
Satu jam sudah, Bambang duduk di ruang tunggu. Tetapi, belum di panggil juga, rasanya kepalanya sakit sekali. Sesekali ia memijit pelipisnya sendiri.
Eneng yang duduk di sampingnya cuek saja, padahal tahu jika Tuanya sedang gelisah.
"Lid, kepala aku sakit sekali" keluh Bambang.
"Teruus..." tanya Eneng dengan dahi berkerut.
"Ya, bagaimana gitu? di pijit kek, mana belum di panggil-panggil lagi" keluh Bambang.
"Ya, harus sabar lah, Tuan, makanya budayakan ngantri" sahut Eneng bersungut sungut.
"Pijit sedikit Lid" pinta Bambang hanya untuk menggoda.
"Ogah! bukan muhrim, lagian perjanjian saya kerja pertama kali, bukan sebagai tukang pijit, maupun perawat orang sakit" Eneng nerocos ketus.
"Sudah! lebih baik Tuan diam, sebentar lagi di panggil" tukas Eneng.
Bambang sebenarnya hanya ingin mendengar suara Eneng, ngomel juga tidak apa-apa daripada di cuekin.
Tadi pagi Eneng di mintain tolong Ibu Widi agar mengantarkan Bambang kerumah sakit.
Flashback on.
"Kenapa, badan kamu panas begini Bi, kamu pakai kipas angin dimana? seingat Ibu, kamu panas begini karena terlalu dekat dengan kipas angin?" tanya Ibu Widi. Sudah paham jika anaknya alergi kipas angin.
Deg deg. Eneng yang baru masuk membawa sarapan ngeri-ngeri sedap. Pasalnya Bambang sakit karena memasangkan kipas angin untuknya.
Kemarin masang kipas angin di tempat setrika Bu" sahut Bambang lirih.
Ibu Widi tersenyum samar.
Sementara Eneng masih termenung merasa bersalah dengan apa yang terjadi.
Ah, masa bodoh aku kan nggak minta. Kenapa juga sok sok an tidur di tempat setrika, sudah tahu, alergi kipas angin. Sarapan dulu Tuan" ucap Eneng meletakkan sarapan di samping Bambang.
"Oh iya neng, kamu bisa nyetir?" tanya Ibu Widi.
"Bisa nyonya"
"Oh, kebetulan Neng, nanti tolong antarkan Wibi ke rumah sakit ya"
"Sa, saya nyonya?" Eneng lagi-lagi di buat jantungan oleh nyonya. Sudah disuruh mengompres, menyuapi, mengantarkan kerumah sakit pula.
"Iya Neng, tolonglah..., sebab, Topan banyak kerjaan di showroom."
"Baik Nyonya" tidak ada pilihan bagi Eneng selain menurut demi profesional kerja.
Flashback off
"Bambang Wibi Sono?" panggilan melengking dari ruang pemeriksaan pasien.
Bambang dan Eneng pun masuk ke ruangan dokter.
"Selamat pagi...sapa dokter"
"Selamat pagi dok" sahut Bambang lirih.
Dokter Zulmy menelisik wajah Bambang. "Kok seperti melihat tapi di mana? batin dokter.
__ADS_1
Merasa di lihatin terus, Bambang pun mengerti. "Saya Wibi Sono dok, sahabat Rani" Bambang memperkenalkan diri.
"Oh ya Allah...pantas familiar" sahut dokter.
"Ini istrinya, Mas?" dokter memandangi wajah Eneng.
"Baru calon dok" Bambang melirik Eneng di sampingnya. Secepat kilat Eneng menyikut.
"Astagfirlullah...Bambang kaget pasalnya sikut Eneng lancip sekali, mengenai tulang pinggul.
"Apa keluhannya Mas?" tanya dokter. Dokter melihat Wajah Eneng yang menatap Bambang kesal mengalihkan.
"Demam, batuk, pilek, dok" jawab Bambang.
Dokter menulis keluhan Bambang di kertas. "Lambung nya sakit tidak?"
"Sedikit dok"
"Mari, tiduran di sini" titah dokter. Bambang pun di periksa dengan teliti oleh dokter. Dokter kemudian kembali ke tempat duduknya di susul Bambang.
Dokter menulis resep. "Tuan saya sakit apa dokter?" tanya Eneng yang sedari tadi diam, akhirnya bersuara.
Bambang tersenyum mengembang mendapat perhatian dari Eneng.
"Hanya batuk pilek biasa saja, tidak ada yang perlu di khawatir kan, yang penting obatnya di minum, istirahat yang cukup" jelas dokter.
Setelah menerima resep dari dokter. Eneng keluar menuju apotik yang berada di rumah sakit itu juga.
Eneng berjalan cepat meninggal kan Bambang yang sudah tertinggal jauh.
Eneng menyerahkan resep kepada penjaga apoteker.
"Kamu jalannya cepat banget, seperti kuda" *seloroh Bambang.
