ISTRI SANG MAJIKAN 2

ISTRI SANG MAJIKAN 2
Part 95


__ADS_3

Lembar demi lembar, Rani menyibak buku agenda, menggoreskan pena. Suka, duka, sedih, gembira. Selalu ia lewati dengan Rasa syukur yang selalu ia panjatkan. Dan semua tertuang dalam buku harian.


Besok pagi tepat tiga tahun pernikahanya dengan suaminya. Rani meletakkan pena dan menutup buku harian. Beranjak dari meja belajar dan menyusul suaminya tidur. Netrasanya menelisik wajah yang semakin tampan menurut Rani.


Ingat hari anniversary Rani pun ingat ketika satu tahun pernikahannya dulu nyaris berantakan. Namun, alhamdulillah, Allah kini telah merubah hati suaminya menjadi suami yang bertanggung jawab.


Malam berganti pagi, Rani bangun shalat subuh. Tidak seperti biasa,


selesai subuh ia tidur kembali. Rasanya malas untuk aktivitas.


"Yank...bangun yuk, sarapan sudah siap" Daniel mengusap kepala istrinya.


"Aahh...masih ngantuk..." sahutnya dengan mata terpejam.


"Kamu sakit yank, tumben, biasanya sudah mandi" ucap Daniel heran, sudah hampir jam tujuh tetapi istrinya nggak mau bangun. Padahal biasanya ia sudah sibuk mengurus dirinya walau di larang sekalipun.


"Mas duluan aja" katanya. Daniel pun mengalah mencium dahi istrinya lembut. Kemudian menuju meja makan.


"Rani kok belum sarapan, Pak?" tanya Nena yang tiba-tiba melintas. Sebab tidak biasanya Daniel sarapan sendiri.


"Nggak mau bangun" jawabnya singkat. Sudah selesai sarapan Daniel menunggu istrinya biasanya mengantarkan ke depan.


"Saya berangkat duluan Pak, Rani nggak ke resto kali, nggak bangun-bangun tuh anak, tumben" cerocos Nena.


"Ya" begitulah jawab Daniel.


Nena, Rini dan Mira pun berangkat.


Daniel kembali kekamar "Yank, Mas berangkat ya" Pamit Daniel menciumi wajah Rani dan menyelimuti.


"Heemm..."hanya itu sahut Rani. Daniel pun berangkat.


Biasanya jika ke kantor selalu bersama Rani, dan mengantarkan ke restoran dulu. Tetapi, kali ini berangkat sendiri.


Daniel berkutat dengan pekerjaan hingga melewatan makan siang. Ingin cepat selesai dan cepat pulang. Sebab, nanti malam akan mengajak istrinya quality time, merayakan ulang tahun pernikahannya.


Sore hari tiba, Daniel bergegas pulang.


Sampai di rumah, sepi. Daniel ke kamar. Rani masih tidur bahkan, masih mengenakan baju yang tadi malam.


"Astagfirlullah...yank, kamu nggak mandi dari pagi?" tanya Daniel menyingkap selimut.


"Nggak tau Mas, aku malas banget kena air" sahutnya. Daniel menggelengkan kepala.


"Ayo mandi, terus kita jalan-jalan" kata Daniel.


"Mandiin" jawabnya.


Daniel semakin heran, biasanya kalau ngajak mandi bareng saja Rani selalu beralasan. Tetapi, sekarang malah minta di mandikan. Tentu dengan senang hati Daniel melakukan.


"Ayo" Daniel membangunkan istrinya.


"Gendong" ucap Rani bergelayut manja.

__ADS_1


"Hehehe...dududuuu....kenapa ya? istriku manja banget hari ini?"


"Nggak mau? ya udah!" Rani cemberut.


"Ya jelas mau lah, ayo" Daniel menggendong ke kamar mandi. Mereka mandi bersama.


Setelah mandi mereka bersiap-siap. Daniel akan mengajak ke suatu tempat.


Daniel mengedarai mobil. "Kita mau kemana Mas?"


"Ada, nanti kamu juga tahu"


Satu jam perjalanan mereka tempuh sampailah di hutan yang gelap.


"Mas ngapain kesini? Mas mau buang aku ke hutan?" Rani mendadak gusar.


"Ayo" Daniel menggendong Rani melewati hutan yang gelap hanya di terangi senter ponsel.


"Ayank, merem aja kalau takut"


Rani pun memejamkan mata dalam gendongan suaminya. Kemudian menurunkan di tengah-tengah hutan. Rani lalu membuka mata.


