ISTRI SANG MAJIKAN 2

ISTRI SANG MAJIKAN 2
Part 134


__ADS_3

Bambang PoV.


Setelah kepergian Tomy, masih banyak teman-teman kuliah maupun teman SMA yang datang.


"Istri loe mana?" tanya Kevin teman kuliahku ia datang bersama 5 teman kami yang lain.


"Ya tidur lah... loe saja yang nggak tahu aturan! sudah waktunya istirahat baru datang!" selorohku, kami memang biasa begitu jika bertemu.


"Namanya juga tamu, ya suka-suka gw lah! sudah bagus gue nggak datang dini hari ketuk pintu loe, pas lagi asyik membobol gawang" ahahaha. kelakar Kevin, lalu aku mendelik kesal aku acungkan genggaman tangan ke wajahnya seperti ingin memukul.


"Loe Kev, namanya juga pengantin baru, keburu mau malam pertama lah" Zodi menimpali, kami ngobrol yang tidak ada mutu sampai jam 10 malam mereka baru undur diri.


Keadaan sudah sepi, pihak catering karyawan Rani juga sudah di jemput salah satu sopir restoran jam sembilan tadi. "Hii" merinding bulu kuduku tidak ada satu manusia pun. Hanya suara jangkrik yang memecah kesunyian malam.


Ingin cepat sampai tujuan kalau sampai ada Wewe ( sundel bolong) ret. "Hii..."lagi-lagi bulu kuduku merinding semua.


Kumelangkah cepat, setengah berlari menuju villa. "Mudah-mudah nggak marah" pikirku, sampai di dalam. Mataku terbelalak tatkala menatap wajahnya seperti makluk yang aku bayangkan tadi. "Benarkah ini istriku... atau ah" "tidaak..." jeritku dalam hati.


Lalu aku sadar setelah dia menggeliat. Ku mendekati ranjang kemudian menyentuh wajahnya tampak kasar seperti plastik. "Apa sih ini?


Aku tarik plastik dari atas perlahan-lahan. "Uuughh" ia melenguh kemudian aku hentikan sejenak melepas plastik yang menempel di wajahnya. Namun, lenguhanya membangkitkan juniorku. Aku coba untuk menahan tidak mungkin juga mencuri bibir di saat dia sedang tidur. Kembali kutarik plastik hinggak tampak wajah istriku terlihat segar, walaupun agak bengkak di area matanya. "Ya Allah... rupanya dia tadi menangis. Aku merasa bersalah tidak seharusnya aku berbuat begitu. Aku menelisik wajahnya dari jarak dekat. "Bibir ini... ah" rasanya ingin lagi mencoba, lalu aku bayangkan tadi pagi ketika memagut bibirnya di dalam mobil membuatku ingin mengulangi.


Tapi aku segera sadar, tidak baik menggauli istri ketika baru datang dari luar. Khawatir jika ada makkluk yang mengikuti. Lalu ku segera mandi 15 menit kemudian selesai.


Aku merebahkan tubuhku di sampingnya. Setelah ganti baju dan menjalankan shalat isya. Aku peluk tubuhnya terasa hangat. Lebih baik aku tidur melawatkan malam pertama untuk saat ini. "Belum tahu juga kan? apa reaksi istriku setelah drama membopong Weny tadi sore. Di samping kami sudah lelah juga.


******


Author PoV.


Malam berlalu, pagi hadir menyapa. Lidia membuka mata. "Dimana sih ini? ia masih dalam kebingungan.


Merasa ada benda berat menindih pahanya, kemudian ia terbangun. Matanya terbelalak tatkala laki-laki yang dicintainya tidur satu ranjang denganya.

__ADS_1


Ia baru sadar jika benda berat yang menindihnya adalah kaki Bambang.


Lidia menoleh menatap suaminya tampak damai dalam tidur. Tetapi ia kesal ketika ingat kemarin sore suaminya merangkul perempuan lain. Lidia segera menyingkirkan kaki yang mengunci pahanya perlahan, agar tidak mengganggu tidurnya.


Lidia menutup mulutnya menahan tawa ketika kaos yang di kenakan suaminya menyingkap keatas. Ia melihat pemandangan yang sangat menggelikan. Yakni puser Bambang bodong sebesar kelereng.


Otak jail Lidia pun bekerja ambil handphone kemudian mengabadikan sambil menahan tawa. Berkat (udel) bodong agak mengurangi rasa kesalnya sesaat.


