
Dua bulan sudah, setelah lamaran Bambang, dua minggu lagi Weny akan pulang ke kampung halaman. Malam ini Rani dan sahabatnya berbincang-bincang.
"Wen, kalau kamu mau pulang sekarang nggak apa-apa kok, kalau nunggu dua minggu, apa nggak ribet banget, persiapannya nanti" Rani memberi saran.
"Tenang saja Ran, segala sesuatunya sudah siap kok, hanya tinggal fitting baju"
"Bukan begitu Wen, perasan waktu aku mau menikah, pulang dua minggu sebelumnya, biuuh...remuk rasanya, pontang panting sendiri" kata Rani ingat ketika menikah dulu sampai stres, mengurus catering sendiri, eo, undangan, dan yang lainnya.
"Ibu aku, sudah bisa atasi semua itu kok Ran, lagian jaraknya kan tiga bulan, jadi Ibu bisa mempersiapkan dengan matang" Tutur Weny.
"Aahh...kalian menikah dech satu persatu, padahal kita dulu target nikah umur 25 tahun, ingat nggak Ran?" Tanya Nena.
"Ingat lah, tapi kita harus percaya yang namanya takdir"
"Kita mepunyai harapan ini itu, tetapi Allah punya rencana lain" Tutur Rani. Dulu Rani, Syntia dan Nena berencana menikah usia 25 th, ternyata Rani menikah di usia 21 sementara Syintia 22 tahun.
Nena, Rani, Syntia, sahabat dari SMP, kadang tidur bareng. Dimana ada Rani pasti ada mereka. Sementara dengan Weny tidak terlalu dekat, malah Weny kadang suka sering ketus jika sesekali bicara dengan Rani.
"Nanti kami boleh ikut pulang tidak Bu?" Tanya Rini dan Mira.
"Boleh! nanti kalian pulang semua, kalau perlu restoran di tutup selama seminggu" sahut Rani.
"Ran hari sabtu nanti, aku mau di kenalkan dengan ibunya Mas Bambang, mau di ajak kerumahnya"
"Oh, kamu belum di kenalkan dengan ibunya Wen? keterlaluan tuh Bambang" sungut Rani.
"Sudah dari sebulan yang lalu sih mau di kenalkan, tetapi... akunya belum mau"
"Kenapa?" Tanya Rani dengan dahi berkerut. Mau di kenalkan dengan calon mertua kok tidak mau.
"Nggak tau Ran, parno aja gitu, khawatir Ibunya galak" Jawab Weny tidak masuk akal.
"Seperti Ibunya Mas Reno" Nena menimpali.
"Hus, kalian jangan pada begitu, jangan buruk sangka" Nasehat Rani.
"Aah kamu bisa bilang begitu Ran, karena mertuamu baik" ucap Nena.
"Aah terserah kalian, bobok yuk, sudah malam" Pungkas Rani. Mereka pun akhirnya masuk ke kamar.
Sampai di kamar Daniel sudah mendengkur halus. Rani segera kekamar mandi kemudian menyusul suaminya tidur.
Rani menatap suaminya, besok Daniel akan pergi selama seminggu, meninjau proyek di kota Surabaya. Rani sering di tinggal suaminya. Karena Daniel melebarkan sayap membuka cabang gudang bahan pokok di beberapa wilayah.
Tetapi perasaan Rani saat ini, tidak Rela di tinggalkan.
Rani merapatkan tububuhnya memeluk erat suaminya. Dengan susah payah akhirnya Rani tidur.
__ADS_1
*****
Malam berganti Pagi, mendengar adzan subuh, Rani membuka mata. Tangannya meraba ranjang di sebelah, namun kosong. Rani mendengar gemericik air di kamar mandi. Tumben, suaminya bangun terlebih dahulu. Mungkin karena tidurnya dari sore. Rani duduk, setelah nyawanya terkumpul, berdiri ambil ikat rambut di meja rias. Mengikat rambutnya kemudian kembali duduk di kursi meja rias menunggu Daniel keluar.
"Ceklek.
"Sudah bangun yank"
"Sudah Mas" Rani segera kekamar mandi. Menyelesaikan panggilan alam. Keluar dari kamar mandi mereka shalat.
Selesai shalat Rani membuka lemari dan menyiapkan baju Daniel menyusun dalam koper.
"Sini yank bobok lagi, masih jam lima kok"
"Aku mau buatkan sarapan untuk Mas" Jawab Rani. Walaupun Nena sudah membuat sarapan. Khusus untuk Daniel Rani biasa memasak sendiri.
