ISTRI SANG MAJIKAN 2

ISTRI SANG MAJIKAN 2
Part 118


__ADS_3

"Eh Mbak e, kenalkan. Nama saya Panji, adik sepupu Wibi, ya ini orangnya, seng bagus dewe" ucap Panji menunjuk dirinya sendiri kemudian bersalaman tak kunjung dilepas.


"Plak! tangan Panji di tepis Bambang. "Jangan lama-lama jabat tangannya bocah elek!" Bambang mlotot.


"Weh lha, sampean ki gampang banget dapat yang ayu-ayu, mbok saya ini di kasih satu to, Mas Wibi" seloroh Panji. Mulutnya segera di bekap Bambang.


Eneng hanya tersenyum melihat gaya Panji yang lucu.


"Sini lid, duduk di samping aku, jangan lama-lama dekat lele, nanti di patil" Bambang berseloroh menarik tangan Eneng agar duduk disamping.


"Nanti dulu Mas, saya ambil kue lagi, masih ada yang di dapur" tolak Eneng kemudian kedapur menyusul Tante Rumi dan Ibu Widi.


Sementara Bambang dan Panji masih saling lempar banyolan.


"Mas Wibi, sampean ki loh, belum sah kok sudah di ajak tinggal di sini, jangan-jangan.. sudah mbok icip-icip"


Bluk! bantal sofa melayang ke kepala Panji.


"Masakan apa? icip-icip!" sahut Bambang melotot.


Om Marzuki hanya geleng-geleng melihat kekonyolan anak laki-laki dan keponakanya.


"Memang calon kamu, yang dulu kemana Bi?" tanya Om Marzuki kali ini serius.


"Di rumahnya kali Om, nggak pernah tahu lagi kabarnya bagaiman" sahut Bambang jujur.


"Ini... kita icipi oleh-oleh dari semarang" kata Ibu Widi membawa kue moci di susul Eneng membawa lumpia basah kas semarang.


"Nah ini... uenaaak" ucap Bambang menirukan ucapan Panji. Biasa seperti itu.


Di sambut gelak tawa yang berada di situ Enengpun ikut tertawa.


"Ngece... sampean ki" ucap Panji menatap Bambang kemudian mlengos.


"Kalian ini, kalau ketemu nggak ribut pasti sedang sariawan" celetuk Tante Rumi. "Ayo pada di makan sambunya.


Mereka pun menikmati cemilan, sambil minum teh hangat, dan saling tukar cerita.


"Ini cobain, enak loh, aaa..." Bambang ingin menyuapi Lidia di sampingnya. Semua yang berkumpul memperhatikan dua sejoli itu.


"Aku bisa sendiri" tolak Lidia, hanya berdua saja nggak mau di suapi, apa lagi banyak orang begini, ya jelas Eneng menolak.


"Aku tak merem Bak e, nggak usah isin" celetuk Panji seraya menutup wajahnya dengan bantal yang di lempar Bambang tadi.


Lidia tersenyum tersipu malu mendengar penuturan Panji.

__ADS_1


"Assalamualaikum..." di tengah sedang menikmati makanan Dira datang bersama seorang pria. Siapa lagi? kalau bukan Topan.


"Waalaikumusallam... " sahutnya.


"Om Zuki... Tante Rumi... sudah sampai?" Dira meyalimi Om Zuki kemudian cipika cipiki dengan Tante Rumi.


"Adikmu seng bagus ini, nggak di peluk" seloroh Panji.


"Oh Panji, bagaimana kabarmu?" tanya Dira menepuk pundaknya.


"Uapeeek Mbak. Yang jelas, tambah bagus" hahaha. Panji menertawakan kata-katanya sendiri.


"Iya lah, laki-laki kok, pasti ganteng" sahut Dira.


Om, Tante... ini kenalkan, calonnya Dira" ucap Dira. Topan tersenyum ramah menyalami semuanya.


"Wehla, ini... lagi. Sudah bawa calon"


"Terus aku ki, kapan...?" Panji tidak hentinya bergurau. Membuat kecanggungan Eneng dan Topan pun menjadi hilang.


"Duduk le" titah Ibu kepada Topan. "Terimakasih Bu" Topan segera duduk di samping Panji.


"Mase, duduk e, sebelah sana, nanti Dira di ambil orang, kuapok" baru bertemu sekali saja Panji sudah berani banyolan kepada Topan. Topan hanya tersenyum ramah.


"Kamu ini! disini siapa memang yang mau ambil? kalau bukan kamu sendiri" Bambang menimpali.


Tidak lama kemudian, Om Wisnu bersama Istri juga datang. Setelah berkangen-kangenan dengan keluarga semarang mereka ikut menikmati cemilan.


