ISTRI SANG MAJIKAN 2

ISTRI SANG MAJIKAN 2
Part 66


__ADS_3

Acara belum selesai Tuan Richard beserta istri izin pulang terlebih dahulu. Diikuti Ibu Widi.


"Sis Rani, saya minta maaf, karena tidak menuggu acara sampai selesai, Papanya anak-anak ada acara bertemu klien mendadak soalnya" Tutur Istri Tuan Richard.


"Tidak apa-apa Sis, saya minta maaf karena sudah menyita waktu sis Richard."


"Tuan Daniel, saya duluan" Tuan Richard menyalami Daniel dan Rani.


"Terimakasih Tuan" Sahut Daniel


Setelah cipika cipiki, Istri Tuan Richard berlalu.


"Nduk, saya juga pamit" Kata Ibu Widi.


"Loh, ibu kok buru-buru" Sahut Rani menyesal.


"Anak laki-laki ibu, sedang tidak ada nduk, jadi saya harus mewakili" Tutur Ibu Widi memakai tas salempang kemudian berangkat. Supir sudah menunggu di depan. Ibu Widi sama sekali tidak mengenali anak kesayangannya sedang galau di depan.


Setelah tamunya pergi Rani dan Daniel kembali duduk.


Bambang bernyanyi begitu menghayati lagu. Membuat para penonton larut dalam kesedihan.


Hingga ada yang terisak karenanya.


"Mas, aku penasaran sama laki-laki itu" Rani berbicara setengah berbisik. Rani turut bersedih, tidak Rani sadari jika Daniel memperhatikan istrinya. Daniel kesal karena istrinya memikirkan pria lain.


"Laki-laki yang mana?" Daniel pura-pura tidak tahu.


"Itu yang lagi nyanyi, kasihan ya Mas, mungkin sedang patah hati"


"Atau di putusin sama pacarnya," Cerocos Rani membuat Daniel semakin kesal.


Bambang turun dari panggung. Rani memperhatikan dengan seksama. Seperti mengenal pria itu, tetapi siapa? bukannya apa-apa maksut Rani memperhatikan Pria itu. Rani hanya ingin memastikan siapa gerangan pelanggan kah? Sebab Rani seperti tidak asing dengan pria tersebut.


Daniel menatap Rani horor, ingin menegur tidak mungkin karena banyak orang.


"Kenapa sih lihat nya begitu banget?! Tanya Rani sudah menduga kalau suaminya sedang cemburu.


"Samperin saja kesana tuh, orangnya sudah duduk, dari pada melihatnya begitu amat! sampai bola matanya mau keluar!" Tukas Daniel.


Rani tertawa dalam hati, kalau tidak banyak orang pasti ngakak melihat ekspresi wajah Daniel terlihat lucu.


"Malah senyum-senyum lagi! rasakan nanti malam!" ancam Daniel.


"Tututu...suamiku kalau lagi marah seperti singa jantan" kikiki


Daniel menghela nafas, ambil tisue kemudian mengelap wajahnya. Padahal tingkahnya hanya overacting. Mana ada keringat sedangkan di belakangnya kipas angin besar.


Rani kembali berbisik sambil tertawa. "Lapar kali boss, cari makanan yuk"


"Singa, kalau sedang lapar...uaow...nggak di kasih daging, manusia di terkam hap!" Rani mengigit jari suaminya.


"Ow!" Daniel mengibas-ngibas tanganya sendiri.


"Makanyanya ayo cari makan" rengek Rani seraya merarik tangan Daniel pelan.

__ADS_1


"Nggak! lihat tingkahmu bikin aku kenyang!" Sahut Daniel menoleh sekilas lalu fokus kembali menatap kedepan.


"Yo wes, aku cari sendiri, ngajak pria yang rambut gondrong" Daniel mlengos. Karena sedang kesal, tidak mendengar kan ucapan Rani. Rani kemudian beranjak meninggalkan Daniel.


