ISTRI SANG MAJIKAN 2

ISTRI SANG MAJIKAN 2
Part 49


__ADS_3

Rani terkejut bukan kepalang, saat ini Daniel mau membantunya memasak. "Pecitraan kah?" Monolog Rani. Rani selama ini belum pernah mendengar cerita. Bahwa saat menjadi suami Almira dulu. Daniel sering membantunya memasak. Bahkan saking cintanya dengan Almira, kadang Daniel mengambil alih pekerjaan Almira. Almira hanya tinggal duduk manis, bim salabim, bak di negeri dongeng. Apapun yang Almira inginkan hanya dengan kedipan mata, pasti tersedia. Jangankan hanya masakan, emas berlian pun jika Almira yang minta Daniel Rela merogoh kocek rp yang tak terhitung.


Jelas tolak belakang bagaimana perlakukan Daniel ketika menjadi suami Rani. Inilah yang menjadi konflik berkepanjangan antara Rani dan Daniel. Tetapi bagi Rani sama sekali tidak tergiur barang-barang mewah. Yang Rani mau hanya sedikit perhatian Daniel.


"Sudah Mas, biarin aku saja yang masak, nanti kena pisau lagi tanganya"


"Do not wory" Ucap Daniel tanpa memperhatikan istrinya. Tetapi malah mengulek bumbu yang sudah di racik oleh Rani.


Rani tersenyum, berdiri mematung memandangi kegiatan suaminya. Selama hampir dua th menikah baru kali ini Daniel mengulek bumbu.


"Ini di tumis kan yank?" Daniel meletakkan penggorengan di atas kompor dan menumis bumbu. Bak koki dadakan menurut Rani.


Rani berdesir menatap suaminya yang sedang memasak dari belakang semakin keren menurutnya.


"Sini pakai celemek dulu" Rani memasang kan celemek yang ia pakai di pindahkan ke tubuh suaminya.


Satu Jam Daniel berperang melawan penggorengan akhirnya tiga masakan matang semua.


"Cobain yank, aaa.." Daniel menyuapi Rani dengan sendok.


"Wah enak Mas, nggak nyangka aku Mas, bisa masak, tapi agak keasinan sedikit"


"Masak sih yank, keasinan, tapi wajar lah aku kan sudah nggak kawin selama hampir setahun, hehehe" Daniel terkekeh.


"Iihhh...ngeres aja sih pikiranya" Rani mendorong pelan tubuh Daniel. Selesai memasak Daniel dan Rani ngobrol di ruang televisi. Icha mungkin kecapek an jalan, pantas diam, ternyata ketiduran di kursi sofa.


Daniel mengangkat Icha ke kamar tamu, menurut Rani di suruh menidurkan di kamar Rani.Tetapi Daniel belum berani masuk ke kamar pribadi Istrinya.


"Di tidurin di mana Icha Mas?" Tanya Rani menoleh Danel yang baru duduk di sebelah Rani.


"Di kamar tamu"


"Kok di kamar tamu, bukan di kamar aku"


"Nggak enak yank, itukan kamar kamu."


"Ya Allah Mas, aku bukan Mas Daniel kali? ada istilah kamar utama kamar pribadi"


"Aku tuh bebas, Nena keluar masuk membereskan kamar aku"


"Aku nggak pernah menyimpan apa pun yang sifatnya rahasia"


Daniel tersentil, Ia merasa bersalah, betapa tidak! dulu Daniel selalu mengunci kamarnya karena masih menyimpan barang-barang milik Almira.


"Kenapa diam Mas, tidak usah di pikirkan yang lalu, biarkan berlalu"


"Bukannya Mas Daniel bilang akan memulai dari awal?"


"Terimakasih yank, kamu memang wanita terbaik"


Daniel memeluk pinggang Rani.


"Yank, aku mau tanya, bagaimana awal mula usahamu bisa maju begitu cepat?" Tanya Daniel. Pertanyaan ini seperti mengganjal di dada Daniel. Sebab pengalaman Daniel, waktu memulai usaha jatuh bangun dulu baru sekitar tiga tahun mulai berkembang.


"Saya sendiri nggak nyangka Mas, awalnya aku hanya melayani warga sekitar, dan promosi online"

__ADS_1


"Tetapi Allah mempermudah jalanku, masakan aku banyak di sukai"


"Aku menanda tangani proposal kerja sama, awalnya dengan konveksi, dengan PT Daftex, dengan Showroom"


"Showroom yank, Showroom dimana?"


"Di jalan xxx, awalnya pesan buat arisan, terus buat makan siang karyawan, buat ultah, setiap ada acara, pasti mempercayakan ke aku"


"Jalan xxx yank" Daniel berusaha mengingat.


"Oh iya, Mas ingat, itu kan Showroom milik almarhum Om Wibi Sono, dia dulu sahabat Papa" "Saat ini yang mengelola kedua anaknya, dan maju dengan pesat"


"Oh, Mas kenal juga sama dia?"


"Nggak! pernah ketemu waktu dia masih SD, sedangkan Mas sudah kuliah semester satu, kalau ketemu nggak bakal bisa ngenali."


