
Malam terasa sepi. Rani tidak dapat memejamkan mata. Ia menatap langit-langit merasa punya dua sisi kehidupan. Terang dan gelap seperti yang orang bilang roda akan berputar kadang di bawah dan kadang di atas. Tetapi roda hanya buatan manusia sedang siang dan malam milik sang pencipta.
Gelap dan terang perumpamaan ia menjalani kehidupan rumah tangga bersama Daniel. Dan roda berputar karena saat ini usahanya terus berkembang. Dengan susah payah Rani gelisah miring kiri, miring kanan, akhirnya tertidur.
Malam berganti, matahari masih bersembunyi di balik cakrawala, sayup-sayup, terdengar lantunan ayat suci alquran. Rani turun dari ranjang lalu melakukan ritual pagi. Rani keluar dari kamar teman-temanya sudah sibuk dengan tugas masing-masing.
"Masak apa Nen?" Rani kedapur menyapa Nena.
"Aduh kaget Ran" Nena sejenak menghentikan kegiatannya dan mengelus dada.
"Bikin nasi uduk Ran, jadi ingat bu Zubaidah kalau pagi suka bikin nasi uduk."
"Okay di lanjut, aku mandi dulu ya" Rani bergegas ke kamar mandi.
Setelah selesai mandi Rani dan temannya berkumpul dan sarapan pagi.
"Kok Wajahmu kusut banget Ran" Kata Weny menatap sahabatnya.
"Iya, tadi malam nggak bisa tidur aku tuh "
"Kenapa? kangen suami ya, udah Ran, lebih baik secepatnya berkumpul dengan suami kamu, daripada menyiksa diri sendiri"
Rani tidak lagi menimpali segera menghabiskan sarapannya. Selesai makan, Rani kekamar menggunakan masker wajah agar terlihat segar sebelum berangkat kerja.
*****
Di tempat yang berbeda Ibu Widi dan kedua anaknya sudah selesai sarapan.
"Bi, Ibu mau bicara" Bu Widi duduk disamping Bambang.
"Ada apa Bu, kok serius banget" Jawab Bambang lalu meletakkan handphone di atas meja.
Ibu menatap Bambang saksama. "Bi, usia kamu saat ini sudah hampir 27" Ibu beranjak dari duduk pindah kursi di depat Bambang.
"Lalu?" Bambang menyipitkan mata. Bambang sudah bisa menebak jika Ibu menyinggung umur pasti akan membahas masalah jodoh.
"Ibu ingin kamu segera menikah Bi" "Ibu sudah menyiapkan jodoh untuk kamu"
Bambang mengakat kepalanya cepat.
"Jangan mulai lagi bu, main jodoh-jodohkan" Bambang sudah membayangkan jodoh pilihan Ibu Widi. Yang sudah sekian kali Bambang tolak, karena tidak sesuai dengan kriteria sebagai calon istri.
"Bi, dengarkan Ibu, yang ini beda" "Paling tidak, kamu bisa berkenalan dulu dengannya" Ibu meremas telapak tangan Bambang di atas meja.
"Bi kamu ingin calon istri yang shaleh kan nak?" Tanya Ibu dengan raut wajah meyakinkan.
"Terus, siapa lagi yang akan Ibu jodohkan buat wibi, anaknya Tante Sarah, Tante Rumi, Tante Nadyn atau Tante siapa lagi?" Bambang absen teman-teman Ibu satu persatu.
__ADS_1
"Kamu tau kan anak baru yang kerja di restoran DUKRENGTENG?" Tanya Ibu.
Bambang menatap nyalang wajah Ibu.
"Yang kemarin mengantarkan pesanan itu loh Bi, entah mengapa setelah melihat gadis itu, Ibu terasa dekat dengannya, langsung jatuh hati padannya" Ibu Widi mengulas senyum berbinar, menatap jauh kedepan seperti melihat harapan, akan menantu yang baik, shaleh, dan memberikan banyak cucu.
Bambang memperhatikan Ibu Widi yang sedang menghalau hanya bisa menggeleng, dan menghela nafas.
"Bagaimana Nak, kamu mau kan?" Tanya Ibu menunggu jawaban dari Bambang tidak sabar.
"Wibi tidak bisa jawab sekarang Bu, besok kita bicarakan lagi" Bambang lalu berdiri. "Wibi berangkat ya Bu" Wibi mencium punggung tangan Ibu lalu beranjak.
"Dira! cepetan ayo berangkat" Bambang memanggil adiknya Ayu Wandira dari luar kamar yang tidak di tutup.
"Bentar kak! tanggung" Sahut Dira yang sedang merias sedikit wajahnya.
Bambang menunggu di sofa sambil mengibas-mengibas kaos kaki kemudian memakainya. Sambil menunggu Dira, Bambang memikirkan permintaan Ibunya. Duduk bersandar di sofa lututnya menopang satu kakinya.
Tak tak tak, Dira terburu-buru menuruni anak tangga. "Let,s go" Dira mendekati kakaknya.
"Lama amat sih Dir, perempuan tuh kalau sudah dandan menyebalkan! tau nggak! di tunggu dari tadi bukanya cepat, kuku di korek-korek, wajah di poles-poles, sudah jelek mah! jelek saja!" Bambang ngomel segera beranjak dari duduknya dan meninggalkan adiknya naik kedalam mobil dan menyalakan.