"Biarkan temanmu yang masak, aku kan mau pergi selama seminggu yank" Kata Daniel.
Rani pun paham, akhirnya mengalah merebahkan tubuhnya di sebelah suaminya.
Rani memiringkan badan berhadapan dengan Daniel.
"Mas" Kata Rani seraya memainkan rambut di dada suaminya.
"Apa, pengen?" Tanya Daniel merasa gr. "Aahh...jangan ngeres aku serius." sahut Rani.
"Tidak bisa ya...kalau perginya di tunda?" Tanya Rani manja.
Daniel menatapnya lekat.
"Tidak bisa sayang...soalnya minggu depan aku ada kunjungan lagi ke Bandung"
"Memang kenapa sih...biasanya juga, kamu sering di tinggal?"
"Nggak tahu Mas, perasaanku minggu ini kok tidak enak terus" Jawab Rani kemudian terlentang menatap ke atas.
"Ya Allah...Istriku manja banget ya, sini, sini" Daniel menepuk dadanya agar bisa untuk bantalan Rani.
Rani pun menurut.
"Tidak akan kenapa-kenapa yank, pasrah saja kepada allah."
"Semoga begitu ya, Mas."
"Aamiin..."
"Sudah...kita kan mau pisah beberapa hari yank, makanya pagi ini kita gunakan kesempatan"
__ADS_1
Daniel tersenyum menjelelajahi anggota tubuh Istrinya. Terjadilah pergulatan pagi.
Setelah menerima nafkah batin, Rani membersihkan diri di susul Daniel. Suami istri itupun mandi bersama.
Setelah selesai semua Rani dan Daniel sarapan pagi.
"Pakaian aku, sudah siap yank?" Tanya Daniel selesai sarapan.
"Sudah Mas, aku ambil dulu" Rani hendak berdiri, tetapi tanganya di tahan.
"Sudah, duduk saja, biar Mas yang ambil" Daniel menarik koper.
"Mas berangkat ya..." Cup cup cup"
Daniel mencium dahi, pipi dan bibir.
"Hati-hati ya Mas..." Rani mengantar suaminya sampai halaman. Menatap punggung Daniel, hingga masuk ke dalam taksi. Masing-masing melambaikan tangan.
******
Dua hari kemudian. Rani bersama teman-temanya satu rumah. Seperti biasa, sebelum berangkat mengerjakan tugas-tugasnya. Mereka berkumpul sarapan pagi.
"Pagi ini aku nggak ke restoran dulu ya...mau menemui dosen pembimbing" Tutur Rani kepada teman-temanya.
"Siap bos" Sahut mereka.
"Kalian bawa mobil saja, aku mau naik motor biar cepat." titah Rani.
"Okay..." Nena dkk pun berangkat terlebih dahulu.
Sementara Rani bergegas menuju garasi mengeluarkan motornya. Honda Scoopy pun melesat meninggalkan Rumah. Rani menuju kampus berniat menemui dosen pembimbing. "Mudah-mudahan hasil skripsinya tidak di tolak lagi." Pikiranya.
Sampai halaman kampus suasananya tidak seperti biasa. Orang-orang menatap Rani mengintimidasi. Tidak hanya dari fakultas lain. Teman-teman Rani satu kelas pun bersikap seperti tidak mengenal Rani.
Rani hanya diam bertanya-tanya dalam hati, ada apa dengan mereka?
Bukankah hari kamis masih biasa biasa saja? lalu kesalahan apa yang dirinya buat sampai semua orang seolah menatapnya jijik??
Dengan tetap positif thinking, Rani berjalan menuju lobby gedung kampus. Tidak perduli apapun yang penting bisa menenuhi dosen pembimbing. Di lobby kampus pun bersikap sama.
Ada dua orang wanita yang duduk di sofa lobby menatap Rani tidak suka.
Mereka berbisik.
"Oh itu orangnya?" bisik salah satu wanita.
"Iya, pakai jilbab hanya pencitraan" Jawab nya sambil berbisik. Tetapi masih terdengar oleh Rani.
__ADS_1
"Ya Allah...ada apa sih...perasaan aku kuliah hampir dua tahun tidak pernah ada masalah." Monolog Rani. Rani pun mengurungkan niatnya menemui dosen. Rani bergegas mencari kedua sahabatnya di kampus. Robby dan Ninda ingin bertanya apa yang terjadi.