
Lidya Wati PoV
Mengapa semua harus terjadi seperti ini, entah kesialan atau keberuntungan bagiku. Yang aku tahu, hanya sang maha pencipta yang tahu akan rahasia hidupku.
Aku duduk bersimpuh di lantai dengan rasa sesak. Air mataku seolah tidak berhenti menetes.
"Maaf, kalau aku selalu membuat kamu menderita, aku tadi terburu-buru, ingin buang air kecil." "Karena, yang terdekat hanya kamar mandi itu. Aku lansung masuk, bahkan sampai tidak sempat mengunci pintu kamar mandi" terang pria yang aku benci turut bersimpuh di depanku.
"Ini semua gara-gara anda! saya benci anda!" hiks hiks. Aku memukul-mukul dadanya pelan.
"Aku nggak mau tahu, jangan memberi penjelasan padaku, tetapi, beri penjelasan kepada Nyonya! aku tidak mau menikah dengan pria menyebalkan seperti anda!" jawabku sinis.
"Lid, dengar" ia mengangkat daguku agar menatapnya.
"Lihat mata aku Lid, apa ada kebohongan disini?" ia menunjuk netranya. Aku mau tidak mau menatap matanya yang teduh, masih seperti dulu. Hatiku mulai goyah. Namun, segera aku tampik. Sebab rasa sakit hatiku masih lebih dominan.
"Kalau dulu, aku pernah mempermainkan perasaan kamu"
"Tetapi tidak untuk saat ini, terus terang Lid, ketika kamu memecahkan gelas tempo hari"
"Aku jatuh cinta pada pandangan pertama." tuturnya.
"Omong kosong!" sentakku.
"Lid, aku memang ingin menikah sama kamu, karena kamu lah saat ini yang mampu membuat hati aku bergetar." katanya lagi.
"Jadi, ini hanya akal-akalan anda? agar aku mau menikah dengan anda kan! ia kan?! hiks hiks.
"Jika Anda tahu, karena ulah Anda tujuh tahun yang lalu, hati aku hancur! bahkan, Aku tidak ingin lagi bertemu sama laki-kaki seperti kamu."
Aku memanggilnya kamu mungkin karena emosiku sedang meluap.
"Dan nyatanya, kita di pertemukan, Lid, kita adalah jodoh," kekeh nya.
"Pokoknya, aku nggak mau nikah sama kamu! pergi dari hadapan aku! pergiii..." usirku sambil terisak.
Dia pun berdiri menaiki anak tangga. Berhenti sesaat memandangku sendu. Kemudian melangkah lagi meninggalkan aku yang rasanya ingin melempar benda apapun kepadanya. Namun, tidak ada apa-apa di sampingku selain kursi sofa.
Aku berdiri, rasa ingin buang air kecil tadi telah hilang entah lewat mana. Aku kedalam kamar memasukan baju aku asal kedalam tas. Pergi dari sini mungin akan lebih baik pikirku.
__ADS_1
"Neng, kamu sedang apa?" Bi Ipah yang baru pulang dari pasar lalu menemui aku. Mungkin, ia ingin di bantu membereskan belanjaan.
"Bi Ipah..." hu huuu..." Aku langsung peluk dia cepat sampai Bibik terhuyung kebelakang. Bibi membalas pelukan aku dengan hangat.
"Neng, kenapa kamu?" Bi Ipah mengurai pelukanya kemudian mendorong pundakku.
"Sini duduk, jelaskan pada Bibi ada apa?" Bibi menuntun aku duduk di pinggir tempat tidur.
Aku menceritakan semua kepada Bibi. "Oh jadi begitu ceritanya Neng" ujar Bibi setelah mendengarkan ceritaku.
"Iya Bi, apa lagi Tuan muda saat menindihku baru memakai celana panjang setengahnya" hu huuu..." Ingat tadi aku kembali menangis.
"Ya Allah...pantesan Neng, Nyoya marah jadi begitu ceritanya, ya wajarlah lah Neng kalau Nyonya murka, kalau Bibi yang melihat pertama kali pasti Bibi juga akan berpikiran sama."
"Terus... kamu mau kemana?" tanya Bibi melihat tas yang sudah berisi pakaianku.
"Bi, saya mau pulang dulu untuk sementara, untuk menenangkan diri, dan memikirkan semuai ini" sahutku.
"Tapi, kamu sudah pamit nyonya?" tanya Bibi seraya menyelipkan rambutku yang hampir menutup mata. Aku menggeleng.
