
Keadaan Cafe menjadi ricuh Sherly terus mengumpat memaki-maki.
Dengan menahan rasa lelah Rani menghampiri suaminya dan ketiga tamunya.
"Ada apa ini ribu-ribut?" Tanya Rani baru pulang kuliah, tas salempang masih bergantung di bahu. Tangan kirinya mendekap buku tebal.
"Ini! akhirnya si jablai datang juga!" Ahahaha "Hai semua....."
"Ini loh, jablai yang kesepian, dan Perlu kalian tahu, setelah mendapatkan duda kaya, ternyata masih belum puas!" Sherly mengitari pengunjung berputar sambil koar-koar membuat fitnah. Pengunjung dan karyawan ada yang melongok kaget, ada juga yang fokus dengan hidanganya seolah tidak peduli.
"Masih belum puas dengan seorang duda, wanita ini menggait pemuda pengusa kaya raya." Sherly menatap Rani tersenyum mengejek.
"Sherly!" Bentak Daniel. Daniel paham pasti yang di maksud pemuda kaya adalah Bambang. Walaupun Daniel belum tahu siapa Bambang yang sebenarnya. Tetapi sempat berpikir bahwa Bambang bukan orang biasa.
"Apa? Mas Daniel malu dan kecewa kan! ternyata istrinya selingkuh di belakang." Sherly menatap Rani jijik.
"Tutup mulut mu!" Daniel mencekal lengan Sherly. Tetapi tangan Daniel di tahan Deni. Denì membayangkan Daniel di penjara masih belum hilang dari ingatannya. Jangan sampai terulang kembali.
"Bang, sudah Bang" Deni menarik kakaknya mundur.
Mbak Sherly! jika anda terus membuat keributan tidak segan-segan saya akan melaporkan anda ke pihak yang berwajib! karena anda sudah mengganggu ketenangan kami." Tutur Rani.
"Ahahaha..." " Silahkan! gue tidak takut!" Seru Sherly.
Rani segera meletakkan bukunya di atas meja. Kemudian merogoh handphone di dalam tas. Menggeser tombol hijau. "Hallo kantor polisi"
"Prak".
"Sherly menepis handphone dari tangan Rani, hingga handphone terpental hancur berantakan.
"Loe!!" Daniel wajahnya merah padam mencekal lengan Sherly.
"Mas, sudah! kita pulang" Rani merarik tangan suaminya pelan. Kemudian membawanya keluar dari Cafe meninggalkan Sherly.
Di ikuti Deni dan Siska.
Bersamaan dengan itu dua security datang membawa paksa Sherly keluar. "Awas kalian! tunggu saja, sebentar lagi kalian akan hancur!" Seru Sherly menunjuk Rani.
Rani tidak menghiraukan teriakan Sherly, menggandeng Daniel. Membuat Sherly semakin panas.
Daniel hendak pergi bersama dengan Deni dan Siska. Tetapi di tahan Rani.
"Adik ipar, bawa mobil Mas Daniel pulang, biar Mas Daniel bersama saya." Tutur Rani tidak membiarkan Daniel kembali ke kantor. Karena emosi Suaminya sedang meluap, kadang susah di kendalikan.
"Baik kakak Ipar" Deni menurut berjalan kaki bersama Siksa menuju tempat parkir. Menyalakan mobilnya dan kembali ke kantor.
Sementara Rani mengendarai mobilnya. Daniel diam seribu bahasa. Di dalam mobil mereka saling diam.
__ADS_1
Kata-kata sherly terngiang di dalam pikiran Daniel. Tentang perselingkuhan. Tentang pengusaha kaya, tentang modal usaha yang di miliki Rani.
Daniel bersandar di kursi sebelah Rani, menatap jalanan. Hatinya bimbang, sebenarnya ia percaya dengan Istrinya. Tetapi jika di pikir secara logika, darimana Rani mendapatkan modal. Daniel terprovokasi oleh kata-kata Sherly.
"Sini aku yang bawa mobilnya." Ucap Daniel dingin.
"Tidak usah, kalau mau nyetir dinginkan dulu tuh hati dan pikiran." Sahut Rani menoleh sesaat, seolah tahu apa yang di pikirkan Daniel.
Daniel menghela nafas kasar, tidak menjawab kata-kata Rani.
Apa benar yang dikatakan Sherly, jika Rani diberi modal dengan pengusaha kaya? lagi dan lagi yang menjadi pertanyaan Daniel. Tetapi wanita ular itu bukankah memang pandai bersilat lidah? Tanya Daniel dalam benak.
Rani melanjutkan perjalanan, tetapi bukan menuju ke rumahnya. Melainkan menuju pondok indah di kediaman Mama Nadyn.
"Nggak pulang kerumah kamu?" Tanya Daniel tanpa menatap lawan bicaranya.
"Mendingan kerumah Mama Nadyn saja, aku kangen sama Mama, sama Icha, kalau ada yang lagi marah sama aku ada yang menghibur." Sindir Rani.
Daniel menoleh cepat. "Siapa yang lagi marah!" Jawab Daniel lalu membuang muka.
"Aku paham kok Mas, kalau Mas memikirkan kata-kata Sherly, karena aku kemarin juga sempat berpikir seperti itu"
"Waktu Sherly mengaku menikah siri dengan Mas"
"Seharusnya kita jangan terpengaruh dengan kata-kata rubah betina itu, sebab Sherly tuh ingin menghancurkan rumah tangga kita, kalau kita terpancing berarti dia menang." Tutur Rani.
