
Malam yang membahagiakan bagi Keluarga Pak Siswo, semua bersiap ingin berangkat ke kediaman Ibu Widi.
"Ran ini semua mau di bawa?" tanya Syntia. Rani, Syintia, Nena dan kedua anak buah Rani sedang mengepak parsel.
"Semua saja Syn" sahut Rani. Ia sedang menata kue-kue dalam mika buatan sendiri plus oleh-oleh dari Yogyakarta.
"Ran, dapat salam dari Weny, aku kasihan sama dia, hidupnya sekarang kacau, menyesal berkepanjangan. Dia minta maaf sama kamu, tapi tidak ada keberanian untuk datang kemari" tutur Syntia.
Rani menghela napas panjang. "Dia sudah bekerja belum Syn?" tanya Rani.
"Belum Ran, kerjaannya hanya mengurung diri didalam kamar, kasihan Ibu Sri. Sudah berbagai cara membujuknya agar beradaptasi dengan lingkungan. Tetapi, tidak berhasil, hanya kemarin pas kami mau berangkat menemui aku" tutur Syntia.
"Bilang sama dia Syn, aku sudah maafkan kok. Jika dia mau, suruh bekerja sama aku lagi" sahut Rani.
"Kamu ini Ran! sudah di sakiti kaya gitu juga!" Nena menimpali bersungut-sungut.
"Apa salahnya sih Nen? kita memaafkan, toh dia sudah berubah" sahut Rani. Bukan Rani namanya jika tidak mudah memaafkan.
"Benar Ran? Weny boleh bekerja di sini lagi?" tanya Syntia berbinar-binar.
Rani mengangguk yakin.
"Sudah siap yank?" tanya Daniel sudah berpakaian rapi ingin berangkat.
"Sudah Mas" sahut Rani, segera memberitahu Rini dan Mira untuk mengangkuti parsel kedalam mobil.
"Rini, Mira, jaga rumah ya" kata Rani, seraya masuk kedalam mobil.
"Siap Bu"
Rani Daniel dan Nena menggunakan mobil Daniel Nena yang menyetir. Kemudian Pak Siswo bersama Dino menggunakan mobil Rani Dino yang menyetir.
Mobil beriringan jalanan cukup lengang. Namun, Pak Siswoyo, tertinggal karena lampu merah. Tidak lama kemudian, Daniel sampai lebih dulu.
"Assalamualaikum..." sapa Rani, pintu Ibu Widi terbuka lebar, tampak ramai tamu Ibu Widi sedang ngobrol di ruang tamu.
"Waalaikumusallam..." sahut Eneng. Eneng dan Bambang yang duduk di dekat pintu segera berdiri menyambutnya.
"Mbak Rani... silahkan masuk" ucap Eneng. "Bertiga saja Ran?" tanya Bambang. Netranya mengitari halaman tidak tampak Pak Siswo.
"Terimakasih Mbak Neng" sahut Rani. "Bapak masih di belakang Bang" sambungnya. Menjawab pertanyaan Bambang. Mereka saling berjabat tangan.
"Rani, Daniel, Nena, ayo masuk" titah Ibu Widi. Beliau pun ikut kedepan menyambut tamu.
"Terimakasih Bu" jawabnya serentak. Rani menggandeng tangan Daniel masuk kedalam di ikuti Nena.
"Kenalkan Bang, ini Om dan Tante saya" ucap Bambang kepada Daniel. Setelah berkenalan, mereka ikut bergabung duduk di sofa ruang tamu. Saling berbagi informasi.
__ADS_1
"Assalamualaikum..." Pak Siswoyo pun akhirnya datang. Beliau melangkah paling depan di ikuti anak dan menantunya.
Sementara Wahyu, terlelap dalam gendongan Syintia.
Obrolan pun berhenti sejenak, semua menoleh kearah pintu.
"Waalaikumusallam..." Ibu Widi dengan cepat melangkah kedepan menyambut pangerannya 🤣🤣🤣.
Deg deg deg jantung Ibu berdentam-dentam. Keduanya saling terpaku di tempatnya lidahnya kelu untuk berucap. Suasana menjadi hening. Keduanya saling terpana, selama hampir setahun mereka tidak pernah bertemu. Hanya berbicara melalui telepon dan chating di WA. Video call pun rasanya malu 🤣🤣🤣.
"Bapak... Mas Dino..." sapa Bambang. Menyadarkan keduanya.
"Apa kabar Mas Dino? Mbak Syintia?" tanya Bambang. Semenjak pernah menginap beberapa hari di rumah Dino. Bambang pun sering kirim kabar via telepon.