"Apa tadi, mau sama rambut gondrong! hah? Gumam Daniel baru sadar. Spontan Daniel berdiri mencari Rani seperti cacing kepanasan.


Di salah satu stand dua sejoli sedang tegang.


Dia adalah Reno dan Nena.


"Kalau calon suami lagi ke sini, disapa kek, jangan mrengut, salah aku apa coba! boro-boro, kiss." protes Reno.


"Nih, kiss!" Nena menempelkan sendok nasi yang belum di pakai ke pipi Reno.


"Kalau sama Rani panggilnya jangan mesra gitu kek, biasa saja!"


"Laraas...di telinga tuh, kedengaran panas" Nena menirukan panggilan Reno kepada sahabatnya bersungut-sungut.


Reno menyipitkan mata.


"Oh jadi cemburu nih ceritanya?" hehehe.." Reno senang Nena cemburu.


"Cemburu sama sahabat kamu sendiri gitu?" Reno menoel pipi kekasihnya.


"Dari mana kamu tahu? kalau aku panggil Laras."


"Orang punya mata, ya melihat lah! punya telinga ya mendengar!" Sahut Nena ketus.


"Punya otak untuk berpikir!" sambung Reno menoyor jidat Nena.


"Ihh nyebelin!" ucap Nena. Tadi Nena ingin melihat iring-iringan ketika group band baru masuk, tetapi melihat Reno sedang ngobrol dengan Rani diam-diam Nena menguping pembicaraan mereka.


"Ambil sendiri tuh! jangan manja!"


"Masih marah terus nih ya sudah, aku panggil Laras."


"Eh! Mas Reno....jangan!" Rengek Nena.


"Mamakanya jangan cemburu, yang nggak penting! di hati aku tuh, sudah nggak ada nama Rani atau Laras, yang ada nama kamu, Ne....na...." Reno mengeja telunjuknya menulis di awang-awang.


Nena tersenyum. "Beneran ya, panggilnya jangan Laras, panggil Rani seperti yang lain"


"Okay...sekarang aku mau makan"


"Mau makan apa?"


"Makan apa saja, yang penting bukan makan hati." Hehehe..." Kedua sejoli kini telah mengakhiri ketegangan.


DI salah satu stand yang lain Rani makan masakan kas sunda. Yang di jaga Weny dan Rini tetapi Mira juga berada di situ. Nasi timbel lauk empal gepuk dan soto menggugah selera.


"Kok kamu di sini Mir, bukanya kamu seharusnya sama Nena?" Tanya Rani.


"Tetapi Mbak Nena sedang ada Mas Reno Bu, sudah gitu lagi kayak marahan gitu" Adu Mira.


"Marahan! maksudnya berantem gitu?"

__ADS_1


"Ya pokoknya gitu, Bu"


"Sudah, sebaiknya kamu kesana, 10 menit lagi jam makan siang, nanti bakalan Repot" Titah Rani.


"Baik Bu..." Mira segera menuju stand Nena.


Rani pandangan terjudu kepada suaminya. Daniel tampak kebingungan mencari dirinya.


"Hihihi...memang enak" gumam Rani.


Daniel menuju ke stand Nena sepertinya bertanya sesuatu mungkin menanyakan keberadaan Rani. Tampak Mira menunjuk ke arah Rani. Rani bersembunyi di kolong meja. Weny geleng-geleng melihat kelakuan sahabatnya.


"Wen kamu tadi lihat Bambang nggak?"


"Nggak! nggak hadir kayaknya Ran" Sahut Weny kecewa.


"Aku tadi juga melihat-lihat Wen, kalau ada akan aku suruh kesini, tetapi memang tidak hadir dia"


Daniel akhirnya bisa menemukan Rani. Ia tersenyum melihat tingkah Istrinya yang sedang sembunyi di kolong meja, seperti anak balita yang sedang main petak umpet.


