
Jam 11 pagi. Daniel sampai di Restoran Istrinya. Namun, Rani tidak ada di tempat. Menurut salah satu karyawan, Rani sedang sakit di rumah. Karyawan itu tidak tahu bahwa Rani sedang dirawat di rumah sakit. Mendengar Istrinya sakit, Daniel memesan Ojeg online agar cepat sampai tujuan.
**
Tok tok tok... Daniel mengetuk pintu tetapi tidak ada yang membuka.
Tuling tuling...Daniel memencet bel.
Mira mindik-mindik melihat dari kaca jendela. "Oh Pak Daniel" Mira segera ambil kunci di gantungan kemudian membukanya.
Ceklek
"Mira, Rani sedang sakit?" Tanya Daniel tampak khawatir. Tidak mengucap salam atau basa basi.
Selama tinggal di rumah Rani, Mira baru sekali ini di sapa Daniel.
"Iya Pak, sekarang di bawa ke rumah sakit xxx"
Tanpa berpikir-pikir lagi, Daniel meninggalkan koper yang masih didepan pintu. Mengeluarkan motor milik Rani dari garasi. Minta kunci kepada mira, memakai helm milik Rani yang masih di gantung di motor. Mungkin bekas Nena yang pakai. Kemudian Daniel melesat pergi.
Daniel mengendarai motor kecepatan 100. Tin... tiin....klakson menggema memenuhi ruas jalan. Sesama pengendara mengumpat kasar. Tidak lama sampai di rumah sakit.
Setelah Parkir, ia berlari kecil, menuju resepsionis. Menanyakan pasien yang bernama Rani dirawat di ruangngan apa. Puas mendapatkan jawaban, Daniel bergegas menuju di mana Rani di rawat.
Tampak diluar ada Papa Nano dan Nena duduk di ruang tunggu.
"Pa...bagaimana keadaan Rani, dia sakit apa? terus sekarang sama siapa di dalam?" Tanya Daniel memburu seraya merangkul tubuh Papa. Papa menepuk-tepuk bahu anaknya.
"Dia sama Mama di dalam, mengenahi keadaanya,
kamu bisa lihat sendiri"
"Sebelum masuk, telepon Mama dulu agar keluar" terang Papa.
"Baik Pa" Daniel lalu menelepon Mama Nadyn.
"Kenapa ponsel kamu tidak bisa di hubungi Dani"
"Nanti Dani cerita Pa, Dani sekarang masuk dulu"
"Baiklah" sahut Papa.
"Kamu ini ya...dasar anak tidak mau di untung! kemana saja kamu! handphone tidak di aktifkan." Cecar Mama sambil menjewer telinga Daniel gemas. Setelah keluar dari ruangan.
"Kamu nggak tahu, kita disini kebingungan!"
"Daniel...Daniel..." Mama geleng-geleng posisi tangan masih di telinga Daniel.
__ADS_1
"Aduh...ampun, ampun Ma" Daniel mundur meringis menahan sakit. Dan memegangi telinga yang memerah.
Nena yang memperhatikan antara Ibu dan anak itu, serasa tidak percaya. Pasalnya Daniel yang biasa angkuh di Jewer sama Mama. Sungguh menggelikan.
"Sudah Ma, biar Dani menemui Istrinya dulu" ucap Papa menengahi.
Daniel bergegas menemui Istrinya. Meninggalkan Mama yang masih menatapnya jengkel. Setelah mensterilkan tangannya Daniel membuka pintu kemudian masuk kedalam.
Ia mendekat memandangi wajah Istrinya tampak garis lingkar hitam di bawah mata, wajah pucat dan gurat lelah mendominasi. Daniel hatinya terasa sakit.
Daniel menyingkap selimut. Memperhatikan tubuh Istrinya yang terlihat kurus. Padahal di tinggal hanya seminggu. Kemudian menyelimuti kembali.
Daniel duduk di samping Istrinya memegang punggung tangan dan mengecupnya berkali-kali. Namun Rani tidak bergerak. Karena dokter terpaksa memberi obat tidur. Sebab hampir seminggu Rani tidak bisa tidur.
"Maafkan Mas sayang...lagi-lagi aku tidak bisa menjaga kamu. Sungguh aku laki-laki yang tidak berguna. Batin Daniel.
Danel merapikan rambut istrinya yang keluar sedikit dari kerudung.
Tok tok tok...suster masuk membawa menu makan siang.
"Istrinya belum bangun Pak?" Tanya suster seraya meletakkan makan siang di meja kecil.
