ISTRI SANG MAJIKAN 2

ISTRI SANG MAJIKAN 2
Part 44


__ADS_3

Suasana pesta sedang meriahnya. Setelah acara inti selesai, Tuan Richard menggandeng Istrinya mengerlingkan mata Kekanan dan kekiri, mencari sosok Daniel yang tidak tampak lagi.


"Kemana Istrinya Tuan Daniel Pa, kita sudah putar-putar kok tidak ada?"Tanya Istri Tuan Richard sangat penasaran ingin berkenalan dengan istri Daniel yang orang bilang cantik dan masih muda.


"Tidak ada sayang, apa mungkin Tuang Daniel sudah pulang" Ujar Tuan Richard mengelilingi setiap meja-meja yang berkerumun. Mencoba menghubungi ponsel Daniel juga tidak aktif.


"Reno, kamu tau tidak, Tuan Daniel dimana? saya dengan Istri berkeliling mencarinya, tapi kami tidak bisa menemukan".


"Itu dia Tuan Richard, saya juga sedang mencarinya, tapi tidak saya temukan, mungkin beliau sudah pulang, tidak menunggu selesai acara."


" Reno, tadi Tuan Daniel hadir bersama istrinya, atau tidak?" Tanya Istri Tuan Richard.


"Tidak nyonya! Istri bang Daniel sangat sibuk, beliau memeliki usaha restoran dan cafe, semua makanan ini hasil kayanya Nyoya" Sahut Reno, seraya menunjukkan nasi box, kue-kue, dan minuman.


"Oh jadi pemilik restoran ini Istri Tuan Daniel, saya semakin ingin berkenalan Reno" Istri Tuan Richard berdecak kagum.


"Oh gitu ya, lanjutkan pekerjaanmu Reno, saya tinggal dulu" Tuan Richard dan Istri meninggalkan Reno.


"Baik Tuan" Reno menatap kepergian Tuanya. Reno tahu, semua yang terjadi dengan rumah tangga Daniel dan mantan kekasihnya. Nena sudah menceritakan semuanya. Tetapi, Reno lebih baik diam. Tidak berusaha untuk menemui Rani apa lagi di restoran. Banyak hati yang harus ia jaga, hati Daniel, hati Nena yang saat ini sudah menjadi calon Istrinya. Walaupun saat ini Reno tidak lagi mencintai Rani. Dan saat ini Nena yang sudah mengisi ruang kosong setelah kepergian Rani. Reno jatuh bangun agar bisa melupakan Rani dan setelah berhasil. Reno tidak ingin membuka luka lama menganga kembali.


*******


Daniel PoV


Entah mengapa setelah membaca nama pemilik nasi box tadi, hatiku berharap pemilik restoran itu adalah istriku. Kalau memang bukan apa iya? sampai semirip itu nama samaran yang ia buat tersemat diriku.


Aku bergegas meninggalkan pesta menuju alamat yang tertera di atas kotak makanan.


"Kita mau kemana sih Pa, acaranya tadi kan belum selesai." Kata Icha nampak kecewa karena baru setengah acara aku ajak dia pergi.


"Jalan-jalan saja, kemana gitu! selagi kita ada waktu berdua sayang" Kataku beralasan. Tentu aku belum memberi tahu Icha, sebelum memastikan memang benar istriku atau bukan pemilik catering tersebut. Yang aku khawatirkan Icha sudah terlalu berharap ternyata bukan Uminya.


"Pa, kuenya enak dech, seperti kue buatan umi dulu, kroket kentang isi sayuran, cake coklat, lemper ayam bakar, sama kue bika, cobain Pa" Aku perhatikan Icha melahap satu kotak kue hingga tandas. Perasaanku semakin yakin, kalau pembuat kue ini memang Rani.


"Pa cobain, Icha suapin ya, aaa.." Aku di suapi Icha, kroket ini memang masakan istriku, aku rasanya sudah tidak sabar ingin segera bertemu dan menatap wajahnya. Mimpikah aku? jika aku masih berharap istriku akan kembali? entahlah yang penting aku bertemu dulu.


"Kuenya mau lagi sayang, itu masih ada satu kotak lagi."


"Kenyang pa, entar lagi, belum sampai rumah nanti makan nasi ini" katanya menunjuk box dan mengelus perutnya.


"Pa, Icha habis makan kue kok jadi kangen sama Umi, sudah berapa bulan ya Icha nggak ketemu, dulu kalau Umi bikin kue, hidung Icha di olesin terigu" hehehe.


"Dulu Umi suka cerita sama Icha, tentang bidodari yang sedang mandi, terus selendangnya di umpetin sama Jaka tarup, bidodarinya nggak bisa terbang akhirnya menjadi istri jaka tarup. Ketika mau masak bidodari membuka lemari ingin mengambil beras, ternyata yang ada hanya gabah, bidodarinya malah menemukan selendangnya terbang dech! bidodarinya."


"Icha jadi bisa menyimpulkan pa, kenapa, perjalan Umi seperti perjalanan bidodari itu, hanya bedanya Umi terbang nggak pakai selendang"


"Aku menoleh cepat menatap wajah anakku tampak murung, kemudian aku kembali fokus menatap jalanan.


"Beda dong sayang, bidodarinya Jaka tarup, di dunia kesulitan untuk mencari makan, kalau Umi kan tidak"


"Iya, mungkin pa! tapi Umi dulu sering menangis kalau kepergok sama Icha, bilangnya kelilipan"

__ADS_1


Aku diam, tidak lagi menjawab Icha, memang benar apa yang dikatakan Icha. Jaka tarup walaupun kesulitan materi tapi meberikan kasih sayang yang tulus. Sedangkan aku? ya! mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi.


