ISTRI SANG MAJIKAN 2

ISTRI SANG MAJIKAN 2
Part 80


__ADS_3

Siang hari tidak panas dan tidak juga hujan. Selepas dari taman, Bambang kembali ke showroom. Di perjalanan Bambang hatinya bagai tersayat sembilu.


"Jangan mendekat! jangan sentuh saya! sudah berapa wanita yang menjadi target anda hah?! anda hanya akan meniduri dan meninggalkan sasaran anda kan?! "Saya sudah paham laki-laki penjahat kelamin seperti anda!"


Kata-kata itu selalu terngiang di telinga. Tidak menyangka, wanita yang akan di nikahi. Bisa melontarkan kata-kata sekejam itu.


"Astagfirlullah...Astagfirlullah...." Bambang selalu istighfar. Sepanjang jalan.


Ia akui memang salah, tetapi setidaknya Weny berpikir dulu sebelum berucap. Di tengah perjalanan saat lampu merah menyala. Bambang menoleh ada Masjid. Bambang segera membawa motorya masuk kedalam.


Setelah parkir dan buka helm Bambang mencari tempat wudhu. Sampai di dalam, ia menjadi pusat perhatian. Namun, tetap melangkah tidak peduli. Setelah shalat dzuhur berjamaah di masjid terasa lebih tenang. Bambang kembali melanjutkan perjalanan.


*****


"Sudah sampai boss" sapa Topan ketika sedang bergijabu dengan tugas yang menumpuk.


"Seperti yang kamu lihat!" sahutnya ketus.


"Siapkan mobil, antar saya ke rumah Rani!"


"A anu...Rani boss?" Tanya Topan gagap. Situasi sedang memanas begini, mengapa boss malah mau pergi kerumah Rani? tanya Topan dalam hati. Topan hanya diam menatap boss tidak berkedip.


"Cepat Topan!" Tukas Bambang.


"Baik, baik boss" Topan keluar cepat meninggalkan boss.


Bambang mengela nafas, menatap kepergian Topan. Seharusnya dirinya tidak bersikap begini dengan Topan. Hanya karena suasana hati membuatnya bersikap kasar. "Astagfirlullah..." Bambang lagi-lagi istighfar. Kali ini Bambang mengenakan masker agar tidak menjadi perhatian orang di jalan.


"Sudah siap boss" ucap Topan seraya ngos ngosan sebab ia berjalan setengah berlari.


Mereka berjalan menuju mobil yang sudah di nyalakan oleh Topan.


Didalam mobil kali ini Topan tidak bersuara. Keadaan sedang memanas tentu Topan lebih baik diam.


"Kita cari ke cafe dulu Pan, kalau tidak ada baru kerumah Rani"


"Baik boss, tapi...." Topan tidak melanjutkan kata-kata nya.


"Kenapa?" Bambang menoleh Topan.


"Benar boss, mau menemui Rani dalam situasi seperti ini?" Tanya Topan tampak hati-hati khawatir menyinggung boss.


"Kamu ini bagaima? Weny kan tinggal bersama Rani." Ucap Bambang bingung asistenya yang cerdas mengapa menjadi bodoh.


"Oh iya, ya, boss..." Topan nyengir.

__ADS_1


"Tetapi saya mau bicara dengan Rani juga, biar semua masalah cepat selesai."


"Baik, boss"


"Saya baru tahu Pan, ternyata sahabat kamu itu, mulutnya pedas"


"Memang apa yang di katakan Weny boss?"


"Sungguh menyakitkan Pan, tidak menyangka saja, yang saya lihat awalnya pendiam ternyata, diam-diam menghanyutkan." Tutur Bambang hampir menyerah.


Bambang menyesal, sekarang terjebak dalam permainannya sendiri. Dan saat ini tentu yang paling terluka adalah Rani. Bambang akan melakukan apapun asal Rani mau memaafkan dirinya.


Topan tidak menjawab. Ia tahu sifat persis sahabatnya, sebab dia tinggal berhadapan. Wataknya menurun dari Ayahnya, keras kepala, dan arogan.


Sebagai tengkulak sayur. Pak Cipto di kenal pria egois. Kadang warga di buat kesal oleh perlakuan beliau.


Hanya Pak Siswo satu-satunya orang yang di takuti ayah Weny. Pak Siswoyo orang yang dituakan di kampung. Sifatnya baik dan tidak sombong. Maka kedua anaknya pun bersifat demikian.


Dan saat ini kedua keluarga itu pasti sedang selisih paham. Topan menghela nafas panjang.