Dira diam terpaku tidak beranjak, baru kali ini melihat kakaknya marah. Padahal walau suka bertengkar hanya di mulut saja.
"Diraaaa...cepetan!" Teriak Bambang dari luar. Dira semakin takut segera berlari masuk kedalam mobil dan menggunakan sabuk pengaman.
Bambang hari ini kesal, dengan dirinya sendiri. Kenapa harus bertemu Rani sekarang, bukan dari dulu atau tidak usah bertemu. Kini hatinya terasa sakit. Beginikah rasanya orang patah hati?
"Aaaagggghhhh..."Bambang berteriak dan membanting setir ke kiri.
"Kakaaaaaakkk..." Dira berteriak kencang dahinya membentur dasboard mobil.
"Astagfirlullah..." Bambang tersadar lalu istighfar memijit pelipisnya.
"Sorry dek, mana yang sakit?" Bambang panik menarik pelan pundak adiknya yang masih shock. Menunduk menetralkan debaran di dadanya. Dira menepis tangan kakanya kesal.
"Kakak kenapa sih? kalau lagi ada masalah jangan suka bawa mobil, bosan hidup memang" Dira melototin kakaknya. Memegangi dahinya yang benjol.
"Maaf, kakak nggak sengaja" tuturnya lirih. Bambang menyandarkan badanya di kursi pengemudi. Tetapi ingat adiknya kebentur Bambang langsung bangun dan mendekat.
"Sini kakak obati" Bambang menyibak kerudung adiknya, melihat dahinya sedikit benjol dan memar. Bambang ambil saputangan dan di celupkan ke air hangat yang selalu di siapkan oleh Ibu Widi setiap hari. Ia mengompres dengan telaten dan menempelkan plester.
"Minggir! aku yang nyetir" Kata Dira melangkahi setir mendorong kakaknya turun dari mobil.
Bambang turun dari mobil, lalu berputar pindah posisi.
Dira menjalankan mobilnya. Mereka diam tidak ada yang memulai bicara. Tidak terasa mereka sampai di depan Showroom. Dira memarkirkan mobilnya kemudian turun lebih dulu tanpa menuggu kakaknya. Bambang masih lemas dengan apa yang baru saja terjadi. Ia menyesali kecerobohan dirinya.
__ADS_1
Sampai di lobby showroom dira berpapasan dengan Topan.
"Selamat pagi Non" sapa Topan mengangguk sopan.
"Pagi" Jawab Dira melewati Topan.
Topan memperhatikan wajah Dira ada yang aneh, lalu mengejarnya.
"Non apa yang terjadi, boss Wibi kemana? terus dahinya kenapa?" Tanya Topan memburu.
"Boss loe tuh, hampir aja bunuh gue!" Tukas Dira. Menatap kakaknya yang baru datang sinis. Lalu pergi meninggalkan Topan dan Bambang.
Bambang yang baru saja sampai menggerakan tangannya. Memberi isyarat agar Topan mengikutinya.
Bambang masuk kedalam ruangannya dan mendudukkan bokongnya di kursi kebesaranya.
Melihat boss yang sedang tidak baik, Topan beringsut mundur dan duduk di kursi sofa.
5 menit, 10 menit, Topan menuggu tetapi tidak ada tugas dari boss. Topan beranjak ingin melanjutkan pekerjaannya.
"Tunggu Pan" Bambang menghentikan langkah Topan.
"Ada apa boss?"
"Duduk" Bambang menunjuk kursi sofa. Topan kemudian duduk.
"Sejak kapan kamu mengenal temanmu?"
"Teman! teman yang mana boss, Rani ya?" Tanya Topan bingung. Tiba-tiba boss menanyakan teman, ia pikir Rani.Topan tahu, jika bossnya menyukai Rani dalam diam.
"Bukan! bukan Rani, tetapi temanmu yang waktu itu datang bersama kamu dari kampung."
"Oh yang mana boss, Weny, Rini, atau, mira?" Topan menyebut nama temanya sutu persatu.
Bambang menggaruk kepalanya, karena Ibu tidak menyebut nama yang Ibu maksud.
"Pokoknya yang paling tinggi, kira-kira umurnya sepantaran dengan Rani" Tutur Bambang.
"Oh, Weny boss, dia teman SMK saya sama seperti Rani. Kami melanjutkan kuliah di universitas yang sama, hanya beda jurusan, memang kenapa boss?"
"Dia punya pacar?" Bambang penasaran juga dengan Weny.
"Setahu saya dia tidak pernah pacaran boss, Ayahnya tuh galak banget, setiap ada yang mau dekat."
"Kamu pilih kuliah atau menikah! jika kamu sudah ingin menikah" "Ayah siap menikahkan kamu, tetapi jika ingin kuliah kubur dulu angan-angan untuk punya pacar" Topan menirukan kata-kata Ayah Weny.
Bambang diam tidak melanjutkan pertanyaannya.
__ADS_1
"Hallo reader yang baik hati dan tidak sombong, mana cuit-cuit nya supaya budhe semangat. Tetap disini bentar lagi konflik antara Bambang dengan Rani akan berkobar.