"Mas...di mana ini? aku takut" Rani menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Hee... buka tanganmu"


Rani pun membuka telapak tangannya.


"Trarara..." ucap Daniel. Lampu pun menyala.


"Ma Mas...ini benaran?" tanya Rani matanya mengerling berbinar-binar. Tempat perkemahan di jakarta di sulap menjadi gemerlap.


"Kamu suka?" Daniel memegangi kedua telapak tangan istrinya posisi berhadapan.


"Terimakasih ya Mas" Rani pun menghabur ke pelukan suaminya.


"Aku yang harusnya terimakasih yank, selama tiga tahun ini, kamu telah membuat hidup aku semakin berwarna" ucap Daniel seraya mengusap-usap punggung istrinya.


Daniel mengurai pelukanya. "Ayo ikut aku" ucap Daniel. Lalu menggandeng Istrinya, menuju sebuah tenda.


"Ayo masuk" Daniel membawa Rani masuk ke dalam. Rani lagi-lagi di beri kejutan. Di dalam tenda ada meja dan dua kursi. Kue tar lambang love tertancap 3 lilin di tengahnya. Dan di sebelahnya ada tumpeng mini.


"Mas, kapan mempersiap ini semua?"


"Sudah tidak usah di bahas, kita makan ya..."


Daniel ambil piring kemudian mengisinya dengan tumpeng lengkap.


"Ayo makan"


"Kok piring nya hanya satu Mas?"


"Kita makan berdua saja" titah Daniel. mereka makan sepiring berdua dengan lahap.

__ADS_1


"Aku nambah ya Mas"


"Boleh, tapi Mas sudah kenyang" sahut Daniel. "Nggak apa-apa" Rani pun nambah sampai tiga kali.


"Yank, kamu nambah sampai 3 kali? tumben banget, biasa makan satu centong saja nggak penuh"


"Nggak tahu Mas, akhir-akhir ini aku pingin makan melulu." sahut Rani.


"Ya bagus lah" pungkas Daniel. Malam merangkak dengan cepat Daniel mengajak Rani pulang.


*****


Pagi hari di kediaman Ibu Widi. Bambang sudah selesai mandi mengenakan kemeja dan dasi. Mematut dirinya di depan kaca.


Bambang kini sudah menginjak usia 29 tahun. Setelah gagal menikah dengan Weny setahun yang lalu. Bambang belum berpikir tentang jodoh. Ia fokus dengan usahanya. Justru Dira yang merajut kasih dengan Topan.


Dengan berbagai cara Weny ingin kembali. Bahkan, sampai Pak Cipto meminta maaf ke Jakarta.


Tentu Bambang memaafkan. Namun, untuk kembali kepadanya. Bambang menolak.


Bambang turun kelantai bawah dan bergabung dengan Ibu dan Dira seperti biasa sarapan pagi.


"Ibu hari ini nggak datang ke showroom Bi, katanya ada yang mau kerja mengantikan Yati" tutur Ibu Widi.


Ibu Widi sedang mencari ART yang bertugas bersih-bersih. Lalu satpam Komplek akan mengantarkan hari ini.


"Nggak apa-apa Bu" sahut Bambang.


"Wibi berangkat ya Bu, ayo Dir"


Bambang berangkat bersama Dira. Topan yang menjemput.


"Hati-hati le, nduk" Bambang berlalu melambaikan tangan kepada Ibu Widi.


Ibu Widi duduk di teras rumah sambil membaca koran.


"Assalamualaikum.." satpam pun datang bersama gadis cantik rambutnya di kuncir kuda.


"Waalaikumsalam..." sahut Bu Widi.


"Bu, saya mengantar orang yang mau kerja" kata Satpam.


"Oh, iya, ini yang mau kerja?" Ibu Widi menelisik wajah calon ART nya. Gadis itu mengangguk sopan.


"Betul bu, sebenarnya ini keponakan saya" jawab satpam.


"Ya sudah, ayo masuk nak" titah Ibu.


"Saya pamit Bu, langsung tugas soalnya" sela satpam.


"Oh ya, ini buat jajan anakmu" kata Ibu, menyerah kan sejumlah uang.


"Ya Allah...terimakasih Bu, banyak sekali ini uangnya."

__ADS_1


"Saya terima Bu, semoga usaha Ibu Widi makin lancar." Do'a satpam. Satpam kemudian pergi meninggalkan Ibu Widi dan keponakanya.


__ADS_2