
Selepas maghrib, keluarga Mama Nadyn sudah berkumpul di meja makan. Tetapi sudah hampir adzan Isya menunggu kedua sosok Daniel dan Rani belum turun ke bawah.
"Bi Inah...tolong panggil Daniel ya..." Titah Mama kepada Bibi yang sedang mencuci perabot.
"Baik nyonya besar" Bi Inah lalu menapaki anak tangga.
Tok tok tok..." Tidak ada sahutan. Hingga berulang kali Bibi mengetuk pintu. Tetapi lagi-lagi tidak ada tanda-tanda pintu akan di buka.
"Tidur kali Bi?" Tanya Mama tiba-tiba berdiri di belakang Bi Inah. "Mungkin nyonya, sudah berkali-kali di ketuk nggak keluar dari kamar" Sambung Bi Inah.
"Tok tok tok...Dani...Rani..." Panggil Mama.
Ceklek" Rani membuka pintu. Menyembulkan sedikit kepalanya karena belum memakai jilbab.
"Ya Allah...kalian ini, di panggil dari tadi loh, nggak keluar juga." Omel Mama.
"Baru selesai Maghrib Ma" Sahut Rani.
"Jam segini kok baru selesai Maghrib, cepat kebawah" Titah Mama. Mama berlalu meninggalkan Rani, pura-pura judes. Padahal tersenyum menantunya rambutnya basah karena belum mengenakan kerudung.
"Di marahin Mama kan tuh! Mas Daniel sih, kebiasaan!" Rani bersungut sungut kesal menatap Daniel. Kalau ngajak ***-*** suka nggak tau waktu.
"Sudah ayo..." "Jangan cemberut, nanti di kirain nggak di kasih jatah" Goda Daniel seraya tersenyum. Menggandeng istrinya turun kebawah.
"Ih ngeres aja sih pikiranya." "Ngasih jatah sih, nggak tau waktu!" Gerutu Rani.
Sampai di bawah semua menoleh ke arah Rani dan Daniel.
"Kenapa pada lihatin terus, ada si ganteng dan si cantik ya" Seloroh Daniel menatap keluarganya.
"Papa lama" Sahut Icha cemberut.
"Ketiduran. Umi kan cape sayang... bikin kue terùs masak" Jawab Daniel masuk akal.
"Ya sudah, ayo duduk" Sambung Mama.
Daniel menarik kursi setelah Rani duduk, ia duduk juga.
Rani segera menyendok nasi untuk suaminya.
"Aku nggak pake nasi yank, tadi kebanyakan makan roti, rollade aja sama sayur" Kata Daniel sambil mengelus perutnya.
"Icha juga" Sambung Icha.
Papa dan Denipun demikian.
"Kok nggak pada makan nasi" Mama menatap piring satu persatu. Hanya Mama dan Rani yang makan nasi.
"Hehehe...kan rotinya tadi aku habisin sama Papa" Deni mentertawakan dirinya sendiri, pasalnya roti sepiring tadi di habiskan berdua.
"Papa hanya sedikit, kamu yang banyak" Sahut Papa.
"Sudah, semua pada makan jangan ngobrol terus" Titah Mama.
Semua makan dalam diam. Setelah makan, ngobrol di depan televisi hingga jam 9 malam. Kemudiam tidur di kamar masing-masing.
Keesokan harinya Rani terbangun pagi-pagi sekali. Selesai shalat kemudian membuat sarapan. Jika di rumahnya teman-temanya yang memasak, di rumah Mama tentu berbeda. Walaupun Mama Nadyn tidak meminta dirinya untuk memasak namun harus menjadi menantu yang baik.
Karena sore hari sudah makan cemilan yang padat, pagi ini Rani membuat sarapan yang ringan. Pisang kepok di goreng dengan mentega dengan teplon kemudian di susun rapi dalam piring. Di tuangi susu kental manis kemudian di taburi keju dan kismis. Menu sarapan sehat untuk keluarga.
Setelah sarapan, keluarga Papa Nano kembali berangkat untuk menjalankan tugas masing-masing.
"Jadi Umi nggak nginep di sini lagi?" Tanya Icha merengut.
