
Di rumah sakit setelah mencari keringat, Daniel membeli sarapan pagi. Tetapi, kali ini bukan di kantin rumah sakit seperti kemarin melainkan di cafe sebelah.
Di situlah Daniel terperanjat, tiba-tiba dirinya di kepung wartawan.
"Pak Daniel, bagaimana anda menyikapi dengan adanya isu perselingkuhan istri anda dengan pengusa ternama?" tanya salah satu wartawan to the point.
"Biasa saja, karena istri saya tidak melakukannya." Jawab Daniel dingin.
"Anda yakin, Pak Daniel?" cecar wartawan.
"Sangat yakin"
"Lalu bagaimana hubungan anda dengan Bambang Wibi Sono sendiri?"
"Baik-baik saja karena dia sahabat saya, saya kira cukup, saat ini istri saya sedang sakit, jika istri saya sudah sembuh kami akan mengundang anda, mohon kerjasamanya."
Setelah mendapatkan yang ia inginkan. Daniel membelah kerumunan berjalan cepat menuju pintu gerbang rumah sakit.
Wartawan hendak masuk halaman rumah sakit. Namun, segera di hadang beberapa satpam.
"Mas, Mas...Mbak, Mbak sekalian, mohon tenang, ini adalah rumah sakit. Satpam menggiring wartawan agar keluar.
Dengan cepat Daniel masuk kedalam lift. Keluar lift Daniel berpapasan dengan dokter Zulmy.
"Dani, berita tentang istri loe, semakin santer, dan menyudutkan istri loe, jika bisa jauhkan dari ponsel untuk sementara waktu" Zulmy memberi saran.
"Oh gitu ya, gue belum check handphone pagi ini, tetapi sepertinya handphone Rani dirumah, sebab dari tadi malam dia pinjam handphone gue"
"Syukurlah kalau begitu, gue check pasien dulu" Zulmy bergi tergesa-gesa.
"Zul tunggu" Daniel mengejar.
"Rani sudah boleh pulang belum? merenget terus tuh dia"
"Nanti aku periksa setelah ini, udah dulu ya, gue terburu-buru." Pungkas Zulmy.
Daniel masuk kedalam ruangan Rani.
"Oh sudah ada sarapan yank, kok belum di makan?" Tanya Daniel. Jatah makan pagi dari rumah sakit sudah ada di sampingnya.
"Belum, tunggu Mas dulu"
"Sebentar, Mas kekamar mandi dulu, nanti Mas suapin" Daniel kekamar mandi setelah meletakkan tengtengan.
__ADS_1
Di kamar mandi, Daniel mencoba membuka aplikasi. Dan benar adanya, nitizen komentarnya semakin pedas. Daniel kemudian menghapus beberapa aplikasi. Jika tidak di lakukan, khawatir Rani membuka dan mengetahui berita yang semakin memanas.
Rani memang bebas meminjam ponsel Daniel, jika handphone Rani sedang ada masalah. Seperti saat di banting Sherly di Cafe waktu itu.
Bagi Daniel handphone miliknya tidak ada yang aneh, selain berkaitan dengan pekerjaan. Daniel juga mengizinkan Rani download aplikasi novel kesukaan.
Setelah di rasa beres. Daniel menyimpan ponsel kedalam kantong dan mencuti tangan. Lalu keluar ingin menyuapi istrinya
"Kok lama di kamar mandinya Mas?"
"Iya, sini aku yang suapi"
Daniel ambil teromol , kemudian menyuapi. Setelah habis buburnya, Daniel baru menggigit sarapannya.
"Mau coba ini yank" Daniel menunjukan roti bakar yang ia pesan di Cafe tadi.
"Kenyang Mas" sahut Rani kemudian meninggikan bantalnya dan bersandar.
"Handphone kamu dirumah yank?" tanya Daniel memastikan. Khawatir Rani membuka dan membaca berita saat ini. Bisa membuat jiwanya semakin terguncang.
"Hp aku rusak, gara-gara kehujanan" Rani mengingat kejadian waktu itu, kembali menitikan air mata.
"Hee...kok malah menangis sih..."
Rani pun terdiam dan menghapus air matanya. Ia tidak mau menceritakan kepada suaminya biarkan saja, deritanya ia tanggung sendiri.
*****
Jam sembilan pagi, Bambang dan Topan sudah sampai di Bandara Yogyakarta. Kemudian, memesan taksi. Setelah mendapatkan taksi meluncur membelah jalanan aspal mengular, berkelok-kelok.