"Kalau Mama waktu itu pernah bertemu waktu mengadakan arisan"


"Oh iya Mas, waktu itu Bu Widi belum lama ini pesan makanan, katanya memang sedang ada arisan."


"Berarti Mama Nadyn datang ya Mas?"


"Datang sama Icha malah, terus Icha bilang kuenya enak, seperti punya Umi, gitu katanya"


"Hehehe...dan ternyata memang karyawanku yang masak."


"Yank, rumahmu ramai ya seperti cost costan"


"Nanti sore kamu pulang bersamaku ya, biarkan rumahmu mereka yang jaga"


"Maaf Mas, saat ini aku belum bisa tinggal bersama Mas"


"Minggu depan insyaallah aku ingin mengunjungi Mama"


"Mengenai teman-teman, aku kasihan Mas sama dia, ingat ketika aku baru sampai di rantau"


"Uang cekak, mencari pekerjaan susah, yah,gitu lah derita anak rantau"


"Jadi aku mohon, Mas jangan terganggu dengan keberadaan mereka"


Daniel manarik nafas panjang. Biar bagaimana, Ia tidak bisa memaksa Istrinya. Saat ini memang harus bersabar menghadapinya.


Wajar jika ia masih terluka karena ulahnya.


Daniel seperti di cambuk dengan pengalaman yang ia alami. Karma ternyata memang berlaku, Istrinya yang di dzolimi, kini memetik buah yang manis atas kesabarannya. Banyak orang yang menaruh kepercayaan kepadanya.


Istrinya memang baik, banyak menolong sesama. Kini Daniel membuka mata lebar-lebar.


Dia telah mendapat karmanya. Semenjak kepergian Rani hidupnya terlunta-lunta seperti anak ayam kehilangan induk. Bahkan dirinya sampai di penjara. Daniel berkali-kali mendesah kasar.


"Puk" Rani menepuk pundaknya.


"Kok malah bengong sih Mas, nanti ada lelembut lewat loh."


"Lagi ngelamunin kamu sih yank"

__ADS_1


"Kok aku?"


"Yah, waktu kamu hidup bersama aku badanmu kurus, pasti kamu tersiksa karena aku" "Jadi aku tidak bisa memaksa kamu, lakukan yang menurutmu baik"


"Terimakasih kasih Mas, Mas sudah percaya sama aku"


"Cup" Daniel mengecup bibir Istrinya dengan lembut. Sebagai suami normal ia meminta lebih.


"Mas maaf, saat ini aku belum bisa memberikan hak Mas"


"Aku tahu aku berdosa, tapi aku minta waktu".


Daniel mengangguk pasrah.


"Umi, Icha lapar" Icha baru bangun tidur dengan mata masih setengah terpejam.


"Iya makan yuk, tapi cuci muka dulu dong"


"Tapi di wastafel ya Mi"


"Hehehe kamu itu ya! ya sudah sana" Rani menoel hidung mancung Icha.


Mereka makan siang bersama. selesai makan.


Mereka berbincang-bincang di meja makan.


"Nanti sore kita pulang dulu ya sayang, hari minggu kita kesini lagi" Ucap Daniel.


"Tapi sama Umi kan" Tanya Icha berharap Uminya akan ikut bersamanya.


"Maafkan Umi sayang, Minggu depan Umi akan menginap di sana, untuk saat ini, Umi masih belum bisa"


"Yah Umi, gitu" Keluh Icha manyun.


"Janji dech minggu depan Umi Pasti menginap di sana, tapi menginap dirumah Mama Nadyn ya Mas" Rani rasanya trauma untuk sekedar masuk ke rumah yang ia tinggali dulu.


"Papa sama Icha semenjak kepergian kamu, tidak tinggal di sana lagi kok yank, rumah itu mau Papa jual" "Tetapi harganya belum dapat penawaran yang pas."


"Memang kenapa kok di jual Mas" Tanya Rani. Sebenarnya Rani senang rumah yang di BSD di jual. Sebab banyak menggoreskan luka di hatinya, menenpati rumah mewah itu.


"Aku sudah membuat rumah yang sesuai dengan tipe kamu yank, buat kita tinggali, tetapi aku menunggu kamu baru akan pindah."


"Terimakasih Mas, sebaiknya Mas istirahat dulu, tadi malam kurang tidur" Daniel mengangguk lalu merebahkan diri di sofa.


Waktu sudah sore Daniel pamit pulang. Rani mengantarkan sampai teras rumah.


"Umi Icha pulang dulu ya" Icha mencium punggung tangan Uminya. Raci mencium pucuk kepala Icha.


"Papa pulang dulu yank" Daniel mecium kening Istrinya.


"Hati-hati ya, Mas"


"Dada Icha"


"Daaa...Umi"

__ADS_1


Daniel menyalakan mobilnya, lalu meninggalkan tempat rumah Rani.


Tidak jauh dari tempat itu ada sepasang mata yang mengintai keharmonisan mereka, lalu mengepalkan tangan.


__ADS_2