Lidia kemudian bangun perlahan-lahan turun dari tempat tidur. Ambil handuk dan baju ganti hendak mandi. Namun, saat melihat masker bekas tadi malam ia berpikir. "Lah tadi malam bukanya aku pakai masker? gumamnya, lalu meraba wajahnya.


"Apa dia yang membuka ya? tanyanya dalam hati. "Ah bodok! ah" ia berlalu kekamar mandi sambil bermonolog.


15 menit kemudian Lidia keluar dari kamar mandi sudah berpakaian rapi. Ia melihat Bambang masih belum merubah posisi. Lidia geleng-geleng kalau di rumah biasanya Bambang bangun paling pertama di banding yang lain termasuk dirinya.


Tetapi kali tidak mendengar apa pun walau, Lidia sudah bergerak kesana kemari belum juga bangun.


Setelah shalat subuh, Lidia membuka pintu ingin jalan jalan di sekitar vila. Walaupun keadaan di luar masih gelap karena belum ada jam lima.


Lidia jalan menuju di mana anak-anak kemah yang ia lihat tadi malam. Ia duduk dari kejauhan mengamati anak-anak SMP yang sedang pramuka mandi di kali.


"Mau mandi dek?" tanya Lidia ketika ada dua anak yang melintas ingin menyusul teman-temanya ke kali.


"Ha-- hantuu...." teriak dua anak tersebut berlari tergopoh-gopoh melihat Lidia mengenakan mukena keadaan masih gelap memang tidak heran jika di katai pocong. Sebab, dia memakai mukena.


"Kak, ada pocong kakak..." anak itu menghampiri pembina yang masih berpakaian santai kas bangun tidur.


"Pocong?" tanya pembina dengan dahi berkerut.


"I--iya, kak"


"Ayo kak" anak laki-laki yang masih SMP menarik pembinaannya mendekati di mana Lidia duduk.


"Mana pocongnya?" tanya pembina ketika sampai di tempat. Menyalakan lampu senter, kontan lampu senter menerpa wajah lidia.

__ADS_1


"Pocong kok cantik" gumam pembina.


"Mbak, kakak, teteh. Ada keperluan apa disini?" tanya pembina menyelidik, pembina heran di tempat sepi begini ternyata ada wanita cantik. Pakai mukena pula.


"Eh, tidak Kak. Jalan-jalan saja"


"Maaf, senternya jangan menyorot muka saya terus dong! silau soalnya." protes Lidia merasa orang ini tidak sopan menyenteri wajahnya dari tadi.


Lidia akhirnya pergi tidak memperdulikan jawaban orang itu ia berjalan menghirup udara segar di pagi hari. Tiba-tiba ada yang menggandeng tangannya.


Lidia menghempas tangan orang itu. "Kok galak banget" Bambang mengejar langkah Lidia yang cepat.


"Ngapain? pegang-pegang!" ketus Lidia kemudian melengos.


"Pegang istri sendiri boleh dong" Bambang menanggapi dengan santai.


"Pegang saja sana, mantan mu!" tukas Lidia kemudian berlari menuju villa. Bambang kemudian mengejarnya. Sampai di villa Lidia membuka mukena kemudian melipat.


"Kamu cemburu ya? maaf ya aku nggak bermaksud apa-apa," ucap Bambang kemudian mendekati Lidia.


"Enak banget! bilang maaf sih, gampang!" ucap Lidia kemudian duduk dengan kasar di tempat tidur.


"Yang pasti sudah merasa senang kan? mengulang adegan romantis yang sempat tertunda!" ketusnya, tampak menghindar dari tatapan Bambang yang tersenyum gemas menatap bibir Lidia yang menyan menyon tampak lucu.


"Mana aku di tinggal sendiri di pelaminan, malu tau nggak" omel Lidia meluapkan kekesalannya.


Bambang tidak sepatah kata pun berucap. "Ya maaf" Bambang berjongkok di depan Lidia posisi lutut menopang badan.


"Terus, kamu sendiri apa? mantan kamu juga kamu undang kan?"


"Mana pakai nyinyir lagi!" Bambang ikutan kesal.


"Ih, sok tahu! aku nggak pernah punya mantan kok" Mereka pun akhirnya berdebab hingga "kriuk kriuk" perut Lidia keroncongan wajahnya merah malu kedua nya pun tertawa. Lidia makan hanya kemarin siang. Makan malam pun ia lewatkan karena kesal di tambah malas nyari makan di prasmanan.

__ADS_1


__ADS_2