
"Aku mau makan dulu ya... lapar" ucap Bambang kepada Lidia.
"Iya" sahut Lidia singkat.
****
Bambang menuju meja makan. Sementara, Rani dan Daniel menuju ruang tamu di mana keluarga besar masih berkumpul.
Sebagian tamu sudah pamit ingin pulang. "Jeung Widi... aku pulang ya" Mama Nadyn dan Papa Nano pamit pulang.
"Terimakasih ya... sudah meluangkan waktu untuk kami" sahut Ibu Widi cipika cipiki kepada Mama Nadyn.
"San, saya pamit ya, sekarang kan kita tinggalnya berdekatan, sekali-sekali kerumah ya" titah Papa Nano kepada Pak Siswo.
"Insyaallah saya usahakan" sahut Pak Siswo menepuk pundak Papa Nano.
"Umi kok nggak ikut pulang sih" ucap Icha merajuk, karena Icha pulang dulu bersama Mama Nadyn.
"Umi masih ada urusan sayang... paling besok malam sudah pulang kok" ucapnya sambil memakaikan jilbab bergo yang simple kepada anak sambungnya.
"Benar ya Umi..."
"Benar dong sayang... masa Umi bohong? muach muach" Rani menciumi pipi Icha, tidak luput dari perhatian Dira yang berdiri di sampingnya sungguh terharu. Melihat betapa sayangnya Rani terhadap anak tirinya.
Setelah kepergian Mama Nadyn dan keluarganya.
Om Wisnu beserta keluarga pun ingin pulang.
"Mbak Widi... Mas Siswo, saya pamit" Om Wisnu menyalami Ibu Widi dan Pak Siswo. "Hati-hati ya dik" doa Ibu Widi. Sambil berjalan keluar rumah mengantar adiknya.
"Aku kok nggak di pamiti sih" seleroh Tante Rumi. Padahal tadi sudah pamit terlebih dahulu kepadanya.
"Pamit adikku..." Om Wisnu mengelus kepala Rumi kemudian, memakai kaos kaki.
"Om Wisnu, nggak mampir ke rumah Rani" ucap Rani yang ikut keluar di gandeng Daniel.
"Lain kali Ran, kita kan masih satu wilayah. Gampang... nanti saya ajak keluarga main kesana." ucapnya kemudian masuk kedalam mobil bersama keluarganya.
Mereka pun kembali duduk di sofa sambil berbincang-bincang. Rani tiba-tiba menyela duduk di tengah-tengah antara Pak Siswo dan Ibu Widi.
"Hehehe..." kamu ini nduk... selalu kolokan" kelakar Pak Siswo.
__ADS_1
"Biarin... aku mau manja-manja sama Bapak, dan Ibu baruku." sahut Rani. Ibu Widi tersenyum merangkul pundak anak tirinya.
"Eh, Ibu aku di ambil" ucap Dira pura-pura kesal, kemudian duduk di samping Ibunya, bersandar di pundak Ibu Widi. Meninggalkan Topan yang hanya di tanggapi Topan dengan senyuman.
"Ah, kita jadi kalah nih sama anak baru" Bambang pun beranjak kemudian duduk di samping Pak Siswo.
"Yah, nasiib... kita di anggurin Pan" seloroh Daniel. Semua tertawa bahagia.
Cekrek
Cekrek
Daniel, Om Zuki, Topan dan Panji mengabadikan momen tersebut.
Sore berganti malam, Rani menginap di rumah Ibu Widi, tidur di lantai atas bersebelahan dengan kamar Dira dan Bambang.
Panji tidur bersama Bambang dan Topan. Kemudian Tante Rumi tidur di kamar tamu.
Keesokan harinya, Rani bangun dari tidur. Setelah shalat subuh, ia menuruni tangga perlahan sambil memegangi perutnya yang sudah menginjak enam bulan.
Ia senang sekali, Allah telah memberikan sosok mertua yang sangat menyayangi dirinya. Di tambah lagi Allah telah memberi seorang Ibu seperti Ibu Widi yang baik hati.
Ia melangkah kedapur duduk di meja makan minum air hangat. Senyum mengembang dari bibirnya. Ia mengelus perutnya. Karena kesabarannya bertahun-tahun kini ia merasa telah memetik buah yang manis.
"Saya saja Non. Non kan lagi hamil"
"Hehehe... Bibi ada-ada saja, memang kalau orang hamil terus... nggak boleh kerja gitu?"
