
Eneng menapaki anak tangga selangkah demi selangkah. Sampai di depan kamar Bambang.
Tok tok tok
Tidak ada jawaban. Lidia pun mengulangi sampai 3 kali, tetap tidak ada sahutan. Akhirnya Eneng memberanikan diri mendorong handle pintu. Ternyata tidak di kunci.
Eneng menyembulkan kepalanya sedikit. Bambang menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Kok selimutan begitu, jangan-jangan mati dia? gumam Eneng.
Eneng mendekati dan membangunkan. "Tuan...bangun..Tuan..."
"Heeemmm...dingin sekali" ucap Bambang bergetar.
Eneng berjongkok di lantai samping ranjang. Tanganan terlulur ingin menyentuh dahi Bambang ingin memastikan panas atau tidak. Namun, menariknya kembali.
"Eemmm...dingiiin..." rintih Bambang kemudian.
Mau tidak mau Eneng menempelkan punggung tanganya ke dahi Bambang.
"Ya, Allah...panas sekali" monolog Eneng. Eneng kemudian mengecilkan ac, bergegas kebawah.
Tak tak tak.
Eneng setengah berlari sampai di meja makan.
"Kenapa Neng? mana Wibi?" tanya Ibu Widi.
"Badan Tuan panas sekali nyonya, saya ambil kompres dulu" sahut Eneng panik langsung kedapur ambil baskom di isi air hangat. Kemudian menuju tempat strika ambil handuk kecil.
Ibu Widi pun bergegas ke atas di ikuti Dira. Sampai di kamar memegangi dahi Bambang memang sangat panas.
"Kenapa kakak Bu?" tanya Dira. "Kakakmu deman, pantesan pulang cepat, ternyata badanya panas."
"Tadi pagi baik-baik saja, kok sekarang panas" ucap Dira.
"Ini kompresnya Non" Eneng menyerahkan kompres kepada Dira.
"Kamu saja yang kompres Neng, Dira biar ambil makan, supaya cepat minum obat." titah Ibu.
"Tapi nyonya?" Eneng bingung masa iya sih? aku yang kompres? tanya Eneng dalam hati.
"Sudah....lakukan saja" titah Ibu Widi setengah memaksa.
"Baik nyonya."
Ibu kelantai bawah hendak menyiapkan makanan dan obat bersama Dira.
Tinggalah Eneng dan Bambang didalam kamar yang luas. Jika di bandingkan kontrakan Enya Eneng, masih besar kamar Bambang.
Eneng mencelupkan handuk kecil dan di tempelkan di dahi Bambang berulang-ulang. Dadanya bergemuruh entah apa yang di rasakan Eneng saat ini.
"Kata Ibu, Mbak disuruh menyuapi kakak" ucap Dira masuk membawa nampan dan menyerahkan kepada Eneng.
__ADS_1
"Saya Non?" Eneng menunjuk dirinya.
"Ya, iya lah Mbak, memang disini ada siapa lagi?" sahut Dira meyakinkan.
"Tapikan Non" Eneng menggaruk kepalanya.
"Sudahlah Mbak, lakukan saja" titah Dira sambil berlalu meninggalkan Eneng.
Kenapa musti gue sih ah...tapi apa boleh buat, cek.
"Tuan bangun."
"Tuan...Tuan...." Eneng membangunkan Bambang tanpa menyentuh hanya memanggilnya saja.
"Heeemm..." Bambang mengeliat. Tetapi tidak mau bangun.
Eneng punya ide, ambil hanger kawat dari lemari, lalu menusuk-musuk keriak Bambang. Bambang membuka mata, menatap siapa yang membangunkan. Sejuta kupu-kupu berterbangan di relung hatinya.
"Lidia?
"Bangun makan dulu, terus minum obat" ucap Eneng mencoba untuk tenang dan frofesional dalam bekerja.
Bambang ingin memaksa bangun, tetapi rasanya kepalanya sakit sekali.
Nggak kuat Lid, kepala aku sakit" ucap Bambang lirih.
Lidia membetulkan kompres yang jatuh, ternyata sudah mengering. Kemudian mencelupkan kedalam baskom memeras dan menempelkan kembali.
"Ini obatnya di minum" ucap Eneng usai menyuapi. Menyerahkan obat turun panas berbentuk tablet bulat yang besar.
"Aku nggak bisa minum obat yang bulat begitu Lid, harus di haluskan dulu" ucap Bambang lirih.
Eneng menarik tangannya mendengus kesal. "nyusahin!" batin.