"Belum, tapi kenapa ya sus kok belum sadar-sadar?"
"Tadi dokter Zulmy memberikan obat tidur Pak" Tutur suster.
"Obat tidur? bukanya bahaya?" Tanya Daniel khawatir.
Daniel pun keluar menemui Papa dan Mama Nadyn.
"Mama, sama Papa sebaiknya pulang, khawatir Icha kebingungan mencari Mama" ucap Daniel.
"Ya, Mama pulang! tapi awas...kalau kamu sampai marah sama menantu Mama, akan Mama jewer lagi telinga kamu" tukas Mama. Daniel seketika memegangi telinganya, bekas jeweran tadi masih memerah.
"Tenang saja, nggak bakal" sahut Daniel.
"Ya sudah, Papa pulang dulu ya Dan" Papa mengusap kepala Daniel.
Papa dan Mama Nadyn pun pulang.
"Nen, kamu jaga Rani sebentar ya, saya mau menemui dokter Zulmy dulu, setelah ini kamu boleh pulang"
"Baik Pak" sahut Nena, kemudian masuk keruangan Rani.
Sementara Daniel, menemui dokter Zulmy.
"Tok tok tok...
__ADS_1
"Masuk"
Daniel masuk kedalam ruangan. Tetapi Zulmy tidak memperhatikan siapa tamunya. Sebab sedang sibuk memperhatikan kertas-kertas di depanya.
"Heemmm...Daniel berdehem. Lastas Zulmy mendongak.
"Mau apa loe kemari?" Tanya Zulmy ketus. Setelah melihat siapa yang datang.
"Katanya loe dokter yang menangani Istri gue, ya wajarlah...kalau gue temui loe" "Lagian loe harus profesional dong" tutur Daniel enteng.
Zulmy pun akhirnya diam, dan berpikir. Benar juga yang dia katakan. Batin.
"Nggak di suruh duduk gue...pegel nih kaki" ucap Daniel.
"Ya duduklah, tinggal duduk saja kok repot"
Daniel duduk di depan Zulmy.
"Bagaimana keadaan Istri gue Zul, sakit apa sebenarnya dia?" Tanya Daniel berkaca-kaca mengingat wajah Rani yang pucat tadi.
Zulmy berdiri menuju jendela dan menatap keluar. Menghela nafas panjang.
"Dia terlalu stres Dani, dan hanya loe yang bisa membuatnya bersemangat"
"Perlu loe tahu Dan, ususnya hampir lengket, karena tidak ada makanan yang masuk, menurut temanya, selama 5 hari nggak mau makan, hanya menangis terus di kamarnya"
Daniel hanya diam tetapi hatinya menjerit mendengar penuturan dokter.
"Sebenarnya apa yang terjadi Dan, loe bertengkar lagi dengan Istri loe"
"Nggak" jawab Daniel cepat.
"Terus loe nggak marah gitu lihat foto-foto Istri loe, sama cowok lain?" Tanya Zulmy kembali duduk di depan Daniel.
"Nggak" sahut Daniel singkat.
"Sukurlah Dan...kalau loe memang bisa menyikapi permasalah yang membelit keluarga loe, pasalnya, yang gue tahu, loe tuh emosian, cemburuan dan egois" sarkas Zulmy.
"Kalian pada kenapa sih? selalu menyudutkan gue...gue juga bisa kok berubah" "Okay... gue akui memang banyak salah" "Tapi... gue ini manusia, bisa berbuat salah, tentu bisa juga memperbaiki kesalahan goe" "Disaat gue mau berubah kalian pada nggak percaya, loe...Rizal...bahkan! Mama gue sendiri" "Semua...nggak percaya, termasuk reader" kwkwkw..."Padahal budhe sayang banget sama gue"
"Terus bagaimana mengenai foto-foto itu menurut loe?" Tanya Zulmy sekali lagi.
"Sekarang gue tanya, menurut loe sendiri, bagaimana?" Daniel balik bertanya.
"Gue sih yakin Rani bukan orang yang seperti itu"
"Nah loe yang orang lain saja bisa menilai, apa lagi gue" "Jujur gue lihat foto itu baru tadi pagi, ketika di pesawat."
__ADS_1
"Foto yang terlalu vulgar, dilihat dari mata telanjang saja, sudah ketahuan itu hanya editan. Ok...wajahnya memang istri gue, tapi bawahnya orang lain" tutur Daniel.
"Terus...siapa orang yang tega memfitnah Istri loe, lalu...ada motifnya? sampai orang itu berbuat nekat, nggak takut apa terkena kasus pelanggaran, UU ITE."