"Maaf sayang...Umi kuliah hanya sampai hari kamis kok, jadi malam jumat sampai malam senin Umi pulang kesini dech, janji" Tutur Rani.
"Okay...janji ya Umi..."
"Iya dong"
Mereka berangkat masing-masing.
__ADS_1
Icha Deni dan Daniel berangkat bareng. Rani dan Papa Nano berangkat sendiri-sendiri pasalnya arahnya berbeda.
******************
Sebulan berlalu, tiba saatnya 3 hari lagi Rani akan merayakan ulang tahun restoran DUKRENGTENG. Pak Siswoyo, Mas Dino dan Syintia sudah datang jam 7 malam.
"Bapak...." Rani berlari memeluk Bapak. Bapak mengelus kepala anaknya.
"Bapak sehat?" Tanya Rani seraya bergelayut manja dengan Bapak.
"Alhamdulillah Nduk, Bapak sehat."
"Aahh Rani kangen" Rani memegangi tangan Bapak erat. "Hehehe..." Bapak terkekeh. "Kamu ini loh, kalau sama suamimu manja gitu tidak?" Tanya Bapak senang walaupun sudah punya suami, anak perempuan satu-satunya manja kepadanya.
"Aahh...Bapak..."
"Tidak boleh nih manja sama Bapak?" Tanya Rani cemberut.
"Aku di angguri nih?" Tanya Dino pasalnya Rani belum menyapa kakaknya.
"Mas Dino..." Sorry...Sampai lupa hehehe" Rani terkekeh. menyalami tangan Dino.
"Mbak Syntia, kamu apa kabar, aku kangen" Sahabat yang kini telah menjadi kakaknya saling berpelukan.
Rani melepas pelukanya kemudian menghampiri Mas Dino yang sedang menggendong Wahyu.
"Ayo masuk, sini Wahyu aku yang gendong" Rani menggendong ponakan yang sedang tidur.
Mereka masuk kedalam rumah. Rani kemudian menidurkan Wahyu di kamar tamu.
"Mbak Syntia...barang-barangnya disimpan di kamar saja."
Rani membantu Syntia membawa pakaian ke dalam kamar.
"Rumahmu adem banget Ran" Kata Syntia.
"Makanya aku pilih komplek ini, di pinggir jalan di tanami pepohonan Mbak, jadi adem" Sahut Rani.
"Memang harus begitu, kamu kan menikah sama Mas aku" Sahut Rani kemudian jalan kedapur akan membuat minuman.
"Ah terserah kamu Ran." Jawab Syintia, membawa kardus kedapur.
"Apa itu Syn?" Rani menatap kardus yang di bawa Syntia.
"Ini kripik Pisang kesukaan kamu Ran"
"Waah... masih ingat saja, kamu Syn." Pungkas Rani.
"Dek numpang kamar mandi ya" Dino tiba-tiba nongol.
"Silahkan Mas, mandi sekalian biar segar." Sahut Rani sambil menyeduh teh (Ginastel) dalam bahasa jawa ( legi panas kental). Teh dengan gula batu di temani cemilan ringan. Rani membuka oleh-oleh dalam kardus rempeyek, kripik pisang, dan bakpia kas Yogyakarta. Rani kemudian membawa ke ruang tamu.
"Bapak nggak kekamar mandi dulu" Kata Rani sambil menyuguhkan teh.
"Bentar Nduk Bapak ngaso dulu" Sahut Bapak.
"Bapak capek ya, dari sana jam berapa?" Tanya Rani sambil memijit kaki Pak Siswo.
"Tadi berangkat habis ashar, yang lama dari cengkareng tadi karena macet perjalanan sampai dua jam." Jawab Bapak.
"Memang taksinya nggak lewat tol Pak?"
"Lewat nduk, tapi tol nya juga macet."
"Iya Pak, waktunya pulang kerja soalnya." Pungkas Rani.
"Akhirnya aku sampai rumah kamu" Kata Dino dan Syintia sudah selesai mandi kemudian ikut bergabung.
"Maaf ya, Rani nggak sempat menjemput, soalnya kuliah siang tadi "Kata Rani menyesal.
