
Siang menjelang angin menyapu mendung. Membuyarkan gumpalan awan. Matahari pun hadir menyapa. Dengan terseok-seok Rani pun tiba di Rumah dengan baju yang hampir mengering.
Rani merogoh kunci rumah, dalam tas dan membukanya. Suasana sepi seperti biasa sahabatnya masih bekerja di restoran. Rani tidak tahu jika Bambang dan Weny saat ini sedang bertengkar.
Rani masuk kedalam kamar. membuka kerudung yang ia lilitkan dua sisi di jadikan masker. Yang ia khawatirkan di jalan tadi ada yang mengenali dirinya. Cukup di kampus tadi saja ia menjadi bahan bulian.
Selesai melucuti pakaiannya. Rani membuang ke keranjang sampah. Untuk menghilangkan kesialan hari ini. Bukan sial sih, semoga hari ini hari terakhir ia mengalami penderitaan.
Begitulah Rani, bertubi-tubi ujian datang menghantam bak ombak di lautan. Namun, ia selalu bersyukur bahwa masih banyak nikmat yang Allah swt berikan kepadanya.
Rani menyalakan shower mengguyur tubuhnya. Menyabun berkali-kali agar bau busuk hilang dari tumbuhnya. Setelah dirasa bersih, ia keluar dan mengenakan pakaian rumahan.
Rani merebahkan tubuhnya dengan handuk kecil yang masih melekat di kepala. Rani menatap keatas. Andai handphone nya tidak rusak, tentu ia akan menghubungi suaminya saat ini.
Entah apapun yang akan terjadi nanti. Rani akan menerima keputusan Daniel. Biar bagaimana berita miring tentang dirinya membuat siapun akan merasa jijik. Apa lagi suaminya sendiri. Walaun berita itu tidak benar. Sejauh ini ia sudah mencoba untuk membuat rumah tangganya tetap utuh. Namun kali ini ia menyerah.
******
Sementara Weny. Pulang dari taman tadi langsung kerestoran. Mengambil barang barang miliknya menuju kubikel.
"Weny, kamu mau kemana?" Tanya Nena terus mengekori Weny yang sedang berkemas.
"Aku mau pulang Nen, sudah tidak ada gunanya di sini!"
Weny menenteng laptop dan tas gendong. Kemudian menuruni anak tangga.
"Weny, tunggu! semua bisa di bicarakan baik-baik Wen" Bujuk Nena tetap mengikuti langkah Weny.
Weny tidak menjawab. Keluar menunggu angkot di pinggir jalan depan restoran. Saat ini ia akan ambil pakaian di rumah Rani.
Angkutan datang, Weny pun naik. Nena tetap mengikuti.
Jika masih bisa, Nena akan membujuk Weny. Dulu mereka datang baik-baik, tentu harus pergi dengan baik pula.
Ketika sampai di rumah nanti semua kesalah pahaman harus di selesaikan.
Tetapi tidak untuk saat ini, Nena tidak mau mengganggu kenyamanan orang lain di dalam angkot apa bila ribut di mobil.
Di dalam angkot, mereka saling diam seperti tidak saling mengenal.
10 menit bukan waktu yang lama mereka sampai di rumah Rani.
Weny langsung nyelonong masuk kedalam kamar ambil koper dan mengemas pakaianya.
"Wen, tolong Weny, jangan pergi"
Weny tidak menyahut tetap memasukan pakaian.
__ADS_1
"Wen, dengarkan aku Weny...
berita itu tidak benar"
"Kasihan sekali Rani Weny, jika bukan kita siapa lagi yang akan percaya sama dia"
"Braakkk...Weny melempar koper di depan Nena selesai mengemas baju. Mereka tidak tahu jika Rani mendengarkan keributan dari luar kamar. Sambil menahan tangis😢😢😢
"Apa kamu bilang Nen? kamu kasihan kepadanya? sementara aku! aku yang disakiti di sini?!
"Kamu salah Wen, Rani bukan orang yang seperti itu."
"Iya! bela terus dia, karena kamu sudah sepaket, sama dia, kamu seperti, Kerbau di cucuk hidungnya."
"Dari SMP aku selalu menjadi yang nomer dua"
"Laki-laki yang aku cintai pertama kali, lebih memelih dia"
"Aku sadar kok, dia memang cantik, dan cerdas"
"Saat cerdas cermat dia yang dipilih"
"Saat lomba Vokal dia yang terpilih"
"Aku sudah belajar mati matian, ternyata hanya mendapat rangking dua, lagi-lagi aku kalah dengan dirinya."
