
Di dalam mall, Bambang masih asyik mengajak Eneng berputar-putar. Setelah mendapatkan Cincin tunangan, baju muslim, baju santai, sandal dan sepatu heels.
Eneng pun mengalah mengikuti langkah Bambang. Pria di depanya ini seolah tidak mengenal lelah. Padahal, kaki Eneng rasanya sudah pegal tidak karuan.
Eneng berhenti sejenak seperti sedang ruku, guna mengurangi rasa pegal di betis dan lututnya. Bambang tetap berjalan, tidak tahu jika yang di carikan benda justeru jauh tertinggal.
"Kamu pilih yang mana?" tanya Bambang netranya menelisik handphone yang tersusun rapi di etalase. Merasa tidak ada jawaban Bambang menoleh ke belakang. Sadar tidak ada Eneng Bambang berbalik arah.
Bambang netranya mengerling ke segala penjuru mencari pujaan hatinya. Akhirnya netranya tertuju di balik rak, sosok yang ia cari sedang menungging. Bambang mengulas senyum dan mendekati.
"Puk. Merasa pundaknya di tepuk Eneng mendongak.
"Sudah belum Mas... aku cape, cari apa lagi sih... sudah banyak juga!" omel Eneng.
"Cape ya... cari makan dulu yuk" bujuk Bambang.
"Makan di rumah saja..." sahutnya. Bambang tidak menjawab, malah menarik lengan Eneng pelan, dan mengajak duduk di restoran Mall.
"Istirahat dulu, kamu mau pesan apa?" tanya Bambang sambil melihat buku menu.
"Samain Mas saja dech" sahut Eneng. Eneng memang orang nggak punya, tetapi bukan tidak tahu jika harga makanan di sini selangit. Sebab, dulu Babeh dan Enyak sering mengajaknya makan di sini.
Bambang pun memesan makanan, dan menyerahkan pesanan kepada wattress.
"Habis ini pulang ya..." rengek Eneng seperti anak kecil karena sudah tidak betah.
"Hehehe... sekali lagi ya... kita kesuatu tempat, habis itu kita pulang dech" ucap Bambang melihat wajah Eneng sudah lesu sebenarnya kasihan.
Eneng hanya berdecak kesal dari tadi menurut terus.
"Kamu ini... biasanya perempuan kalau di ajak ke mall suka betah seharian, kok kamu dari tadi pengen pulang terus?" tanya Bambang.
"Memang Mas pernah ngajak jalan perempuan ke Mall?" tanya Eneng menyelidik.
"Pernah" jawab Bambang cepat. Ini saatnya ia harus jujur, tidak akan ada yang ditutup-tutupi masa lalunya karena bisa berdampak kepada pernikahanya kelak.
"Siapa wanita itu?" tanya Eneng menggebu gebu ingin mendengar jawaban Bambang.
Bambang menceritakan bahwa pernah bertunangan dengan Weny. Bahkan, hampir menikah tidak ada yang di tutup-tutupi.
"Tapi... Mas Wibi mencintai perempuan itu?" tanya Eneng ada rasa kecewa.
__ADS_1
"Tidak" jawab Wibi cepat. "Malah tidak sama sekali, sudah berapa kali aku shalat istikharah. Eh yang muncul malah kamu" ucap Bambang jujur.
"Tapi kan Mas Wibi sudah kesana, berarti pernah menginap di sana dong?! Tukas Eneng seolah bersikap biasa saja padahal hatinya kesal.
"Belum, pernah kerumahnya juga hanya sebentar kok, aku menginap di rumah Pak Siswo Bapak nya Rani." tutur Bambang. Eneng hanya mengangguk-angguk.
Wattress pun datang mengantarkan pesanan. Mereka makan dalam diam. Selesai makan Bambang mengajaknya kembali ke konter hp.
"Kamu pilih yang mana?" tanya Bambang.
"Kalau buat aku mah, nggak usah, biarpun jelek aku juga punya handphone kok" tolak Eneng.
"Kamu ambil saja, yang mana, jangan bandel" ucap Bambang pura-pura marah.
Eneng hanya berdecak kesal kemudian memilih salah satu handphone yang sedang-sedang saja, tidak terlalu mahal dan juga tidak murah.
