
Menjelang maghrib Eneng sudah selesai mandi menata masakan ke dalam piring.
Membuat teh manis dan meletakkan di meja kecil.
"Jika Bambang sampai di rumah, sudah siap" Pikirnya.
Assalamualaikum..." suara berat dari luar. Siapa lagi? kalau bukan pria yang sebentar lagi akan menjadi suami Eneng.
"Waalaikumusallam..." sahut Eneng dari dalam kemudian keluar. "Duduk Tuan" ucapnya seraya menunjuk tikar.
"Terimakasih..." ucap Bambang. Bambang kemudian duduk melonggarkan dasinya.
Eneng masih terasa kaku jika ingin berjabat tangan. Merekapun saling diam.
"Enyak kemana?" tanya Bambang akhirnya mulai bicara.
"Enyak ke mushola" jawab Eneng masih tetap berdiri.
"Kamu nggak cape ya, berdiri terus?" tanya Bambang. Gemas melihat Eneng sudah hampir 10 menit berdiri terus.
"Saya ambilkan teh dulu" sahut Eneng ingin berlalu mengalihkan pembicaraan.
"Tunggu Lid, aku numpang mandi ya" ucap Bambang.
Eneng terbelalak kaget, pasalnya. Bambang yang biasa mandi dengan air shower tinggal pencet tombol air hangat atau dingin tinggal pilih. Tetapi, ingin mandi dengan ember yang biasa di pakai rame-rame. "Oh tidak mungkin! .
"Kok malah bengong? boleh nggak numpang mandi?" Bambang pun bertanya kembali.
"Bo- boleh tapi... kan?"
"Pinjam handuk ya" kata Bambang tidak menghiraukan kegelisahan calon istrinya.
"Baik Tuan" Eneng balik badan hendak ambil handuk bersih.
"Sekalian kaos ya Lid" sambungnya.
"Tapi saya nggak ada kaos yang baru" Eneng merasa bersalah padahal sisa uang tadi masih banyak. "Mengapa? tidak di belikan kaos saja" pikirnya.
"Pakai kaos kamu saja" katanya.
"Ta- tapi nggak apa-apa Tuan?" tanya Eneng gagap.
"Ayo dong... buruan... please... gerah nih..." Desak Bambang
"Baik Tuan" Eneng segera membuka lemari plastik ambil handuk bersih dan kaos belel miliknya, kemudian memilih yang agak besar. Setelah mendapatkan yang ia cari. Eneng segera kembali.
"Ini Tuan" Eneng menyerahkan kaos dan handuk.
"Heeemm... kaos calon istri ternyata wangi..." ucap Bambang sambil mengendus-endus kaos yang ia pegang.
"Iiss... pinter banget, gombalnya" kata Eneng wajahnya memerah.
"Hehehe... sumpah" kata Bambang mengacungkan kedua jarinya keatas.
"Ya sudah! cepet mandi apa! nanti keburu maghrib" pungkas Eneng.
Bambang tersenyum melangkah keluar dari kontrakan. Kemudian masuk kedalam kamar mandi membawa kaos dan mengalungkn handuk. Sambil bersenandung lirih.
__ADS_1
"Kutanamkan, tumbuh bersamamu.
"Takkan kupetik hingga akhir masa hidupku.
"Dengarkanlah kau dengar.
"Selama bumi berputar kau tetap miliku.🎶
"Dududu.." syalala..."🎵
SREEET brakk..."
Bambang terpleset jatuh terduduk. Kepalanya membentur pintu kamar mandi.
"Aduuuh..." ia meringis memegangi bokong dan kepalanya bergantian. Untung pintunya hanya tripleks jadi tidak menyebabkan luka.
"Pantas, orang nggak boleh nyanyi di kamar mandi, ternyata begini" sesalnya masih memegangi bokongnya yang merah. Namanya kamar mandi rame-rame sudah pasti licin.
Tok tok tok.
"Tuan... Tuan kenapa?" tanya Eneng panik dari luar mendengar benturan tadi.
"Nggak apa-apa Lid" sahutnya berbohong.
"Oh ya sudah" Eneng cepat-cepat pergi. Kembali masuk menggunakan mukena akan sholat ke mushola saja. Setelah mengenal Bambang hampir dua bulan. Eneng tidak lagi meninggalkan shalat.
"Kamu mau shalat maghrib di Masjid?" tanya Bambang. Tiba-tiba sudah selesai mandi.
"Ke mushala, dekat kok dari sini" sahut Eneng sudah siap berangkat.
"Aku ikut" ucap Bambang. Mereka berjalan beriringan berangkat ke mushola. Setelah Eneng menyimpan baju kotor milik Bambang di masukkan kedalam plastik.
