ISTRI SANG MAJIKAN 2

ISTRI SANG MAJIKAN 2
Part 51


__ADS_3

Mahari PoV.


Setelah kehadiran Sherly sore tadi, tidak bisa aku tampik, ada rasa sesak di dalam dadaku. Betapa tidak? Sherly tiba-tiba datang dan memberi pengakuan, bahwa dia telah menikah dengan Daniel suamiku. Walaupun aku bisa bersikap tegar di hadapan Sherly. Hanya tidak ingin terlihat lemah di hadapan rubah betina seperti Sherly.


Mau tidak percaya, nyatanya sudah hampir setahun aku meninggalkan Daniel. Sebagai laki-laki normal pasti suamiku membutuhkan kebutuhan biologis.


Tetapi menikah dengan Sherly? Oh tidak mungkin. Suamiku bukan orang yang mudah jatuh cinta. Hatiku kini, di selimuti kebimbangan.


Aku melirik jam masih jam delapan malam. Aku menimang benda pipih di tanganku. Haruskah aku telepon? tetapi, rasanya tidak etis masalah ini aku bicarakan lewat telepon. Ingin memintanya kembali kesini malam ini, tidak mungkin juga. Aku tidak mau mengganggu istirahatnya. Perjalanan kesana kemari membuang waktu. Belum lagi jika terjadi kemacetan.


"Tok tok tok. Ada suara ketukan aku membuka pintu. Ternyata Nena, Weny dan kedua karyawanku yang datang.


"Kok sepi Ran, Icha sudah tidur?" Tanya Nena langsung ngglosor di karpet disusul Weny. Mungkin dia kelelahan, alhamdulillah restoran dan Cafe pelangganku semakin banyak. Kemudian Rini dan Mira langsung mandi.


"Icha sudah pulang Nen?" Jawabku.


"Lhoh, kok pulang, aku pikir mau menginap disini lagi?" Weny menimpali.


"Ya nggak lah, besok kan sekolah Wen, kalau berangkat dari sini kejauhan, bisa-bisa terlambat."


"Ran, aku bawa makanannya lebih, aku pikir suamimu masih ada" Weny tampak menyesal.


"Nggak apa-apa Wen, nanti yang dua porsi buat security, lebih baik kalian mandi dulu gih, sini aku antar ke Pos makanannya."


Aku bergegas berjalan menuju Pos Satpam Komplek.


"Bapak sudah makan?" Tanyaku mendekati Pak Satpam yang sedang bermain catur.


"Hehehe, belum Mbak, mau keluar malas nih" Sahut salah satu Satpam.


"Ini saya bawakan nasi Pak"


"Terimakasih Mbak, jadi merepotkan" Satpam kemudian memberikan satu kotak nasi untuk temanya.


"Tidak repot Pak, silahkan di makan, saya permisi ya."


" Tunggu Mbak Rani" aku tidak melanjutkan langkah ku. "Perempuan binal tadi siapa sih?" Tanya Satpam seraya membuka box nasi.


"Oh, sebenarnya masih kerabat saya kok Pak, hanya terjadi kesalah pahaman."


"Heran! orang baik seperti Mbak Rani masih ada yang usilin."


"Hehehe...Bapak bisa saja, baik itu relatif Pak."


"Sudah malam saya pamit dulu ya"


Aku segera meninggalkan Pos, tidak menimpali pertanyaan Pak Satpam.


Sampai di rumah, sahabatku sudah selesai mandi, tiduran di depan televisi gemuruh ngobrol entah apa yang mereka bicarakan.


"Eh sudah sampai Ran?" Tanya Weny. Dia tidur tengkurap berbantalkan satu tangan netranya fokus nonton televisi. Sementara Nena, Rini dan Mira duduk santai.


"Makan yuk lapar" Kataku. Kami makan lesehan di karpet comot lauk sana sini. Aku senang sekali, bisa berbagi dengan mereka walaupun hanya sekedar makanan.


"Tadi ada perempuan kesini nggak Ran?" Tanya Nena.


Aku langsung nyambung pasti yang di maksud Sherly.

__ADS_1


"Ada, memang kenapa Nen?" Tanyaku.


"Dia ngamuk Bu, ngancem teman-teman, kalau kami nggak mau kasih alamat Ibu, Cafe nya mau di obrak abrik, jadi terpaksa saya kasih alamat." Tutur Rini merasa bersalah. Sebab dulu aku pernah berpesan kepada mereka jika ada yang minta alamat rumah, aku wanti-wanti jangan di berikan.


"Iya, tadi sempat membanting gelas Bu, akhirnya pengunjung ketakutan." Sambung Mira.


"Memang siapa dia Ran, sama security saja malah menodongkan pecahan gelas?" Tanya Weny.


Aku terbelalak kaget, kenapa Sherly kelakuannya semakin menjadi-jadi. Jika benar apa yang meraka katanya berarti sudah mengarah ke tindakan kriminal. Aku tidak akan tinggal diam.


"Siapa dia Ran, kok malah bengong?" Tanya Nena.


"Dia mantan adik ipar Mas Daniel Nen" Jawabku lemas.


"Sudahlah tidak usah dipikir kita bicara yang lain saja."


"Bagaimana penjualan hari ini?" Aku mengalihkan. Padahal tadi aku sudah memeriksa pemasukan dan pengeluaran hari ini semua bagus.


