rani ketika Rani sedang terpuruk. Seperti penuturan sahabatnya, Zulmy dan Rizal. Sebenarnya Daniel bisa melihat tatapan Bambang kepada Istrinya ada rasa yang terpendam. Tetapi sangat tidak tepat jika Daniel mempermasalahkan hal ini. Untuk saat ini yang Daniel harapkan bisa memperbaiki kesalahannya terhadap istrinya.
"Siapa laki-laki tadi yank?" Tanya Daniel sebenarnya tau, bahwa dia sopir taksi yang ketika itu pernah bertemu ketika di sekolah menjemput Icha. Tetapi hanya untuk memastikan.
"Dia sopir taksi Mas, orangnya baik, ketika aku baru mau mulai merintis usaha, dia yang selalu support aku."
"Mengantarkan aku kemanapun, dan dia juga yang mencarikan Ruko untukku."
Daniel sontak menatap Rani dengan tatapan butuh penjelasan. Jangan-jangan pria itu juga yang membelikan Ruko untuk Rani. Daniel sempat berpikir belum ada satu tahun usaha Istrinya sudah berkembang pesat.
"Kenapa Mas, kok tatapanya membulat seperti itu?"
"Maksudnya dia yang membelikan Ruko untuk kamu?"
"Iya, tetapi bukan pakai uang dia kok, pakai uang ku sendiri"
"Dan juga bukan memakai uang hasil curian" Tutur Rani menyindir Daniel.
Daniel merasa bersalah mendengar sindiran Rani. Sebaliknya Rani mengingat kejadian itu membuat matanya berkaca-kaca.
__ADS_1
"Maaf" lagi-lagi dan lagi yang terucap dari mulut Daniel. Tanganya menarik pelan kepala istrinya ke pangkuan nya dan mengelus kepala istrinya. Rani langsung terbangun.
"Iiihhh...malu tahu! ini kan tempat umum Mas" Rani membuang muka.
"Berarti nanti kalau di rumah boleh ya?" Daniel terkekeh memamerkan gigi putihnya.
"Iihh, ngarep!"
"Yank menurutku, pria tadi suka sama kamu dech"
"Halah! ngawur kalau ngomong! dia kan tau kalau aku punya suami"
"Yach, walau suka terkesan mengintimidasi, tetapi kalau memang sudah jodoh aku begini mau bagaimana lagi" "Mungkin memang sudah takdir aku, punya suami egois."
"Yach! terserah kamu yank mau memberikan julukan apa buat aku yang penting bisa membut hati kamu lega." Sambung Daniel pasrah.
"Papa...Umi...Icha berlari menghampiri orang tuanya.
"Waah....cape ya, sini-sini" Icha duduk di pangkuan Rani dan menyeka keringatnya dengan tisue. Sedangkan Daniel menyodorkan air mineral.
"Pulang yuk, sudah siang nih" Rani merapikan rambut Icha yang menempel di dahi karena keringat.
"Mau kemana dulu, jalan-jalan lagi tidak?" Tanya Daniel Ia ingin memanfaatkan kwality time bersama keluarganya yang sudah berapa bulan Ia impikan.
"Pulang saja ya, nanti Umi buatkan masakan kesukaan Icha."
"Ye ye yeeee..." sorak Icha antusias.
Daniel menggandeng Istri dan anaknya pulang kerumah Rani.
Sampai di rumah Rani ingin segera ke dapur ingin membuat masakan spsial untuk makan siang.
Sebelum mulai masak Rani ambil baju ganti buat suami dan anaknya.
"Ini ganti dulu, bajunya basah berkeringat, khawatir mauk angin" Rani memberikan baju ganti.
"Terimakasih Umi..." Icha berlari kecil kekamar mandi ganti pakaian.
Daniel tersenyum senang menimang kaos polos dan celana santai yang di berikan istrinya. Ternyata walapun berjauhan Rani memperhatikan dirinya dan mengharapkan dirinya kembali. Buktinya Istrinya menyiapkan baju di rumahnya. Masih ingat makanan dan minuman kesukaannya.
"Ngapain senyum-senyum sendiri?" Rani mengernyit kan dahi.
"Terimakasih ya, kamu sudah perhatian sama aku."
"Jangan ge er" Sahut Rani lalu melangkah ke dapur.
Daniel mengikuti Rani dengan terus menerus tersenyum.
"Di suruh ganti baju kok malah ikut kedapur"
"Iya aku ganti baju" Daniel seketika membuka baju di situ lalu ganti yang baru.
"Mas Danieeeelll...duh gusti! ada Icha tahu!" Rani kesal, untung Icha belum keluar dari kamar mandi. "Hehehe.. Daniel tertawa.
__ADS_1
"Uh Dasar! malah cengengesan lagi" Daniel tidak menyahuti Istrinya. Malah ambil bawang dan mengupas membantu Rani.
Rani matanya membola. Dalam sejarah menikah dengan Daniel baru kali ini mau ke dapur bahkan membantu mengupas bawang.