Bambang mengerlingkan mata. Menatap sawah ketika dua bulan yang lalu. Ia datang ke tempat ini padi mulai munguning. Membuat hatinya berbunga-bunga, di tambah lagi ingin melamar seorang gadis.
Namun, berbeda untuk saat ini, tanah pun sudah tampak gersang dan terbelah-belah. Seperti menggambarkan keadaan dirinya. Akankah, segera turun hujan? dan membuat tanah ini kembali subur? Begitu juga dengan hatinya kini, pernikahan yang sudah terencana dengan matang telah berada di ujung tanduk.
"Menurut kamu, Pak Cipto itu sosok Ayah seperti apa Pan?" tanya Bambang. Sebab bertemu Pak Cipto baru selali dan wajahnya di dominasi oleh keangkuhan.
"Menurut boss sendiri bagaimana?" Topan balik bertanya.
"Menurut saya seperti pria yang suka memaksakan kehendak" sahut Bambang. Sebenarnya tidak ingin menilai keburukan orang. Namun, inilah yang akan menjadi bagian dari hidupnya, jika Allah menghendaki. Maka, mau tidak mau Bambang harus mencari tahu.
"Betul boss"
"Dulu Weny itu gadis yang lembut ketika masih kecil. Namun, Pak Cipto selalu memaksakan kehendaknya" "Dari sekolah, mencari jurusan, dan memilih teman, Pak Cipto yang menentukan"
__ADS_1
"Tidak jarang Weny di kurung dalam kamar, kadang sampai gedor-gedor" "Mulai SMP, Weny menjadi gadis yang pemarah dan suka membuli teman, dan Rani salah satu korbannya. Rata-rata teman Weny menjauhi, hanya saya orang yang masih mau berteman kepadanya"
"Makanya boss...ketika waktu itu boss bimbang antara Weny dan Rani, saya kesal sama boss"
"Weny tuh dari kecil sudah hidup dalam ketidak adilan."
"Jadi begitu ceritanya?" Bambang menatap Topan lekat.
"Iya bos, sifat Rani dengan Weny, seperti api dengan air"
"Makanya ketika Weny bisa rukun dengan Rani. Saya senang sekali, saya pikir Weny sudah berubah" tutur Topan panjang lebar.
Bambang hanya manggut-manggut mendengar penuturan Topan.
"Sudah sampai Mas, tetapi di sebelah mana rumahnya?" tanya sopir taksi.
"Oh, saya turun di depan Masjid saja Pak" sahut Bambang. Bambang dan Topan turun di depan Masjid.
"Pan, kamu langsung kerumah orang tuamu saja, nanti saya menyusul" "Rumahmu di depan rumah Weny kan?"
"Baik boss, memang boss mau kemana?"
"Saya mau menemui Pak Siswo, dan menjelaskan permasalahan ini"
"Iya boss...saya setuju, nanti jika boss butuh bantuan sebelum kerumah Weny, panggil saya boss." Pungkas Topan. Kemudian meninggalkan Bambang. Karena memang sudah kangen sama Bapak dan Ibunya hati Topan senang sekali.
Bambang melihat rumah joglo, hatinya campur aduk, bagaimana cara menjelaskan kepada orang tua Rani. Tentang permasalah yang membelit anak perempuannya. Bambang risau, semua orang menganggap dialah akar dari permasalahan ini.
Waupun semua yang mereka tuduhkan itu tidaklah benar.
"Assalamualaikum..." Bambang berdiri di depan pintu.
"Waalaikumsalam..." sahut Syntia seraya mengayun wahyu dalam gendongan.
"Bapak ada Mbak Syntia?" tanya Bambang mengangguk Sopan.
"Ada Mas, lagi di kamar mandi, masuk dulu" Bambang pun beranjak masuk kedalam.
"Duduk dulu Mas" ucap Syintia menunjuk kursi dengan jempol.
"Terimakasih Mbak" sahut Bambang. Netranya menelisik seisi pendopo.
Bambang duduk di pendopo, tidak percaya selama hampir tiga bulan, sudah duduk di rumah ini dua kali. Kalau dulu Bambang disambut Pak Siswoyo dengan hangat. Akankah sekarang ini perlakuan Pak Siswo kepadanya masih sama? atau justru sebaliknya? Begitulah pikirkan Bambang yang campur aduk untuk saat ini.
__ADS_1
.