"Nggak masalah kok Ran semuanya Lancar" Jawab Weny memang dia yang handle pekerjaan jika aku tidak ada.


"Saya tidur duluan bu" Ucap Rini dan Mira lalu berdiri.


"Ya, pada tidur gih, khawatir shalat subuhnya kesiangan" sahutku.


" Kalian tidurnya di kamar tamu saja, kamar itu kan sempit"


"Nggak kok Bu, tidur dimana saja nggak sempit juga kok" Jawab mereka lalu masuk kekamar.


"Masih mendingan kamar itu Ran, daripada waktu kost di rumah Bu Zubaidah! haduuh..sempit" "Cuman muat satu orang, bayarnya 600 ribu perbulan" Sahut Nena.


"Ran, apa kami kost saja ya, nggak enak sama suami kamu, kami menjadi benalu disini" Ujar Weny.


"Lagian dalam waktu dekat aku pasti ikut suami, nggak mungkin terus pisah rumah, bisa nambah terus dosa aku."


"Nanti kalau sudah pindah kalian tetap tinggal di sini, dan rawat seperti rumah kalian sendiri"


"Yang penting pesanku hanya satu! jangan membawa laki-laki yang bukan mukrim masuk kedalam rumah ini."


"Ya nggak lah Ran, memang kita perempuan apaan?" Sanggah Nena.


"Halah Nen, kamu tuh! ingat nggak kamu suka nyamper Reno ke Apartement!" Aku menggoda Nena.


"Hehehe...itu kan dulu Ran waktu belum jadian sama Reno."


"Apa? Nena suka nyamperin Reno ke Apartement Ran?! Tanya Weny tidak percaya.


"Halah...nggak ngapa-ngapain juga Weny! hanya membuat masakan waktu Mas Reno sakit." Pungkas Nena.


"Ran, ngomong-ngomong ada kabar gembira nih" "Kata Nena melirik Weny.


"Kabar apa, Nen"


"Weny mau di lamar orang kaya" Nena tersenyum.


"Heh! ember kamu Nen!" Bentak Weny seraya menjewer mulut Nena.


"Orang kaya siapa? salah satu pelanggan ya?" Aku menatap Weny dan Nena bergantian.

__ADS_1


"Anaknya yang punya Showroom Ran" Ucap Nena.


"Waah beneran! selamat ya Wen" Aku menyalami Weny. "Kamu nggak mau jujur sama aku Wen, mau rahasia- rahasiaan sama aku?" Aku mendesak agar Weny cerita.


"Jadi gini Ran, aku kan kemarin mengantar pesanan ke Showroom, pagi sore, terus ketemu sama Ibu Pemilik Showroom."


"Bu Widi ya" aku memotong penuturan Weny.


"Betul! terus kami saling tukar cerita, nah tadi tuh aku mengantarkan lagi kesana, sebabnya Rini banyak sekali kiriman"


"Kami ngobrol lagi, aku pulang malah di ajak masuk Lobby


Flashbach on


"Weny, Ibu mau bicara, boleh minta waktu sebentar?" tanya Bu Widi. Duduk berhadapan dengan Weny


"Maaf Bu, saya ada kesalahan apa ya?"


Weny deg degan ia pikir ada kesalahan.


"Oh tidak ada kesalahan apa-apa" "Kamu mau menjadi menantu saya?" Tanya Ibu Widi to the point.


Dek


"Maksud Ibu?"


"Begini Nduk, waktu Ibu lihat kamu pertama kali, terus terang langsung jatuh hati"


"Maksud Ibu apa?! Weny meninggikan suaranya, ia pikir Ibu Widi penyuka lawan jenis.


"Hehehe...tidak usah tegang" Ibu Widi terkekeh.


"Begini Nduk, Ibu mempunyai anak laki-laki, selama ini kalau di suruh menikah alasanya mau cari yang Shaleh"


"Tetapi tidak mau berkenalan dengan wanita, nah! bagaimana mau dapat coba" Ibu geleng-geleng kepala. "Ibu rasa kamu yang pas untuk pendamping anak saya."


"Makanya, Ibu ingin kamu yang menjadi menantu saya, bagaimana?"


Flashbach off.


"Begitu Ran, aneh kan! masak bertemu baru beberapa kali sudah mau main jodoh- jodohkan!"


"Sudah gitu, anaknya seperti apa, aku belum tahu, jangan-jangan tua lagi hii..ogah!"


"Nyindir!" Ucapku ketus.


"Hehehe...jangan baper Ran, suamimu itu tidak tua kok, ganteng, berwibawa cool, kalau itu sih aku juga mau"


Plok" aku getok kepala Nena dengan bantal sofa.


"Hehehe...nggak usah cemburu Ran, aku nggak mau kok jadi pelakor" Pungkas Weny.


"Menurut kalian Bagaimana?"


"Aku minta pendapat dong."


"Kenapa nggak tanya sama Topan saja, dia kan bosnya Topan" Nena yang dari tadi hanya nyimak obrolanku akhirnya menimpali.

__ADS_1


"Benar juga tuh usul Nena, lebih baik kita istirahat dulu, sudah jam 11 malam loh" "Besok kita lanjutkan lagi obrolan kita."


"Haaahh" Nena terkejut kemudian masuk ke kamar di susul Weny.


__ADS_2