"Aahh... banyak protes! sudah di antar juga"
"Kamu sekarang galak banget ya Lid, berbeda dengan yang dulu, lembut, ramah, baik" ujar Bambang.
"Apa hak Tuan menilai pribadi saya, saya itu di mata Tuan, hanya di hargai semangkok baso" ketus Eneng matanya mulai mengembun.
"Tuan yang sudah membut saya seperti sekarang, menjadi orang pemarah dan egois"
Bambang tidak berkutik, kekonyolan dia dulu, ternyata melukai gadis di sampingnya.
"Bambang Wibi Sono" panggilan dari apotek. Eneng bergegas menuju apotik.
"350, 000 Mbak" petugas apotek menyerahkan rincian.
"Yah...nggak bawa uang lagi? gumam Eneng. Eneng menoleh Bambang yang masih duduk di tempatnya.
Eneng mondar mandir bingung, mau bilang Bambang tentu malu.
"Mana kwitansi nya?" Bambang tiba-tiba berdiri di samping Eneng.
Eneng menyerahkan kwitansi. Kemudian melangkah meninggalkan Bambang.
Bambang mengela nafas panjang. Kemudian menyusulnya.
Sampai tempat parkir, Eneng sudah menyalakan mobil memasang sabuk pengaman.
__ADS_1
Bambang duduk di sebalah pengemudi. Menatap wajah Eneng sekilas
Eneng menjalankan mobilnya sepanjang perjalanan mereka saling diam. Eneng fokus dengan setir, dan pandangannya lurus ke depan.
Eneng cukup lihai menyalip kendaraan yang lain. Tidak memakai waktu lama mereka sampai di rumah.
Bambang turun dari mobil kemudian masuk ke dalam. Sementara Eneng, memasukan mobil ke dalam garasi.
Eneng bergegas masuk, menyimpan kunci mobil di tempatnya. Kemudian ke kamar mandi. Karena sedari tadi menahan buang air kecil.
Eneng masuk kedalam kamar mandi yang biasa ia pakai.
"Bruk! Aaahhh..."jerit Eneng.
Eneng jatuh menubruk seseorang, dan mereka jatuh di lantai kamar mandi. Ya, dialah Bambang orangnya. Bambang menindih tubuh Eneng. Sepersekian detik mereka saling tatap dan mengatur nafas masing-masing.
Bambang menatap wajah Eneng dalam kungkungan nya. Deg deg deg.
"Brak" apa yang kalian lakukan...!"
Ibu Widi tiba-tiba membuka pintu.
"Wibiii...astagfirlullah...Ibu menjewer telinga Bambang.
Bambang segera bangkit dari tubuh Eneng. Meringis memegangi tangan Ibu yang masih belum di tarik dari telinganya. Kemudian Ibu menarik Wibi ke gazebo.
Eneng kemudian duduk lemas di lantai yang basah. Memeluk kedua kakinya dan telungkup di lutut sambil terisak.
"Apa yang kamu lakukan Bi! kamu mesum di kamar mandi! hah?! tanya Ibu ngos ngosan menahan marah.
"Nggak Bu, Ibu salah sangka, Wibi tadi hanya--" "Cukup Bi! kamu ini keterlaluan ya" Ibu mengencangkan jeweranya hingga telinga Wibi merah.
"Eneeeeng...sini kamu!" teriak Ibu yang sudah di gazebo taman belakang menginterogasi anak laki-lakinya.
"Baik nyonya..."Eneng berlari menuju dimana suara Ibu berasal.
Eneng berdiri di depan gazebo menunduk takut, ******* ***** kedua telapak tangannya di bawah perut. Air matanya bercucuran. Bambang menatap gadis itu semakin merasa bersalah.
"Duduk kamu neng" titah Ibu.
Eneng pun duduk.
"Nyonya, saya tidak bersalah nyonya, saya tadi mau kekamar mandi." "Tetapi, putra nyonya sudah di dalam, padahal kamar mandi Tuan seharusnya bukan di situ." tutur Eneng gamblang.
"Ibu nggak percaya! Ibu sudah lihat sendiri, kalian saling bertapan mesra"
"Pokoknya ibu nggak mau tahu kalian harus segera menikah!" Ibu Widi kemudian pergi meninggalkan dua muda mudi yang masih bengong di gazebo.
Eneng menyadari apa yang barusan di katakan nyonya, kemudian beranjak mengejar Ibu Widi masuk kedalam.
"Nyonyaa....tunggu nyonya...saya nggak bersalah nyonya" hu huuu.."
Mendengar tangisan Eneng Ibu berhenti. Namun, tidak menoleh.
Ibu Widi kembali melangkah masuk kedalam kamar meninggalkan Eneng yang masih bersimpuh di lantai ruang tamu.
******
Ibu tadi sedang menyiram tanaman, setelah merasa lelah lalu beristirahat. Mendengar terikan Eneng, ibu yang sedang santai di gazebo taman belakang berlari. Sementara Bi Ipah sedang ke pasar.
__ADS_1