"Pan, kamu mau kemana?" "Sudah sampai cafe tuh" Bambang bingung Topan nyelonong melewati Cafe.


"Oh ya Allah...hehehe...sorry boss" Topan nyegir. Kenapa otaknya menjadi ngebleng.


"Biar saya saja yang turun boss"


"Boss kata Mira, Weny sudah mengemasi barang-barangnya" Ucap Topan lalu tancap gas. Berlalu dengan kecepatan tinggi.


"Tidak usah terburu-buru Pan, bosan hidup memang" Tukas Bambang. Sebab Topan mengendarai mobil tidak seperti biasa.


"Bukan begitu boss, kalau sampai Weny pulang kampung, lalu Ayahnya tahu apa yang akan terjadi? pasti keadaan tambah runyam boss"


"Kamu ini bagaima Pan, sekarang juga pasti sudah tahu, berita di televisi sudah tayang di seluruh stasiun" Bambang menanggapi lebih santai.


"Oh iya boss, betul" sangking bingung Topan hari ini bbenar-benar bodoh.


Sampai di pintu gerbang komplek. Bambang melihat Weny sedang menunggu taksi. Dan banyak barang bawaan yang berjejer di sebelahnya.


"Boss itu Weny"


"Berhenti Pan" Topan berhenti di depan Weny. Weny mundur tidak tahu jika yang berhenti di depanya adalah Bambang. Sebab mobil yang di pakai berbeda.


"Weny...kamu mau pulang kampung? saya antar ya." ucap Bambang lembut.


"Tidak perlu!" Tukas Weny menatap Bambang sinis, kemudian beralih menatap Topan di depanya.

__ADS_1


"Plaakk..." Lima jari mendarat di pipi putih Topan. Topan meraba pipinya yang perih.


"Weny! kasar sekali kamu!" sentak Bambang.


"Apa? kalian semua pendusta! dan kamu Topan! mulai detik ini, kita bukan sahabat lagi!" Weny menunjuk Topan. Topan terpaku di tempat tangannya masih memegangi pipinya. "Kamu bersekongkol dengan dia kan?" "Kamu ternyata laki-laki penjilat Pan, demi uang kamu tega membohongi saya!"


"Weny, tenangkan dirimu, dengarkan penjelasan saya dulu, kamu harus bisa mengontrol emosi kamu."


Pleek! Weny menepis tangan Bambang yang akan menyentuh pundaknya untuk menenangkan.


"Jangan sentuh! saya bilang! saya muak lihat tampang anda yang sok kalem! semua omong kosong!"


"Ternyata semua itu hanya untuk menutupi perbuatan buruk anda!"


"Weny...astagfirlullah...kata-kata kamu dari tadi pagi sungguh membuat saya terluka, Weny...istighfar Weny...." Bambang benar-benar kecewa.


Tin tiin...taksi datang.


"Wen, tidak usah naik taksi, saya antar sampai kampung ya..." Bambang mengangkat koper Weny.


"Pergi! jangan sentuh barang-barang saya!" Tukas Weny. Seraya mengangkat koper.


Bambang netranya mengerling searah gerak tangan Weny yang mengangkat barang. Ingin membantu tetapi tangannya di tahan Topan.


"Biarkan saja boss, percuma" Ucap Topan. "Tidak ada gunanya membujuk orang sekeras Weny" "Yang ada, hanya akan membuang energi." Topan sudah tahu sifat Weny yang sekecil kecilnya. Bambang dan Topan hanya bisa menatap kepergian Weny hingga menghilang dari pandangan.


"Mari boss sekarang kerumah Rani" Topan hendak naik ke dalam mobil.


"Tunggu Pan, kita duduk di sini dulu" Bambang duduk di pos satpam Komplek. Topan mengikuti. Setelah meminta Izin kepada Pak Satpam.


"Mas mau kemana" tanya Satpam.


"Mau silaturahmi kerumah teman saya Pak, blok B nomer delapan." sahut Topan.


"Oh Mbak Rani ya?"


"Betul, Bapak kenal?"


"Kenal Mas, dia itu orangnya baik selali, eh...sekarang malah di gosip kan yang tidak, tidak"


"Bapak percaya dengan gosip itu?" sambung Bambang dengan mengenakan masker, satpam tidak mengenali dirinya.


"Tentu tidak Mas, jaman sekarang tuh, foto bisa di buat sedemikian rupa, saya juga kenal kok, sama suami Mbak Rani."


"Orang harmonis begitu, masa di tuduh selingkuh sama orang lain."

__ADS_1


.


__ADS_2