"Alhamdulillah baik" sahutnya. Bambang mengajak tamunya bergabung di ruang tamu. Kursi Ruang keluarga tadi sore sempat di jadikan satu di ruang tamu.
Mereka berbincang dengan serius. Panji yang awalnya slenge an setelah kehadiran Pak Siswo, langung menjelma menjadi cowok alim.
"Mbak Neng, bantuin bawa ini kedapur ya" titah Rani.
"Ya Mbak Rani" sahut Eneng. Mereka membawa parsel kedapur, di bantu Nena dan Syntia. Meninggalkan Para Laki-laki untuk membicarakan pernikahan Pak Siswoyo. Rani sudah menyerahkan keputusan kepada Daniel dan juga Dino. Sedangakan Wahyu terlelap di pangkuan Dino.
"Mbak Eneng, panggil saya Rani saja aku kan calon adik Mbak" ucap Rani. Ketika sudah sampai di dapur.
"Oh gitu ya... memang umurnya juga lebih tua saya Mbak Rani. Umur saya sudah dua lima tahun" tutur Eneng.
"Oh berarti beda dua tahun sama kami bertiga Mbak Eneng, umur kami 23 tahun" kata Rani menunjuk Syntia dan Nena.
"Panggilnya Lidia saja Mbak, itu nama asli saya" sambung Eneng.
"Oh Lidia? kok di panggilnya Eneng?"
"Panggilan kesayangan orang Betawi memang Eneng Mbak, sama saja, seperti orang jawa penggil Nduk, atau le"
"Oh gitu ya" pungkas Rani.
Mereka menata kue dalam piring dan menyuguhkan di ruang tamu.
"Bagimana Mas keputusannya?" tanya Rani setengah berbisik kepada Daniel.
"Acaranya akan di langsung kan besok pagi yank, tidak bareng sama tunangan Wibi." sahut Daniel. "Sebab pernikahan ini hanya akan di hadiri keleurga saja" sambung Daniel. Rani pun mengangguk-angguk.
Selepas membicarakan acara inti kemudian menikmati hidangan karena waktu sudah larut. Keluarga Pak Siswo pun, undur diri.
"Mas Sis, nggak tidur di sini saja?" tanya Ibu Widi ketika mengantar di pintu gerbang. 🤣
"Belum boleh lah, kamu ini" sahut Pak Siswo.
__ADS_1
"Kenapa nggak boleh? kan ada kamar kosong" sahut Ibu.
"Orang luar, mana ada yang tahu kalau aku tidur di kamar lain? ah, kamu ini! Aku pamit ya..." pungkas Pak Siswo. Meninggalkan Ibu Widi yang masih mematung memandangi kepergian Pak Siswo hingga mobil Rani pun melesat tidak terlihat lagi.
*******
Keesokan harinya pernikahan Pak Siswo dan Ibu Widi berlangsung cukup lancar. Dilakukan di rumah Ibu Widi. Pak Siswo dan Ibu Widi sudah mengantongi surat surat jadi semua lancar.
"Sah"
"Sah"
"Sah"
Begitulah ucap para saksi. Pernikahan ini hanya di hadiri keluarga Pak Siswo dan keluarga besar Ibu Widi.
********
Di tempat yang berbeda, seorang Ibu menangis tiada henti mendengar pernikahan Pak Siswo telah berlangsung. Pria yang di cintainya selama 30 tahun kini telah memilih wanita yang lain. Harapannya semua musnah.
Ia sampai rela bercerai dengan suaminya demi berharap cinta lamanya akan bersemi kembali. Namun, semua sia-sia.
"Hiks hiks... Kenapa kamu tega Mas Suryo... kenapa kamu tegaaa..." hu huuu..
Ia mengurung diri di dalam kamar.
"Bu... buka pintunya Bu..." sang anak laki-lakinya memanggil-manggil. Namun, tidak ada jawaban.
Tok tok tok
Tok tok tok
"Ibu... tolong di buka Bu" anak laki-lakinya pun panik khawatir Ibunya berbuat nekat.
Sang anak pun merogoh handphone dari sakunya dan menghubungi Ayahnya.
"Deerr derr deerrr.
"Hallo📞
"Ayah...Ibu mengurung diri dikamar Yah. Aku khawatir Ibu berbuat nekat"
"Memang Ibumu kenapa lee?"
"Mendengar kabar bahwa Pak Suryo menikah di Jakarta"
"Astagfirlullah... Ibumu itu, kapan bisa berubah? ya sudah, pantau terus Ibu ya le, Ayah pulang dulu"
__ADS_1
"Terimakasih Yah"
Tut.