"Ya nggak sih Non, maksud saya-- " Bibi tidak melanjutkan bicaranya.
Rani tidak bicara lagi kemudian lanjut memasak.
"Saya jadi pingin nyobain, masakan Non, yang terkenal. Suka ada di telivisi" ucap Bi Ipah netranya mengerling kesana kemari mengikuti gerak lincah tangan Rani.
"Beres Bi, kalau perlu habiskan" sahut Rani simbok pun tertawa.
Selesai masak Rani kembali duduk di meja makan. Memandangi karyanya pagi ini.
"Kamu masak Ran? wah... enak banget baunya" ucap Bambang yang baru dari lantai dua, kemudian ikut duduk di kursi meja makan.
"Iya, sekali-sekali, merayakan Bapak yang sudah sekian lama akhirnya memiliki jodoh" sahut Rani senang.
__ADS_1
"Hahaha... dunia sempit ya Ran, kita akhirnya menjadi saudara." kata Bambang tertawa lepas. Mereka ngobrol panjang lebar sambil tertawa. Ia tidak tahu ada sepasang mata yang memperhatikan sejak tadi.
"Wah, wah! bahagia banget kalian?! sinis Daniel, pura-pura marah. Tangannya menoyor kepala Bambang"
"Haduh! sakit tahu Bang!" Tangan Bambang mengelus kepalanya. Pura-pura sakit.
"Huh! labay!" Tangan Daniel kali ini menoyor jidat Bambang. "Ran, ada penganiaan kok kamu diam saja sih?" selorohnya.
Rani pun tertawa senang, kedua pria yang dulu berseteru itupun kini saling bercanda tawa.
*****
Siang harinya selepas Dzuhur. "Lid, kamu sudah nggak apa apa kan?" tanya Bambang karena saat ini mereka ingin berangkat kerumah Zainaf.
"Sudah sembuh kok Mas" sahutnya. Bambang mengendarai mobilnya. Lidia duduk di depan bersamanya sementara Rani dan Daniel duduk di kursi penumpang.
"Enak banget ya... yang duduk di tengah, malah mesra-mesraan" kelakar Bambang. Sebab, Rani tidur di pangkuan Daniel sambil memainkan hidung Rani.
"Memang nasip, jadi sopir" cicit Bambang.
"Ngiri aja kamu! itu kan di sebelah ada Lidia" Daniel menimpali.
"Mana boleh begitu? biar saja! nanti kalau sudah halal, aku mau mesra-mesra dengannya lebih dari itu" Bambang tidak mau kalah langsung mendapat plototan dari Lidia.
"Gang depan itu berhenti Mas, mobil parkir di sini saja, kita hanya bisa berjalan kaki" kata Lidia, karena mereka sudah sampai gang menuju rumah Zainaf.
"Okay..." ucap Bambang sambil memarkirkan kendaraan di depan Ruko, posisi di pinggir jalan. Mereka pun berjalan beriringan sepuluh menit kemudian sampai di rumah Zainaf.
"Assallaamualaikum" ucap Bambang di depan rumah Zainaf.
"Haii... Bang Wibisono... akhirnya kesini juga" ucap Zainaf heboh, ia pikir Bambang ingin mengajaknya berkencan untuk yang pertama kali.
Ia tidak menyadari bahwa Lidia, Rani dan Daniel duduk di bale samping rumah. Karena Rani mengajak berteduh dulu di bawah pohon mangga. Usia kandungannya yang semakin membesar membuatnya sering kegerahan.
"Ayo Bang, masuk dulu, saya kenalkan sama Enyak" ucapnya sambil menarik tangan Bambang.
Hahaha... akhirnya misi gue berhasil abang akan segera menjadi milik gue, mungkin Lidie sudah di telah Ular, Ular itu. Hahaha. Bang, ayo masuk, kok malah bengong" kata Zainaf masih menarik paksa tangan Bambang.
"Ehemm... Lidia berdehem ia memiringkan badanya. Menatap Zainaf tajam, tanganya bersedekap di bawah dada.
__ADS_1
Zainaf melepas tangan Bambang menyadari Lidia sudah menunjukkan ekspresi siap perang dengan dirinya. Jika satu, lawan satu tidak masalah. Tetapi saat ini ada Bambang tentu dia akan bersikap pura-pura baik.