"Sayang tolong baca dech, alamat yang tertera di box"


"Rumah makan DUKRENGTENG jalan xxx. Memang kenapa Pa, mau membeli kue lagi, ini aja belum habis!" Sambungnya.


"Ya siapa tahu Uti nanti mau"


"Iya, ya, Pa, Papa kan belum makan juga"


Entah kenapa rasa lapar ku telah menguap, mungkin karena sangking semangatnya. Tidak terasa sampai alamat yang aku tuju.


Aku mengajak Icha turun, ada dua Ruko lantai atas bertuliskan Cafe Dukrengteng.


Dan yang di bawah, Rumah makan DUKRENGTENG.


Benarkah ini milik Istriku?


Aku perhatikan Pria setengah baya bersama seorang Ibu seusia, sedang sibuk melayani pembeli bersama kedua wanita mungkin yang membantunya. Ada 3 gerobak bakso, mie ayam, dan soto.


Aku mendekati pria tersebut.


"Silahkan duduk Tuan, masih ada tempat duduk kosong kok." Katanya seraya menujukkan ada dua kursi kosong. Sebenarnya aku hanya ingin menanyakan nama pemilik restoran ini. Tetapi aku mengurungkan niat, tidak mungkin juga aku tidak beli lantas bertanya kepadanya. Tentu akan mengganggu aktifitas Bapak tersebut.


Kemudian aku masuk pintu sebelah restoran ini, walaupun sudah jam delapan masih sangat ramai. Lagi-lagi aku bertanya dalam hati benarkah ini milik Istriku? kalau memang benar sukurlah, aku ikut bahagia. Berarti cita-cintanya ingin menjadi pengusaha telah tercapai. Tetapi aku hanya bisa berandai-andai jika ini milik Rani dan masih mau memberi kesempatan kepadaku. Aku akan mendukungnya.


"Silahkan masuk Tuan, salah satu karyawan restoran mengarahkan aku ketempat duduk yang masih kosong.


"Mbak, boleh saya bertanya?"


"Mau tanya apa Tuan, mungkin saya bisa bantu."


"Siapa Nama pemilik Restoran ini?" Tanyaku. Belum sempat dia jawab, Icha mengagetkan aku.


"Tante Nena..." Aku menoleh cepat Icha berlari menghampiri Nena.


"Hai Cantik! kamu sama siapa?


"Sama Papa tuh di sana" Icha menunjuk aku, lalu mereka menghampiri.


"Pak Daniel, bagaimana kabarnya?" Bukan menjawab aku balik bertanya."


"Rani dimana Nen?"


"Belum pulang Pak Daniel, dia kuliah malam soalnya, biasanya kalau Rani sudah pulang kuliah, kesini dulu jemput kami" "Kami sebenarnya sift siang Pak, tapi menunggu Rani pulang, kalau kami sudah pulang duluan tidak bisa bertemu dengan Pak Daniel" Tuturnya.


"Oh jadi Rani kuliah lagi ya?"


"Iya, Pak"


"Icha sekarang sudah kelas berapa sayang?"

__ADS_1


"Kelas empat Tante"


"Tante, masih tinggal dirumah Bu Zubaidah nggak, dulu Icha seneng lihat burung."


"Tidak sayang, Tante, sekarang tinggal dirumah Umi" Jawabnya.


"Umi, Tante! berarti Icha bisa bertemu Umi, ayo Tante, antarkan Icha, please Tante.."


Aku perhatikan Icha antusias ingin segera bertemu dengan Uminya. Menarik narik Nena matanya berkaca-kaca.


"Iya- iya, sayang! nanti Umi kesini kok , kita tunggu ya" Icha mengangguk.


Aku pun ikut terkejut, mendengar Nena tinggal di Rumah Rani. Apakah Rani sudah ada tempat tinggal? Batinku. Tapi aku menyimak saja perbincangan Nena dan Icha.


"Tante, cerita dong tentang Umi, nanti Icha ceritain tentang Om Reno"


"Hehehe...Sabar sayang, bentar lagi Umi pulang kok."


"Tante, tadi Icha ketemu Om Reno" Ucap Icha tersenyum.


"Oh masa! ketemu dimana memang?"


"Di tempat Pesta tadi"


"Oh Pak Daniel tadi, menghadiri pesta Tuan Richard?


Aku mengangguk.


"Oh iya, Pak Daniel, Tuan Richard itu salah satu PT yang sudah menjalin kerjasama dengan Rani?"


"Memang restoran ini milik Rani ya Nen"


"Betul Pak"


Aku merasa tidak berguna, nyatanya Rani bisa sukses tanpa aku. Dan apa yang aku lakukan! selama ini hanya bisa menyakiti hatinya.


"Tante Nena, Icha mau kekamar mandi"


"Oh, ayo, kita keatas saja, kamar mandi di atas lebih bersih" Nena menuntun Icha kelantai atas.


Mataku menatap jalanan, dan tertuju wanita cantik turun dari mobil. Lalu masuk kedalam restoran. Ya Allah...


dia Istriku? Aku tertegun. Istriku semakin cantik dan anggun membuat aku terpana.


Sekilas Ia menatap aku dan kami saling tatap. Kemudian dia berbalik setengah berlari hendak masuk kembali ke dalam mobilnya. Aku segera berlari mengejarnya. Ia hendak membuka pintu.


"Rani tunggu!"


Ia menoleh menatapku sinis, lalu membuka pintu dan hendak masuk. Ketika baru kaki satu naik.


"Umiiii...Hu huuu..."

__ADS_1


__ADS_2