"Kenapa tadi Mas bisa bersama Sherly di Cafe, Mas lagi kencan bareng" Goda Rani.
"Ihh, Najis!" Jawab Daniel kesal.
"Habisnya, bisa berempat di situ, terus ngapain kalau nggak janjian sama dia."
"Sudahlah, tidak usah bahas dia, bikin kesal saja." Pungkas Daniel.
"Masih lama kamu kuliahnya?" Tanya Daniel mengalihkan.
"Baru setahun, masih setahun lagi! kenapa memang?" sahut Rani.
"Terus kapan kita akan pindah, aku ingin kita menempati rumah yang di Pamulang" "Tinggal bersama, dan memulai kehidupan yang baru." Kata Daniel memohon.
"Nanti dulu Mas, paling tidak tunggu sampai kuliah aku selesai, kalau pindah sekarang pasti akan repot kuliah kejauhan." Rani beralasan. Sebenarnya Rani masih ragu akan sikap Daniel yang selalu berubah.
"Iya, tapi aku nggak enak, sama orang lain, sebagai laki-laki masa aku harus numpang di rumah kamu sih" Kata Daniel cemberut.
"Kita ini kan suami istri Mas, punya aku ya punya Mas, jangan bicara ngelantur."
"Iya jelas lah aku kan kepala rumah tangga yang harus menafkahi kamu, bukan sebaliknya." Tutur Daniel. Ia seketika ingat waktu memberi uang nafkah kepada Rani, tetapi tidak di pakai oleh Rani. Daniel merasa menjadi suami tidak di anggap oleh Istri.
__ADS_1
"Sudah lah Mas nggak usah melebar kemana-mana" Rani juga seketika ingat tidak membelanjakan uang pemberian nafkah dari suami. Karena menurut pemikiran Rani Daniel tidak menganggap jika Rani ada di sampingnya.
Di dalam mobil menjadi hening, Rani dan Daniel pikiranya traveling memikirkan kejadian yang telah berlalu. Hati jika sudah terluka akan sulit untuk di sembuh kan, akan menyisakan bekas entah kapan bekas luka hati akan berangsur pulih.
Dari tangerang ke jakarta, Rani melewati jalan tol. Perjanan menjadi cepat saat ini waktu masih jam dua siang.
Tetapi terasa lama, karena ketegangan mereka di dalam mobil.
Sampai di komplek Pondok indah, yang hampir setahun tidak Rani kunjungi. Komplek perumahan elit, hanya di miliki oleh orang-orang berduit, pengusaha dan artis-artis.
Rani flashbach, 4 tahun yang lalu ketika baru bekerja di rumah Daniel. Dan tidak akan menyangka bisa menjadi Istri laki-laki yang kini duduk di sebelahnya. Yang mampu menggetarkan hatinya. Tetapi juga menggoreskan banyak luka di hatinya.
Rani berkali-kali menghela nafas. Begitu rumit biduk rumah tangga yang harus Rani lakoni. Saat ini hanya bisa berserah diri kepada allah. Sebagai Istri Rani sudah memberi kesempatan dan memberi maaf semoga perjalanan rumah tangganya akan berjalan langgeng hingga maut menjemput.
Rani menghentikan mobilnya di depan gerbang yang menjulang. Rumah besar berlantai dua. Rani memencet bel. Setelah Security membuka gerbang. Rani masuk ke dalam dan memarkirkan mobilnya. Daniel dari tadi hanya diam entah apa yang masih membuatnya membisu.
"Assalamualaikum..." Rani masuk setelah Bi Inah membuka pintu.
"Waalaikumsalam..."
"Ya Allah.... Mbak Rani kemana saja?" Tanya Bi Inah seraya menyalami tangan Rani.
"Hehehe...cari udara segar di luaran Bi, habisnya keadaan rumah semakin lama semakin sumpek." Jawab Rani menatap Daniel, seolah menyindirnya.
Daniel tidak menimpali kemudian menapaki anak tangga. Masuk ke dalam kamar.
"Mama kemana Bi?" Tanya Rani clingak clinguk mencari sang mertua yang sudah sangat ia rindukan.
"Di kamar Mbak...saya pañggilkan dulu ya..." Bibi berlalu hendak memanggil Mama Nadyn. "Kalau lagi tidur jangan di bangunkan Bi" Cegah Rani.
Rani kemudian duduk di sofa ruang tamu, rasanya menjadi asing masuk kedalam rumah ini.
"Mana...mana...menantu Mama?" Mama Nadyn heboh setelah keluar dari kamarnya.
"Mamaaaa..." Sapa Rani berlari menghampiri Mama.
"Rani...ya Allah nak.... kamu kemana saja?" Rani dan Mama Nadyn saling berpelukan melepas tangis mengharu biru. Mama Nadyn tidak menyangka bahwa menantunya akan kembali setelah anaknya berkali-kali menyakiti menantunya.
Mama melepaskan pelukanya memandangi Rani dari atas sampai bawah.
"Mama kok, lihatin terus, kenapa Ma?"
"Kamu sekarang semakin cantik, berisi lagi." Mama memuji.
"Masa sih Ma, perasaan Mama saja kali karena lama nggak ketemu, Mama juga semakin cantik kok." Ucap Rani.
Mama berpikir, waktu masih tinggal bersama anaknya. Rani kurus dan tidak merawat dirinya. Tetapi kini semua berubah 180 derajat segitu menderitakah menantunya bersuamikan anaknya? Mama merasa bersalah.
__ADS_1