Tidak menjawab, Eneng pun kelantai bawah. "Kenapa Neng?" tanya Ibu Widi yang masih menonton televisi bersama Dira.
"Tuan nggak bisa minum obat bulat begini Nyota, harus dihancurkan dulu " Eneng menunjukan tablet di tanganya.
"Oh iya..ibu lupa ngomong" sahut Ibu. "Nggak apa-apa Nyonya" Eneng kedapur menghancurkan obat.
"Hihihi..."Yes!" Ibu Widi dan Dira cekikikan tanpa Eneng tahu.
"Ini Tuan, obatnya diminum" ucap Eneng setelah menghancurkan obat kembali kekamar.
Setelah minum obat, Bambang kembali memejamkan mata. Eneng menyelimuti. Kemudian, Eneng membereskan baju kotor yang berserakan. Membawanya ke lantai bawah bersama nampan.
Bambang memperhatikan Eneng yang melangkah keluar dari kamar, bibirnya tersungging.
*********
Malam sabtu seperti biasa, Rani menginap di rumah Mama Nadyn dan sedang menyantap makan malam.
Rani pun makan di luar kendali. Yakni makan sampai nambah. Mama Nadyn menatap heran menantunya tidak seperti biasa.
__ADS_1
Rani perasaan tidak enak di lihatin Mama terus. Selesai makan, berkumpul dan bercerita di depan televisi. Saat ini Deni sudah menikah dengan Siska 6 bulan yang lalu, dan sudah hamil 3 bulan.
"Jadi Siska sudah hamil? selamat ya..." ucap Rani mengelus perut Siska yang masih rata.
"Alhamdulillah...kakak ipar" sahut Siska tampak bahagia.
"Rasanya bagaimana Sis, ngidam seperti orang-orang nggak?"
"Parah kakak ipar, kalau pagi-pagi hoek hoek..." Deni memperagakan istrinya ketika muntah di pagi hari.
"Kamu juga harus periksa Ran, sepertinya kamu hamil juga" saran Mama.
Daniel menoleh cepat. "Apa iya ya Ma, Dani juga berpikir begitu, tetapi Rani nggak mau periksa" adu Daniel.
"Nggak mau periksa kenapa?" tanya Mama kepada menantu kesayangan itu.
Rani tidak menjawab pertanyaan Mama. Rani sebenarnya sudah terlambat empat bulan. Tetapi, rasanya takut memeriksakan diri. Kehamilanya dua tahun yang lalu masih menyisakan trauma.
"Kok malah bengong Ran? besok pagi kamu periksa ya" titah Mama.
"Baik Ma" sahut Rani mau tidak mau memang harus periksa.
"Mudah-mudahan Icha punya adik" ucap Icha yang sedang tiduran di pangkuan Rani.
"Do'akan ya sayang..." Rani yang sedang memainkan rambut Icha.
*****
Malam hari di kamar Daniel. Mas..."panggil Rani sembari memainkan bulu di dada suaminya. Entah kenapa Rani senang banget menyentuh seluruh tubuh suaminya. Tampak luar biasa maha karya Allah yang sangat ia kagumi.
"Kenapa?" sahut Daniel membuka martanya yang sudah 5 wat.
"Beneran besok periksa?"
"Iya, memang kenapa? kamu dari tadi aku perhatikan gelisah terus" sahut Daniel akhirnya membuka mata lebar-lebar memandangi wajah istinya.
"Nggak tahu Mas, aku masih ingat kejadian dua tahun yang lalu, seperti baru kemarin" jawab Rani sedih.
Daniel pun paham apa yang di maksud istrinya. Kemudian merengkuhnya di tempat tidur posisi miring berhadapan.
"Sudah...yang sudah, ya sudah, kalau kamu nggak mau melupakan kejadian itu"
"Aku akan terus merasa bersalah, dan kamu berarti belum bisa memaafkan aku" ucap Daniel menaikan kaki sebelah ke atas kaki Rani.
"Maksud aku bukan begitu Mas"
"Sudah yank, tidak usah di jelaskan, aku ngerti kok, yang penting..., sekarang kamu harus selalu senang"
"Tidak baik loh, untuk anak kita yang masih di sini kalau kamu memikirkan yang aneh-aneh" Daniel mengelus perut Istrinya. Yakin, kalau istrinya saat ini sedang hamil.
"Sekarang kita tidur ya, sudah malam, besok kita kerumah sakit"
"Iya Mas"
__ADS_1