Setelah mendapatkan semuanya mereka kekasir.
"Mas...ini ada dua juta, lumayan buat tambah-tambah" Eneng menyerahkan uang gaji bulan lalu. Sebab Enyak Fatimah sudah tidak mau menerimanya lagi.
"Simpan saja uangnya" kata Bambang. Mendorong tangan Eneng.
*******
Beliau akan menghadiri tunangan Wibi dengan Lidia sekaligus membicarakan rencana pernikahan Pak Siswo dengan Ibu Widi.
"Akek , Akek...itut aik obil" celoteh Wahyu anak Syintia menarik-narik tangan kakeknya agar segera naik kedalam mobil.
Anak yang usianya sudah hampir satu setengah tahun ini sungguh sangat menggemaskan.
"Eh...sayang...kakek jangan di tarik-tarik dong" titah Syntia. "Pak Sopir kan sedang shalat ashar dulu" titah Syntia.
"Oh, agi toyat nda" sahut wahyu dengan bahasa cadelnya.
Tetangga Pak Siswo berdatangan hanya ingin sekedar mengucap selamat jalan kepada keluarganya termasuk Weny.
"Syn... tolong sampaikan maafku kepada Rani ya..." hiks hiks. Weny menangis di pelukan Syntia. Ia sangat menyesal karena perbuatannya ia di jauhi teman-temannya.
Musnah sudah harapannya. Cintanya kepada Bambang masih belum bisa muv on sampai saat ini. Tetapi nyatanya Bambang sudah menemukan tambatan hatinya.
Kini Weny hanya bisa gigit jari dan merutuki diri sendiri. Menyesal pun sudah tidak ada gunanya.
__ADS_1
"Yang sabar ya nduk... suatu saat kamu akan mendapatkan yang terbaik" titah Pak Siswo menepuk-nepuk pundak Weny.
"Suwon Pak" ucap Weny.
"Pak Siswo segera berangkat karena sopir taksi sudah selesai shalat.
Weny masih terpaku di tempatnya menatap kepergian Pak Siswo.
Jika dulu bisa menjaga lisanya tentu Bambang saat ini bisa menjadi miliknya. Namun mungkin sudah takdir yang tidak bisa ia ubah.
Dengan rasa sesak Weny berjalan pulang sudah setahun kepergian Bambang air matanya hampir tidak bisa mengering.
Hidupnya menjadi tidak bermanfaat karena kerjaan hanya mengurung diri di kamar entah apa yang ia lakukan.
*******
Jika Pak Siswo baru akan berangakat ke Jakarta. Lain halnya dengan keluarga Ibu Widi dari semarang. Mereka baru tiba di kediaman Ibu Widi.
Tampak Om Marzuki, Tante Rumi dan juga si tengil Panji. Sedang bersuka cita.
"Weh calon pengantin apa kabar Bi?" tanya Om Marzuki. Sedangkan Tante Rumi sudah di tarik kemana oleh Ibu Widi. Mungkin ke dapur.
"Baik Om" sahut Bambang.
"Silahkan duduk Om" Bambang mengajak Om Zuki duduk di sofa.
"Om Wisnu, belum datang ke sini?" tanya Om Marzuki. Setelah duduk.
"Besok katanya Om, hari ini masih kerja" sahut Bambang.
"Calon Mas Wibi, bukan yang dulu ya?" tanya Panji. "Cantik nggak Mas, kenalkan dong" sambung Panji ia clingukan mencari sosok yang bakal menjadi saudara sepupunya.
"Heh matamu itu loh, jelalatan!" Bambng menoyor jidat Panji.
"We la, sampean ki loh, tuan rumah nggak beradap mosok gualak sama tamu" ujar Panji sembari mengelus keningnya.
"Kalian itu loh? kalau berkumpul pasti bertengkar" ucap Ibu menatap anak dan ponakanya. Tetapi hatinya senang ponakanya ini memang ceplas ceplos jika bicara.
"Silakan di minum Pak Bu" ucap Eneng meletakkan minimum di atas meja. Sementara Tante Rumi membawa kue menyusul Eneng.
"Kenalkan Mbak e, saya ponakan Bambang." Panji ini menjabat tangan Eneng. Tetapi di sikut Bambang.
__ADS_1