"Sekarang, semua sudah berkumpul. Mbak juga ingin bicara" ucap Ibu Widi memberi isyarat kepada Bambang agar mewakili.


Bambang membetulkan posisi duduknya, kemudian memulai berbicara.


"Om, Tante, semua..." "Saya mewakili Ibu saya, sudah sekian lama saya dengan Dira ingin Ibu mencari pendamping hidup. Dan Alhamdulillah...Allah mendengarkan doa kami," "Ada seorang pria yang mampu menaklukan hati Ibu." "Dalam hal ini, saya minta doa dari Om, dan juga Tante semua agar langgeng. Karena, dalam waktu dekat Ibu akan menikah." tutur Bambang lancar bak jalan tol.


"Alhamdullilah... pria mana yang mampu meluluhkan hati Mbakyu, pasti orang hebat" sahut Tante Rumi. Sebab mereka tahu selama 12 tahun menjadi janda, Ibu Widi tidak mau berumah tangga.


"Orang mana Bi?" tanya Om Marzuki dan Om Wisnu bersamaan.


Orang Yogyakarta Om" Bambang pun menceritakan semuanya siapa sosok Pak Siswo. Topan terasa di hinggapi kupu-kupu. Betapa tidak? orang yang selalu di hormati di kampungnya akan menjadi Bapak kekasihnya.


"Terus kapan pelaksanaannya Mbakyu?" tanya Tante Rumi.


"Belum kepikiran Rum" sahut Ibu Widi.


"Kalau menurut aku, hari pernikahanya, bareng sama tunangan Wibi saja" usul Om Wisnu, kemudian di setujui oleh semuanya.

__ADS_1


"Ya sudah, nanti malam, Mbak diskusi sama Mas Siswo dulu.


**********


Jam 8 malam, Pak Siswo sudah sampai di rumah Rani.


"Bapak..." Rani segera memeluk Pak Siswo. "Rani kangen..." ucapnya manja.


"Hehehe... kamu ini nduk... sudah mau punya anak loh, masih manja juga sama Bapak" ucap Bapak mengusap-usap punggung anaknya.


"Bapak apa kabar?" tanya Daniel.


"Alhamdulillah... sehat le..." sahut Bapak.


"Mas Dino... Mbak Syntia..." mereka pun berpelukan. "Huaa..." Wahyu yang baru bangun tidur di gendongan Syintia langsung menangis. Kaget melihat orang yang tidak di kenal. Rani beringsut mundur.


"Eh sayaaang... ini namanya Tante Rani" Syntia menenangkan.


Rani mengajak semua masuk dan duduk di kursi sofa.


"Syntia..." Nena yang baru selesai mandi langsung cipika cipiki.


"Huaaa..." lagi-lagi Wahyu menjerit. "Maafin Tante sayang...kaget ya?" ucap Nena tidak enak hati.


"Cup cup sayang..." Ini namanya Tante Nena." ucap Syntia.


Setelah Wahyu tenang, mereka berbincang-bincang. Rini dan Mira Menyuguhkan teh hangat.


"Jadi Benar? Bapak mau menikah dengan Ibu Widi?" tanya Rani.


"Ya... itu, kalau kalian setuju, kalau Mas mu justeru mendukung, sekarang tinggal kamu nduk, kalau kamu menolak, Bapak akan mundur" tutur Bapak.


"Tidak Pak, Rani justeru senang Bapak mau menikah lagi. Apa lagi, sama Ibu Widi tidak ada alasan untuk menolak" sahut Rani.


Pak Siswo lega, kedua anaknya sudah saling merestui.


"Lalu kapan? Bapak akan melangsungkan pernikahan?" tanya Daniel.


"Menurut Bapak secepatnya, keluarga Bu Widi malam ini ingin bertemu. Jadi, saya minta di antar sama kalian" tutur Pak Siswo.


"Tapi... apa Bapak nggak capek?" tanya Rani. Rani pikir, Bapak baru datang, masa iya? ingin langsung berkunjung ke rumah Ibu Widi.


"Tidak nduk, keluarga Bu Widi sudah menunggu, soalnya" kekeh Bapak. ( Calon pengantinnya sudah ngebet si Eneng sama Wibi kalah telak.) 🤣🤣🤣


**********

__ADS_1


"Hallo reader... jika berkenan. Mampir juga ke cerita amburadul budhe yang baru. (CERITA MAWAR, SUAMIKU MENIKAH LAGI) maaf budhe senang ya, suka membuat kalian menangis. Cepat Favorit di profil budhe ya. Terimakasih.


__ADS_2