Namun, tiba-tiba Lidia datang bersama seorang pria dan mereka pun tahu siapa Bambang. Mereka saling berjabat tangan senang juga mushola di kampungnya kehadiran orang yang sering muncul di televisi.
"Lidie... pemuda itu calon lakik lo ye?" tanya Zubaidah selesai shalat dan sudah berada di luar.
"Doakan ya Dah, semoga lancar" ucap Eneng.
"Tentu dong Lid, gue pasti bantu do'a" "Gue udeh punya buntut due, tapi lo belum kawin juge." ucap Zubaidah terkekeh senang. Sebab Zubaidah sering menjadi mak comblang. Tetapi tidak satu pun laki-laki yang singgah di hati sahabatnya.
"Nanti hari minggu, lo ikut bareng Enyak ya Dah, temenin gue" undang Eneng.
"Siap... insyaallah, gue dateng. Tapi, gue bawa anak ye" kata Zubaidah.
"Ya di bawalah... emanye di sono lo mau mejeng! berlagak masih single gitu?" seloroh Eneng. Mereka pun tertawa.
"Eh Lid, lo tadi pagi berantem ame Zainaf ye?" tanya Zubaidah. Eneng tidak menjawab.
"Die entu emang gitu! bawaanye sirik!" ujar Zubaidah mulai gibah.
"Udeh... kagak useh di bahas, nanti pahale kite habis shalat hilang loh" sahut Eneng.
"Hub. Betul lo Lid, gue duluan ye, nanti anak aye nangis lagi"
"Ye, gue juga balik kok, jangan lupe hari minggu ye"
Mereka pun berpisah, Zubaidah jalan kekiri kemudian Eneng ke kanan. Sampai di rumah. Bambang sudah berbincang dengan Enyak.
__ADS_1
"Kamu kok lama Neng" tanya Enyak.
"Iya Nyak, tadi ngobrol ame Zubaidah dulu."
"Bawa keluar makanannya ye" titah Enyak.
"Ye Nyak" sahut Eneng. Eneng mengeluarkan makan malam. Mereka makan bertiga diselingi obrolan kecil. Selelai makan Eneng mencuci piring.
"Sudah selesai belum?" tanya Bambang kepada Eneng, setelah meniriskan piring ke dalam bakul.
"Sudah kok. Ayo, keburu malam" jawab Eneng. Eneng membawa pakaian kotor milik Bambang kemudian pamit Enyak.
"Hati-hati di jalan ya nak" do'a Enyak.
"Terimakasih Bu" sahut Bambang. Setelah mencium tangan Enyak Eneng pun mengikuti langkah Bambang masuk kedalam mobil.
Bambang melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Kamu tadi pagi bertengkar sama teman kamu ya?" tanya Bambang tanpa menoleh.
"Iya! kenapa? mau belain dia?! sahut Eneng ketus. Eneng berpikir pasti Enyak Fatimah yang sudah cerita.
"Hehehe... ya nggak lah, heran saja kalau kamu sampai guling-guling di tanah" sindir Bambang menggeleng membayangkan Lidia sedang bertengkar.
"Semua gara-gara Tuan!"
"Lhoh kok aku? aku salah apa memang?" Bambang menoleh sedikit.
"Gara-gara surat kemarin, kenapa sih nggak di balas saja! aku kan jadinya yang di salahkan, sama Zainaf" tutur Eneng cemberut.
"Yah... suratnya saja, aku nggak baca kok" sahut Bambang enteng.
"Ya sudah lah! saya capek, tidak mau bahas ini lagi!" pungkas Eneng. Bambang pun akhirnya mengalah lebih baik diam. Tidak lama kemudian, mereka sampai pintu gerbang.
******
Deerrt derrr.
"Assalamualaikum..." suara Bapak yang berumur 55 tahun di telepon.
"Waalaikumusallam..." sahut Ibu yang berusia 49 tahun.
"Apa kabar Bu..."
"Baik Pak..."
"Bagaimana? hari minggu bisa datang kan?" tanya Ibu.
"Insyaallah... saya usahakan Bu, saya juga kangen sama anak saya" sahutnya.
"Sama aku nggak kangen...? tanya Ibu wajahnya memerah malu dengan pertanyaannya sendiri. 🤣🤣🤣
Ibu tidak menyadari jika kedua anaknya sedang menguping pembicaraan kedua sesepuh yang sedang kasmaran. 🤣🤣🤣
*******
Siapa hayo...? kalau yang dukung, kedua sesepuh yang baik hati ini bersatu. Segera komentar "Ya" atau "tidak"
__ADS_1
..."Budhe tunggu ye loh." ...