"Weny!" Sentak Nena tidak terima sahabatnya di hina seperti itu.
Rani di balik pintu menutup mulut dengan kedua telapak tangannya. Tidak menyangka sahabatnya akan tega berbicara seperti itu. Bahunya bergetar menangis tertahan. Hatinya lebih tersayat daripada kata-kata Ninda tadi.
"Apa Nen! kamu membela dia, karena kamu tidak pernah menjadi yang kedua" Weny berdiri berkacak pinggang.
"Kata siapa Wen? aku mencintai Reno dari kelas satu SMK, tetapi nyatanya, Reno lebih memilih Rani daripada aku"
"Tapi aku senang kok, kalau sahabat aku bahagia, karena persahabatan lebih penting bagiku"
"Tetapi aku bukan orang yang mempunyai sifat iri dengi seperti kamu." sahut Nena sengit.
"Oh, sekarang aku tau sifat asli kamu Wen, dari dulu kamu tidak pernah berubah, kamu egois, kamu ingin selalu di nomor satukan, dulu kamu sering memfitnah Rani ke genk kamu"
"Namun, kami selalu mengalah" "Tetapi tidak untuk saat ini"
"Sekarang pergilah Weny...kalau itu bisa membuat kamu puas! ternyata kamu tipe orang yang seperti kacang lupa kulit." Pungkas Nena.
Weny membuka pintu, berhenti sejenak. Mengamati Rani yang sedang meratapi kesedihan.
Ia tetap melangkah tidak menghiraukan sahabatnya yang sedang terluka karena ucapannya.
__ADS_1
"Wen, tunggu" Ucap Rani menghapus air matanya, kemudian mendekati Weny.
Weny berhenti memunggungi Rani.
"Wen, aku akan jelaskan semua, aku sama Bambang tidak ada apa-apa"
"Tidak usah, sok alim Ran, kamu ini pagar makan tanaman"
"Ternyata benar kata Sherly Ran, tidak puas dengan duda kaya, kamu menggait pengusaha kaya"
"Weny...hu huu...kamu tega...Weny...
kamu tega...hu huuu..." Tangis Rani pecah. Ia duduk lunglai di lantai tidak percaya mengapa orang-orang terdekatnya segitu membenci dirinya.
Nena mendekati Rani memeluk dari belakang.
"Sudahlah Rani, tidak usah menangisi orang macam dia!" Nena menunjuk Weny.
"Sekarang keluar dari sini kamu Weny! suatu saat nanti kamu akan menyesal! camkan itu!" Sarkas Nena lagi-lagi menunjuk Weny.
Weny pun keluar, sambil membawa barang-barangnya.
Rani melepas pelukan Nena. Kemudian berlari mengejar Weny sampai halaman.
"Weny, kamu boleh pergi, tapi dengarkan penjelasan aku dulu Wen"
Ucap Rani mengharu biru.
Weny tidak menjawab. Pergi menjauhi Rani.
Rani yang masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Hanya bisa menatap nanar sahabatnya. Persoalan menjadi merembet kemana-mana. Dendam yang terdahulu pun kembali berkobar. Sungguh, dari hati yang terdalam. Rani tidak mau hubungan dengan sahabatnya menjadi renggang.
"Sudahlah Ran..masuk yuk" Nena pun meneteskan air mata. Sahabatnya saat ini sedang dalam keadaan kacau. Nena memeluk pundak Rani mengajaknya masuk.
Saat ini Rani membutuhkan teman untuk berbagi kesedihan.
Nena mengajak Rani duduk di sofa.
"Terimakasih Nen" ucap Rani. lirih.
"Terimakasih untuk apa?" Nena memutar tubuh Rani agar menatap matanya.
"Ternyata... kamu masih percaya sama aku Nen"
"Seettt...jangat bicara begitu Rani...aku tuh percaya sama kamu"
"Aku mengenal kamu dari kecil, bahkan, kita ini saudara" "Dulu Mamak aku pernah cerita, kalau mamak pergi, Ibumu menyusui aku, begitu juga sebaliknya" "kita kan lahir hanya beda tanggal"
__ADS_1
"Jadi berbagilah kesedihan kamu, agar bebanmu sedikit berkurang." Pungkas Nena. Mereka saling berpelukan.