ISTRI SANG MAJIKAN 2

ISTRI SANG MAJIKAN 2
Part 137


__ADS_3

Hari berganti minggu, bahkan bulan, 9 bulan sudah usia kandungan Rani.


Rani saat ini sudah pindah ke rumah suaminya di pamulang. Sementara rumah Rani di tempati oleh Weny, Rini dan Mira.


Rumah Daniel yang di BSD sudah laku di jual. Simbok yang biasa bekerja di rumah itu di ajak pindah ke Pamulang.


Nena sudah sebulan yang lalu menikah dengan Reno. Dan saat ini tinggal bersama suaminya di apartemen.


Rani sudah jarang sekali ke restoran selama hamil tua. Sebab Daniel melarangnya. Rani check keuangan dari rumah saja. Restoran di percayakan kepada Weny dan Nena.


"Mbok... kok perut aku mules ya?" tanya Rani sambil meringis memegangi perutnya.


"Ya Allah... Mbak Rani mau lahiran kali?" tanya Simbok panik.


"Kenapa Umi?" Icha yang baru pulang sekolah langsung mendekati Uminya.


"Mules sayang..." sahut Rani sambil mengelus kepala Icha.


"Icha telepon Papa saja sayang" titah Simbok.


"Iya Mbok" Icha berlari kelantai dua ambil handphone di kamar kemudian menghubungi Papanya.


****


Daniel saat ini sedang mengadakan rapat penting kerja sama dengan salah satu perusaan terkenal dan melibatkan 1000 lebih responden di lima pasar Asean terbesar. Yakni, Singapura, Malaysia, Thailan, Indonesia dan Vietnam.


Di tengah sedang tegang membahas prospek bisnis yang menjanjikan handphone Daniel bergetar. Daniel segera berdiri kemudian meninggalkan rapat setelah melihat anak nya yang menghubungi.


"Assalamu alaikum wr wb"


"Walaikum salam"


"Papa cepat pulang! Umi perutnya sakit" suara Icha di telepon terlihat panik.


"Iya sayang, Papa segera pulang" sahut Daniel mematikan handphone. Kemudian meninggalkan Rapat setelah kirim pesan kepada Deni. Sebab, tadi dia berangkat bersama Deni.


Tidak perduli hilang kesempatan untuk memenangkan persaingan usaha. Daniel cepat mengendarai mobilnya dengan cepat.


Daniel panik khawatir kejadian 10 tahun yang lalu ketika Almira meninggal karena melahirkan Icha. Bayangan itu kembali menari dalam ingatan.


"Ya Allah... selamatkan istriku" doanya sepanjang jalan.


Sampai halaman Daniel loncat dari mobil berlari kedalam menemui Istrinya. Tampak di ruang tamu Rani sedang berjalan berputar-putar menuruti kata-kata Simbok agar mempercepat pembukaan.

__ADS_1


"Yank, bagaimana keadaan mu? sakit sekali? kita segera kerumah sakit ya" Daniel langsung memberondong pertanyaan.


"Tenang saja Mas, nggak usah panik" sahut Rani menenangkan. Padahal rasa kontraksi rahim rasanya ingin mencopot nyawanya dari raga. Tetapi Rani mencoba kuat di depan suaminya. Rani tahu melihat kepanikan Daniel pasti karena trauma akan kehilangan.


"Mbok, tas perlengkapan lahiran masukan kedalam mobil" titah Daniel kepada Simbok.


"Baik Tuan" simbok segera mengangkat tas yang sudah di persiapan oleh Rani beberapa hari yang lalu.


Daniel kemudian memapah Rani membawanya masuk kedalam mobil.


"Papa... Icha ikut" Icha merengek setelah mendengar suara Papanya Icha langsung keluar. Icha masih mengenakan seragam sekolah.


"Icha di rumah saja sayang, berdoa saja untuk Umi, nanti kalau sudah lahir. Icha di jemput Pak Toto ya" titah Daniel.


Icha mengangguk menurut.


Daniel segera menyalakan mobil dan melaju menuju rumah sakit. Menyembunyikan kegelisahan pura-pura tegar didepan Istrinya.


"Kuat ya sayank" ucapnya, mobil melaju dengan cepat sampai tujuan. Setelah melalui serangkaian pendaftaran. Rani langsung di tangani.