"Ra popo Nduk sing penting selamet, tekan kene" Sambung Bapak.
__ADS_1
"Alhamdulillah Pak, Mas, tidak menyangka Mas Dino membuktikan ucapannya bisa membawa Bapak dan Syintia kesini." Kata Rani senang.
"Suamimu belum pulang Nduk?"
"Biasanya sudah Pak, mungkin mampir ke rumah Mama dulu."
"Nena sama Weny katanya tinggal di sini juga Ran?" Tanya Syntia. Seraya nyerupuk teh hangat.
"Iya, bentar lagi pulang kok"
"Memang nggak apa-apa Nduk, kalau teman-teman kamu tinggal di sini, biasanya suami tidak nyaman loh, kalau banyak orang lain tinggal satu rumah"
"Bukan apa-apa Nduk, takutnya suamimu hanya ingin berdua sama kamu, orang berumah tangga itu privasi harus kamu jaga, tidak bisa kamu samakan ketika kamu masih sendiri, Dimana kalian bisa bebas." "Harus minta izin kepada suami kamu, jangan sampai membuat pasanganmu menjadi terganggu." Titah Bapak.
"Njih Pak" Sahut Rani.
"Assalamualaikum..." Ternyata Daniel sudah pulang. Rani berdiri dan mencium punggung tangan suaminya dan mengambil alih tas di tangannya.
"Waalaikumsalam..." Sahut Bapak, Syintia dan Dino.
"Bapak...Mas Dino sudah lama?" Daniel menyalami Bapak dan Mas Dino. Melirik Syntia terasa asing kemudian hanya menganggukkan kepalanya.
Daniel kemudian ikut duduk.
"Baru setengah jam" sahut Bapak.
"Suami kamu tidak di buatkan teh nduk?"
"Nggak suka teh Mas Daniel Pak" sahut Rani. Setelah menyimpan tas, milik Daniel, Rani kemudian ikut duduk di samping Daniel.
Bapak mengerutkan dahinya. "Masa nggak doyan teh"
"Hehehe....tidak biasa minum teh Pak "
"Sukanya susu ya Bang" Timpal Dino.
"Betul Mas, apa lagi susu di sebelah aku" Daniel menatap Rani tersenyum.
"Ih ada Bapak juga! nggak sopan!" Tukas Rani mlengos kesal.
"Bang Dani kalau pulang jam segini ya?" Tanya Dino mengalihkan. Sebab Syntia yang duduk di sebelahnya malu dengan mertuanya.
"Tadi jemput Icha dulu Mas, jadi kerumah Mama dulu"
"Oh gitu ya"
"Lhoh, katanya sudah punya dedek. Dedeknya mana Mbak?" Tanya Daniel kepada Syntia.
"Wahyu lagi bobok Om, pules banget soalnya mau di bangunin kasian" Sahut Syntia.
"Nggak boleh di bangunkan lah Syn, kalau anak sedang tidur, nanti kagol" Sambung Rani.
"Apa itu kagol?" Daniel menatap Rani dengan dahi berkerut.
"Kagol itu bantet!" sahut Rani sekenanya.
"Bantet! memang anakku kue bolu apa? dasar tukang cetring" Dino menoyor kepala adiknya.
"Hahaha...mereka tertawa bersama.
"Yank haus nih" Ucap Daniel. "Oh iya maaf Mas ku...sampai lupa" Rani berdiri kemudian ambil air putih.
"Papa sehat le..." "Alhamdulilah Pak, tadi mau ikut kesini sih sekalian mau lihat rumah Rani. Tetapi kata Mama besok saja sekalian kalau ada acara, Icha besok sekolah soalnya Pak, kalau berangkat dari sini kejauhan." Tutur Daniel.
"Rumah Rani, maksudnya?" Tanya Bapak melirik Daniel.
"Kalau sudah rumah tangga itu, tidak ada yang namanya rumahku, rumahmu le, kalau orang jawa bilang jangan bek bek an" Nasehat Bapak.
"Njeh Pak" Sahut Daniel.
Mereka berbincang-bincang dengan suka cita.
__ADS_1