ISTRI SANG MAJIKAN 2

ISTRI SANG MAJIKAN 2
Part 85


__ADS_3

"Lalu, siapa orang yang sudah tega berbuat fitnah kejam kepada wanita sebaik istri loe?"


Daniel menoleh sahabat SMA nya yang mencecar pertanyaan selayaknya wartawati.


"Loe kenal kok" sahut Daniel seraya menyeruput air mineral yang di suguhkan Zulmy. Sungguh tenggorokan nya terasa kering, karena hanya minum tadi pagi ketika masih di hotel.


"Gue kenal? Zulmy menunjuk dadanya. "Siapa?" sambungnya.


"Mantan adik ipar gue"


"Sherly?"


Daniel mengangguk.


"Lalu apa motifnya?"


Daniel menyugar rambutnya, mengingat Sherly. Jika tidak berdosa membunuh orang, rasanya ingin menembak kepalanya agar tidak terus menerus berbuat ulah.


"Woy...kok malah bengong sih Dan?" Zulmy menoyor dahi Daniel.


"Yah...sebenarnya, dia itu inginya gue turun ranjang setelah Almira meninggal dulu"


"Ya jelas lah, gue menolak, terlebih nyokap, ketika dulu gue menikahi Almira saja sempat tidak setuju padahal Almira baik" "Apa lagi Sherly, yang kelakuannya seperti itu."


"Alasan nyokap, karena Papa sama Mama mertua gue sudah terkenal bukan orang baik, itu motif yang pertama"


"Sedangkan motif yang kedua, setelah gagal mendapatkan gue, Sherly terobsesi menikah dengan Wibi Sono"


"Jadi, loe mengenal Bambang Wibi Sono?" Tanya Zulmy.


"Kenal"


"Gue melihat dia ketika dia masih kecil dulu" "Pasalnya Bokap dulu sahabatnya Om Wibisono" "Semenjak itu, gue tidak pernah bertemu lagi, sering mendengar bahwa Putranya Om Wibisono menjadi pengusaha" "Nah...seperti yang loe tahu, Bambang, yang selama ini mengaku sebagai sopir taksi, ternyata Bambang Wibisono pengusa muda yang terkenal." "Dan ternyata orang orang terdekat Papa."


Daniel menggeleng membayangkan istrinya kemana-mana di antar oleh Bambang. Entah bagaimana awalnya akan bersikap, antara kecewa dan hutang budi berkecamuk di dalam hati. Namun, ya sudahlah, toh Bambang saat ini sudah mulai membuka hati untuk orang lain.


"Nah..kan bengong lagi, lanjut dong cerita" ucap Zulmy penasaran.


"Nah, ketika Istri gue pergi dari rumah saat bertengkar dengan gue dulu, orang suruhan bokap menyelidiki keberadaan Rani."


"Mengikuti langkah Rani kemana- mana, sampai akhirnya Istri gue diantar Wibi kemanapun" "Karena yang Rani tahu, Wibi itu sopir taksi"


"Apa lagi ketika istri gue ingin membuka restoran, Wibi lah yang selalu mendukungnya" Daniel menghela nafas panjang mengingat kejadian pertengkaran dengan Rani dulu mendadak wajahnya muram.


"Awalnya, gue sempat kesal sama Wibi, kalau gue perhatikan dia mencintai Istri gue"


"Tetapi gue sadar, seperti yang loe tahu, dia yang sudah menolong istri gue"


"Wattt...Zulmy terbelalak kaget. Jadi, begitu ceritanya?"

__ADS_1


Daniel mengangguk.


"Nah, belakangan ini Papa cerita ke gue, bahwa Papa mengetahui keberadaan Rani saat itu, tetapi bokap tidak mau bercerita ke gue, karena nyokap melarang" " Yang penting sudah mengetahui bahwa Rani di luar baik-baik saja, bahkan sukses, nyokap sama bokap seolah-olah tidak tahu, karena ingin memberikan pelajaran kepada gue, bahwa kehilangan orang yang di sayangi itu sungguh berat."


"Nah, saat orang suruhan Papa menyelidiki Rani, Sherly pun turut mengikuti Rani dengan orang suruhan dia, setiap Rani berdua dengan Wibi, suruhan Sherly mencuri gambar mereka dengan cara di foto-foto"


"Okay...gue tahu, jadi kesimpulannya, Sherly yang menyebarkan foto itu kan?"


Daniel mengangguk.


"Sudah...gue shalat dulu Zul, terus mau menunggu istri gue" Daniel beranjak.


"Okay...semoga loe selalu rukun Dan, maaf, gue sudah sempat nggak mempercai loe." "Semoga Istri loe cepat sembuh."


"Aamiin..." Daniel pun keluar meninggalkan Zulmy.


****


Ceklek. Daniel membuka pintu lalu masuk ke ruangan Istrinya.


" Rani belum bangun ya Nen?"


"Belum Pak"


"Sekarang kamu pulang saja, istirahat dulu, biar Rani saya yang menjaganya"


"Baik Pak" Nena pun ambil tas slempang dan beranjak.