Rani di bawa masuk keruang bersalin di ikuti Daniel. Suster masuk langsung check tensi.


"Semua normal Non, 120 / 80 mmHg "ucap asisten dokter yang biasa menangani Rani.


"Oh bagus, sudah pembukaan 10 cm" ucap Friscila.


"Sakit Mas..." ucap Rani memegang erat tangan suaminya.


"Sabar ya sayang..." Daniel menenangkan, padahal jika mampu berucap justru Daniel yang paling tegang di bandingkan Rani sendiri.


"Dokter... saya mau BAB..." rintih Rani.


"Tarik nafas dan hembuskan perlahan" titah dokter.


"Ya Allah...sakit dok... " jerit Rani.


"Ayo, segera mengejan" titah dokter.


Daniel mengelus tangan Istrinya sambil terus berdoa.


"Ayo, sekali lagi" ucap dokter.


"Aaaakkk..." jerit Rani menarik tengkuk Daniel yang berada di atas kepalanya.

__ADS_1


"Hoeeeek...hoeeeek" Bayi Laki-laki montok pipi tembem telah hadir kedunia buah cinta Rani dan Daniel. Suster segera meletakkan bayi di dada Ibunya, kemudian membersihkan.


"Alhamdulillah... ya Allah..." Daniel memeluk tubuh Istrinya.


"Kamu nggak apa-apa sayang..." tanya Daniel senang sedih takut kehilangan campur aduk. Senang bayi laki telah lahir sehat. Namun hatinya masih khawatir akan jiwa Rani apa yang terjadi setelah ini. Lagi-lagi trauma masa lalu hadir kembali.


"Aku nggak apa-apa" Lirih Rani membelai rambut suaminya yang masih mendekap erat tubuhnya.


"Tenang ya Pak, saya akan bersihkan istri anda" kata dokter.


"Baik dok" Daniel bangun dari tubuh Rani.


Setelah di bersihkan Rani di dorong oleh suster dengan kursi roda kemudian pindah ke ruang rawat.


"Apa yang sakit yank, perutnya, kepalanya atau apanya?" tanya Daniel menciumi pipi, kening, dan punggung tangan Rani. Daniel masih belum bisa tenang. Masih takut kejadian yang menimpa Almira almarhumah Istrinya dulu akan terulang kembali.


Jika biasanya yang mengalami postpartum depression adalah wanita yang melahirkan namun justeru sebaliknya. Daniel yang mengalami ini.


"Nggak apa-apa Mas, aku lapar" ucap Rani.


"Oh iya yank, mau apa? aku belikan" tanya Daniel bersemangat.


"Apa saja, yang penting jangan pedas." pinta Rani.


"Aku beli dulu ya" Daniel langsung memesan sop daging, bagus untuk mengembalikan setamin paska melahirkan.


"Ini dedek bayinya, segera di adzan ni ya Pak" Suster mengantar bayi yang sudah di bedong. Wajah daniel dan Rani meneplak persis di wajah Baby boy tampak tampan. Mata dan dahi Daniel, hidung dan bibir Rani seolah menjadi tercipta sempurna.


Daniel menitikkan air mata bahagia menatap baby boy dalam gendongannya kemudian menga' dzani.


"Siniin dedekkya Mas" ucap Rani, kemudian Daniel menidurkan bayinya di sebelah Istrinya.


"Ya Allah... aku akhirnya punya anak Mas" Rani menatap lekat wajah bayinya pipinya persis pipi anak sambungnya.


"Mas, hubungi Icha, suruh kesini" ucap Rani, pasti Icha senang sekali walaupun sebenarnya dia kemarin menginginkan adik perempuan. Namun Rani tahu Icha anak baik pasti akan menerima adiknya dengan suka hati.


"Iya yank"


Daniel kemudian menghubungi Mama Nadyn, Simbok, Pak Siswo yang masih di Yogyakarta dan yang terakhir Bambang.


Tidak lama kemudian kiriman makanan datang. Daniel menyuapi istrinya. Rani menghabiskan sop hingga tandas.


"Termakasih yank, kamu sudah berjuang demi aku dan anak kita. Sehat terus ya yank"

__ADS_1


"Sama-sama Papa" ucap Rani memanggil sebutan yang berbeda.


__ADS_2