Daniel menatap Weny yang akan berucap. Daniel menutup mulutnya dengan satu telunjuk memberi isyarat agar Weny diam. Daniel menyelinap lewat belakang stand. Saat ini keadaan masih sepi, para hadirin masih fokus menyaksikan acara demi acara. Karena stand ini berada paling pinggir.


Daniel tersenyum merangkul perut Istrinya yang sedang jongkok tidak mengetahui kehadirannya.


"Kena kamu..."


"Haaa..." Rani terkejut melepaskan tangan suaminya lalu berlari ke depan stand. Daniel mengejar dan berhasil menangkap.


"Hahaha...Daniel tertawa jenaka. Mengangkat tubuh Istrinya. Seperti menina bobokkan baby. Rani malu dengan Weny dan anak buahnya yang sedang sliweran. Ia meronta-ronta memukul pelan dada suaminya. Keromantisan Daniel dengan Rani tidak luput dari perhatian wartawan. Kesempatan tersebut tidak di sia sia kan.


Cekrek, cekrek, cekrek" Wartawan merasa puas, tidak perlu bersusah payah untuk mendapatkan gambar yang mengandung nilai jual.


Setelah menurunkan Rani, Daniel merasa perutnya keroncongan.


"Yank aku lapar"


"Siapa yang suruh, tadi di ajak makan tidak mau, pakai acara ngambek, Ayo cepat makan" Rani menyendokkan makan untuk suaminya.


Tidak jauh dari tempat itu Bambang baru keluar dari toilet.


Menyaksikan pemandangan romantis menyayat hatinya. Rasa kecewa merupakan bagian dari hidupnya. Kenyataan hidup tidak berjalan seperti yang ia kehendaki. Bukan tidak bersyukur tetapi hanya ingin mencurahkan isi hati.


Dengan tergesa-gesa Bambang keluar meninggalkan acara. Menyingkir dari tempat ini mungkin lebih baik, pikirnya. Bambang masuk kedalam mobilnya bersandar di kursi pengemudi, tatapannya kosong.


Bambang memikirkan dirinya sendiri Flasbach kemasa SMA. Dia bukan anak yang baik. Karma kah ini? dulu ia pernah menyakiti seorang wanita padahal wanita itu sangat mencintai dirinya.


Ketika SMA Bambang sering berbuat salah, mengecewakan Ayahnya. Sempat terpengaruh oleh teman -teman nya. wanita cantik bintang di sekolah ia jadikan tarohan dengan teman-temannya. Bambang berhasil mendapatkan cinta sang gadis. Tetapi bukanya membalas cintanya malah mengabaikan.


Bambang menghela nafas. Sesakit inikah di abaikan? Bambang merasakan kepahitan.


Dulu Bambang juga sempat terpengaruh teman ketika SMA menghisap rokok dan di marahi Ayahnya. Tetapi Ia tetap saja nakal malah mencoba icip-icip minuman beralkohol.


Hingga Ayahnya sakit Bambang abaikan. Setelah Ayahnya meninggal Bambang baru tahu rasanya kehilangan, hidupnya menjadi hancur berantakan kacau balau. Ibu Widi bersedih memikirkan suaminya dan juga anak sulungnya yang menjadi jadi.


Semenjak itu, Bambang sadar, ia bangkit walau bagaimana ia anak laki-laki harus bisa menjadi tulang punggung dan melindungi Ibu dan adiknya. Bambang belajar sambil bekerja di Showroom miliknya Ayahnya.

__ADS_1


Bambang memperdalam ilmu agama mencari Ustadz, hidupnya fokus belajar dan bekerja hingga menjadi seperti sekarang. Bambang menyalakan music lagu sedih mewakili dirini larut dalam kesedihan. Mobil ia jalankan tidak menuggu Topan.


Bambang instropeksi diri, mengapa sibuk mecari kesalahan orang lain, tanpa sadar dirinya sendiri banyak salah. Kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit adalah berharap kepada manusia. Oh Lidia... sesakit inikah dirimu dulu? lagi-lagi ia ingat gadis cantik yang dulu ia abaikan.


__ADS_2