"Ya" hanya satu kata jawaban Daniel.


Nena meninggalkan ruangan. Sudah tahu watak Daniel begitu irit bicara, sekarang sudah tidak masalah lagi.


Daniel kemudian duduk di samping ranjang istrinya.


"Bangun sayang...kamu nggak kangen sama aku" "Aku sudah pulang loh" Daniel mengecup bibir pucat istrinya. Kemudian, telungkup memejamkan mata dengan satu tangan merangkul perut Rani.


Daniel memang sangat lelah, selama seminggu kurang tidur akhirnya terlelap.


Satu Jam kemudian, Rani membuka mata. Menatap langit-langit. "Dimana ini ya? Rani tidak ingat bahwa sekarang di rumah sakit. Netranya mengitari ruangan melihat infus tergantung baru sadar kalau saat ini dirinya sedang sakit. Rani kemudian menoleh ke kanan sesosok manusia mendengkur halus. Dan perutnya terasa ada yang memeluk.


Mas Dani...mimpikah aku?? Rani menepuk pipinya sendiri.


Aahh...ternyata beneran aku nggak mimpi. Gumamnya.


Rani tangannya ingin mengusap kepala Daniel. Tetapi menariknya kembali.


Aahh...marah nggak ya...aku kangen hiks hiks. Rani menangis di kira suaminya marah kepadanya.


Mendengar isak tangis. Daniel mengerjapkan mata.

__ADS_1


"Sayang...kamu sudah bangun?" Tanya Daniel menciumi wajah Rani. Bibir, pipi kemudian dahi.


"Mas nggak marah sama aku?" Tanya Rani dengan air mata masih menggenang.


"Nggak..." ucap Daniel.


"Hu hu huuu...." Rani merengkuh bahu suaminya hingga jatuh di dadanya. Sambil menangis tersedu.


"Hu hu huuu...kirain Mas marah...kalau Mas marah aku mau mati saja...hu huuu..."


"Eh sayang..sayang...sudah doong...nangisnya, aku nggak bisa napas nih" ucap Daniel suaranya kurang jelas.


Rani merenggangkan pelukanya. Sebab ia menekan bahu Daniel sekuat tenaga. Wajar jika Daniel tidak bisa bernapas.


"Mas jahat! kenapa telepon aku nggak di angkat!" ucap Rani memukul-mukul dada Daniel pelan.


"Mas beneran kan nggak marah sama aku? Mas nggak lihat memang foto aku sama Bambang" hu huuu..."


"Aku tahu, tentang foto kamu yang beredar di jagat maya" "Tetapi, aku percaya sama kamu, istri aku yang sholehah nggak mungkin berbuat begitu" Daniel menoel hidung Rani.


"Hu hu huuu..." Rani memaksakan diri untuk bangun, dan merangkul suaminya sambil sesegukan.


"Sudah...jangan menangis lagi ya...nanti kalau kamu sudah sembuh, mas mau konferensi pers, mengklarifikasi bahwa istri aku bukan orang yang seperti itu"


"Mas janji, akan membersihkan nama kamu" ucap Daniel mendorong pundak Istrinya agar menatapnya.


"Aku nggak perduli Mas, biar dunia menilai aku seperti apa, yang penting suami aku percaya sama aku" "Dan nyatanya orang-orang terdekat aku saja, sudah menganggap aku hina" Daniel mengerutkan dahi.


"Orang-orang terdekat maksud nya?" Tanya Daniel. Sebab yang Daniel tahu, Nena dan temannya masih setia.


"Weny...Weny pergi Mas, dia marah sama aku" hu huuu.." Ingat Weny tangis Rani pun pecah kembali.


"Sudah...jangan nangis lagi" Daniel menghapus air mata istrinya.


"Sekarang makan, sudah jam dua loh, dari kapan kamu nggak mau makan? sampai pipimu tirus begini" Daniel menusuk pipi istrnya dengan jari.


"Tapi buburnya sudah dingin yank, Mas beli dari luar yang masih hangat ya"


"Nggak usah..itu saja..." Daniel menyuapi istrinya sesuap demi sesuap akhirnya bubur ayam pun habis.


****


*Saatnya budhe berkicau...cuit..cuit*


"Budhe seneeeng...kalian marah-marah disini"


"Itu artinya karya abal-abal budhe ada yang baca, walau hanya segelintir orang"


"Budhe curcol nih..maafkan kalau ada kata-kata yang kadang kurang nyambung. Karena apa? budhe nulis sambil kerja. 10 kata 20 kata di simpan di draft dari pagi sampai sore akhirnya dapat tuh 1000 sampai 1500 kata dan menjadi part.

__ADS_1


"Dulu suka nulis malam hari, yang ada, budhe kurang tidur. Badan semakin lama semakin kurus hingga turun loh sampai 10 kg.


"Alamat dech, kena ultimatum sama Pak Dosen" Mau tidur nggak! kalau main handphone terus di sita nih" ancamannya. "Hahaha....suka duka budhe menjadi penulis abal-abal.


__ADS_2