"Sebaiknya, kamu pamit Nyoya dulu Neng" kekeh Bibi. Aku menggeleng lagi. "Bi, kalau Eneng pamit, pasti tidak akan di izinkan. Jadi tolong, sampaikan permohonan maaf saya kepada Nyonya. Jika Eneng sudah berpikir jernih, saya akan kembali kemari Bi."
"Ya sudah, kalau itu keputusan kamu Neng, hati-hati di jalan ya" do'a Bibi.
Aku keluar rumah dengan langkah kaki berat sambil menenteng tas. Baru senang mendapatkan pekerjaan justru menjadi menambah masalah baru.
*********
"Mas, aku mau cilok" pinta Rani ketika mobil Daniel melintas di pinggiran pedagang kaki lima yang berjejer jajanan murah meriah.
Daniel menghentikan laju mobilnya.
"Apa itu cilok?" Daniel bingung belum pernah mencoba makanan itu. Namanya pun terasa asing di telinga.
"Itu Mas, aku turun ya, Mas tunggu disini saja" Tanpa menunggu jawaban suaminya. Rani berjalan mlipir karena terhimpit banyak gerobak.
Daniel mengangguk. Namun, netranya terus memantau pergerakan istrinya. Tidak lama Rani kembali membawa tiga bungkus mika berisi cilok, janggung rebus campur cenil dan ketan hitam yang sudah di taburi keju dan gula. Yang satu mika berisi buah mangga yang matang sudah di potong-potong.
"Mau Mas cobain" ucap Rani. Setelah masuk ke dalam mobil langsung membuka bungkusan cilok lantas melahapnya.
__ADS_1
"Aaa...Rani menyuapi suaminya dengan tusukan lidi.
"Kok alot gini yank" Daniel tampak mengunyah cilok yang kenyal cukup lama. Padahal Rani sudah hampir habis satu mika.
"Namanya cilok Mas, ya alot kan di buat dari sagu" sahut Rani tampak asyik menikmati cilok.
Setelah habis makan cilok, Rani membuka cenil. "Yang ini Mas cobain" Rani kembali menyuapi. "Kok yang ini juga alot" protes Daniel.
Rani tidak menimpali tetap melahap cenil sampai habis. Hidangkan penutupnya makan buah mangga.
"Alhamdulillah...kenyang Mas" Rani mengelap mulutnya dengan tissue kemudian menyandarkan kepalanya di jok.
Belum ada sepuluh menit sudah pulas. Daniel menggeleng keheranan pasalnya istrinya menyantap makanan berjumlah banyak dengan cepat. Daniel menepikan mobilnya dan mengganjal kepala istrinya dengan bantal perlahan-lahan agar tidak bangun.
Kemudian kembali menjalankan mobilnya. Sampai halaman rumah Mama Nadyn. Daniel membopong tubuh Istrinya melewati Siksa dan Deny yang sedang duduk santai di sofa. Membawanya kekamar dan membaringkan di ranjang.
*****
"Bang Dani mah orangnya sayang, perhatian, enak ya jadi Rani" sindir Siska kepada Deni.
"Memang aku nggak perhatian" Deni menimpali.
"Nggak tahu dech, memang pernah Mas Deni gendong aku, suapi aku, boro-boro membuatkan masakan" Siska merajuk.
"Ooh...jadi pengen di gendong, kaya kakak Ipar tadi, hayo" Deni mau mengangkat tubuh Siska dari kursi. Namun, Daniel keburu kebawah.
"Mama kemana Den?" tanya Daniel kemudian duduk di kursi.
Deni pun ikut duduk menatap Siska yang menatapnya kecewa.
"Ada di kamar, lagi istirahat kali, tadi habis bikin kue"
"Terus Icha kemana?" tanya Daniel kemudian.
"Icha kan bobok di kamar" jawab Deni seraya mengusap-usap punggung tangan Siska.
"Bagaimana Dan, hasilnya?" tanya Mama Nadyn keluar dari kamar lalu duduk berhadapan dengan Daniel.
"Alhamdulillah Ma, Rani benar hamil " sahut Daniel lalu berdiri memeluk Mama Nadyn.
__ADS_1
"Syukurlah Nak...Mama bangga, sebentar lagi kalian akan merberi Mama cucu."
Mama Nadyn memeluk kedua anak dan menantunya dengan rasa haru.